Solusi Hilangkan Ketombe Resep Nenek
Masih ingat waktu masih sekolah dasar, jika lebaran tiba, kami dari Bandung mudik ke kampung halaman nenek, di Cianjur. Saat itu belum ada listrik, apalagi internet. Jalan aspal saja hanya ada sampai jalan kabupaten. Turun dari kendaraan umum L300 kami lanjut jalan kaki beberapa kilometer melewati jalan berbatu, kemudian pematang sawah naik turun bukit dan sampailah di rumah nenek.
Tidak heran kalau dari Kebon Kalapa (terminal di Bandung saat itu sebelum ada Leuwi Panjang) berangkat pagi, sampai rumah nenek sore bahkan bisa malam hari. Kondisi badan sudah letih, kucel dan penuh keringat. Saya yang paling malas mengikat rambut, harus mau dipaksa mama untuk mengekor kudakan rambut dengan alasan biar simple, sedikit lebih rapi daripada rambut terurai tapi acak-acakan. Bau apek dan lepek campur debu selama perjalanan belasan jam sudah biasa dialami.
Sesampainya di kampung, saya yang saat itu masih jadi asuhan para bibi dari pihak ibu selalu jadi bahan rebutan mereka. Saya seolah jadi boneka yang selalu didandani, dielu-elukan dan jadi kebanggan mereka diajak main keliling kampung.
Saat waktu mandi tiba, biasanya kami beramai-ramai pergi ke sungai. Saya diajak ramai-ramai oleh para bibi dan teman-temannya. Bagaikan seorang puteri yang dielu-elukan oleh para dayang, saat itu saya dimanjakan. Rambut panjang saya selalu jadi bahan mainan mereka. Senang menguncir rambut saya, menguntun, atau sekadar menyisir.
“Uyahan, Nung. Ngarah teu totombean...”Selalu terdengar teriakan nenek dari arah pintu kepada salah seorang bibi yang dipercaya oleh mama mengasuh saya. Sebuah kalimat yang sangat asing, namun tidak pernah saya bertanya. Baru sekian belas tahun kemudian saya mulai mengerti apa yang diserukan nenek kepada kami.
Nenek menyerukan mencuci rambut saya dengan campuran air garam. Ya, garam dapur yang asin itu lho... Maksudnya supaya terhindar dari ketombe.
Entah informasi darimana nenek menyarankan mencuci rambut dengan campuran air garam. Waktu nenek masih ada (nenek sudah meninggal pada tahun 2016) saya sempat bertanya tapi jawabnya simple: itu sudah turun temurun. Saat nenek masih gadis, bersama teman-teman satu kobong (satu kamar di pesantren) mereka sudah melakukan itu.
Saya iseng baca melalui kolom pencarian di internet, terkait mencuci rambut dengan campuran air garam ini. Dan hasilnya memang banyak, hanya saat ini lebih modern, air garam disarankan dicampur lagi dengan bahan lain seperti minyak kelapa, lemon, cuka apel, minyak zaitun, dan atau lidah buaya.
Saya percaya karena bahan-bahan itu sejak dulu pun dipakai para bibi (adik ibu saya perempuan ada 4 orang) dan rambut mereka sampai sekarang masih hitam. Kulit kepala bersih. Terutama bibi yang tinggal di kampung. Bibi yang menikah dan merantau ke kota karena berbagai kendala dan keterbatasan lalu menghilangkan kebiasaan itu akhirnya rambutnya ada yang rontok, muncul Ketombe dan gatal-gatal.
Kearifan lokal yang sejatinya bisa dikembangkan itu memang memiliki khasiat yang tidak diragukan. Salah satunya mengobati masalah ketombe pada rambut dengan menggunakan resep turun temurun dari nenek yang menggunakan campuran air garam saat berkeramas.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar