Senin, 16 Mei 2016

Jatuh Bangun Blogger Recehan Menuju Blogger Jutaan

Jatuh Bangun Blogger Recehan Menuju Blogger Jutaan www.tehokti.com (1)

Diakui atau tidak, ngeblog saat ini bagi sebagian blogger sudah jadi profesi. Baik sebagai sampingan (hobi) maupun memang menjadi mata pencaharian utama. Untuk mencapai semua itu tentu dibutuhkan ketekunan, kerja keras, komitmen dan konsisten dalam menjalankannya. Bagaimana dengan kamu? Iya, kamu... buat apa sih kamu ngeblog? Bukan sekedar ikut-ikutan mantan kaaan...

Tidak mudah menjadikan ngeblog menjadi mata pencaharian alias pekerjaan. Seirama dengan pepatah tidak ada yang instan, semua itu butuh proses. Kalaupun ada, itu tidak lebih dari sebatas keberuntungan, dan biasanya, biasanya loh ya, yang serba instan itu bumingnya tidaklah lama.

Mari kita amati bagaimana suat siet-nya para senior blogger kita, mereka rela bermacet-macet ria di tengah terik panas ibu kota, demi bisa menghadiri acara yang diselenggarakan klien. Kadang satu hari ada beberapa acara di tempat beda, sehingga mereka harus loncat sana loncat sini demi bisa live tweet dan atau sekedar setor muka doang (tidak semua blogger loh ya, tapi ya ada juga). Kita perhatikan pula bagaimana para sosial media activis kurang tidur hanya demi menjaga bertanggung jawab terhadap postingan-postingan yang harus on time keluar dari akun sosial medianya. Tidak hanya itu, tidakkah kita tahu bagaimana kerja keras serta disiplinnya mereka dalam mengelola blog sebagai lahan usahanya itu?

Dengan kata lain, pantas kalau ngeblog yang mereka kelola menghasilkan income sebesar (dan bahkan lebih dari) gaji bulanan seorang karyawan. Lah perjuangan serta pengorbanannya saja pun seberat itu. Coba bandingkan dengan saya, seorang (yang ngakunya) blogger kampung, yang tinggal di gunung, tidak pernah mengikuti acara sehingga tidak ada bahan untuk dibuat tulisan. Jika blogger senior mendapat penghasilan dari ngeblognya jutaan, dan saya hanya dapatnya recehan (itupun tidak pasti) apakah saya diam pasrah saja?

Tergantung.

Ya, tergantung apakah kita akan nrimo begitu saja, atau mencari jalan bagaimana caranya supaya kita yang tinggal di desa pun bisa berdaya. Blogger kota makan nasi, kita pun makan nasi. Para sosial media activis menggunakan interet, kita pun sama (meski kecepatannya sekelas jalan siput). Nah, jika mereka bisa mendapat bayaran untuk sekali review produk minimal tujuh digit angka, kenapa kita tidak? Bagaimana cara supaya kita yang blogger recehan ini bisa mendapat durian runtuh beuh, maksudnya dari mendapat penwaran lima digit angka saja meloncat mendapat bayaran dengan rate minimal enam digit angka misalnya?

Iya, tapi bagaimana caranya?

Nah, didapatlah jalan melalui hasil bertapa, eh, belajar dan berinteraksi dengan para blogger kawakan yang sudah mumpuni dan ahli. Bahwa tidak ada yang tidak mungkin. Semuanya bisa terjadi, asal disertai niat dan usaha. Usaha seperti apa?

Oceanside academypresents

Pengalaman mereka yang sudah-sudah, berproses selama jatuh bangun dari blogger recehan menuju blogger jutaan (moga ini kita alami juga, amin) melalui beberapa tahapan, yaitu:

 

Niat

Nah, karena segala sesuatu tergantung kepada niat, maka ini menjadi hal yang mendasar.  Apakah benar niat awal kita ngeblog ini menjadikannya sebagai ladang usaha? Atau sekedar pengisi waktu luang (hobi), atau hanya ikut-ikutan biar dibilang kekinian saja?

Jujur saja pada diri sendiri. Karena apa pun jawaannya, itu akan menentukan seberapa besar usaha yang dilakukan. Dan ini tentu akan berdampak pada seberapa besar pula feedback kepada pendapatan kita. Coba saja lihat pendapatan blogger senior yng bisa membiayai sekolah anak-anak, karena niatnya disertai dengan usaha dan kerja keras. Lah kita, mendapat produk gratisan untuk direview saja sudah beruntung pisan...

 

Sugesti Berteman dengan blogger kota, yang selalu update di semua jejaring sosial media terkait kegiatan seputar acara blogshop, launching produk, undangan brand ternama, dan sebagainya kadang membuat hati ini merasa da aku mah apa atuh...  Minder, kecil hati dan semacam perasaan kurang beruntung menjadi perasaan yang selalu menghantui. Padahal, merasa minder dan merasa berada di lingkaran (blogger) terbawah ini justru sebuah kesalahan besar. Jaman dulu (halah, baru saja beberapa bulan) saya mengalami semua itu. Entah itu di wall sendiri, atau di group yang diikuti, saya selalu merasa minder karena itu tadi, merasa banyak kekurangan dan ketidakberuntungan dibanding blogger kota. Beruntung saya keburu disentil oleh seorang Teteh yang peduli dan baik hati. Teteh ini secara terang-terangan mengatakan tidak suka kalau saya terus-terusan ngagugulung alias tidak move on dari merasa minder dan ketidakberuntungan ini.

Karena secara tidak langsung, sugesti itu akan terus mengiringi setiap kegiatan dan aktivitas saya, yang akhirnya berdampak kurang baik. Lain lagi jika kebalikannya, saya merasa optimis, merasa besar hati maka sugesti baik pula yang akan mengiringi saya. Ibarat sebuah doa, jika terus-terus dipanjatkan, yakin suatu saat akan dikabulkan.

Hasilnya? Benar saja. Sedikit demi sedikit saya meninggalkan semua rasa minder itu. Perhalan saya membangun kepercayaan diri. Dan disadari atau tidak, perubahan ke arah lebih baik itu kini sudah dan semakin terlihat. Pokoknya thank you so much buat Teteh yang sudah nyepret dan nyintreuk saya.

 

Belajar Namanya blogger awam, alias pemula dan bisa ngeblog didapat secara otodidak tentunya harus bisa membuka diri untuk terus bisa meng-upgrade semua kemampuan. Dan ini bisa dilakukan hanya dengan bertanya kepada ahlinya. Bertanya disini bisa diartikan dengan banyak arti. Bisa bertanya secara langsung kepada blogger senior di group, bisa dengan mengikuti kelas atau seminar yang diadakan oleh para pakar blogger. Apapun, yang penting terus belajar.

Bukannya kita tinggal berada jauh di luar ibu kota? Ya, ikut acara (belajar)nya tidak harus setiap ada even kan? Malah ada lho kerjasama blogger senior yang memperbolehkan ikut acaranya khusus kepada mereka yang belum pernah ikut. Jadi buat yang sudah ikutan (ditandai dengan pengelompokan angkatan keberapa) mohon maaf tidak bisa ikut acara serupa lagi, meski kesempatan itu ada.

Rugi dong? Tentu tidak, karena meski kesempatan kita itu diberikan kepada blogger lain yang sama-sama ingin belajar, bagi kita yang sudah pernah ikut evennya, berhak bergabung di sebuah group khusus. Di Group inilah kapan saja kita mau belajar dan atau mau bertanya bisa dengan bebas diajukan kepada blogger senior, atau blogger lain yang memang tahu dan punya solusinya.

Tidak ada (manusia) blogger yang sempurna. Semumpuni apapun ilmunya, di bidang lain mungkin ada saja kelemahannya. Bertanya menjadi sebuah pelajaran untuk terus memperbaiki diri. Untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Jadi meski tinggl di pelosok, jangan sampai kuper apalagi kudet. Ada yang tidak ngerti, bertanya saja. Pasti dapat jawabannya asal bertanya kepada orang yang tepat.

Termasuk soal job? Iya. Saat heran kenapa blogger lain bisa dapat job sementara saya tidak dengan baik-baik saya tanyakan informasinya. Bagaimana cara dapat job, bagaimana masuk di komunitas yang menawarkan job dan sebagainya. Hasilnya alhamdulillah, satu dua job saya dapat dan itu murni dari rekomendasi sesama blogger (baik hati). Terimakasih banyak ya atas jalannya. Semoga jadi amal baik.

 

Konsisten

Menjadi seorang blogger, jika ingin mendapat job tentu saja harus memenuhi beberapa syarat seperti mempunyai blog yang nilai trafiknya baik. Dan menurut pengalaman, setiap agency yang mau kasih job, mereka selalu menyertakan pertanyaan, berapa nilai Alexa dari blog kita, berapa nilai Page Rank, Domain Authority, Page Authority, dan sebagainya.

Dan untuk mencapai nilai terbaik, tentu saja blogger bersangkutan harus berusaha demi mendapatkannya. Salah satu cara membuat nilai maksimal, adalah dengan membuat postingan dengan konten yang bagus. Nah disinilah keuletan seorang blogger teruji. Apalagi untuk blogger daerah yang nimin ikut even. Sebisa mungkin tetap dituntut untuk bisa membuat blogpost yang meski bukan even launching atau review produk, tetapi berisi konten yang bermanfaat, inspiratif dan dicari orang.

Salah besar jika seorang blogger (atau penulis) mempunyai pandangan bingung mau nulis apa. Buat blogpost tidak harus ikut acara, karena ide menulis itu tersebar dimana-mana. Apa saja bisa kita tulis, tergantung  darimana dan bagaimana cara kita membidiknya sehingga menjadi sebuah tulisan yang manfaat.

 

Jemput Bola

Tidak usah gengsi, tidak usah menunggu datang tawaran job. Jika ada teman yang sudah dapat job, sah-sah saja kita bertanya, bagaimana cara mendapatkannya. Apakah melalui pendaftaran, dimana daftarnya? Apakah melalui komunitas? Bagaimana cara menjadi membernya? Dan lain sebagainya.

Mungkin, untuk kerjasama diawal kita hanya dihargai sekian puluh ribu saja per pekerjaan yang kita buat. Jika memang kondisi kita memang demikian kesiapannya, kenapa tidak? Ambil saja, jangan merasa gengsi karena bernilai kecil, atau merasa iri karena melihat blogger senior sekali kerja minimal ratusan ribu sebagai imbalannya. Ingat Pak, Bu, semua kan ada proses. Bisa saja kita ambil job recehan ini, sekaligus kita jadikan sebagai ajang pembelajaran atau latihan. Kedepannya, siapa tahu ada brand yang melihat tulisan kita. Kalau bagus, bisa saja kita dilirik untuk kerjasama dan mendapatkan fee yang ruarr biasa besarnya. Bisa saja kan?

 

Amanah

Jika sudah mendapatkan pekerjaan, baik sekali beres ataupun sistem kontrak, maka sebisa mungkin patuhilah aturannya. Jadilah blogger yang amanah supata klien merasa senang, dan kita diajak kerjasama lagi di even selanjutnya.

 

Sedekah

Jadilah blogger yang mempunyai tangan di atas. Dengan kata lain, berusaha menjadi blogger yang memberi, disamping kita juga berperan sebagai blogger penerima (imbalan). Percayalah dengan berbagi walau sedikit tetapi ikhlas itu yang akan membawa rezeki kita berkah dan berlimpah.

 

Jadi bagaimana, apakah sudah siap menjadi Blogger Jutaan? Caranya ternyata mudah, bukan? :) Salam blogger dari kampung...

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar