Make Up Perempuan dan Keberuntungan
Lebaran masih lama. Saya mah boro-boro kepikiran tentang make-up saat lebaran. Mikirin menu buat sahur sehari-hari saja rasanya sudah puyeng. Semua serasa serba bosan. Hampir saja kembali kepada menu pertolongan pertama pada mie instant.Tapi bicara soal make up, itu mah tergantung kepada kepribadiannya masing-masing, ya. Cantik itu kan relatif. Dan setiap orang khususnya kaum perempuan pasti punya takaran kecantikannya masing-masing.
Jangankan untuk hari spesial seperti lebaran, dimana disunahkannya mengenakan pakaian terbaru dan terbersih. Untuk keseharian saja kalau sudah terbiasa dandan dan tampil harus pakai make up pasti selalu menyediakan ekstra luang.
Salut pokoknya saya sama kaum ibu yang pas ketemu di masjid mau solat tarawih berjamaah beliau ini sudah wangi, harum plus make up yang sempurna pula. Bibir merona merah, alis sudah berukir apalagi itu bulu mata sudah bikin saya ngantuk gitu melihatnya juga juga saking panjang dan melambai, seolah mengajak mata saya ini segera dianyam dan terpejam.
Iseng saya suka mikir si ibu itu kalau dilombakan pasti bakal menjuarai lomba make up berdasarkan waktu tercepat. Lah iya kan? Bisa kita bayangkan jeda antara waktu berbuka sama waktu isya itu paling lama 1 jam. Saya sendiri saja waktu sejam tidak cukup buat beresin meja makan, urus anak dan solat magrib. Saya banyak skip acara yang bisa saya tunda seperti cuci piring, makan es buah, dan atau update status apa sih kecuali memang ada campaign yang waktunya jam segitu.
Setelah adzan magrib saya langsung bersama anak dan suami berbuka dengan yang manis-manis. Ketika suami ke masjid (kadang bersama anak, kadang tidak) saya pun buru-buru menunaikan solat magrib. Kadang jika tidak bisa menunggu nak dipersilakan makna duluan solat magribnya nanti setelah makan.
Suami datang dari masjid langsung makan bersama. Kadang anak masih belum selesai makan juga dan tetap harus dibantu ini itunya. Selesai makan itu jam setengah tujuh lewat. Itu termasuk makan cepat. Kalau tidak bisa lebih makan waktu. Segera mendampingi anak wudhu, solat magrib dan langsung persiapan untuk tarawih ke masjid.
Saya sendiri persiapan di dapur alakadarnya. Banyak yang saya skip karena keteteran waktu itu tadi. Paling cuma tutup-tutup sayur dan makanan lalu persiapan untuk tarawih setelah anak lebih dahulu siap.
[caption id="attachment_8268" align="aligncenter" width="231"]Setelah mandi cepat, berwudhu lalu mengenakan mukena langsung biar praktis. Tidak sempat itu bedakan, apalagi lipstick an terlebih mengukir alis atau pasang bulu mata palsu anti badai. Wes segitu saja rasanya sudah maksimal.
Makanya saya salut dan kagum dengan mereka kaum ibu yang ketika ketemu di masjid mereka sudah kinclong dengan make up yang sempurna.
Pikir baik saya sih oh, pantas mungkin si anu kan tidak punya anak kecil. Atau oh terang saja bisa punya banyak waktu soalnya di rumahnya kana ada asisten rumah tangga yang bantu semua pekerjaan rumah. Dan pikiran positif lainnya. Jadi ke saya nya juga senang dan bahagia juga. Iyalah masa juga orang yang berhasil dandan kok saya yang stress? Hehehehe...
Ini semua memang keberuntungan mereka. Tetapi meski saya tidak pernah make up an tapi bukan berarti saya tidak beruntung lho ya. Make Up tipis wae mah bisa lah. Tapi tetap semua buat suami saja di rumah. Bukan buat dipajang di luaran. Hehehe.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar