Tidak perlu jauh, yang penting kebersamaan yang berkualitas. Pilihan lokasi ya seperti rencana sebelumnya, tidak jauh dari tempat tinggal karena dengan membawa anak segala sesuatunya memang harus dipersiapkan matang-matang.
Namun pucuk dicinta ulam pun tiba, awal Agustus teman-teman yang tergabung dalam satu komunitas pendaki menginfokan jika awal September akan mengadakan pendakian ke Gunung Slamet. Rencana kami pun bergeser dari yang mau nge-camp di wilayah Parahyangan saja menjadi loncat ke daerah Purbalingga dan Pemalang. Menuju puncak Slamet, 3428 mdpl sebagai gunung tertinggi di Jawa Tengah dengan rute naik melalui Bambangan dan turun via Guci. Nah, tentu saja petualangan mountaineering ini cukup menantang apalagi buat emak-emak kaya saya dan Fahmi yang masih balita. Selain lokasi kegiatannya yang berada di ketinggian yang identik dengan tebing, bebatuan, suhu ekstrem, lembah, ngarai, sungai, dan pemandangan di atas awan, untuk menjalani mountaineering ini tentu saja dibutuhkan kesiapan fisik dan stamina yang baik. [caption id="attachment_3205" align="aligncenter" width="576"]Yang pasti mau naik gunung selain harus punya kesiapan rencana yang mantap juga tubuh harus sehat. Untuk itu olahraga teratur sangat diperlukan. Selain itu tentu saja harus bebas dari ketakutan dari semua hal-hal yang berkaitan dengan tempat-tempat tinggi.
Alat dan sarana pun harus diperhatikan. Carrier, bekal makanan, botol air, jas hujan dan pakaian yang menyesuaikan kondisi cuaca gunung, sepatu gunung, tenda, misting, trangia, topi dan kacamata, peta dan kompas, pisau, korek, senter, alat tulis, dan matras itu semua adalah kebutuhan wajibnya. Terbayang bagaimana berat dan lelahnya mengarungi medan terjal dengan bawaan semua itu. Apalagi khusus kami ditambahi beban berat membawa anak. Meski sesekali Fahmi minta jalan sendiri, namun sebagai orang tua yang mengkhawatirkan keselamatan balitanya, suami memilih untuk menggendong dan membopongnya. Kalau saya sih jelas angkat tangan. Jangankan nanjak sambil gendong anak, bawa carrier dan diri sendiri saja sudah ngos-ngosan habis. Tapi alhamdulillah meski kaki pegal-pegal buah perjalanan hill walking atau yang lebih dikenal sebagai hiking sepulangnya ke rumah kami langsung bisa melanjutkan aktivitas dan pekerjaan rutin. Saya masih bisa up date job baik di dunia maya maupun pekerjaan wajib sebagai ibu rumah tangga. Begitu juga suami langsung ngajar ke perbatasan Cianjur - Bandung.Yang buat banyak orang terkagum-kagum adalah kondisi Fahmi. Ya, bocah 3,5 tahun itu tetap ceria, tetap sehat dan terus belajar dan bermain seperti biasa. Tak tergambar gurat lelah atau sakit imbas dari perjalanan jauh dan cukup ekstrem untuk anak- seusianya. Banyak yang bertanya apa kiat khususnya hingga balita bisa muncak dengan kondisi tetap fit?
Sampai di puncak, Fahmi memang sempat jadi selebritis dadakan. Banyak banget para pendaki lain yang minta foto bareng dengannya. Dan saya sempat bingung mau jawab apa ketika ada yang tanya anaknya suka makan suplemen tidak? Kok bisa sehat dan bugar begitu.
[caption id="attachment_3200" align="aligncenter" width="600"]- Kandungan nutrisinya yang lengkap dapat menjaga kesehatan
- Dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh
- Mengandung antioksidan berguna untuk mencegah penyakit
- Mengandung protein dan asam nukleat yang mampu merangsang peremajaan sel
- Merangsang pertumbuhan bakteri menguntungkan bagi tubuh
- Membantu detoksifikasi
- Membantu penyembuhan luka
- Anti radang
- Memiliki manfaat dan kebaikan sayur-sayuran
- mengandung klorofil tinggi
Mungkin itu salah satu rahasia kami si keluarga petualang ini bisa melakukan petualangan beberapa kali dalam jeda waktu yang tak begitu lama. Tanpa kami sadari, suplemen makanan kesehatan Sun Chlorella telah menjadikan stamina badan kami sehat dan kuat.Tidak sulit mendapatkan suplemen makanan kesehatan Sun Chlorella ini karena sudah bisa dibeli secara online di Gerai CNI melalui link afiliasi ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar