Saya sebut Cianjur bagian selatan masih tertinggal pembangunannya karena itu fakta. Jalan menuju ke Cianjur Selatan masih berlubang-lubang, sering longsor dan penanggulangannya masih terbilang lambat. Itu pun kadang masih manual karena alat berat dan canggih adanya di kota, dengan jarak lebih dari lima jam kendaraan dari Sindang Barang, salah satu kecamatan yang mempunyai pantai nan perawan ini membuat evakuasi makin bertambah lama.
Listrik masih sering mati, begitu juga internet yang ikut byar pet menambah semakin prihatinnya warga di pakidulan Cianjur. Karena itu, orang kota malas main ke Cianjur bagian selatan. Karena itu juga banyak warga Cianjur Selatan khususnya generasi kekinian yang beralih pindah ke kota, baik merantau atau langsung ganti KTP.Tidak aneh kalau masih ada pantai yang masih perawan di Cianjur Selatan. Bayangkan saja, aksesnya saja masih berat, siapa juga yang mau melancong? Hanya orang-orang yang bernyali tinggi atau petualang sejati yang bisa tiba di sepanjang pantai perawan di Cianjur Selatan. Gimana, tertantang?
Disebut masih perawan karena pantai ini belum banyak diekspos para wisatawan baik domestik apalagi asing. Padahal sama seperti pantai pantai lain di sepanjang Pulau Jawa bagian selatan, pantai di Cianjur juga memiliki keindahan yang tidak ternilai.
Pernah bertanya gak sih kenapa Pantai Sarwana (sekarang Banten), Pantai Ujung Genteng, Pelabuhan Ratu, Santolo, Pamijahan, Cipatujah sampai ke Pangandaran betapa begitu terkenal dan banyak dikunjungi para wisatawan? Tapi kenapa pantai di Cianjur Selatan yang masih berlokasi sama di pesisir selatan Jawa Barat sama sekali tidak ada gaungnya? Sedikit dikunjungi orang kalau bukan mereka yang siap encok dan mabuk perjalanan menuju ke sana? Pernah tidak bertanya kemana pemerintahnya dan kemana instansi terkait selama ini?
Sudahlah, itu memang bukan urusan kita. Saya ulas disini biar pada percaya saja, kenapa masih ada pantai yang masih perawan di Cianjur bagian selatan ini. Ya karena berbagai alasan itu penyebabnya.
Baiklah! Sekarang mari kita piknik dan berbahagia di libur panjang akhir tahun ini. Saat musim liburan seperti jelang tahun baru semua lokasi wisata pasti padat oleh pengunjung. Tapi tidak bagi pantai di Cianjur ini. Lihat saja, saat libur nasional Hari Natal yang bertepatan dengan hari Minggu kami main ke pantai ini, boro-boro kejebak macet atau crowded layaknya lokasi wisata di tempat lain. Yang ada berada di pantai ini berasa main di pantai pribadi.Sepi. Nyaman. Bersih. Cocok buat liburan dan santai. Cocok buat orang-orang kota yang selalu stress melihat jalanan yang tidak pernah ada hentinya, pas buat orang kota yang kesehariannya selalu mendengar suara bising dari suara kendaraan. Hawa di Pantai Apra ini bagus buat membersihkn paru-paru kita yang sudah kusam karena setiap hari menghirup udara penuh polusi.
Pantai di Cianjur terbentang mulai dari Agrabinta, sampai ke Cidaun. Pantai Apra yang kami kunjungi ini hanya salah satu titik dari sekian kilo meter pantai yang ada seperti Pantai Agrabinta, Pantai Sereg, Pantai Jayanti (ada pelabuhan) Pantai Cidamar, Pantai Cidaun hingga ke Rancabuaya (perbatasan). Pantai Apra ini menurut kami yang paling mudah dikunjungi dan lokasinya strategis. Pantai Apra terletak di jantung kota kecamatan Sindang Barang, Cianjur.
Kalau dari Cianjur kota, ke Pantai Apra ini bisa ditempuh dengan kendaraan sekitar lima jam. Padahal melihat patok kilometer yang ada di jalan, jaraknya tidak lebih dari 130 Km. Mungkin karena kondisi jalan yang rusak itu menyebabkan perjalanan lambat dan lama. Yang pasti bukan karena macet lho ya. Kalau hari biasa, kendaraan bisa sampai di bibir pantai. Kecuali hari tertentu kalau ada perayaan, warga setempat menyediakan tempat parkir untuk menjaga ketertiban.
Dari bundaran alun-laun Kecamatan Sindang Barang, ke Pantai Apra hanya berjarak sekitar 650 meter saja. Ambil arah kanan menuju Mesjid Besar, lalu di depan Kantor Kecamatan tinggal ikuti jalan menuju Polsek Sindang Barang. Di sepanjang jalan ini juga ada ATM Bank BRI. ATM Bersama juga pastinya.
Di ujung jalan aspal, mulai bertemu pasir berwarna kehitaman. Pasir besi dengan kemilaunya yang memukau saat terkena sinar matahari. Disinilah parkir kendaraan disimpan pada hari-hari tertentu.
Berjalan menuju pantai, ada beberapa bangunan seerhana yang menyediakan tempat duduk dan jajanan sederhana. Tidak usah khawatir, pengalaman kami, jajan di warung-warung ini harganya justru lebih murah dibanding jajan di minimarket seperti Al*aM*art atau I*ndo*art.
Kalau balai-balai pemilik warung sudah full booked, ya apa boleh buat, gelar tikar sendiri aja, atau duduk selonjoran di pasir langsung. Pilihan lain bisa pasang tenda sendiri. Di sekitar pantai ini belum ada semacam penginapan. Ada Penginapan di jalan raya dekat bundaran sebelum masuk ke pintu gapura Pantai Apra. Sekitar 1 Km sebelum masuk pantai.
Hari biasa, masuk ke pantai ini tidak dipinta retribusi alias gratis. Tapi kalau pas ramai, warga setempat suka memberikan karcis masuk, juga biaya pakir kendaraan. Tapi tenang saja, tidak akan sampai bikin kantong orang kota bolong kok. Nominal karcis biasanya hanya 5-10 ribu saja.
Oke, itu saja. Kalau ada pertanyaan boleh tunjuk tangan. Semoga liburan akhir tahun ini menemukan lokasi perawan dan menyenangkan ya :)
[caption id="attachment_3523" align="aligncenter" width="556"]
[caption id="attachment_3525" align="aligncenter" width="529"]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar