Satu-satunya toko serba ada milik pribumi yang lokasinya dekat pom bensin ramai bukan kepalang. Bisa dibilang toserba itu mall-nya warga Pagelaran dan sekitarnya. Tidak heran kalau pengunjungnya selalu penuh. Selain sebagai tempat berbelanja keperluan lebaran, juga jadi tempat nongkrong anak muda. Siang malam, khususnya sepertiga terakhir bulan puasa toserba ini selalu dipadati manusia.
[caption id="attachment_3015" align="aligncenter" width="591"]Di Sungai Cijampang yang airnya masih jernih, kami bisa bermain pasir, memunguti bebatuan alam, dan mendengarkan gemercik air pancuran. Kalau hujan, kami memilih ke kebun yang dekat rumah saja sekadar melihat dan memetik hasil seperti mentimun, sawi atau kecipir.
[caption id="attachment_3017" align="aligncenter" width="1024"]Oh iya, Ramadhan dan lebaran kami tahun ini waktunya bersamaan dengan renovasi tempat tinggal. Rumah panggung milik mertua sudah harus dibongkar dan diganti. Jadinya jauh sebelum puasa hingga sekarang, kami masih tinggal di rumah kontrakan yang jaraknya hanya terhalang empat rumah saja dari rumah lama yang sedang diperbaiki.
[caption id="attachment_3019" align="aligncenter" width="385"]Karena pindah tempat tinggal, maka otomatis banyak perubahan yang kami rasakan. Beberapa hal yang biasa kami lakukan jelang maupun saat lebaran terpaksa kami tinggalkan demi bisa menyesuaikan diri dengan kondisi. Saat di rumah sendiri, anak-anak mengaji yang biasanya datang dari magrib sampai isya, digeser menjadi setelah asar. Puasa kemarin bisa dibilang anak mengaji meliburkan diri, entah kenapa. Mungkin karena rumah kontrakan kami sempit dan suasana nya tak senyaman saat masih di rumah dulu.
[caption id="attachment_3021" align="aligncenter" width="504"]Lebaran identik juga dengan masakan enak dan lezat. Tradisi ini tidak hanya ada di rumah mewah, rumah sederhana dan di bawah sederhana pun pasti ikut merayakan dan mempersiapkannya. Paling tidak ada ikan, daging dan kue-kue (baik modern maupun tradisional) sebagai sajian pada hari kemenangan yang dirayakan sekali dalam setahun ini.
Karena pada hari kedua lebaran kami berniat menginap di rumah nenek Fahmi dari pihak ayah, juga tidak banyak perabotan yang kami bawa di rumah kontrakan ini, maka saya dan suami sepakat lebaran tahun ini kami tidak akan masak. Kami belajar menerima keadaan untuk bisa menahan diri demi tercapainya cita-cita memperbaiki rumah. Diakui atau tidak, membangun rumah sudah menyedot tabungan kami besar-besaran. Lebaran ini kami memilih untuk hemat dan sederhana. Kue dan hidangan ala kadarnya untuk hari lebaran kami, sudah positif akan diantar dari adik saya dan ibu di Sukanagara.
Selain itu, tradisi berkirim hantaran dari tetangga (khususnya orang tua anak-anak mengaji di rumah) kami pikir tak akan ada karena selama bulan puasa anak yang mengaji pun tidak ada. Tapi dugaan kami itu ternyata salah! Tetangga pada hari Senin (sebelum hasil sidang isbat Kemenag diumumkan) sudah ada yang berkirim hantaran. Hidangan rendang, sambal goreng kentang, tumis mie/bihun dan lainnya dikirim orang tua anak mengaji menggunakan rantang dan diantarkan oleh anaknya.
[caption id="attachment_3022" align="aligncenter" width="592"]Alhasil meski kami tidak masak namun malam Rabu, malam takbiran itu di meja kami terhidang ketupat, opor ayam, rendang, sambal goreng kentang, kerupuk, kue-kue dan buah-buahan. Semuanya serba kiriman. Meski kondisi kami bisa dibilang sedang morat-marit, Allah melalui orang-orang baik di sekitar telah membagikan kebahagiaan-Nya. Kami tidak sendiri.
[caption id="attachment_3024" align="aligncenter" width="598"]Setiap lebaran --khususnya setelah berumah tangga-- kami tidak mudik karena keluarga besar kami baik dari pihak saya maupun suami sama-sama berada di satu kota kabupaten. Hari H kami gunakan untuk bersilaturahmi berkeliling kampung. Bertemu warga dan saudara yang sebagian wajahnya tampak asing karena sebelumnya mereka merantau dan tinggal di kota.
Setelah keliling kampung kami berangkat ke Sukanagara, tetangga kecamatan tempat ibu saya tinggal. Jarak sekitar setengah jam dengan kendaraan ini membuat kami tak harus banyak melakukan persiapan. Tanpa macet tanpa polusi jalanan, sebelum adan dzuhur pun kami sudah bisa kembali.
[caption id="attachment_3026" align="aligncenter" width="595"]Selalu ada yang berubah baik sebelum, saat atau setelah lebaran setiap tahunnya. Yang bisa dibilang terlihat jelas bedanya buat kami adalah setiap habis lebaran selalu ada “pergantian” anak didik mengaji. Baik itu datangnya anak didik baru, atau keluarnya anak didik lama. Anak didik baru biasanya adik-adik dari anak didik lama. Kebanyakan kami sudah mengenalnya karena kehidupan di kampung, satu sama lain antar tetangga masih saling mengenali. Sedangkan anak didik mengaji lama yang keluar, itu biasanya karena si anak melanjutkan sekolah ke kota, atau si anak merasa sudah cukup belajar di kami.
Hari Senin 18 Juli adalah hari pertama pengajian di rumah (kontrakan) kami dimulai. Alhamdulillah tidak ada anak didik yang “keluar” tetapi ada beberapa anak didik baru yang masuk. Usianya rata-rata seumuran dengan Fahmi. Senang tidak terkira melihat balita tampak lucu mengenakan kopiah dan jilbab.
Tidak disangka, ada anak didik yang baru pulang dari Mekkah (orang tuanya bekerja dan sudah bermukim di sana. Lebaran ini mereka mudik ke Mekkah) membawa oleh-oleh (lagi) buat kami. Ada kurma, sorban, dan lainnya.
Alhamdulillah. "Maka, nikmat Tuhan-Mu yang manakah yang engkau dustakan?" (QS Ar-Rahmaan: 13) Lebaran tahun ini memang penuh berkah dan rezeki tidak terduga. Syukur tidak henti kami panjatkan. Semoga lebaran teman-teman semua pun demikian. Mempunyai nilai positif dan pelajaran hidup yang bermanfaat. Amin.
Oh iya, informasi untuk muslimah semua, bahwasanya Diaryhijaber punya even seru nih! Acara: Hari Hijaber Nasional Tanggal: 7 – 8 Agustus 2016 Lokasi: Masjid Agung Sunda Kelapa, Menteng Jakarta PusatSiapapun yang pasti muslimah, yang dekat yang tidak punya acara, silahkan datang ya. Silaturahmi bersama hijaber lainnya dari seluruh penjuru Indonesia :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar