Senin, 21 November 2016

Tumis Picung: Olahan Kampung yang Nyaris Luntur

Tumis Picung: Olahan Kampung yang Nyaris Luntur Tahu picung? Itu loh, buah kepayang, atau kalau dalam bahasa Jawa biasa disebut kluwek. Iya, kluwek yang biasa dibuat bumbu rawon berwarna pekat gelap. Bahasa Inggrisnya durian atau football fruit (Pangium edule). Picung yang saya maksud ini "mentahannya" dari kluwek si bumbu rawon tadi. Buat apa sih picung ini? Ya buat dimakan --setelah dimasak dulu pastinya. Eh tapi jangan salah kaprah, kurangnya tahu cara mengolah picung, bisa-bisa bakal mabuk alias keracunan. Ya, Mabuk kepayang. Mabuk karena picung bukan mabuk karena si dia atau mantan. tumis-picung Picung saat ini sudah susah dicari. Di pasar tradisional tempat saya tinggal, tidak setiap hari pasar bisa menemukan picung ini. Beruntung hari pasar Jumat kemarin secara tidak sengaja saya mendapati emak-emak bukan blogger lho ya penjual picung. Satu plastik kecil dihargai 2000 rupiah. Langsung saya beli lima bungkus. Bukan tidak ingin beli banyak, tapi konon makan banyak picung bisa bikin pusing juga. Waspadalah... Untuk mengolah picung yang sudah jadi tinggal masak ini, si emak perlu waktu lama dan pengolahan yang cermat. Setelah buah picung yang bentuknya mirip bola rugby itu dipetik dari hutan pohonnya, disimpan di wadah --biasanya karung-- untuk direndam di air mengalir dan dibiarkan beberapa hari bahkan sampai dua mingguan. Untuk apa? Untuk menghilangkan zat hydrocyanic acid (si anida) yang baunya strong dan bisa bikin mabuk itu.

Buah picung mengandung sianida. What? Sianida? Yang bikin heboh di kasusnya Mirna dan Jessica itu? Asam sianida dalam buah picung memang berkadar tinggi. Makanya kalau tidak diolah dengan benar bisa bikin mabuk atau pusing. Namun tidak hanya itu, picung juga mengandung vitamin C, zat besi, dan zat lain yang menguntungkan bagi tubuh.

Pohon picung sendiri, kayunya bisa dibuat untuk batang korek api, terus daunnya untuk obat cacing, sementara picungnya bisa buat bahan pengawet ikan, penghilang kutu dan bahan pembuatan minyak. Selain tentu saja bijinya yang dijadikan bumbu rawon yang terkenal lezatnya itu.

Buah Picung ini bagian dalamnya terdiri dari daging buah warna keputih-putihan dan biji yang berkulit keras dengan warnanya cokelat kehitaman. Nah, biji picung ini jika tempurungnya kita buka, maka akan keluar daging biji berwarna putih pucat. Daging biji ini yang dijual si emak dan berhasil saya beli. Tidak sabar lagi lah segera akan saya olah untuk disantap.

Baiklah ini resep Tumis Picung ala-ala saya dapat nyontek dari mama :)
TUMIS PICUNG
Bahan: 400 gram picung siap masak Minyak goreng untuk menumis Bumbu halus: Kemiri 5 buah Bawang merah 4 siung Bawang putih 3 siung Bumbu lain: Tomat, cabe rawit, daun bawang, cabe merah, garam, gula dan penyedap rasa (semua secukupnya dan sesuai selera) Cara masak:

Tumis bumbu halus hingga tercium bau wangi Masukkan picung yang sudah dicuci bersih Masukkan bumbu pelengkap Kalau terlalu kering bisa tambahkan air

untitled-design Setelah matang, angkat dan Tumis Picung siap disajikan. Rasa dari picung ini sendiri pulen seperti makan kacang tanah gitu, tapi ada rasa khas picung di ujungnya. Haduh bingung deh saya jelaskannya. Makanya coba masak picung makan sendiri saja dech biar tahu rasanya. Karena saat ini sudah cukup sulit mencari picung untuk diolah mentahannya --meski picung bukan tanaman langka-- karena itu saya kasih judul Tumis Picung: Olahan Kampung yang Nyaris Luntur. Di kampung saja sudah cukup susah nyari picungnya, apalagi di kota ya? Eh siapa tahu di kota malah mudah didapat, ding! Mau mabuk kepayang eh mabuk picung di kota kan mudah, tinggal naksir seseorang jadi dech. Ups! Salah ya?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar