Rabu, 07 Februari 2018

Aku adalah aku, kenapa harus iri padamu?

Aku adalah aku, kenapa harus iri padamu?

Pagi-pagi sudah merasa bete akut. Terpojok merasa sendirian. Ketika mendapat status teman yang isinya minta rekomendasi tulisan bagus. Dan keluarlah berbagai tulisan bagus pilihan teman-teman. Dari semua tulisan yang direkomendasikan, tulisannya memang bagus dan mayoritas dibuat berdasarkan reportase atau tulisan menghadiri undangan.

Saya menyendiri di pojokan. Merasa diri berada di titik paling bawah. Mendapat nasib menyedihkan berdomisili di pelosok dengan akses angkutan yang sangat tidak lumrah di zaman serba cepat ini.

Saya menerawang kalau saja saya berdomisili di JaBoDeTaBek mungkin akan seperti penulis lain, seperti mereka yang direkomendasikan karena bisa menghadiri setiap even yang diselenggarakan klien dan terus update blog dengan berbagai tulisan pesanan eh reportase. Terbayang selain dapat imbalan, saya juga bisa sekaligus terus berlatih menulis reportase yang baik.

Tapi rupanya Tuhan menakdirkan lain. Saya tetaplah saya yang sudah orang kampung tinggal di gunung dengan akses yang serba minim pula. Paket komplit.

Ibarat sebuah putaran, mungkin ini nasib saya yang sedang berada di titik bagian bawah. Terinjak, terlindas dan nyungsep. Sementara teman yang lain berada di putaran atas, bertabur bintang dan penuh dengan kilau gemerlapan.

Namun sejatinya roda yang berputar setiap peran akan mendapat giliran, bukan? Yang di atas akan kebagian di bawah, yang sebelumnya di bawah suatu saat ke bagian di bagian atas. Begitulah hidup dan kehidupan. Jadi apa yang mesti saya resahkan?

Yang utama buat saya selalu bersyukur dengan apapun kondisi yang kita alami. Dalam segala hal tidak berlebihan karena apapun dalam dunia ini tidak ada yang abadi. Menyukai sewajarnya, membenci seperlunya. Karena bisa jadi saat kita senang besok giliran kita yang bersedih. Saat hari ini kita kecewa, akan Tuhan ganti beberapa saat kemudian dengan kebahagiaan.

Menyikapi semuanya dengan sewajarnya karena sadar Tuhan yang telah mengatur semuanya dan itu pasti adil.

Tuhan memberikan jalan saya tinggal di pelosok supaya saya bisa menulis untuk blog tulisan yang organik, menulis murni tanpa pesanan sponsor atau unsur iklan. Tuhan memberi saya jalan supaya healing semua duka dengan curhat yang semurni-murninya.

Dengan demikian ketika saya menulis mau ada even atau tidak secara tidak langsung telah menyumbang nilai domain dan nilai page rank yang tanpa saya sadari.

Dan bahagia ini menyelinap meski sedikit ketika mengetahui DA blogger profesional yang telah melahirkan komunitas blogger jauh berada di bawah DA blog saya.

Begitu juga dengan DA blog seseorang yang katanya blog nya itu sudah menggaji nya sekian juta perbulannya. Meski usia blog nya sudah 6 tahun tapi DA nya masih bisa dihitung dengan jari tangan!

Oke, DA bukan kemenangan. Tapi melihat DA blog saya jauh lebih besar, jelas di sana ada kebahagiaan yang tidak bisa dipungkiri. Dan hitungan DA/PA tidak bisa dibohongi.

See, balance, bukan?!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar