Pendaki Cilik jadi julukan Fahmi, saat kami ajak mendaki ke Gunung Slamet dengan ketinggian 3428 mdpl. Sebenarnya bukan kami yang mengajak, tapi Fahmi sendiri yang minta ikut mendaki.
Berhubung semenjak dari Idul Fitri belum juga melaksanakan piknik keluarga karena kesibukan si ayah, maka setelah berdiskusi cukup matang, saya dan suami sepakat untuk membawa anak di awal bulan yang ceria ini ke tempat yang bisa memberikan pengalaman baru untuknya.
“Wah, ini pohon tumbangnya diangkut mobil buldozer. Jadi weh kita bisa lewat. Semut juga lewat. Ayah, Ibu, Ateu semua lewat, jadi gak macet lagi...” Fahmi mengomentari sebuah pohon besar yang tumbang dan menghalangi jalur pendakian. Karenanya pendaki harus merangkak atau memanjat pohon itu untuk bisa melewatinya. “Om kok tidak disebut? Nanti lewatnya jalan mana?” Ciko, guide kami menimpali celotehan Fahmi. “Om mah terbang aja. Naik Jett Super Wings. Halo bos ada masalah apa? Siap dibantu. Ini ada pohon bikin macet. Siap Jett datang!” Ucap Fahmi sambil mendekatkan pergelangan tangannya ke mulut, seperti operator yang dikontak Jett di film karakter pesawat jet bernama Jett, Super Wings favorit Fahmi setiap pagi di sebuah stasiun televisi swasta. Tawa kami pun meledak. Hilang sudah rasanya capek walau untuk sesaat. Celotehan Fahmi baik di sepanjang jalur pendakian maupun saat di pos tempat peristirahatan cukup membuat kami terhibur dan sebagian tertawa hingga terpingkal-pingkal. [caption id="attachment_6579" align="aligncenter" width="300"]Celotehan Fahmi memang asal, ngawur dan suka tidak nyambung. Tapi justru itu di sanalah kelucuan nya. Sesekali Fahmi bicara dengan bahasa Sunda. Empat pendaki perempuan yang satu team dengan kami kebetulan tidak mengerti bahasa Sunda. Mereka hanya mesem-mesem saja. Tapi setelah diantara kami yang paham Sunda menterjemahkan apa yang dibilang Fahmi, baru deh mereka tertawa.
Perjalanan terasa akrab, padahal Fahmi dan mereka baru saja bertatap muka hari itu. Kami semua 13 orang terdiri dari 7 perempuan,dan 6 laki-laki termasuk Fahmi. Berasal dari berbagai daerah, punya satu tujuan sama yaitu liburan ke Puncak Gunung Slamet. Bedanya mereka berangkat single, sementara saya dan suami membawa anak yang baru berusia 3,5 tahun pas 3 November saat pendakian dilakukan. [caption id="attachment_6580" align="aligncenter" width="300"]
“Namanya siapa, Dek? Hebat ih masih kecil sudah berani mendaki.” Merasa tidak kenal, Fahmi acuh saja, tetap berpegangan tangan pada ayahnya.
“Dia mau jawab kalau dikasih jajanan,” seloroh Alin, salah seorang teman kami bercanda.
“Adek mau coklat? Adek hebat ih masih kecil sudah ikut naik gunung. Namanya siapa?”
“Fahmi. Anaknya Bapak Iwan.” Jawab Fahmi cepat sembari meraih coklatnya yang buru-buru direbut.
Tawa tim kami kembali pecah mendengar dan melihat ulah Fahmi. Gimana ini anak, yang bertanya gak memberi cemilan, dia abaikan. Tapi kalau disodorin dulu jajanan, Fahmi langsung jawab, lengkap pula pakai embel-embel "anak bapak iwan", hahaha! Dasar Fahmi.
[caption id="attachment_3218" align="aligncenter" width="300"]
Melihat itu, kawan-kawan pendaki pun mencoba "menyogok" Fahmi dengan berbagai cemilan yang dibekal. Ada apel, permen, minuman, dan banyak lagi. Berbanding banyak dengan pertanyaan yang diajukan. Fahmi umur berapa? Fahmi sudah sekolah, belum? Fahmi udah naik gunung mana aja? Fahmi capek tidak? Dan masih banyak pertanyaan lain.
Kali ini Fahmi terdiam. Padahal itu jajanan, buah-buahan serta minuman sudah ada di depan mata. Fahmi malah melirik ke arahku bergantian dengan ayahnya.
“Ayo dijawab dong, sayang...” Rayuku menyemangati.
"Bingung..." Tanpa kami sangka, Fahmi berucap dengan mimik muka seolah benar-benar lelah. "Banyak banget tanya, bingung jawabnya."
Hihihi... Kini kami bersamaan terkikik menertawakan ulah Fahmi. Emang ngegemesin ih Fahmi ini, ujar Lia pendaki dari Depok menahan gregetnya. Setiap waktu rehat untuk sekedar tarik nafas, selalu ada saja celotehan Fahmi yang jadi hiburan buat kami.
[caption id="attachment_3219" align="aligncenter" width="220"]
[caption id="attachment_3220" align="aligncenter" width="288"]
Tapi namanya juga anak-anak, mood-nya tidak bisa diprediksi. Di Pos Payung menuju Pos 1 Pondok Gembirung, Fahmi tampak mogok bicara. Melihat gelagat itu saya ajak Fahmi dan ayahnya menepi. Kami pikir mungkin ia takut kepada ulat bulu yang memang banyak kami temui di sepanjang jalan. Saat tidak ada pendaki lewat, Fahmi baru berani bilang, kalau ia mau buang air. Oh, pantesan ... Setelah ayahnya menemukan tempat di bebatuan dekat lapangan dan sungai dengan air yang sangat minim karena kering, Fahmi diajak ke sana. Khawatir terpeleset maka tangan Fahmi dipegang cukup erat. Tapi Fahmi malah menepiskannya, dan tanpa diduga dia membungkukan badannya seperti mau lewat depan seseorang yang kita hormati, sambil berkata: "Parunten nya ulat, parunten... Ami mau lewat dulu, Ami mau pipis ..."Aku dan suami terpingkal-pingkal tertawa melihat ulah Fahmi. Disaat dia kebelet ingin buang air masih sempat-sempatnya ulat saja dia mintakan izin dan permisi. Teman-teman sampai terbahak tertawa ketika kami ceritakan bagaimana ulah Fahmi saat hendak buang air. Di Pos Pondok Walang, Pondok Cemara dan Pondok Samaranthu, setiap istirahat, tawa kami tidak pernah lepas ketika "menonton" Fahmi yang selalu ada saja ocehan serta tingkahnya yang buat kami tertawa.
[caption id="attachment_3241" align="aligncenter" width="225"]
[caption id="attachment_3221" align="aligncenter" width="300"]
[caption id="attachment_3240" align="aligncenter" width="300"]
[caption id="attachment_3222" align="aligncenter" width="300"]
Sampai di Pos 5 tempat kami mendirikan tenda hari sudah lewat isya. Cuaca dingin mulai menusuk kulit. Setelah berganti baju, makan dengan logistik seadanya yang disukai Fahmi, saya membungkus Fahmi dengan sleeping bag. Orang dewasa saja menggigil kedinginan, apalagi anak balita, pikir saya. Namun rupanya Fahmi tidak betah dengan “kostum” seperti itu. Ia merengek minta sleeping bag dilepas dari tubuhnya. Lalu apa coba? Dalam tenda rupanya ia ingin bebas bermain mobil-mobilan! Tentu saja semua pendaki yang bermalam saat itu heran dan menggeleng kepala. Sampai mas-mas porter yang membuat api unggun pada menengok ke tenda, berasa tidak percaya di saat dingin menyucuk tulang, ini bocah malah asyik main mobil-mobilan.Bosan dengan mainan yang dibawa (karena cuma bawa sedikit) Fahmi yang memang lelah akhirnya tidur di pangkuan. Terkejut saya saat menyentuh badan Fahmi terasa panas tidak biasa.
“Jangan-jangan Fahmi demam, Yah?” khawatir saya direspon biasa oleh suami.
“Karena pengaruh sleeping bag saja mungkin.” Jawabnya datar.Namun semakin larut, panas Fahmi tidak juga mereda. Bahkan tidurnya tidak bisa nyenyak. Sesekali merintih seperti mengigau. Saya yakin ini demam, bukan suhu biasa Fahmi. Segera saya mengeluarkan tas rajut berisi obat-obatan. Tak ingin membangunkan yang lain karena mereka pun pasti kecapean, saya menggendong Fahmi dan membujuknya untuk minum obat pereda panas yang sudah dipercaya secara turun-temurun.
Fahmi tidak rewel jika minum obat. Begitu juga saat saya beri Tempra Paracetamol yang dapat menurunkan panas serta meredakan nyeri. Yang cocok untuk Fahmi Tempra Syrup usia 1-6 tahun. Sirup dengan rasa anggur ini tidak menimbulkan iritasi lambung. Karenanya selalu kami bawa dan rekomendasikan sebagai obat pertolongan pertama ketika anak sakit. Kami tidak ragu memberikannya karena Tempra Paracetamol ini terpercaya, aman, bekerja langsung di pusat panas dan bebas alkohol.
Tidak lama setelah meminum sebanyak 5 ml, Fahmi bisa tidur dengan lelap. Tempra cepat menurunkan demam. Bahkan saking lelapnya, summit attack yang kami rencanakan dimulai pukul tiga dini hari jadi kacau timing-nya. Saya sendiri tidak tega membangunkan Fahmi yang baru saja bisa istirahat. Kami mempersilahkan teman-teman lain untuk summit terlebih dahulu. Saya, Fahmi dan ayahnya bersama Ciko, guide kami yang sangat perhatian serta tanggung jawab akan menyusul kemudian.
[caption id="attachment_3224" align="aligncenter" width="300"]
Rombongan pun dibagi dua. Yanto, guide kami yang satunya membawa para pendaki lain untuk menuju Puncak Slamet lebih pagi. Sementara saya, suami, Fahmi beserta sahabat dekat Alin dan Ana (keduanya dipanggil Ateu oleh Fahmi) ditemani Ciko menyusul kemudian.Pukul lima Fahmi terbangun. Alhamdulillah demam di tubuhnya sudah reda. Dan apa yang dilakukannya ketika bangun? Fahmi berceloteh dengan jenakanya...
“Bu, Ateu seperti badut ya? Semua dipasang di sini, di sini, jadi kaya badut....”
Alin dan Ana yang berada bersama kami dalam tenda ngakak tertawa tak tertahankan. Memang udara dingin di Pos 5 Slamet kala itu teramat membekukan badan. Alin tidak cukup hanya mengenakan jaket, sarung tangan, slayer dan topi, dia juga membungkus kepalanya dengan kaos oblong cadangan. Warnanya yang kuning mencolok mungkin menarik perhatian Fahmi. Karenanya ketika melihat langsung dibilang badut.
Padahal Fahmi sendiri tidak menyadari kalau emak nya ini sudah melapisi bajunya sampai beberapa buah. Belum jaket, topi dan sarung tangan. Ah, dasar anak, celotehnya yang lucu membuat pagi nan beku perlahan mencair dengan keriangan. Kalau anak sehat apa pun terasa jadi lebih membahagiakan ya?
[caption id="attachment_3225" align="aligncenter" width="300"]“Foto terus, gak capek?” celetuk Fahmi.
“Ih, Fahmi tidak tahu, ini bunga abadi yang langka itu... “ Alin membalas komentar Fahmi.
“Beraninya foto sama pohon Ateu mah, ari sama ulatnya takut ...”Kontan kami tertawa mendengar balasan Fahmi.
“Hiii, jangankan Ateu, emakmu juga takut itu sama ulatnya. Aih, benar-benar bikin gemas da ini bocah,” Alin menahan jengkel dan tawanya. Merasa sindiran Fahmi tepat sasaran.Ya, jangankan Alin, saya saja terbiasa hidup di kampung tiap hari ketemu sawah dan kebun, serangga sudah menjadi teman akrab. Tapi dengan ulat bulu yang banyak terdapat di sepanjang jalur pendakian sebelum Pos 5 membuat bergidik dan ngeri juga.
[caption id="attachment_3227" align="aligncenter" width="300"]
[caption id="attachment_3230" align="aligncenter" width="300"]
[caption id="attachment_3228" align="aligncenter" width="300"]“Yuk lanjut...” Ciko menyemangati.
“Ayo siap! Jalan grak!” balas Fahmi dengan gaya bagai seorang pemimpin. Tangan dan kakinya lurus jadinya seperti robot. Cuma karena pakaiannya berlapis-lapis, ia jadi susah jalan jadinya. Kami lagi-lagi tertawa dengan tingkah lakunya.
Lewat Pelawangan, di Pos 9 memasuki lautan batuan serta kerikil jumpa banyak pendaki yang beristirahat. Berada di bibir Puncak Slamet di pagi hari terasa bagai berada di atas awan. Indah luar biasa melihat hamparan kota-kota di Jawa Tengah, termasuk jajaran pegunungan lainnya yang tampak dari jauh. Banyak yang menikmati suasana istimewa tersebut sambil beristirahat dan sarapan pagi.
[caption id="attachment_3229" align="aligncenter" width="300"]Weleh, kedatangan kami yang membawa Fahmi menghebohkan mereka rupanya. Fahmi jadi selebriti dadakan saat itu, banyak para pendaki yang bertanya, mengacungkan jempol bilang Fahmi keren, dan tidak sedikit yang minta foto bareng.
“Kok mereka gak kasih jajanan ke Ami?”
Hihihi, ini anak matre juga jadinya. Imbas dari didikan Ateu dan Omnya kemarin ini sehingga nagih jajanan saat ada yang ngajak ngobrol atau foto bareng. Tapi karena berasal dari celetukan anak kecil, para pendaki tentu saja tidak tersinggung. Malah serius mendonaturkan bekal mereka buat Fahmi.
“Tidak apa-apa kami mau turun ini, biar enteng juga bawaannya, hehe!” ucap salah satu pendaki yang mengeluarkan perbekalannya dan memberikannya ke Fahmi.
Malu-malu sih, tapi masa rezeki ditolak? Dengan alasan buat anak, ya kami terima, meski saat makannya, lebih banyak kami yang makan daripada Fahmi. Hahaha, emak modus ini namanya.
[caption id="attachment_3232" align="aligncenter" width="300"]
[caption id="attachment_3231" align="aligncenter" width="300"]Di Puncak Slamet, kami bersyukur bahwasanya telah diberikan selamat dan kelancaran. Semua berfoto sebagai kenangan yang tidak akan terlupakan. Tapi lain dengan Fahmi, dia tidak mau difoto. Hanya diam dan diam. Saya jadi curiga...
“Fahmi maunya apa?” bujuk saya.
“Fahmi mau (maaf) ee, Bu...” ucapnya lirih, hampir tidak terdengar. Sedikit meringis mungkin menahan kontraksi.
Glek! Antara tak kuat menahan tawa serta kasihan kepada anak, segera saya cari tempat aman untuk Fahmi buang air besar.
“Kok dikubur?” Fahmi kembali bawel setelah dirinya merasa lega.
“Iya, ini kenang-kenangan Fahmi di Puncak Slamet,” saya menahan tawa dengan mimik dibuat serius. “Jangan lupa nanti sampah kita bawa turun.”
“Nanti Fahmi sudah besar, jika mendaki lagi ke Slamet, bisa ditengok kenang-kenangannya,” tambah ayahnya dengan nada jahil.
Fahmi nyengir. Entah mengerti atau tidak. Yang pasti liburan bareng anak kali ini ke Gunung Slamet sebagai gunung tertinggi di Jawa Tengah benar-benar liburan yang tidak akan terlupa.
[caption id="attachment_3233" align="aligncenter" width="194"]
[caption id="attachment_3234" align="aligncenter" width="300"]Membawa anak mendaki gunung memang mengandung risiko besar. Tapi saat semua sarana serta prasarana sudah serba canggih, apa sih yang tidak mungkin di dunia ini? Benar kan? Benar dong.... Ayo dukung kami :)
Yang penting jika liburan bersama anak pastikan anak benar-benar menikmatinya. Kesiapan serta tanggung jawab orang tua atau even organizer juga harus maksimal. Dalam arti pertimbangkan lokasi liburan apakah mampu dilalui si anak atau justru malah menyiksanya.- Tentukan lokasi liburan yang disenangi dan aman untuk anak. Kalau anak belum bisa memilih, pastikan lokasi aman dan disenangi anak. Orang tua pastinya lebih tahu lokasi yang bagaimana yang disukai sang anak. Setiap anak berbeda, karenanya diperlukan diskusi dan kesepakatan bersama. Jangan sampai memaksa anak liburan di suatu tempat hanya karena iri melihat anak orang lain mampu ke sana.
- Persiapkan kebutuhan anak seperti pakaian, mainan, obat/P3K, anti nyamuk, dan makanan kesukaan anak sesuai dengan lokasi tempat liburan bersama anak.
- Perhatikan waktu anak sehingga ia tetap nyaman. Kapan ia biasa tidur siang, kapan biasa minum susu jika yang masih minum, dan waktu-waktu kebiasaan anak lainnya. Jangan sampai terlewat atau luput dari perhatian orang tua karena bisa-bisa si anak jadi tidak nyaman. Liburan bisa kacau kalau anak timbul bad mood. Jika menggunakan jasa even organizer/panitia, sampaikan apa saja yang harus dipenuhi atas hak dasar si anak pada waktu-waktu tertentu. Jangan merasa malu atau bingung, ingat keselamatan dan kenyamanan anak saat liburan itu yang maha penting.
- Ajak anak berinteraksi dengan alam, lingkungan dan orang sekitar. Supaya liburan berkesan dan memiliki arti penting bagi anak, orang tua harus aktif dan kreatif. Liburan bareng anak, maksimalkan waktu untuk anak sepenuhnya. Jangan sampai liburan bareng anak, tapi ayahnya memilih mancing seharian, ibunya mantengin komputer di penginapan. Anaknya? Main mobil-mobilan saja di sofa. Please, atuh lah! kalau begitu mah gak usah jauh-jauh, di rumah juga bisa kan?
Itu saja sih yang bisa saya sampaikan. Lebih kurangnya mari kita diskusikan di kolom komentar ;)
https://youtu.be/WvmRbKyMq2s
Tidak ada komentar:
Posting Komentar