Jumat, 18 November 2016

Saat bijak lebih baik dari sekadar meratapi...

Meratapi Usia Cantik: Saat bijak lebih baik dari sekadar meratapi... Ada saatnya bahtera rumahtangga dibumbui percekcokan disertai ego dan nafsu. Saat masa itu menimpa, saya biasanya hanya bisa berdiam diri. Memilih berlama-lama menatap cermin. Melihat kesedihan di bola mata yang sejatinya semua itu pantulan dari suasana hati yang sedang penuh amarah kesedihan. saat-bijak-lebih-baik-dari-sekadar-meratapi Perempuan mana yang ingin terluka, tapi bila itu terjadi akan banyak pilihan untuk dijadikan pelampiasan. Dan saya biasanya memilih sendirian membiarkan jiwa dan pikiran menelusuri lagi liku-liku hidup yang telah saya jalani hingga saya bisa sampai di umur 37 #usiacantik ini.

Bila ada wanita yang matang sebelum waktunya, mungkin sayalah salah satunya. Gimana tidak, bertubi-tubi masalah dan beban hidup sudah saya hadapi sejak dini. Bisa atau tidak saya harus bias menyelesaikan masalah sejak kecil, sendiri.

Sejak SD karena keterbatasan ekonomi saya tinggal menumpang di tetangga. Jangan ditanya bagaimana beban mental saya di mata teman meski tetangga yang menampung saya baik hati. Hingga lulus dan berbekal uang hadiah NEM tertinggi se Kodya Bandung tahun 1993 saya nekat melanjutkan SMP di pinggiran Kabupaten Tasikmalaya. Padahal orang tua sudah angkat tangan untuk biaya.

Masuk SMP, tinggal bersama nenek hidup dalam keterbatasan. Sementara bapak dan ibu dagang di kota. Belum sampai setahun mengenyam bangku sekolah menengah pertama, bapak  meninggalkan kami untuk selama-lamanya. Menjual tanah warisan bapak, ditambah hasil usaha nenek jadi buruh tani akhirnya saya bisa menamatkan sekolah.

Berkat meraih NEM tertinggi lagi saya didukung oleh guru dan tetangga supaya bisa melanjutkan ke bangku SLTA. Keinginan saya sekolah cukup tinggi, maka jalan tengah yang kami tempuh adalah saya sekolah SMA di pinggiran Cianjur sambil mengurus adik. Sementara ibu, rela merantau ke ibukota demi bisa membiayai kebutuhan hidup kami.

Jangan kira masa sekolah saya menyenangkan. Tidak cukup mengandalkan uang kiriman ibu yang kadang tidak pasti, saya harus nyambi berdagang supaya bisa dapat uang. Bikin cemilan lalu dijual di sekolah, bantu-bantu juragan di pasar, atau bantu bapak ibu guru dari kota yang ngontrak demi bisa dapat uang jajan.

Merasakan penderitaan kerja berat ibu, saat saya lulus bertepatan dengan terjadinya kerusuhan tahun 1999 ibu saya cegah kembali kerja. Saya pikir sudah saatnya saya menggantikan peran ibu sebagai tulang punggung keluarga. Tapi krisis ekonomi kala itu mengakibatkan susahnya mencari pekerjaan. Yang bekerja saja kena PHK.

Tidak tega melihat gurat sepuh di wajah ibu yang semakin kentara, tidak mungkin menunggu lama untuk memperbaiki rumah panggung yang sudah lapuk dimakan usia, belum biaya adik sudah jadi tanggungan saya sebagai anak pertama, membuat saya nekat mengambil keputusan untuk secepatnya bekerja. Jadi tenaga kerja wanita alias TKW pilihan saya.

Awal mula mau berangkat ke Saudi Arabia, namun pihak PT mengalihkan akhirnya saya bekerja ke Singapura. Selanjutnya bekerja ke Hongkong dan terakhir bekerja di Negeri Formosa.

Jangan anggap hidup saya senang bisa kerja di luar negeri. Saya salah satu korban Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) alias human traficking. Saya sering berurusan dengan pihak imigrasi, sampai memenangkan kasus di pengadilan Taipei, hingga saat detik-detik kepulangan ke tanah air di bandara pun sempat berurusan dengan agency yang menipu. Kalaupun saya bisa bayar hutang keluarga, bisa bangun gubuk bambu jadi rumah bata, dan bisa simpan sedikit utuk modal usaha, itu karena selama bekerja saya super ngirit dan milih puasa.

Belasan tahun merantau di negara orang, pulang kampung tidak berarti tinggal merasakan kesenangan. Justru beban hidup dan pikiran semakin runyam. Apalagi kalau bukan karena masalah jodoh?

Bagi warga kampung yang masih berpikiran kuno, perempuan usia 25 belum menikah itu sudah dianggap perawan tua. Apalagi saya yang sudah lewat usia kepala tiga. Sindiran demi sendiran, cemoohan demi cemoohan terus mencecar saya dan keluarga. Oke, saya baik-baik saja, tapi bagaimana perasaan ibu saya? Kami hanya bisa saling berpelukan sambil menahan kucuran air mata. Bukan usaha saya tidak maksimal, atau doa yang tak sampai, tapi mungkin memang belum waktunya saja.

Dalam keterpurukan, saya tidak ingin ditepuk-tangani oleh mereka yang bisanya mencibir. Gagal atau sukses semua pilihan ada di tangan saya, mereka hanya bisa melihat dan menyaksikan.

Sudah banyak asam garam kehidupan yang saya cecap. Saya tidak boleh lemah. Saya harus bangkit membuktikan walau sebagai perempuan dengan segala keterbatasan saya juga mampu mandiri.

Saat teman satu angkatan sudah punya anak dua, tiga, bahkan ada yang sudah menjanda (lagi) saya baru bisa menemukan jodoh atas pilihan sendiri. Menikah teramat sederhana asal sah kami jalani di kantor urusan agama. Tidak ada resepsi, tidak ada baju pengantin. Yang ada hanya cucuran air mata. Inikah jalan hidup saya, ya Allah? untitled-design

Rumah tangga bersama orang yang baru dikenal setelah menikah itu kurang-kurangnya kuat hati inginnya kabur dan milih bekerja lagi ke luar negeri. Namun tak saya pungkiri juga ada saatnya momen indah sebagaimana istilah nikah dulu baru pacaran.

Terlebih ketika dikaruniai anak pertama laki-laki, kebahagiaan kami semakin lengkap. Saya menekatkan diri sedalam apapun hati terluka saya tetap memilih untuk jadi seorang ibu terbaik bagi anaknya.

Apabila sudah mikir sampai sana, secara sendirinya senyum ini memancar dari wajah. Rasa untuk mempercantik diri demi tampil baik di depan buah hati dan suami memicu saya untuk mulai belajar dandan. Sesuatu yang teramat terlambat disadari mungkin bagi wanita seusia saya lainnya. Tapi tidak ada kata terlambat untuk saya.

Biar saat usia dua puluhan waktu dan energi saya habiskan untuk kerja keras . Jika saat itu saya bisa menahan ego dan nafsu, seharusnya di usia matang sekarang saya harus lebih bisa mengendalikannya. Dan berdamai dengan diri terbukti membuat saya merasa lebih baik.

Saat memandang wajah sendiri dalam suasana sedih, saat itulah tampak guratan di sekitar mata, kerutan di dahi dan daerah lain, menandakan saya sudah tidak muda lagi. Hitungan angka usia boleh bertambah, tapi keceriaan dan jiwa muda wajib punya hukumnya. Karena dengan hati yang bahagialah pancaran rona wajah awet muda akan didapat.

Tampil lebih baik dengan perawatan wajah yang sesuai dengan usia pilih Revitalift Dermalift dari L’Oreal Paris Skin Expert. Dengan kandungan Centella Asiatica, Pro Retinol A dan Dermalift Technologi cocok untuk wanita di #usiacantik. Produk L’Oreal ini teksturnya lembut, ringan hingga meresap dengan cepat ke dalam kulit, membantu mengurangi kerutan dan meningkatkan kekencangan kulit. Jangan khawatir semua wanita bisa mendapatkannya dengan mudah secara online di e-commerce terpercaya. Itu lebih baik karena keaslian produk terjamin daripada beli produk serupa murah kawean yang gelar lapak di jalan. Bersama L’Oreal Revitalift Dermalift saya bisa menghapus perjalanan hidup masa lalu yang menyedihkan kerutan di wajah. Samar namun pasti kerutan wajah di usia matang tergantikan kulit sehat bersih dan segar seiring suasana hati yang berubah lapang setelah mengikhlaskan atas apa yang dialami. Asupan gizi nurani di usia cantik bahwasanya jadi bijak itu lebih baik dari sekadar meratapi. Jika wanita lain merasa cantik di #usiacantik karena memang kenyataannya ditunjang dengan kekayaan serta wawasan, maka bagi saya cantik di usia mendekati kepala empat ini cukup dengan berhasil mengikhlaskan masa lalu. Sehingga di #usiacantik saya saat ini bisa tenang dan damai membesarkan balita yang jadi permata hati sambil terus mendampingi suami. tehokti-com-2

 

Lomba blog ini diselenggarakan oleh BP Network dan disponsori oleh L’Oreal Revitalift Dermalift

Tidak ada komentar:

Posting Komentar