Amazing Situ Gunung The Longest Suspension Bridge di Sukabumi
The longest suspension bridge Situ Gunung satu-satunya jembatan gantung terpanjang di Indonesia dengan ukuran panjang 240 meter dan tinggi rata-rata 120 meter yang berada di lokasi wisata Resort Situ Gunung, wilayah Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP), Kecamatan Kadudampit Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat Indonesia.
Sebenarnya saat kami berkunjung jembatan gantung ini masih dalam tahap soft opening. Penerimaan kunjunjungan wisatawan yang masih bersifat sementara untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat sebelum akhirnya jembatan gantung ini nanti diresmikan.Saat itu jembatan ini mulai dibuka secara soft opening sejak Jumat (15/6/2018) hingga Minggu (24/6/2018).
Jadi wisatawan dapat merasakan sensasi berjalan di atas ketinggian sambil bergoyang dan kadang ditemani kabut yang menerpa wajah menyejukkan mulai sejak Jumat, 15 Juni 2018 sampai Minggu, 24 Juni 2018.
Tak ayal pengunjung dari berbagai daerah pun menjadikan kesempatan ini sebagai pengisi libur lebaran dan libur panjang sekolah. Banyak yang datang termasuk kami karena penasaran dengan keberadaan jembatan gantung yang foto serta video nya viral di berbagai media sosial.
Jembatan bermaterial baja yang dibangun di atas pepohonan ini panjangnya mencapai 240 meter dengan lebar 2 meter. Sementara jarak dari permukaan tanah paling tinggi mencapai 161 meter. Papan jenis kayu merbau asal Papua sengaja dipilih sebagai pijakan pada jembatan ini.
Mengingat akan ada banyak pengunjung ke jembatan gantung ini maka sengaja kami berangkat lebih awal. Pukul 7.30 sudah di lokasi dan segera membeli tiket masuk berupa kartu disertai satu lembar kertas berisi daftar lokasi wisata dan kegiatan selama berkunjung. Untuk dewasa tarif sebesar Rp.50ribu dan anak-anak Rp.25ribu.
Harga tiket sudah termasuk lokasi wisata jembatan gantung, welcome drink, spot foto balkon, air terjun (curug) Sawer, dan danau Situ Gunung yang jarak serta arahnya berbeda sendiri.
Karena itu wisatawan disertai kertas daftar lokasi wisata yang pada setiap kunjungan akan diisi oleh petugas. Sehingga semua berkesempatan mengunjungi semua lokasi wisata dengan 1 tiket pada hari yang sama.
Seperti di Kawah Putih dan lokasi wisata lainnya, wisatawan terdata dengan menempelkan tiket berupa kartu di mesin pendata. Udara pagi masih terasa segar sementara naluri tubuh berebut kehangatan dari sinar matahari yang menerobos dari pepohonan yang menjulang.
Berjalan sekitar 300 meter sampai di balkon spot foto sekaligus wisatawan dipersilahkan ambil air minum. Pagi tadi kami disediakan teh, kopi dan bandrek. Wah... Segarrr...
Sambil minum teh, sementara mantan pacar memilih minum bandrek, di balkon kita bisa foto-foto sambil menikmati pemandangan yang menghijau. Mirip-mirip di Taman Hutan Raya Dago Pakar gitu lah.
Dari balkon ini terlihat jembatan gantung yang dibangun atas kerjasama Balai Besar TNGGP di bawah Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dengan PT Fontis Aqua Vivam. Saya dengar jembatan gantung ini bukan hanya terpanjang di Indonesia, tapi diklaim juga sebagai suspension bridge terpanjang di Asia. Wow!
Kami segera berkemas dan menghabiskan minum karena Fahmi sudah tidak sabar ingin segera menginjakkan kaki di jembatan gantungnya. Berjalan lagi sekitar 200 meter menuju jembatan dengan pepohonan yang rimbun dan masih terjaga kealamiannya.
Taraaa... Akhirnya kami menikmati sensasi bergoyang eh berjalan di jembatan gantung yang lagi kekinian ini. Fahmi tidak ketakutan dia malah inginnya cepat-cepat sampai ke ujung. Dia pikir ini jalan di jembatan gantung perlombaan kali ya.
Sebagai bentuk pelayanan ada banyak para petugas di sepanjang jembatan gantung ini. Mereka cukup ramah mengatur dan mendampingi para wisatawan. Di awal dan beberapa yang memegang pengeras suara mereka sampaikan aturan-aturan saat menyeberang jembatan.
Selama berjalan di atas jembatan, amazing seolah kita berjalan di atas pucuk-pucuk pohon yang berusia puluhan atau bahkan ratusan tahun. Hijau dan segar. Itu jika kebetulan matahari tengah bersinar. Namun kabut sering tiba-tiba muncul dan buat kami ini menambah suasana semakin indah.
Setelah sampai di ujung jembatan gantung yang menghubungkan dua hutan hujan tropis pegunungan dataran tinggi ini, kita bisa melanjutkan perjalanan ke Curug (air terjun) Sawer di aliran sungai Cigunung dan Danau Situgunung. Hanya berjalan menurun sekitar 10 menit air terjun pun sudah bisa kita saksikan.
Di sekitar air terjun, sama seperti di pintu masuk pertama, masih banyak dilakukan renovasi bangunan untuk kenyamanan wisatawan kedepannya. Pembangunan jembatan, sarana dan prasarana sampai penataan lingkungan semua dikerjakan dengan maksimal.
Di dekat curug terdapat toilet, mushola, dan kantin yang sangat lengkap. Setelah kedinginan bermain air bisa jajan sepuasnya yang panas-panas seperti bakso, jagung bakar, mie rebus, atau lainnya.
Puas bermain air (sebenarnya Fahmi masih enggan beranjak, betah dan gak mau udahan) dan jajan kuliner kesukaan hingga tenaga full lagi, kami naik bukit lagi mengulang jalan awal. Kalau kelelahan bisa naik ojek diantar sampai parkiran lho cuma jalan memutar. Dan kami memilih kembali saja ke jalan semula biar bisa menaiki jembatan gantung lagi.
Saat mau kembali, sekitar pukul 10 tidak kami sangka pengujung yang akan menyeberang ternyata sudah membludak dan antri sangat panjang. Bersyukur kami datang pagi sehingga saat orang lain masih antri kami malah sudah puas foto-foto.
Menurut standar operasional, kapasitas sekali melintas jembatan gantung sebanyak 40 hingga 50 orang. Karena itu wisatawan wajib antri. Saya lihat pasti tidak nyaman juga karena tidak bisa santai foto dan menikmati suasana karena para petugas di titik start, finish serta beberapa orang di sepanjang jembatan siap mengobrak-abrik yang kelamaan foto atau bergerombol. Mungkin karena menjelang hari terakhir soft opening besok maka wisatawan sangat membludak. Mungkin kalau jembatan gantung ini telah grand opening, dibuka untuk umumMeski saat datang sudah foto-foto saat kembali kami masih foto lagi. Soalnya suasananya beda, lho. Saat datang panas banget. Pas kami lewat mau pulang eh banyak kabut dan jadi teduh.
Sepanjang jalan mau keluar pintu gerbang utama saya masih melihat antrian yang mau masuk masih banyak dan panjaang. Padahal hujan juga mulai turun.
Karena sayang satu spot foto belum dikunjungi maka meski hujan rintik-rintik kami menggunakan tiket terusan untuk sekalian turun ke danau Situgunung. Melihat gelagat Fahmi sudah kelelahan dan cuaca juga mulai tidak nyaman
Tidak ada komentar:
Posting Komentar