Selasa, 10 April 2018

TAK SELAMANYA HIDUP DI LUAR NEGERI INDAH: HAPPY LIFE BEFORE 40’S

TAK SELAMANYA HIDUP DI LUAR NEGERI INDAH: HAPPY LIFE BEFORE 40’S

Karena masalah ekonomi saya berani ambil resiko menjadi TKW meski banyak terdengar kabar buruknya daripada kesuksesannya.

Saya tidak mengenyam pendidikan, tidak ada pekerjaan yang memenuhi kecuali jadi TKI. Disaat kebutuhan hidup terus meningkat disertai harga-harga kian melambung tinggi, tidak ada pilihan lagi.

Bekerja di rantau menjadi surga dunia bagi TKW yang beruntung. Gaji bulanan melebihi penghasilan tetangga yang jadi PNS, libur tiap tanggal merah, ditambah kesempatan lain yang bisa dilakukan saat di luar negeri. Kesempatan yang belum tentu bisa dilakukan kalau saya hanya diam di kampung.

Terlena dengan kemewahan itu banyak TKW pulang pergi ke luar negeri ibarat pergi ke kamar mandi. Sesungguhnya mereka adalah keluarga yang terjerat hutang karena bergaya hidup mewah sementara penghasilan hanya mengandalkan anak/saudara perempuan atau istri yang bekerja jadi TKI.

[caption id="attachment_5592" align="aligncenter" width="297"] Aksi buruh di Taipei[/caption] Saya tidak ingin seperti itu. Saya sadar, tidak akan selamanya jadi TKI. Suatu saat akan pulang kampung dan menjalani kehidupan yang sebenarnya bersama keluarga. Karena itu saya memilih bergabung bersama barisan TKW yang cenderung memilih menabung atas nama rekening sendiri, melanjutkan sekolah kejar paket atau kuliah, dan berinvestasi. Selain itu, saya juga mempercayakan dana hari tua kepada perusahaan asuransi jiwa yang terpercaya. Saya punya mimpi dan keinginan setelah pensiun jadi TKW kehidupan saya lebih baik. Daripada bolak balik jadi TKI bukankah lebih baik merencanakan kehidupan yang matang setelah finish contract? [caption id="attachment_5590" align="aligncenter" width="300"] www.commlife.co.id[/caption]

Merantau cukup jadi batu loncatan. Setelahnya saya ingin beribadah dengan tenang, fokus mengurus keluarga dan hidup bermanfaat bagi masyarakat.

Saat teman-teman barbeque atau piknik saya memilih belajar, mengatur keuangan, mencari sumber investasi legal, dan memilih asuransi jiwa untuk hari tua. Susah dulu di perantauan demi kebahagiaan nanti di kampung halaman. Gaji saya masukkan dalam pos tabungan, pos pengeluaran, dan membeli produk asuransi jiwa.

Memang bagi TKW umumnya, asuransi sama sekali tidak dilirik dan tidak jadi prioritas. Tapi buat saya asuransi adalah salah satu cara untuk melindungi diri dan keluarga dengan memberikan keamanan finansial jika terjadi hal yang tidak diinginkan kelak.

Belum banyak TKW yang mengerti akan manfaat asuransi. Padahal tidak rugi. Karena kalau pun hal tidak diinginkan itu tak menimpa, premi yang saya bayar bisa diambil lagi sesuai dengan ketentuan. Kecanggihan teknologi membuat saya mudah mendapatkan informasi asuransi lengkap. Pencarian merujuk pada Commonwealth Life sebagai perusahaan asuransi terbaik di Indonesia. Unit link yang ditawarkan bermacam-macam dan legalitasnya sudah terjamin oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Tidak berat menyisihkan uang gaji saat bekerja di luar negeri. Hal itu sebenarnya adalah salah satu cara investasi terbaik bagi para buruh. Jadi selagi bisa, saya putuskan lebih baik mengurangi uang jajan dan memenuhi kebutuhan finansial untuk bekal masa depan. [caption id="attachment_5593" align="aligncenter" width="300"] Bersama Chinese Mooslem Taiwan menyelenggarakan tablig akbar di Chungli[/caption]

Sebelum usia menginjak 40 tahun insyaallah persiapan mental, fisik dan materi yang dilakukan di negara orang akan berbuah kebahagiaan.

Status boleh jadi TKW tapi dalam soal kebahagiaan harus bisa melebihi orang terkaya di kampung. Sebagai istri, sebagai ibu dan sebagai aktivis buruh saya ingin sepulangnya dari merantau bisa lebih bermanfaat bagi yang lain.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar