Baru juga mau istirahat sebentar setelah solat ashar yang udah sedikit mendekati akhir waktu, kamis sore hari pertama di tahun baru itu tetangga sebelah rumah ketuk pintu, menyampaikan undangan dari Pondok Pesantren Mazroatul Ulum Citiis.
Kamis pagi sampai ashar, kami memang tidak ada di rumah, udah tiga minggu setiap Kamis saya berangkat ke rumah almarhum mama di Sukanagara, untuk membantu adik dan saudara lain menyiapkan tahlil ibu saya malam jumatnya.
Ternyata undangan itu untuk acara resepsi dari murid suami di ponpes tempat mengajar di tingkat Madrasah Aliah. Hari nya Sabtu 3 Januari. Lokasinya di kampung Sidamukti Desa Girimukti, Pasirkuda.
“Wah, jauh itu Girimukti mah, udah mau ke perbatasan Bandung. Sekitar satu jam dari sini. Itu baru ke desanya aja. Dari desa ke kampungnya ini sekitar satu jam lagi. Mana belum tahu juga akses jalannya bagaimana…” Kata suami mengeluhkan.
“Tapi kalau gak hadir, malu sama sesepuh pondok, secara pengantin perempuan adalah murid di MA, dan pengantin laki-lakinya adalah pengurus pondok. Kita lihat guru-guru di Aliah aja, Bu. Kalau mereka berangkat kita ikut. Kalau mereka tidak, kita juga batal saja.” Pertimbangan suami demikian karena memikirkan akses jalan ke Sidamukti yang masih rusak terutama dari persimpangan Rawa Getok nya (dekat Curug Citambur).

Apalagi akhir-akhir ini hujan terus menerus turun, bikin jalan pasti becek, licin dan kemungkinan ada longsoran di perjalanan mengingat ke Sidamukti itu melewati beberapa puncak bukit.
Tidak disangka guru-guru MA di group justru mengabarkan untuk janjian berangkat bareng. Terutama guru-guru wanita, mereka malah menyarankan pulangnya sekalian main ke air terjun Citambur.
“Gak bosan apa main ke Citambur melulu?” suami membalas pesan di wag MA.
“Ih enggak atuh Bapak. Apalagi suamiku kan kemarin gak ikut. Jadi ini momen kami bertiga. Seperti Bapak, Ibu dan Fahmi kemarin, gitu loh.” Balas Bu Soni diiringi emoticon tertawa.

Memang waktu awal September 2025, pas Fahmi pulang liburan dari pondok (libur semester pertama berdasarkan penanggalan tahun Hijriah) teman-teman ngajar suami di MA Mazroatul Ulum Citiis ini mengadakan piknik ala-ala ke Citambur. Ya bukan piknik sebenarnya karena banyak yang udah tahu dan lokasi juga sangat dekat. Bisa dibilang silaturahmi mempererat persaudaraan sesama guru MA aja gitu.
Dan saat itu, yang datang tidak semuanya. Personil lengkap hanya kami (saya suami dan Fahmi) lalu Bu Rini beserta suami yang juga guru MA dan dua anaknya, Bu Mala beserta suami dan putrinya. Bu Syifa dan Pak Opik (keduanya ngajar di MA) beserta putranya. Sementara Bu Soni hanya beserta putrinya karena suami sedang kerja.
Yang tidak hadir saat itu Bu Ruruh, Pak Asep 1, Pak Asep 2 (ada dua nama Asep guru di MA) dan Pak Kamil.
Karena itu kesempatan main ke daerah Desa Girimukti yang bertetangga dengan Desa Pusakajaya dimana Curug Citambur berada ini dijadikan kesempatan untuk sekaligus mampir lagi ke Curug Citambur.

Ternyata hari Jumat sore hingga malam hujan turun hampir tidak berhenti.
“Bisa jadi ke Sidamukti nya batal nih” ucap suami sambil menerawang ke luar rumah dari balik jendela.
Saya pun tidak mempersiapkan pakaian dan lainnya seperti biasa kalau mau ke acara pernikahan. Dipikir buat apa dipersiapkan kalau besar kemungkinan bakalan batal.
Sabtu pagi ternyata hujan masih turun. Kami malah lesehan sambil nonton dan mendengarkan pengajian lewat streaming. Suami sesekali cek wag MA, takut ketinggalan info.
"Jam berapa kita berangkat? Cuaca agak cerah nih.” Salah satu teman suami bertanya di group.
Memang jam tujuh lewat di tempat kami juga hujan tidak turun lagi. Sinar matahari muncul dengan terangnya dibalik awan.
"Jam 10 ya, saya mau isi bensin dulu di SPBU Pagelaran” jawab Bu Soni.
“Bu, mereka jadi berangkat, gimana kita ikut saja?” suami meminta jawaban.
"Ya ayo ikut saja. Semoga cuaca bagus sampai kita pulang nanti.” Jawab saya sambil segera mencari pakaian yang cocok.
Saya pikir karena kondisi jalan banyak yang rusak, mana becek dan siapa tahu di tengah perjalanan turun lagi hujan, akhirnya saya memilih mengenakan setelan touring saja, rok celana dengan tunik dan jilbab warna senada. Sendal juga sendal karet biasa, supaya saat kena kotoran air hujan bisa dengan mudah dibersihkan. Kaos kaki tentu bawa cadangan.
“Kami tunggu di pertigaan Pasir Haur” kata Pak Opik menginformasikan.
“Kami udah selesai isi bensin.” Kata Bu Soni.
Dan tiba-tiba beliau japri nomor suami, jadi berangkat gak katanya?
“Siap Bu. Kami meluncur ke Pasir Haur ketemu Pak Opik di sana,” balas suami. Padahal dia belum mandi. Hihi, tapi bilangnya udah otw.
Lima belas menit kemudian saya dan suami pun berangkat. Tidak lupa membawa jas hujan.

Sampai di Pasir Haur bertepatan dengan keluarnya sepeda motor Pak Opik beserta Bu Syifa. Kami turun bersamaan dan bersalaman. Buat saya ini pertemuan terbaru setelah liburan bersama Fahmi September lalu itu.
Senang waktu menyapa Zulfikar, putranya Pak Opik dan Bu Syifa yang berusia 4 tahun masih mengenali saya.
Lebih senang lagi melihat pakaian yang saya pakai warnanya senada dengan seragam yang dipakai Bu Syifa, dan juga pastinya buibu guru lainnya. Padahal saya dan mereka tidak janjian.

Tidak lama Bu Soni dan putrinya beserta suami juga muncul. Beriringan dengan Pak Asep 1. Jadilah empat motor kami berangkat menuju pertigaan Rancagoong menunggu Bu Ruruh.
Di minimarket dekat Desa Kubang, kami berhenti karena ada yang mau belanja. Saat itu kami diskusi dan mengumpulkan donasi eh uang untuk disatukan. Jadi nanti diatasnamakan dari guru-guru MA. Yang pegang tentu saja Ketua Squad, siapa lagi kalau bukan Bu Soni. Hihi…
Dari obrolan depan minimarket sambil nunggu yang belanja saya tahu kalau Bu Rini dan Suami gak bisa ikut karena takut cuaca tidak bersahabat. Dengan anak dua laki-laki yang masih kecil mungkin memang diperlukan perjuangan banget ya kalau mau bepergian. Bu Mala juga tidak ikut bersama kami.
Selesai diskusi dan belanja kami lanjutkan perjalanan menjemput Bu Ruruh. Cuaca di Kubang saat itu panas. Kami sampai kegerahan saat berhenti depan minimarket tadi.
Di depan brilink pertigaan Rancagoong sesuai yang dijanjikan, ternyata Bu Ruruh belum ada. Dihubungi oleh Bu Soni, katanya masih ini, masih itu, dll. Akhirnya kami turun lagi menunggu sambil bersenda gurau. Saat itu cuaca sudah berubah mendung lagi. Bahkan ketika Bu Ruruh sampai dan saya sempatkan bersalaman dulu karena ini pertama kalinya saya dan beliau bertemu bertatap muka langsung, rintik hujan sudah mulai turun.
“Di Pertigaan Simpang, ada Pak Asep 2 ya,” kata Bu Soni menginformasikan sebelum kami melanjutkan perjalanan. Walaupun laki-laki tapi namanya tidak tahu lokasi, memang lebih baik berangkat bareng kan ya. Apalagi ini membawa nama satu instansi, Guru MA. Jadi bagusnya emang bareng-bareng berangkatnya.
Ketika lewat pertigaan Simpang, Pak Asep 2 sudah standby. Kami tidak berhenti karena hujan sudah mulai turun.
Enam motor akhirnya beriringan menerjang hujan. Padahal itu menurut suami belum setengah jalan. Waduh, masih lama ini perjalanan? Untung saya pakai setelan balap. Bukan gamis kaya Buibu guru MA itu. Jadi saya lebih leluasa membonceng suami walau kondisi hujan.
Lama-lama kepikiran juga, kalau menembus hujan yang semakin deras, pakaian bisa basah, bisa malu datang ke resepsi dalam kondisi jibrug alias basah kuyup. Mana jalan juga berbahaya. Dingin juga kalau naik sepeda motor dalam cuaca hujan bisa menyebabkan sakit.
Akhirnya kami semua berteduh di daerah Cimaja. Depan sebuah bangunan ruko yang baru setengah jadi.

Gak disangka ada penjual jajanan sudah mangkal di sana. Si mamang jualan Sosis bakar, bakso bakar, jagung susu keju, dan cireng semua dalam satu motor.
Awalnya Zulfikar putra Bu Syifa yang jajan jasuke. Diikuti putrinya Bu Soni. Lalu putrinya Bu Ruruh. Kami bersenda gurau jadinya dengan celotehan yang absurd,. Sebelum makan di resepsi yang entah kapan sampainya karena hujan justru malah semakin besar, mari kita jajan dulu sepuasnya. Yang diuntungkan si mamang yang jualan dong.
Tergoda dengan jagung yang panas dengan keju yang lumer saya akhirnya jajan juga. Berdua dengan suami karena porsinya cukup banyak.
"Borong Bu, mumpung si Ade Fahmi ga ada. Nanti kalau Ade Fahmi pulang, ibunya kan yang puasa." Seloroh Bu Syifa. Kami semua tertawa.
Sambil jajan dan bercanda ditemani hujan yang tidak mereda saya lihat jauh ke perbukitan di sana masih tertutup awan dan kabut hujan. Entah kapan bisa berakhir.
"Bisa-bisa kita solat duhur disini nih," kata bapak-bapak sambil bercanda.
"Asal jangan nginep disini, kadung udah pergi dan ngasih tahu kita guru MA mau datang nih," timpal Bu Soni. Dan sampai adzan duhur terdengar, bener saja kami masih terjebak di depan ruko setengah jadi itu.
Setelah berdiskusi akhirnya sepakat untuk tetap berangkat melanjutkan perjalanan meksipun hujan dan harus pakai jas hujan. Bu Soni dan Bu Ruruh sampai membeli jas hujan sekali pakai di pinggir jalan demi kenyamanan putri-putrinya.

Enam motor kembali beriringan menerjang hujan. Sampai pertigaan menuju rawa getok (danau getok) jalan masih mulus. Tapi lewat pertigaan itu, asli jalan terjal berbatu ibarat sungai yang kekeringan (dan kali ini jadi sungai kering yang kehujanan) sampai berkali-kali mesin sepeda motor suami terbentur bebatuan jalan saking menonjolnya.
Tidak lama melewati rawa getok, jalanan mulai berkelok menurun curam. Saya sampai berpegangan dengan erat saking khawatir jatuh. Walaupun sebagian jalan sudah dicor tapi karena terhalang rimbunnya pohon bambu sehingga tumbuh banyak lumut dan menyebabkan jalanan licin.

Habis turunan yang curam itu (tandanya baru melewati satu bukit) kami melewati jembatan rawa getok. Jembatan cukup kuat dan bagus. Hanya jalan setelahnya masih banyak yang hancur.
Habis turun terbitlah nanjak. Ya setelah melalui jembatan rawa getok jalan kembali menanjak dan berbelok dengan tajam. Sampai kaget ketika di belokan yang sempit dari arah berlawanan ada kendaraan bak terbuka yang sedang melaju juga. Mobil itu segera menepi karena kami yang menanjak membutuhkan ruang lebih banyak.
Baru tahu kalau tanjakan itu ternyata tanjakan Sukalaksana yang viral karena banyak netizen yang bikin konten di tanjakan curam seperti cacing tersebut.
Baru tahu saat sudah di tempat resepsi kemudian, kalau paginya, saat mengantar calon pengantin laki-laki kendaraan dari Ponpes Mazroatul Ulum Citiis, hampir semuanya tidak bisa menyelesaikan tanjakan curam yang berkelok itu. Para santri pun sigap standby di pinggir jalan lalu mendorong kendaraan yang tidak melaju sehingga akhirnya bisa melewati tanjakan viral tersebut.

Ketika sampai di depan Kantor Desa Girimukti (yang ada di maps) ada persimpangan jalan. Takut salah, kami bertanya ke penduduk setempat dan ditunjukan jalan kalau mau ke kampung Sidamukti ambil arah yang ke kiri.
Berkali-kalai melewati jalan naik turun lagi hingga kami sampai di puncak bukit yang entah keberapa dan disini selain banyak pohon pinus banyak pula di bawahnya ditanam pohon kopi.

Dari sini saya baru berani melihat pemandangan sekitar karena hujan mulai mereda. Masyaalloh... ternyata posisi saat itu beneran berada di puncak bukit. Melihat ke bawah sana, terlihat begitu kecil jalan tadi yang sempat dilewati. Rasanya takjub banget.
Melihat awan putih bergerak berarak di bawah sana seolah kami ini berada di atas awan. Sungguh pemandangan yang luar biasa. Berasa beneran bepergian ke ujung dunia saja. Haha...
Ternyata dari situ menuju ke lokasi resepsi masih harus mengendarai sepeda motor sekitar setengah jam. Jalan lumayan bagus karena sudah diaspal sebagian. Sebagian lagi ya rusak gitu deh. Apalagi kalau ada yang longsor, biasanya kan tidak segera diperbaiki jadinya ya rusaknya merembet.

Hingga jam 13.00 wib akhirnya kami tiba di masjid Jami kampung Sidamukti. Di sana sudah banyak santri yang menunggu kami. Karena sebelumnya mereka selalu berkomunikasi dengan Bu Soni.
Kami memarkirkan sepeda motor, menanggalkan jas hujan dan tanpa benerin make up langsung menuju kampung di bawah sana menuju lokasi resepsi. Iya, masih harus jalan kaki lagi... wasai... beneran perjalanan menuju resepsi di ujung dunia banget ini mah...
Jalan kaki dengan kondisi menurun yang licin bikin kami merayap sambil berpegangan. Terlihat gamis para guru wanita udah kotor dan basah, ah cuek saja. Boro-boro memperhatikan penampilan, selamat di perjalanan aja udah bersyukur banget.
Dan hal yang tidak diinginkan beneran terjadi. Bu Soni yang berjalan depan saya tidak mampu menahan berat badan hingga saat menginjak jalan tanah yang basah licin berlumut akhirnya terjatuh. Blug!
Astagfirullah... saya langsung menjerit dan berusaha membangunkannya. Walau ga bisa karena postur tubuh Bu Soni jelas lebih tinggi besar daripada saya. Setelah datang suaminya yang berjalan di belakang akhirnya bisa bangun dan mencoba melanjutkan perjalanan.
Pakaian kotor tidak begitu terlihat karena ditutup kardigan dengan warna senada. Padahal menuju tempat resepsi sekitar 50 meteran lagi. Namanya musibah ga ada yang tahu ya. Yang dikhawatirkan jatuh di perjalanan tadi saat mengendarai motor, eh ternyata malah jatuhnya di halaman rumah.
Sesampainya di depan rumah pengantin dan panggung resepsi lantunan sholawat serentak dibawakan para santri menyambut kedatangan kami. Ada rasa haru, ada rasa sedih semua menyatu mengingat perjuangan perjalanan menuju resepsi di ujung dunia ini.

Saat berfoto bersama saya lihat di ponsel, ternyata lokasi kampung itu tidak terdeteksi alias belum muncul di gugel. Pantesan lihat di maps hanya sampai Desa Girimukti saja. Kampung Sidamukti nya ini tidak terlacak radar rupanya. Beneran berada di ujung dunia. Di Kabupaten Cianjur ternyata masih banyak pelosok yang belum dikenal Gugel nih... Padahal katanya dari sini itu ke wilayah Kabupaten Bandung udah lebih dekat.
Selesai foto bersama (saya sengaja tidak ikut dan seperti biasa memilih jadi tukang foto saja) kami dipersilahkan untuk menyantap hidangan yang sudah tersedia. Tentu saja kami segera menyerbunya. Udah perjalanan jauh dengan kondisi tubuh kadinginan akibat hujan pastinya lapar tidak tertahan. Alhamdulillah selesai makan hujan mereda.
"Bu, kita pulang duluan saja. Mumpung tidak hujan. Kalau keburu kita sholat di rumah saja. Sholat di jalan juga ini pada basah dan kotor kan?" Suami berbisik disela obrolan bersama keluarga besar ponpes. Saya menyetujuinya. Langsung berkemas.

Sesampainya di atas dekat masjid Jami Sidamukti tempat kendaraan diparkir, cuaca benar terlihat cerah. Awan putih bergeser menjadi langit yang biru. Karena itu jas hujan semua dilipat saja. Kami berpamitan pulang tanpa mengenakan jas hujan lagi.
Kami pulang duluan karena tidak ikut rekan-rekan guru lainnya yang mau main dulu ke Curug Citambur. Saat berangkat, waktu menunjukkan pukul 13.33 wib. Target suami setengah tiga sore itu kami harus sudah sampai di rumah, supaya bisa menjalankan sholat duhur walau hampir akhir waktu.
Saya kira saya dan suami saja yang pulang lebih dahulu. Ternyata duo Pak Asep juga mengikuti kami di belakang. Bedanya duo Pak Asep itu setelah lewat Rawa Getok mampir dulu di masjid untuk solat duhur.

Saya dan suami tiba di rumah pukul 14.25 wib. Kalau pulang berasa cepat banget ya? Hehe... Cuaca juga cerah. Dasar... tapi ya alhamdulillah, kami kembali ke rumah dengan sehat dan selamat setelah menghadiri acara resepsi murid santri di ujung dunia...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar