Minggu, 02 Juni 2019

Doa dan Harapan Seorang Istri, Ibu dan Muslimah

Doa dan Harapan Seorang Istri, Seorang Ibu dan sebagai Muslimah

Indonesia sedang berduka setelah hari Minggu kemarin  menyaksikan di tayangan televisi pemakaman ibu negara Ani Yudhoyono. Sebagai seorang istri, seorang ibu dan warga negara alias masyarakat Indonesia yang baik saya diam-diam merenungkan semua itu.

Beruntungnya almarhumah Ibu Ani meninggal dalam kondisi semoga segala lebih baik karena kembali ke Yang Maha Kuasa di bulan suci Ramadhan. Kita yang masih hidup ini belum tahu bagaimana kondisi kita dan kapan nanti saat ajal menjemput. Semoga husnul khatimah. Amin.

Melihat berbagai tayangan ulasan di televisi terkait bagiamana hubungan Pak SBY dengan sang istri, dengan keluarga, semakin mengharukan hati dan pikiran saya. Diam-diam saya memohon dan berdoa semoga saya diberi kesempatan terbaik, seperti pasangan mantan kepala negara ke 6 negara kita itu.

Pak SBY setia mendampingi sang istri selama perawatan di rumah sakit. Begitu juga anak menantu dan para cucu. Meski sakit, meski lelah namun semangat serta kasih sayang mereka tidak pernah sirna. Bahagia ya melihatnya. Ya Allah seandainya saya diberi kesempatan menjalani biduk rumah tangga yang belum genap sewindu ini rasanya tidak ada yang mustahil bagi Engkau, bukan? Saya ingin rumah tangga langgeng hingga maut memisahkan, tidaklah terlalu muluk-muluk keinginan dan doa ini?

Melihat ketegaran buah hati Pak SBY dan Bu Ani, AHY dan Ibas, serta para menantu dan cucu timbul juga rasa haru yang tiada terkira. Manakala jenazah almarhumah diterima di liang lahat oleh kedua putra tercinta, besar keinginan saya kelak jika Allah meridhoi anak saya juga yang mengantarkan jenazah saya terakhir kalinya ke tanah kubur sebelum menghadap Sang Pencipta. Tentunya anak Soleh dan Solehah yang lebih baik yang bisa memberikan pahala yang terus mengalir kepada setiap para orang tuanya, bukan?

Tetapi memang teramat berat ya menjadikan anak menjadi Soleh Solehah itu. Namun bukan sesuatu yang tidak mungkin juga jika sejak sekarang saya memohon dalam setiap doa dan pinta, serta mendidik anak semaksimal mungkin baik di rumah maupun menitipkannya ke sekolah dan pengajian semata-mata karena ingin punya anak soleh solehah yang bisa jadi cahaya kelak di alam kubur ketika saya sudah putus umur.

Sedih dan terharu ketika selama pidato yang disampaikan AHY, mewakili keluarga mengatakan jika selama sakit, Ibu Ani sedikitpun tidak mengeluh apalagi menyalahkan. Ia teramat bersyukur atas rahmat yang ia dapat selama ini. Jadi istri pejabat, jadi ibu negara, bisa me time dengan hobi fotografi yang banyak diikuti dan ngetrend, dan masih banyak lagi syukur lainnya. Meski ketika kini Ibu Ani telah tiada, semua yang dibanggakan itu ikut musnah.

Pelajaran dari kejadian itu, saya jadi bertekad ingin memanfaatkan waktu yang ada saat ini lebih maksimal. Saat rezeki cukup, saat sehat, saat ada waktu, saat masih banyak kesempatan untuk berbuat kebaikan, selagi semangat ini ada, saya ingin memaksimalkan itu semua. Karena jika benar-benar telah datang kematian, bisa jadi apa yang dicita-citakan hanyalah tinggal penyesalan dan tangisan.

Pernah dengar atau baca riwayat dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallah ‘alaihi wa sallam pernah menasehati seseorang, “Manfaatkanlah lima perkara sebelum lima perkara: (1) Waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu, (2) Waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu, (3) Masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu, (4) Masa luangmu sebelum datang masa sibukmu, (5) Hidupmu sebelum datang matimu.”

Ya Allah semoga saya bisa memaksimalkan semua itu. Amin.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar