Selasa, 06 Februari 2018

Lelaki Penyendiri

Lelaki Penyendiri

Lelaki ringkih, kurus dengan gaya jalan yang tidak lurus. Bicara sedikit ngelantur, tampak bagai orang udzur. Tidak bisa membaca, pun menghitung nilai mata uang. Sungguh kasihan...

Lelaki itu selalu tampak menyendiri. Orang tuanya telah tiada. Kini ia memang sebatang kara. Setelah sang kakak, satu-satunya pihak keluarga yang ia miliki meninggalkannya untuk selama-lamanya.

Jangan ditanyai kemana anak dan istrinya. Karena lelaki itu penyendiri. Sejak aku diboyong suami pindah ke kampung ini, ia sudah menjadi perhatianku. Suaranya yang kadang terdengar belepotan, kerja kerasnya yang entah dibayar dengan apa secara ia buta huruf dan tidak tahu nilai rupiah yang dipegangnya, semua menjadi perhatianku, meski diam-diam.

"Namanya Tarji. Ia buta huruf. Hidup sebatang kara. Dulu tinggal dengan kakaknya. Tapi setelah meninggal maka Tarji hidup sendiri," jelas suamiku "mengenalkan" orang itu.

"Sendiri?" Dahiku mengkerut.

"Ia tidak punya anak dan istri." Seperti tahu apa yang ada dalam pikiranku, suami langsung mengatakannya.

Kondisi Tarji yang miskin dan buta huruf, ditambah sikap serta tingkahnya sesekali yang tampak bagai orang punya kekurangan mental membuat ia tidak berani untuk melamar perempuan. Pun sepertinya para wanita juga enggan untuk mencintainya. Sehingga menginjak usianya yang memasuki masa tua ia (ditakdirkan?) tetap sendiri. Tidak punya istri.

Rasa iba dan haru semakin membesar dalam diriku manakala melihat Tarji di depan mata. Dulu Tarji kerja di pabrik penggilingan padi samping rumah. Penggilingan yang sepi membuat tempat itu kerap dikunci dari pada menggiling padi. Tugas Tarji membuka kunci pintu penggilingan itu saat akan menggiling, dan menguncinya kembali ketika pabrik sepi tidak ada pelanggan. Selain itu Tarji jadi buruh angkat padi. Atau kuli panggul jika ada yang menyuruh. Hanya pekerjaan kasar yang  mengandalkan tanaga, sebisa-bisa itu yang bisa ia lakukan.

Tapi setelah pabrik penggilingan padi itu diambil alih oleh bandar yang lebih besar maka Tarji tidak tampak lagi. Pabrik penggilingan itu direnovasi, tidak ada lagi kunci rantai yang jika dibuka suaranya yang berderik membuatku melongokan kepala dari jendela. Berganti menjadi roling door yang suaranya halus nyaris tanpa terdengar. Pegawainya pun dituntut lebih cakap dan lebih cerdas. Maka (mungkin) karena itu Tarji diberhentikan. Ia (diduga dianggap) tidak layak bekerja di penggilingan padi yang sudah kekinian.

Sejak itu, Tarji jarang terlihat. Sesekali aku lihat dia berjalan di depan rumah, selalu aku buru-buru panggil dia, sekadar berbagi makanan yang masih ada. Tarji tampak bahagia. Mengucap rasa terima kasih dengan bahasanya yang (maaf) seperti orang terbelakang. Tapi aku mengerti dan itu membuatku semakin terharu.

Maksud Tarji baik. Hanya karena memang ia (mungkin) tidak pernah mendapat pendidikan untuk bicara lebih baik maka gaya dan ucapannya teramat sangat dibawah standar seharusnya. Apa sih... Sejak dua tahun lalu, setiap bulan Syawal dan Muharram Tarji kumasukan di list penerima zakat dan sodaqoh. Aku tahu Tarji tidak mengerti dengan nilai mata uang.  Maka meski tidak besar, dana sumbangan dari donatur tidak cash gitu saja aku berikan kepada Tarji. Melainkan aku belikan lebih dulu kebutuhan sembakonya. Jadi memberi ke Tarji berupa makanan yang memudahkannya.

Ia sampai bersujud dan menaruh apa yang diterimanya itu di atas ubun-ubun kepalanya. Sungguh aku terharu dan tidak jarang sudut mata ini terasa panas. Basah karena air mata.

Selain menjelang Lebaran dan Muharaman itu, lama aku tidak melihat lagi Tarji. Entah kemana. Entah kerja apa. Hingga suatu hari ketika aku dan Fahmi sedang jalan kaki depan sekolah tiba-tiba Fahmi menarik-narik ujung bajuku.

"Ibu, lihat itu Mang Aji kan ya? Mang Aji lagi ngambilin apa, Bu?"

Mata saya mengikuti telunjuk mini Fahmi. Benar, orang yang dilihat dan ditunjuknya di depan sekolah (tepatnya di selokan) adalah Tarji.

Saya menggigit bibir menyaksikannya. Tarji memegang sebuah karung yang sebagian menggelembung sudah terisi. Sesekali ia berjongkok dan mengais sesuatu dari selokan. Tarji mengambili botol-botol dan gelas plastik bekas minuman yang berserakan di selokan depan sekolah. Tarji jadi pemulung?

"Sedang apa Ji?" Aku mendekatinya. Semoga Ia tidak menghindar.

"Aeh Ibu. Mulung Bu... Jualeun." Jawabnya singkat. Begitu polosnya.

Dan selanjutnya ia bicara ngelantur seperti biasa. Kadang bikin aku menahan tawa. Kasihan sebenarnya.

"Nanti ke rumah ya Ji. Ada botol bekas minuman boleh ambil. Lumayan nambah-nambah berat timbangannya ya..."

Ia membungkuk, sebelah tangan gerak seperti menghormat. Wajahnya tampak berseri. Ah, kasihan Tarji. Di zaman serba digital ini ia harus bertarung keras demi bisa mendapatkan uang untuk beli makan. Dan memulung seperti nya itu yang bisa ia lakukan.

Setiap setelah jumpa Tarji, aku selalu kepikiran akan kemauannya yang tinggi serta kerja kerasnya yang tidak terbantahkan itu. Kira-kira apa ya yang bisa kulakukan untuk membantu Tarji? Sejenis membuat aksi atau gebrakan khusunya untuk Tarji supaya ia lebih baik lagi di masa kesendirian hidupnya. Tapi masih bingung. Kira-kira apa yang bisa kulakukan?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar