Ngabuburit di Pedesaan Bersama yang Hijau-hijau
Sudah mau tiga hari ini cuaca cukup cerah. Yeay! Jadi nih ngabuburit bersama yang hijau-hijau. Yuhuuu! Makin semangat nih ngabuburitnya. Awal Ramadhan hingga minggu ke dua setiap sore di kampung kami selalu turun hujan. Dengan tidak mengurangi syukur atas rahmat yang telah diturunkan Nya, namun karena hujan jadinya kami tidak bisa keluar rumah. Kini saatnya berpetualang...
Yang hijau-hijau saya maksud adalah hamparan sawah
orang di sekitar rumah. Kebetulan, Bulan Ramadhan kali ini usia padi yang ditanam petani sedang tumbuh subur-suburnya. Ada yang sudah diberi pupuk, ada yang baru disiangi dari tanaman pengganggu seperti rumput yang tidak diinginkan. So far, kehijauannya sangat dominan dan sangat menyejukkan mata. Lelah dari mantengin layar
tancep sampai lelah karena kepedihan akibat rutinitas ngupas bawang merah sejenak bisa diobati dengan melihat pemandangan alam yang terhampar masih asri ini.
Buat warga kampung, memotret lahan sawah mungkin tidak ada pentingnya. Malah salah-salah kami dikira lagi pencitraan
pamer gadget pake selfi-selfian segala... Karena bagi mereka, sawah sudah jadi bagian kehidupan sehari-hari. Jadi sudah tidak aneh lagi. Sementara bagi kami yang meski orang kampung
rumah deket sawah, tapi tidak punya sawah, tentu saja foto dengan latar hijau alami bisa jadi sebuah kebanggaan. Buat pamer sama orang kota paling tidak, hihihi!

Jika saya upload foto lagi nanjak di beberapa gunung bersama pendaki, maka banyak yang komentar saya sedang sebar
racun, karena gara-gara foto itu banyak yang
mupeng pengen ikut naik gunung. Nah, siapa tahu dengan saya upload foto sawah, akan ada juga
netizen yang
keracunan oleh sawah ini. Ngebet pengen ke sawah, atau syukur-syukur beli lahan sawah, sehingga muncul petani-petani asal kota yang etos kerjanya luar biasa. Siapa tahu kalau orang kota sudah turun ke desa, pedesaan jadi kecipratan maju, tanpa harus meninggalkan identitas aslinya.
Aduh, ngomong apa sih ini saya...
Okay, yang pasti mah saya jalan-jalan ke sawah itu aji mumpung aja. Mumpung masih ada lahan sawah di sekitar rumah. Besok, minggu depan atau kapan saya tidak bisa menjamin apakah lahan sawah ini masih ada? Mengingat banyak hektaran sawah disulap menjadi hamparan beton dan ditanam bangunan tinggi di atasnya. Mumpung sawah masih ada, maka saya ajak Fahmi jalan-jalan di sekitar sawah
orang.
Tanpa saya duga, Fahmi menyukainya dan girang banget. Melihat siput sawah (tutut), menyebrangi jembatan bambu, bermain air selokan yang jernih dan dingin, sampai mengamati bambu yang jadi paralon alami sebagai jalur air di pedesaan. Alhamdulillah, semua itu masih bisa Fahmi jumpai, rasakan dan ketahui. Coba tanya anak kota, mau lihat sawah aja harus ngeluarin duit kan?
Mau bermain pasir dan air bersih, anak kota paling tidak kudu ke pantai. Di Jakarta demi bisa menciptakan sungai yang bersih, Ahok aja kudu berperang dengan warga sekitar bantaran kali. Berbagai jurus dan upaya dilakukan demi bisa menciptakan lahan terbuka hijau. Ini, di kampung saya semua masih serba ada dan alami. Sungai alhamdulillah masih terbilang bersih. Ikannya masih banyak, pasirnya masih terdampar, lahannya masih subur. Nikmat mana lagi yang kau dustakan?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar