Selasa, 10 April 2018

Menjelajah Nusantara di Kota Lumpia

MENJELAJAH NUSANTARA DI KOTA LUMPIA BERSAMA SKYSCANNER

Bahagia ketika bisa menikmati perjalanan Jakarta - Singapura, Jakarta - Hong Kong dan Jakarta - Taipei dengan pesawat Garuda Indonesia. Meski status saya bolak balik ke luar negeri hanya sebagai TKW alias Tenaga Kerja Wanita Indonesia (TKI) yang banyak diberitakan kabar buruknya.

Majikan saya tukang pelesir. Saya sering diajak jalan walau sebenarnya sambil kuli ngasuh momongan dan itu di lokasi wisata dalam negeri saja. Tapi gitu saja sudah bikin bahagia dan bersyukur banget.

Satu peristiwa yang tidak akan lupa ketika majikan pulang berlibur dari luar negeri, tepatnya dari Pulau Bali, Indonesia. Mereka bercerita sangat senang dan menikmati liburannya. Saya yang saat itu belum pernah ke Bali ikut menyimak dan melihat foto-foto mereka. Wuih... beneran indah!

Tapi majikan begitu terkejut ketika mengetahui kalau saya –yang notabene warga negara Indonesia—sama sekali belum pernah ke Pulau Bali.

Jie-jie, way semo ni hai mei yo ci Pali Tao? Ni che tau ma, Pali she hen piau liang te tifang.”[1] Kata majikan mengungkapkan rasa herannya. “Ni sh Inni ren. Ni yao ci, cau, khan-khan cienpu hen piau liang te tifang cai Inni. Pu rang mosheng ren da pai ni men!”[2] Lanjut majikan berapi-api menyemangati. Sejak saat itu saya selalu kepikiran dengan perkataan majikan. Jangan dulu terpesona dengan keindahan negara orang, sebelum menjelajahi seluruh jengkal tanah Indonesia serta menggali adat dan kebudayaannya yang sebenarnya teramat indah dan murah.

MENJELAJAH INDONESIA DI KOTA LUMPIA

Indonesia negara luas dan kaya. Baik sumber daya alam maupun keanekaragaman budayanya. Setelah finish contract dan pulang kampung saya memiliki kesempatan lebih banyak untuk melihat lebih dekat semua keindahan, keanekaragaman, sejarah dan budaya Indonesia yang katanya teramat kaya itu. Meski tentu saja saya tidak akan dapat menginjakkan kaki di setiap jengkal tanahnya.

Beberapa referensi termasuk saran majikan di luar negeri mengatakan kalau mau mengintip berbagai pesona wajah Indonesia dan sejarahnya dalam waktu singkat dan budget minim, yang seru awali saja penjelajahan dari Kota Lumpia.

Kota Lumpia alias Semarang di Jawa Tengah diketahui sebagai tempat dimana ragam corak budaya dari seluruh Nusantara bahkan luar negeri terakulturasi. Ibu kota provinsi Jawa Tengah ini disebut kota budaya karena memiliki banyak peninggalan kuno yang jadi pusaka bangsa. Jika belum sempat menjelajah Nusantara secara keseluruhan, maka untuk menemukannya coba datang saja ke Semarang.

Di kota yang juga terkenal dengan sebutan kota jamu, kota santri dan kota tua ini kekhasan berbagai budaya Indonesia melebur dalam satu kesatuan.

Mengunjungi Semarang tidak sesulit atau semahal yang dibayangkan. Ada banyak penawaran tiket pesawat dengan harga terbaik yang bisa kita dapat melalui Skyscanner. Jadi traveler harus pintar. Jika ada harga murah dan cara praktis, kenapa harus pilih yang merepotkan dan tidak jelas? Begitu kata majikan saya dulu. Ayo ah, segera buka Skyscanner dan dapatkan tiket untuk menjelajahi Semarang, kota sejarah ini.

SKYSCANNER

[caption id="attachment_5533" align="aligncenter" width="300"] Profile Twitter Skyscanner[/caption]

Skyscanner adalah situs dan atau aplikasi pembanding harga tiket yang komplit. Dengan menginstal aplikasinya di ponsel atau mengunjungi www.skyscanner.co.id kita sudah bisa melakukan pencarian harga tiket pesawat dalam negeri maupun internasional, penginapan sampai sewa mobil yang murah dan mudah.

Membeli tiket pesawat Garuda Indonesia  melalui Skyscanner sangat mudah. Kita akan mendapatkan harga tiket pesawat terbaik, termurah dan dengan rute tercepat sesuai permintaan. Praktis deh, perjalanan semakin mudah, fleksibel, dan nyaman. Membuka Skyscanner saya memilih membeli tiket pesawat Garuda pulang pergi. Langsung saja tertera daftar harga terbaik dari berbagai agen penjual tiket bisa kita pilih. Lengkap dengan informasinya kapan waktu berangkat, bagaimana kalau transit, lama perjalanan dan apa saja yang akan didapat oleh penumpang selama dalam pesawat. [caption id="attachment_5534" align="aligncenter" width="180"] Berbagai pilihan maskapai penerbangan di tanah air melalui Skyscanner[/caption] [caption id="attachment_5536" align="aligncenter" width="182"] Penawaran terbaik dari Skyscanner[/caption]

Bagi mantan TKW yang punya bekal buat ngebolang pas-pasan seperti saya, beli tiket di Skyscanner bisa menghemat waktu dan  biaya.

Cara melakukan pembelian tiketnya pun tidak rumit. Hanya beberapa detik saja pilihan pembelian tiket dalam jangka waktu sebulan ke depan langsung muncul. Saya akui buat saya yang masih awam cara aplikasi ini tidak repot dan tidak membingungkan.

Untuk mencari harga promo tiket pesawat bisa gunakan fitur Price Alert (info harga). Skyscanner akan mengirimkan pemberitahuan update via email mengenai perubahan harga pembelian tiket yang sudah kita lakukan, termasuk apabila ada harga tiket pesawat promo. Ini cocok buat yang mau hunting tiket dalam jangka waktu masih lama, tiket untuk mudik misalnya. Dari jauh hari sudah bisa ngincar harga tiket termurah sehingga terbebas dari khawatir kehabisan. Cara menggunakan fitur Price Alert ketika akan membeli tiket pesawat cukup mudah. Pilih menu Flight atau Tiket Pesawat. Lalu masukkan kota keberangkatan, kota tujuan, dan tanggal keberangkatan. Pilih penerbangan sekali jalan, pulang pergi atau ke beberapa kota tujuan sekaligus. Sistem Skyscanner pun dengan cepat dan mudah memberikan penawaran tiket terbaik dan termurah. Kalau mencari tiket pesawat yang murah dengan penerbangan langsung tanpa transit, bisa pakai fitur Filter. Jadi pencarian hanya akan menampilkan penerbangan yang kita pilih dan penerbangan langsung saja. Adapun fitur Short, adalah cara untuk melihat harga tiket secara berurutan sesuai dengan waktu keberangkatan atau harga yang paling murah. Supaya tidak terlewat informasi promo, tips travelling dan berita lainnya daftarkan email di situs Skyscanner untuk mendapatkan newsletter. Karena nantinya segala informasi itu akan dikirim ke email yang didaftarkan itu. Jangan lupa pantau juga akun media sosial Skyscanner : Facebook @Skyscanner Indonesia Instagram @SkyscannerIndonesia Twitter @SkyscannerID

Naah... Sekarang tiket sudah di tangan. Saatnya menjelajah nusantara. Yeah!

oo00oo Perjalanan saya ke Semarang dimulai dengan keberangkatan di pagi buta. Cek in di bandara pukul enam pagi membuat pukul 3 sudah bangun dan bersiap melakukan penjelajahan. Sarapan saya lakukan di Garuda Executive Lounge yang berada di Bandara Soekarno Hatta areal penerbangan dalam negeri F1-F7.

Tiba saatnya terbang, saya bersama penumpang lain memasuki pesawat dengan tertib. Menikmati penerbangan dengan nyaman termasuk menikmati menu makanan ringan yang disajikan pramugari. Sampai tidak terasa akhirnya saya tiba di Semarang.

 

 

Mengintip Nusantara dari Kota Lumpia, kemana saja?

1. Sam Poo Kong

Tiba di kota lumpia tujuan wisata pertama membawa saya menjelajahi Kelenteng Sam Poo Kong. Kenapa kemari? Biar tahu sejarah masuknya Islam di Semarang dan keunikan lainnya.

Kelenteng Sam Poo Kong adalah tempat peribadatan dan pemujaan dewa dewi dalam agama Tri Dharma yaitu Tao, Confusius, dan Budha.

Padahal sejarahnya Gedung Batu dimana lokasi kelenteng ini berada adalah bekas persinggahan Laksamana Cheng Ho asal Tiongkok yang beragama Islam. Saat berlayar pasukan yang dipimpinnya singgah dan mendirikan mesjid di sekitar Gua Batu yang kini justru dijadikan bangunan kelenteng.

[caption id="attachment_5544" align="aligncenter" width="300"] Gedung Batu tempat Cheng Ho singgah meski seorang muslim dijadikan tempat ibadah penganut Tri Dharma[/caption]

Meski Laksamana Cheng Ho seorang muslim dan sempat menyebarkan ajaran agama Islam di persinggahannya itu namun lokasi itu kini dijadikan tempat bersembahyang penganut Kong Hu Cu.

Terdapat patung-patung Sam Po Tay Djien karena mereka menganggap Cheng Ho adalah seorang dewa. Tuh, di Sam Poo Kong ini kita sudah dapat pengetahuan sejarah Indonesia yang cukup unik bukan?

[caption id="attachment_5568" align="aligncenter" width="225"] Sewa pakaian tradisional dan foto narsis di Sam Poo Kong[/caption] 2. Kafe Gallery Koenokoeni

Lelah setelah menjelajahi Sam Pop Kong penjelajahan saya lanjut menuju ke Kafe Gallery Koenokoeni untuk santap makan siang. Bukan tanpa alasan jauh-jauh mampir di kafe yang pantasnya saya sebut restaurant ini. Apalagi kalau bukan menemukan sisi keunikannya.

Kafe yang berada di daerah ketinggian ini selain mempunyai menu khas masakan Jawa dan western juga memiliki koleksi barang-barang antik yang dipajang di setiap tempat. Saya menikmati tahu gimbal dan nasi ayam kuliner khas Semarang sekaligus sambil melihat sepeda motor jaman dulu dan barang antik lainnya.

Koleksi barang antiknya sangat banyak dan tampak “aneh” bagi anak zaman now yang belum pernah mengalami pada jamannya. Cocok dengan namanya, koeno artinya jaman kuno, koeni artinya kuno sekali. Kalau punya waktu banyak sambil menyantap makanan sekaligus kita bisa lho ngobrol-ngobrol dengan orang kafe untuk mencari informasi terkait barang-barang antik yang dipajang di sana.

[caption id="attachment_5546" align="aligncenter" width="300"] Mesin tik, mesin jahit dan koleksi barang antik lainnya di KoenoKoeni[/caption]

Pemandangan di depan kafe pun sangat menawan. Dari terasnya, rumah-rumah penduduk kota Semarang terlihat begitu unik menghampar sejauh mata memandang.

[caption id="attachment_5576" align="aligncenter" width="300"] Kota semarang dari teras Koenokoeni[/caption]

 

3. Vihara Buddhagaya Watugong.

Kebhinekaan Bangsa Indonesia sudah terkenal ke penjuru dunia. Bangunan Pagoda Avalokitesvara yang menjulang menakjubkan ini salah satu bukti nyata yang juga berada di Semarang.

Pagoda dengan ketinggian mencapai 45 meter ini terdiri dari 7 tingkat. Tiap tingkatnya terdapat 4 patung Dewi Kwan Im yang menghadap ke empat penjuru arah angin. Bangunan bergaya arsitektur China ini memiliki relief yang unik. Vihara Watugong dimana lokasi pagoda ini berdiri adalah yang pertama dibangun di Indonesia setelah zaman kerajaan Majapahit.

Waktu kian beranjak sore, penjelajahan diakhiri dengan cuci mata di berbagai lokasi penjual oleh-oleh Semarang sebelum masuk ke penginapan. Ada banyak pilihan berupa kuliner jajan tradisional atau barang kenangan berupa cinderamata. Bandeng presto, lumpia, tahu pong dan banyak menu khas lainnya sangat menggoda untuk diicip.

Pusat sentra oleh-oleh dapat menambah kepuasan penjelajahan. Perut kenyang, hati senang. Baru sehari di Semarang jiwa sudah mendapat asupan wawasan yang luar biasa menakjubkan.

[caption id="attachment_5574" align="aligncenter" width="300"] Salah satu sentra oleh-oleh di Semarang[/caption] 4. Gereja Blendhuk

Pagi hari setelah sarapan di hotel saya langsung menuju Gereja Blenduk untuk eksplorasi keberagaman di Indonesia lainnya di kota lumpia ini.

Gereja Blendhuk yang dibangun Belanda pada tahun 1753 adalah gereja Kristen tertua di Pulau Jawa. Bentuknya yang bergaya neo klasik memiliki sudut oktagonal berbeda dengan bangunan gereja pada umumnya. Orang yang tidak tahu, sepintas melihat “mblendhuk” atau bulatan di atas bangunan yang bernama asli Gereja GPIB Immanuel ini seperti bangunan kubah masjid.

Dalam gereja ini kita masih bisa menemukan keaslian furniture kuno yang sudah ada sejak zaman penjajahan Belanda. Lantai kuno yang beralas keramik mirip karpet selalu terjaga kebersihannya. Kursi jemaat berjejer rapi bergaya klasik. Dudukan kursi berbahan anyaman bambu. Beneran asli terbuat dari bambu, lho. Sekian puluh bahkan ratus tahun gitu kuat ya? Begitu juga kayu-kayu penyangga bangunan lainnya. [caption id="attachment_5549" align="aligncenter" width="300"] Dudukan dan sandaran kursi dari anyaman bambu[/caption] [caption id="attachment_5550" align="aligncenter" width="225"] Orgel dan tangga besi berumur ratusan tahun[/caption] [caption id="attachment_5551" align="aligncenter" width="225"] Altar Gereja Blendhuk[/caption] Di tengah ruangan kebaktian dihiasi lampu gantung Kristal Eropa Timur yang sangat megah. Di dindingnya ada orgel reksasa ala Baroque yang meski tidak bisa digunakan lagi, tetapi harga dan sejarah nya ditaksir pasti mahal banget. Orgel itu memang sudah rusak dan tidak ada alat untuk membetulkan, mungkin karena sparepart nya sudah tidak diproduksi. Tangga melingkar yang menjadi jalan menuju orgel tersebut terbuat dari besi tempa yang dibuat dan didatangkan langsung sesuai desain dari perusahaan Pletterij di Den Haag, Belanda. Benar-benar antik dan kuat luar biasa ya? 5. Lawang Sewu Setelah charged diri dengan isoma, penjelajahan selanjutnya menuju Simpang Lima. Mengunjungi bangunan kuno dan megah berlantai tiga yang memilik nilai sejarah yang tinggi bagi bangsa Indonesia. Orang menyebutnya Lawang Sewu, sebagai sebutan bangunan seribu pintu meski aslinya pintu yang ada tidak mencapai ribuan. [caption id="attachment_5569" align="aligncenter" width="300"] Lawang Sewu. Satu ruangan saja memiliki beberapa pintu. Unik ya?[/caption]

Gedung sejarah ini milik Kantor Djawatan Kereta Api Repoeblik Indonesia (DKARI) yang sekarang menjadi PT Kereta Api Indonesia. Dulunya bangunan ini pernah dipakai sebagai Kantor Badan Prasarana Kodam IV/Diponegoro dan Kantor Wilayah Kementerian Perhubungan Jawa Tengah.

Peristiwa historis terkenal dari Lawang Sewu adalah saat berlangsung pertempuran lima hari di Semarang (14 Oktober sampai 19 Oktober 1945). Gedung Lawang Sewu jadi saksi pertempuran antara Angkatan Muda Kereta Api (AMKA) dengan Kempetai dan Kidobutai, Jepang. Banyak tawanan penjajahan meninggal di areal bangunan ini.

Dulu Lawang Sewu terkenal angker dan banyak mitos. Sekarang bangunan tua ini sudah mengalami konservasi dan revitalisasi. Pengunjung hanya diperbolehkan masuk di lantai utama serta gedung sayap yang dijadikan museum. Lantai 3 dan lantai bawah tanah ditutup untuk pengunjung.

Beruntung saat saya ke sana masih bisa memasuki lantai dasar dimana terdapat penjara terkecil ukuran 1 meter saat jaman penjajahan dulu. Konon banyak tawanan mati berdiri karena ruangan satu meter diisi banyak tawanan. Cerita mistis pun berhamburan.

Ruang bawah ini sekaligus lorong yang jadi saluran air. Jadi supaya tidak basah saat masuk kita disediakan sepatu bot dan lampu senter. Seram-seram tapi penasaran gitu deh berjalan merayap memasuki lantai bawah melalui tangga yang hanya cukup dilalui satu orang dalam keadaan gelap. Belum suara air dan gema nafas sendiri yg menggema. Menambah kesereman pokoknya.

[caption id="attachment_5552" align="aligncenter" width="300"] Menelusuri lorong bawah tanah Lawang Sewu berbekal senter dan sepatu boot.[/caption] 6. Toko OEN

Selesai mengelilingi Lawang Sewu tidak terasa waktu sudah sampai di sore hari. Saatnya mengisi perut dan saya memilih mampir ke toko OEN yang meski jadul tapi masih berdiri kokoh sebagai persinggahan sore itu.

Sajian andalan yang dijual di Toko OEN adalah es krim yang menurut salah satu pegawainya resep es krimnya didapat secara turun temurun. Toko OEN Semarang adalah cabang dari Yogyakarta dan Malang.

Selain itu bangunan tua di sudut Jalan Pemuda ini menawarkan makanan tradisional baik menu makan besar maupun jajan pasar tradisional yang bisa dibawa pulang sebagai oleh-oleh. Lumpia, wingko babat, es conglik, dan roti ganjel rel jadi makanan khas yang teramat diminati pengunjung di toko bernuansa vintage ini. [caption id="attachment_5556" align="aligncenter" width="300"] Masakan tradisional rumahan khas toko OEN[/caption] [caption id="attachment_5557" align="aligncenter" width="225"] Aneka kue tradisional yang ada di toko OEN[/caption]

Sisa waktu setelah makan saya gunakan untuk foto-foto dan ngobrol dengan para penjual. Disana banyak saya temukan wajah-wajah dan karakter sudut Indonesia yang belum pernah saya temui sebelumnya.

Berjalan menyusuri angkringan gaul sambil menikmati suasana jadi pilihan menghabiskan malam sebelum saya kembali ke penginapan.

7. Sentra Batik Semarang

Nah belum lengkap menjelajah Indonesia jika belum menjumpai batik, kerajinan tulis asli milik bangsa yang sudah dipatenkan dunia. Ada banyak sentra batik yang dengan mudah bisa kita kunjungi di sekitar kota tua ini. Salah satu sentra batik yang saya kunjungi di Semarang adalah daerah Lasem.

[caption id="attachment_5558" align="aligncenter" width="300"] Pak Sigit, pengusaha batik di Lasem[/caption] Di sentra batik Sekar Kencana milik Pak Sigit Wijaksono selain mendapat ilmu sejarah Batik Lasem, kita juga bisa belajar langsung membatik dan mengenal lebih jauh tentang bangunan rumah klasik chinese-nya yang sampai sekarang tetap dipertahankan. Lasem memiliki banyak julukan. Le Petite Chinois, Chinese van Java, atau Tiongkok of Java. Kesan etnik Chinese yang menjadi sumber kebudayaan di Jawa khususnya bagian utara ini memang sangat kental.

Begitu juga dengan batik Lasem yang dirintis oleh ibunda Raden Patah yang bernama Nalini alias Ratu Campa, permaisuri dari Raja Majapahit Brawijaya V. Batik Lasem terkenal dengan coraknya yang berasal dari perpaduan budaya Tiongkok dan Jawa.

[caption id="attachment_5559" align="aligncenter" width="300"] Corak burung hong[/caption] Batik Lasem memiliki corak khas berwarna merah darah ayam, motif latohan (sejenis rumput laut), motif watu pecah (simbol kejengkelan rakyat) dan motif peranakan (keturunan chinese) seperti burung hong, naga, dan tambahan huruf Mandarin.

Ada beberapa macam batik yang bisa ditemui di sentra batik. Ada batik tulis semarangan, batik tulis semarang, dan batik cap semarang.

[caption id="attachment_5564" align="aligncenter" width="300"] Batik dengan ciri khas huruf Tionghoa[/caption] Di sentra batik ini saya mencoba membatik secara langsung dilanjutkan menyaksikan proses pengolahan kain yang telah dibatik tadi di rebus, di jemur dengan diangin-anginkan hingga proses finishing.

Seharian di tempat membatik banyak memberikan pelajaran sejarah dan seni bernilai tinggi. Sama sekali tidak bosan, yang ada justru kekaguman melihat mereka pekerja yang ulet, telaten, dan penuh kesabaran menjadikan helaian kain polos menjadi kain bernilai dan berseni tinggi. Padahal mereka banyak yang sudah tidak muda lagi.

Tempat workshop nya terkesan jadul. Lantai rumah utama masih terbuat dari papan dengan ruang bawah tanah di bagian bawahnya. Sementara lantai lainnya masih dipelur semen, tidak menggunakan keramik. [caption id="attachment_5565" align="aligncenter" width="300"] Lantai kayu dengan ruang bawah tanah di bawahnya[/caption] [caption id="attachment_5566" align="aligncenter" width="225"] Alat dan tempat mencelup batik yang masih serba manual[/caption]

Begitu juga perabotan dan alat untuk membatik. Semua dikerjakan dengan manual oleh tangan manusia. Berada di lingkungan ini serasa kembali ke kehidupan bangsa Indonesia di jaman tempo dulu.

Lelah dan penasaran serasa terbayar sudah setelah santap makan siang yang disajikan tuan rumah Pak Sigit selaku pemimpin workshop. Menu makan tradisional khas Lasem pun terhidang. Menu yang mengingatkan saya pada masakan Ama (nenek) orang tua majikan saat bekerja di Taiwan.

Yang buat saya teramat suka adalah kain karya sendiri berhasil disulap menjadi warna warni dan bercorak indah. Benar-benar berasa sudah jadi orang Indonesia manakala berhasil menciptakan kain batik meski hasilnya apa adanya.

[caption id="attachment_5578" align="aligncenter" width="300"] Selesai juga batiknya :) berasa banget jadi orang Indoensia[/caption] oo00oo

Tidak terasa usai sudah perjalanan 3 hari menjelajahi Nusantara di kota lumpia. Perjalanan dilanjutkan langsung ke bandara Ahmad Yani Semarang, mempersiapkan cek in pesawat jelang petang.

Meski repot dengan bawaan dan lelah badan setelah eksplor wisata warisan budaya, urusan pulang tidak lagi membingungkan karena tiket kepulangan sudah dibeli sejak awal melalui Skyscanner. Inilah salah satu keuntungan berburu tiket melalui Skyscanner, penerbangan sudah diakomodasi disertai kenyamanan.

[caption id="attachment_5527" align="aligncenter" width="300"] Saatnya pulang terbang kembali bersama Garuda Indonesia ke Jakarta[/caption]

Dalam perjalanan pulang menuju Jakarta, pikiran saya dipenuhi jutaan ilmu dan pengetahuan baru. Indonesia itu luas. Dan saya baru saja mengunjungi satu kota saja. Itu pun tidak tiap sudutnya saya kunjungi. Meninggalkan Semarang tidak hanya buah tangan yang saya bawa, tapi juga pemahaman jika kota tua ini sekaligus jadi sumber pembelajaran tentang pluralisme, toleransi, kelembutan, kedamaian dan kepedulian. Semua mencerminkan wajah dan karakter bangsa kita, Bangsa Indonesia.

Teramat beruntung ketika setelah mengunjungi Semarang, satu per satu objek wisata yang berada di luar provinsi tempat saya tinggal bisa dicicil saya kunjungi satu per satu. Mulai dari Kerinci di Jambi; Kepulauan Seribu dan wisata lain di DKI Jakarta; Suku Baduy di Banten; Gunung Slamet, Daratan Tinggi Dieng dan berbagai candi di Jawa Tengah; Yogyakarta; Gunung Bromo, Gunung Semeru, Pulau Sempu di Jawa Timur; Pulau Bali, Gunung Rinjani di Nusa Tenggara Barat dan Gili Trawangan sudah saya kunjungi. Dan itu belum seujung kukunya dari kesatuan Nusantara.

Saya terus menabung dan berdoa semoga diberi kesempatan bisa menginjakkan kaki di belahan bumi nusantara lainnya.

Indonesia sungguh kaya objek wisata, mulai dari alamnya, tata kotanya, sejarahnya hingga budayanya. Benar kata majikan saya di Taiwan, Indonesia adalah salah satu surga dunia, karenanya jadi destinasi wisata turis dari berbagai negara. Saya, kamu, kita sudah seharusnya bangga dan melestarikan semua ini. Jangan sampai kita tuan rumah kalah oleh orang asing dalam memperdalam pengetahuan dan kecintaan terhadap Indonesia dan isinya.

 

Catatan Kaki:

[1] Kakak, kenapa kamu belum pernah ke Bali? Tau gak, Bali itu tempat yang sangat indah.

[2] Kamu orang Indonesia. Kamu harus pergi, cari dan lihat semua keindahan Indonesia. Jangan sampai orang asing mengalahkanmu!

 

oo00oo

Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog yang diselenggarakan oleh ID Corners dan Skyscanner.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar