Kamis, 03 September 2026

Mengenal Kampung Adat Miduana Cianjur dan Tradisinya yang Mulai Tergerus Zaman

Mengenal Kampung Adat Miduana Cianjur dan Tradisinya yang Mulai Tergerus Zaman

Sekilas Potret Kabupaten Cianjur bagian Selatan 

Sejak jalan lintas selatan diperbaiki, akses menuju pantai dan lokasi wisata lainnya di Cianjur Selatan jadi lebih mudah. Tidak heran kemudian bermunculan spot bagus yang diupload wisatawan dan jadi terkenal karena viral.

Dulu menuju Cianjur dari Kabupaten Bandung cukup menyeramkan karena jalannya rusak, lewat hutan dan perkebunan yang sepi sehingga ditengarai rawan kecelakaan dan kriminal.

Kini apalagi setelah Bapak Aing KDM Gubernur Jabar touring melintas jalur lintas selatan itu terekspos lah jalan mulus, terang dengan lampu yang estetik, para pelancong pun makin gencar bepergian.

Momennya berdekatan dengan pembersihan jalur puncak, sehingga banyak pedagang dan penikmat suasana kebun teh yang beralih pindah ke Cianjur bagian kidul ini.

Salah satu jalan dan daerah yang viral di Cianjur Selatan itu adalah jalan menuju kecamatan Naringgul.

Kecamatan Naringgul di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, viral karena dua hal utama baru-baru ini. Pertama kondisi sekolah yang memprihatinkan dan kedua destinasi jalan wisata yang unik.

Kondisi Memprihatinkan di Naringgul 

Sekolah setingkat SMP viral di media sosial setelah sebuah video memperlihatkan kondisi tiga ruang kelas SMP Swasta SCBP di Naringgul yang masih beralas tanah.

Lokasi sekolah ini berada di Kampung Tarisi, Desa Malati, Kecamatan Naringgul.

Kondisi sekolah tergambar hanya memiliki tiga ruangan kelas untuk belajar. Lantainya masih berupa tanah dan banyak bagian bangunan yang rusak serta berlubang. Hal itu yang memicu perhatian warganet terhadap fasilitas pendidikan di pelosok Cianjur 

Keindahan Wisata Celah Sempit Jalan Genteng Naringgul

Selain kisah sekolah, wisata Celah Sempit Jalan Genteng juga ramai diburu pengendara dan wisatawan.

Daya tarik celah ini menawarkan panorama perbukitan hijau dengan udara sejuk pegunungan.

Keunikan jalur jalan yang diapit tebing sempit menjadi daya tarik tersendiri bagi pecinta jalan santai maupun pengendara motor.

Selain dua hal itu, Naringgul juga punya sisi dunia lain yang memperlihatkan bagaimana masyarakat di sana masih begitu kuat memegang tradisi Sunda yang masih kokoh ditengah gempuran kemodernan.


Kampung Adat Miduana Cianjur 

Adalah Kampung Adat Miduana yang juga berada di Naringgul, tempat yang menarik untuk bisa mengenal lebih dekat kehidupan masyarakat Sunda dan kearifan lokal yang masih bertahan di tengah perkembangan zaman.

Kampung ini berada di Desa Balegede, Kecamatan Naringgul, Kabupaten Cianjur, bagian Selatan. Pemerintah Kabupaten Cianjur telah menetapkan Miduana sebagai kampung adat sejak tahun 1999. Sampai sekarang, masyarakatnya masih mempertahankan berbagai aturan adat, tradisi, kesenian, serta pola kehidupan yang diwariskan oleh leluhur.

Salah satu hal yang membuat Kampung Adat Miduana menarik adalah keberadaan berbagai tradisi seperti Kuramasan, Mandi Kahuripan, Dongdonan Salapan Wali Puhun, Lanjaran Tatali Paranti, dan Opatlasan Mulud.

Namun, di tengah modernisasi dan perubahan gaya hidup, tradisi tersebut menghadapi tantangan dalam hal pewarisan kepada generasi berikutnya.


Di Mana Letak Kampung Adat Miduana?

Kampung Adat Miduana berada di Desa Balegede, Kecamatan Naringgul, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat.

Letaknya berada di kawasan Cianjur Selatan yang dikelilingi perbukitan dan lingkungan alam yang masih relatif asri. Kondisi geografis tersebut ikut memengaruhi kehidupan masyarakatnya.

Rumah-rumah tradisional juga masih dapat ditemukan di kawasan tersebut. Salah satu cirinya adalah rumah panggung dengan penggunaan ijuk dari pohon enau atau kawung sebagai bahan atap.

Kampung ini terdiri dari 21 rumah yang dihuni oleh 21 keluarga. Rumah di kampung ini juga masih sangat tradisional berupa rumah panggung dengan dinding berupa bilik bambu.

Uniknya lagi, semua rumah berbentuk sama dan memiliki kesamaan bentuk serta ciri khas. Dimana bagian pintu harus menghadap ke arah selatan.

Setiap rumah juga terdapat gowah, nama tempat untuk menyimpan padi serta parukuyan sebutan untuk tempat menyimpan beras.

Gowah dan parukuyan itu harus dilalui jika warga kampung adat hendak ke jamban untuk sekadar mandi ataupun buang air.

Jangan tanya kenapa… Tradisinya memang begitu, tidak boleh ke jamban atau toilet tanpa melalui gowah dulu. Sampai sekarang tradisi atau budaya itu masih dijaga. Makanya warga Miduana kalau mau buat jamban selalu di arah yang nantinya akan melewati gowah.

Masyarakat Miduana sejak dahulu memiliki hubungan yang erat dengan alam. Sebagian masyarakat masih bekerja sebagai petani dan penyadap aren. Kehidupan yang sederhana dan dekat dengan alam menjadi salah satu ciri masyarakat kampung ini.


Mengenal Kampung Adat Miduana Cianjur dan Tradisinya yang Mulai Tergerus Zaman


Sejarah Singkat Kampung Adat Miduana

Sejarah Miduana tidak dapat dipisahkan dari cerita tentang leluhur masyarakat setempat.

Menurut catatan sejarah dan penuturan yang dihimpun sejumlah penelitian, kawasan ini berkaitan dengan tokoh leluhur bernama Eyang Jagat Sadana, yang dipercaya membuka wilayah yang kemudian menjadi Kampung atau Dusun Miduana.

Sebelumnya, Jagat Nata dan Jagat Niti disebut sebagai tokoh yang membuka wilayah Balegede. Nama Balegede sendiri dikaitkan dengan tempat perjumpaan besar atau pasamoan. Dari keturunan Jagat Niti kemudian lahir Jagat Sadana yang membuka kawasan Miduana.

Cerita mengenai asal-usul tersebut sampai sekarang menjadi bagian dari ingatan dan identitas masyarakat Miduana.

Karena sebagian sejarahnya diwariskan melalui cerita dan tuturan, keberadaan para sesepuh atau kokolot adat sangat penting dalam menjaga pengetahuan tersebut.


Kuramasan, Tradisi Menyambut Bulan Ramadan

Salah satu tradisi Kampung Adat Miduana yang cukup dikenal masyarakat luas adalah Kuramasan.

Kuramasan dilakukan menjelang bulan Ramadan. Secara sederhana, tradisi ini berupa kegiatan membersihkan atau menyucikan diri dengan mandi atau keramas.

Masyarakat biasanya menuju aliran Sungai Cipandak untuk melaksanakan tradisi tersebut. Kegiatan ini dapat dilakukan secara bersama-sama dan menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk berkumpul serta mempererat hubungan sosial.

Namun, makna Kuramasan sebenarnya lebih dalam daripada sekadar mandi sebelum Ramadan.

Penelitian yang diterbitkan UIN Sunan Gunung Djati Bandung pada 2026 menjelaskan bahwa Kuramasan berkaitan dengan pembersihan diri secara lahir dan batin, penghormatan terhadap warisan leluhur, sekaligus memperkuat hubungan sosial masyarakat.

Dengan kata lain, Kuramasan mengandung pesan sederhana: Sebelum memasuki bulan suci, manusia diajak membersihkan diri sekaligus memperbaiki hubungan dengan sesama.

Tradisi ini masih dilaksanakan hingga sekarang. Jadi, kurang tepat jika dikatakan Kuramasan sudah punah. Justru yang perlu dijaga adalah agar makna dan nilai di balik tradisi tersebut tetap dipahami oleh generasi muda.


Dongdonan Salapan Wali Puhun, Warisan yang Tidak Sekadar Cerita

Tradisi lain yang sangat menarik adalah Dongdonan Salapan Wali Puhun.

Bagi masyarakat umum, istilah ini mungkin terdengar asing. Padahal, penelitian akademik yang diterbitkan dalam Jurnal Pustaka Universitas Udayana pada Februari 2026 menunjukkan bahwa tradisi tersebut masih hidup di Kampung Adat Miduana.

Penelitian itu dilakukan melalui wawancara dengan tokoh adat, observasi, dan dokumentasi. Hasilnya menunjukkan bahwa Dongdonan Salapan Wali Puhun bukan hanya cerita tentang leluhur.

Tradisi lisan tersebut mengandung ajaran etika, nilai sosial, spiritualitas, dan pengetahuan tentang hubungan manusia dengan alam.

Di dalamnya terdapat berbagai praktik dan pengetahuan adat yang diwariskan secara turun-temurun.

Karena bentuknya banyak disampaikan secara lisan, keberadaan sesepuh adat memiliki peran penting. Dan disinilah tantangannya.

Jika generasi muda tidak lagi tertarik mendengarkan, mempelajari, atau meneruskan cerita tersebut, pengetahuan yang selama ini disimpan dalam ingatan para sesepuh bisa semakin sulit diwariskan.


Mandi Kahuripan dan Tradisi Kehidupan Masyarakat

Selain Kuramasan, masyarakat Miduana juga mengenal Mandi Kahuripan.

Tradisi ini termasuk dalam rangkaian kebiasaan adat yang masih tercatat sebagai bagian dari kehidupan masyarakat Miduana. Penelitian mengenai tradisi Miduana juga menyebut Mandi Kahuripan sebagai salah satu kegiatan yang memiliki fungsi sosial, termasuk memperkuat kebersamaan masyarakat.

Tradisi semacam ini menunjukkan bahwa masyarakat dahulu tidak hanya memandang kegiatan bersama sebagai rutinitas. Melainkan ada nilai kebersamaan yang ingin dipertahankan.

Masyarakat berkumpul, saling berinteraksi, dan menjaga hubungan sosial melalui kegiatan yang diwariskan oleh orang-orang terdahulu.


Lanjaran Tatali Paranti, Aturan yang Menjadi Pedoman Hidup

Masyarakat adat tidak hanya mempunyai upacara atau ritual. Mereka juga mempunyai aturan kehidupan yang diwariskan dari generasi sebelumnya.

Salah satunya adalah Lanjaran Tatali Paranti, yang berkaitan dengan aturan dan kebiasaan adat masyarakat Miduana.

Jangan heran kalau di Miduana jika akan ke kamar mandi, harus melewati leuit (tempat menyimpan beras) dan parukuyan 

Dalam kehidupan masyarakat adat, aturan seperti ini menjadi semacam pedoman agar kehidupan bersama tetap berjalan sesuai nilai yang diyakini.

Penelitian tentang Miduana menunjukkan bahwa masyarakat masih memegang berbagai aturan adat dan pamali. Pamali dapat dipahami secara sederhana sebagai larangan atau pantangan yang tidak boleh dilanggar menurut adat.

Bagi masyarakat modern, beberapa aturan tersebut mungkin terlihat sederhana atau bahkan asing.

Namun, jika dipahami lebih dalam, sebagian aturan adat tersebut memiliki fungsi sosial dan lingkungan.


Opatlasan Mulud

Ada pula tradisi Opatlasan Mulud yang termasuk dalam tradisi masyarakat Kampung Adat Miduana.

Tradisi ini berkaitan dengan peringatan bulan Mulud atau Rabiul Awal dalam kalender Islam.

Keberadaan tradisi ini menunjukkan adanya perpaduan antara nilai keagamaan dengan kebudayaan lokal Sunda yang berkembang di masyarakat.

Menariknya, berbagai tradisi di Miduana tidak berdiri sendiri. Ada hubungan antara agama, adat, kehidupan sosial, sejarah leluhur, dan lingkungan.

Hal inilah yang membuat budaya Kampung Adat Miduana memiliki karakter tersendiri.


Bukan Hanya Tradisi, Miduana Juga Memiliki Kesenian Buhun

Kampung Adat Miduana juga memiliki sejumlah kesenian tradisional.

Beberapa di antaranya adalah Wayang Gejlig, Nayuban, Lais, wayang golek, calung, rengkong, reog, tarawangsa, dan patun buhun.

Kesenian tersebut bukan hanya hiburan.

Pada masyarakat tradisional, kesenian sering menjadi media untuk menyampaikan cerita, nasihat, nilai kehidupan, dan pengetahuan kepada masyarakat.

Salah satunya adalah Wayang Gejlig yang dalam kajian tentang Miduana disebut memiliki fungsi edukasi moral.

Sayangnya, kesenian tradisional menghadapi tantangan yang hampir sama di banyak daerah: perubahan selera masyarakat dan semakin banyaknya pilihan hiburan modern.


Mengenal Kampung Adat Miduana Cianjur dan Tradisinya yang Mulai Tergerus Zaman


Mengapa Tradisi Miduana Mulai Tergerus?

Penting untuk diluruskan bahwa tradisi di Miduana belum hilang.

Bahkan penelitian terbaru tahun 2026 menunjukkan bahwa Dongdonan Salapan Wali Puhun masih menjadi tradisi yang hidup dan digunakan dalam kehidupan masyarakat. Kuramasan juga masih dilaksanakan menjelang Ramadan.

Namun, bukan berarti tradisi tersebut tidak menghadapi ancaman.

Perubahan zaman membuat cara masyarakat belajar dan berinteraksi berubah.

Anak-anak muda sekarang lebih banyak mendapatkan informasi dari sekolah, internet, media sosial, televisi, dan berbagai sumber digital.

Sementara itu, banyak pengetahuan adat diwariskan melalui cerita lisan dari orang tua, sesepuh, atau tokoh adat.

Jika proses pewarisan tersebut tidak berjalan dengan baik, bukan tidak mungkin suatu saat generasi muda hanya mengetahui nama tradisinya tanpa memahami maknanya.

Itulah bentuk perubahan budaya yang perlu diperhatikan.

Jangan Menyalahkan Generasi Muda

Melestarikan budaya tidak berarti anak muda harus kembali hidup seperti masyarakat zaman dahulu.

Justru budaya perlu diperkenalkan menggunakan cara yang sesuai dengan zaman sekarang.

Misalnya, cerita tentang Kampung Adat Miduana bisa dibuat menjadi video pendek.

Sejarah leluhur dapat didokumentasikan.

Cerita dari sesepuh dapat direkam dalam bentuk audio atau video.

Kesenian tradisional bisa diperkenalkan melalui media sosial.

Bahkan anak-anak muda dapat membuat konten sederhana seperti:

“5 Hal Unik di Kampung Adat Miduana yang Tidak Banyak Orang Tahu.”

Cara seperti ini dapat membuat budaya lokal lebih dekat dengan generasi muda.


Apa yang Bisa Dilakukan Agar Tradisi Miduana Tetap Hidup?

Ada beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan.

1. Dokumentasikan cerita para sesepuh

Orang-orang tua merupakan sumber pengetahuan yang sangat berharga. Cerita mereka sebaiknya direkam dan didokumentasikan sebelum hilang bersama generasinya.

2. Kenalkan budaya di sekolah

Sekolah khususnya di Cianjur dapat menjadi tempat untuk mengenalkan budaya lokal. Tidak harus melalui pelajaran yang berat.

Bisa melalui tugas membuat video, wawancara tokoh adat, kunjungan budaya, atau pertunjukan seni.

3. Gunakan media sosial

Tradisi tidak harus selalu ditampilkan dalam acara resmi.

Instagram, TikTok, YouTube, dan media sosial lainnya bisa menjadi tempat memperkenalkan budaya Cianjur kepada masyarakat yang lebih luas.

4. Berikan ruang kepada anak muda

Anak muda sebaiknya tidak hanya menjadi penonton. Mereka bisa dilibatkan sebagai pembuat dokumentasi, pengelola media sosial, fotografer, videografer, maupun pelaku seni.

Dengan begitu, pelestarian budaya tidak terasa sebagai sesuatu yang kuno.

5. Jangan hanya mempertahankan bentuk, tetapi pahami maknanya

Ini yang paling penting. Melestarikan budaya bukan sekadar memakai pakaian adat atau mengadakan pertunjukan. Yang lebih penting adalah memahami nilai yang ada di balik tradisi tersebut.

Ada lagi ide atau cara lainnya? Boleh sampaikan di komentar ya... ( Nuhun pisan... )


Mengenal Kampung Adat Miduana Cianjur dan Tradisinya yang Mulai Tergerus Zaman


Kampung Adat Miduana dan Pelajaran untuk Kita

Kampung Adat Miduana memberikan sebuah pelajaran penting. Bahwa modernisasi tidak selalu harus membuat manusia meninggalkan akar budayanya.

Masyarakat dapat menggunakan teknologi modern sambil tetap menjaga nilai-nilai leluhur.

Tradisi Kuramasan mengajarkan pentingnya membersihkan diri dan mempererat hubungan sosial.

Dongdonan Salapan Wali Puhun menyimpan pengetahuan tentang etika, kehidupan sosial, spiritualitas, dan hubungan manusia dengan alam.

Sementara kesenian tradisional menjadi media untuk menyampaikan cerita dan nilai kehidupan. Semua itu merupakan bagian dari identitas masyarakat Cianjur.


Setoran Artikel #ISBBudaya 

Kampung Adat Miduana Cianjur bukan sekadar kampung tua yang masih memiliki rumah tradisional. Di dalamnya terdapat cerita tentang leluhur, aturan adat, kesenian, tradisi keagamaan, kehidupan agraris, dan hubungan manusia dengan alam.

Sebagian tradisi masih dilakukan hingga sekarang. Namun, tantangan terbesar ke depan adalah bagaimana pengetahuan tersebut dapat terus diwariskan kepada generasi muda. Saya menuliskan ini sebagai informasi untuk manteman semuanya. 

Sebab budaya bisa saja masih terlihat secara fisik, tetapi perlahan kehilangan maknanya jika tidak lagi dipahami. Karena itu, menjaga Kampung Adat Miduana bukan hanya tugas pemerintah atau tokoh adat. Masyarakat, sekolah, orang tua, dan generasi muda juga memiliki peran yang sama pentingnya. Termasuk kita para blogger dan warga negara Indonesia.

Tidak harus dimulai dengan sesuatu yang besar.

Sebagai orang Cianjur, dengan mengenal sejarah kampung sendiri, bertanya kepada orang tua tentang tradisi, mempelajari kesenian lokal, atau membuat satu video tentang budaya Cianjur ini pun sudah menjadi langkah kecil untuk menjaga warisan leluhur, bukan?

Jangan sampai generasi berikutnya hanya mengenal Miduana dari cerita.

Selama masih ada orang yang mau belajar, menceritakan, dan meneruskannya, insyaallah tradisi itu masih memiliki kesempatan untuk tetap hidup.




32 komentar:

  1. Cianjur menyimpan kekayaan budaya yang begitu eksotis lewat Kampung Adat Miduana ini. SKelestarian tradisi dan keasrian alamnya yang masih terjaga alami. Semoga kearifan dan tradisi leluhur di sana bisa terus lestari di tengah gempuran zaman.

    BalasHapus
  2. Penasaran sama alasan tradisi harus melewati gowah dan parukuyan ketika mau ke belakang... Apa mungkin supaya secara berkala ada yang mengawasi tempat penyimpanan bahan makanan pokok, ya? Mencegah adanya kejadian kehilangan atau kerusakan kebutuhan primer yang besar pengaruhnya kalau sampai terjadi.

    BalasHapus
  3. Seru banget kalau belajar sejarah lokal gini ya, berasa banyak banget wejangan yang didapat. Kadang mengingatkan ke kita tentang rasa syukur juga. Dan hal-hal kecil bisa punya maknanya sendiri.

    BalasHapus
  4. melalui tulisan ini jadi mengenal akan ragamnya tradisi yang terjadi di kampung adat miduana cianjur. tradisi unik yang sudah banyak periset datang untuk mengungkap sisi kesederhanan dan teguhnya masyarakat memegang prinsip yang sudah diwariskan oleh para leluhur.

    ironisnya memang ketika perkembangan teknologi justru menimbulkan keterasingan bagi generasi yang akan datang di sana. munculnya disparitas semacam ini seharusnya ditangani secara serius untuk pemerintah setempat untuk terus menggencarkan warisan budaya ini agar tetap terjaga dan tertata.

    BalasHapus
  5. Indonesia ini memang kaya akan budaya dan adat-istiadat. Sayangnya, kepedulian generasi muda itu masih kurang untuk ikut melestarikannya. Soalnya, anggapannya sih itu sudah kuno dan hanya jadi wewenang orang tua zaman dulu.

    Seharusnya, harus lebih ditekankan lagi dalam pelajaran sekolah. Namun, di pelajaran sekolah, dirasa membosankan juga, sih, bagi sebagian murid. Akhirnya, mereka jadi membolos. Padahal, kalau mau lebih sopan, sebelum membolos, izinlah sama guru. Jadi, guru merasa dihargai, ya 'kan?

    BalasHapus
  6. Aku juga punya cerita dg Cianjur teh, zaman kuliah dulu aktif di salah satu organisasi ekstra kampus dan kami sering mengadakan kegiatan di Cianjur. Dan kami bukan tinggal di villa atau hotel tapi membaur dengan masyarakat lokal, meski tidak sepenuhnya menggenggam kenangan itu, tapi masih tersisa penggalan2 manisnya. Oh iya, kalau tidak dengan didokumentasikan lalu dipublikasikan salah satunya lewat tulisan seperti ini, budaya dan tradisi lama memang bisa menghilang perlahan. Padahal sebagian masih dipraktikkan masyarakat ya teh...

    BalasHapus
  7. memang seiring dengan semakin majunya perkembangan zaman kadang ada hal-hal terkait kebiasaan dan kebudayaan sebuah daerah yang semakin tergerus ya, Teh. Semoga aja nih masih ada anak muda yang bisa melestarikan berbagai budaya di Indonesia ini dan semoga kampung adat miduana ini juga selalu terjaga kearifan lokalnya

    BalasHapus
  8. Paling sedih, kalau baca cerita tentang sekolah nggak layak. Belum lagi tentang budaya lokal yang mulai tergerus oleh perkembangan zaman. Semoga segera ada solusi, karena sebenarnya kampung adat bisa jadi salah satu potensi wisata

    BalasHapus
  9. Gowah. Kalau kataku mah lumbung padi. Menarik nih. Orang yang mau ke Jamban harus melewati Gowah atau lumbung padi dulu. Aku jadi pingin tahu, ada cerita apa dengan budaya ini dah. Ata gini deh, kenapa kalau misalkan nggak melewati gowah dulu pas mau ke jamban?

    BalasHapus
  10. Wah, kalau kondisi tempat belajar bisa memprihatinkan seperti itu, bagaimana para generasi mudanya bisa terdorong untuk menjaga kelestarian budaya? Jika kebutuhan dasar mereka tidak terpenuhi, sulit meminta para generasi muda untuk tetap melestarikan kebudayaan yang mereka miliki. Tetap harus ada yang membantu untuk membimbing mereka agar turut berpartisipasi menjaga adat istiadat. Membuat catatan tertulis jadi jangan hanya sekedar mendengar secara lisan, mungkin juga membuat video sehingga kita-kita yang dari luar, bisa ikut belajar. Banyak dari kita tidak paham, mengapa daerah ini dan itu punya aturan masing-masing yang harus diikuti. Jika ada informasi yang jelas, kita akan jadi paham akan aturan-aturan tersebut dan semakin tertarik untuk mengunjungi. Semoga saja, ide-ide yang disampaikan di blog ini bisa terealisasi ya. Dan mudah2an juga pembangunan sekolah dapat terlaksana dan efeknya bisa untuk mempertahankan Kampung Adat Miduana ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya bener, mbak. Padahal kebutuhan akan pendidikan yang beneran mumpuni itu hak setiap warga negara. Suka sayang kalau masih ada sekolah yang kurang layak, semoga nih pemerintah lebih care sama urgensi kayak gini ketimbang sibuk urusin M** yang ngabisin banyak anggaran ya.

      Semoga saja, ada cara ampuh buat mempertahankan dan melestarikan budaya. Terutama di
      Kampung Adat Miduana, Cianjur. Sayang banget kalau sampai tergerus zaman. Semoga dibangun juga museum gitu biar wisatawan juga paham terkait detail Kampung Adat Miduana, disamping mengunjungi langsung.

      Hapus
  11. aku jadi penasaran itu penduduknya cuma 21 keluarga apakah tidak pernah bertambah atau berkurang, Teh? trus untuk kamar mandinya berarti nggak di dalam rumah ya posisinya karena warga yang mau ke jamban harus melewati gowah gitu

    BalasHapus
  12. Daku setuju untuk mengenalkan budaya di sekolah. Apalagi kan di sekolah itu ada pelajaran PLBJ eh tapi ini buat Jakarta, kalau di luar Jakarta mungkin nama pelajarannya Muatan Lokal ya? Dengan begitu generasi muda maupun yang berada di luar Cianjur bisa kenalan lebih dekat dengan budaya Miduana ini

    BalasHapus
  13. Kampung Adat Miduana di Cianjur jadi agak mirip dengan Baduy ya, hanya saja yang ini terbuka alia bisa dikunjungi masyarakat umum.
    Cuma sedih aja kalau ada sekolah yang masih beralaskan tanah. Ini masih di Jawa lho! Kok tidak ada bantuan dari pusat.

    BalasHapus
  14. Hatur nuhun Teh, sudah di ekspos sedemikian rupa informasi terkait kampung adat Miduana. Jujur, selaku orang Bogor aku tuh merasa isin alias malu karena belum pernah explore Cianjur, padahal nggak jauh-jauh amat dan ternyata ada kekayaan budaya serta tradisi yang masih diusahakan terjaga.

    Jadi mengenal banyak istilah yang di pegang teguh sama warga kampung adat Miduana. Mudah-mudahan muda-mudi penerusnya pun care buat jaga kelestarian budaya. Mungkin, KDM bisa juga membuat museum menjabarkan detail informasi terkait Kampung Adat Miduana dan mengundang para sesepuh untuk mengisi sesi talk show di seluruh daerah Jawa Barat. Supaya sesama Sunda pun tau gitu detail informasi nya.

    BalasHapus
  15. Saya senang dengan tulisan ini. Karena secara langsung mendokumentasikan Kampung Adat Miduana sehingga memiliki jejak digital yang bisa dikenang dan juga sumber ilmu pengetahuan bagi generasi selanjutnya soal Kampung Adat ini dan diharapkan kampung adat ini total Lestari

    BalasHapus
  16. Bagian yang paling bikin aku berhenti merenung tuh justru soal aturan ke jamban yang harus melewati gowah dan parukuyan.

    Awalnya terdengar aneh, tapi kalau dipikir-pikir, aturan adat seperti ini pasti punya alasan yang terbentuk dari pengalaman masyarakat selama bertahun-tahun.

    Ini yang kadang menarik dari budaya lokal: kita sering melihat aturannya sebagai sesuatu yang “unik”, tapi lupa mencari tahu kenapa aturan itu dibuat.

    Aku juga suka bagian yang membahas tradisi jangan cuma dilestarikan bentuknya, tapi harus dipahami maknanya. Karena kalau generasi muda cuma hafal nama tradisinya tanpa tahu ceritanya, lama-lama memang bisa jadi sekadar tontonan.

    Menurut aku ya kak, justru dokumentasi lewat tulisan, video, atau media sosial bisa jadi jembatan yang bagus. Budaya nggak harus dibuat kuno supaya tetap lestari. Bisa kok dikenalkan dengan bahasa anak muda, selama nilai aslinya nggak hilang. Dari tulisan ini saya malah jadi penasaran, sebenarnya ada cerita apa di balik gowah itu? Hehe

    BalasHapus
  17. Saya sepakat dengan untuk mengenalkan budaya akar lewat sekolah karena tidak bisa dimungkiri kalau kemajuan zaman yang semakin memang berpengaruh pada kelestarian budaya dan adat tradisi. Apalagi Gen Z dan Gen Alpha ini kan cenderung cuek jika budaya asli tidak dikenalkan sejak dini bisa-bisa mereka memang tidak akan mengenali budaya daerahnya sendiri.

    BalasHapus
  18. Aku kalau gak baca tulisan Teh Okti mungkin gak akan tau kalau di Cianjur juga ada Kampung Adat yang tradisinya masih cukup terjaga. Dan betul sekali walau mulai tergerus jaman, kita tetap bisa melestarikannya. Apalagi jaman sekarang sudah lebih memudahkan juga untuk mendokumentasikan ya Teh. Sepertinya seru ya kalau bisa juga mengamati kehidupan masyarakat kampung adat Miduana

    BalasHapus
  19. Baru tahu kalau Cianjur juga memiliki kampung adat kyk gini. Walaupun peresmiannya belum terlalu lama, tapi tidak bisa dipungkiri keberadaannya sudah lama ya di sana.
    Menarik sekali ada tradisi Kuramasan, jadi kek mandi dan keramas bareng di sungai yaa.
    Ada juga banyak kesenian yang memiliki pesan2 moral yang menarik.
    Sayangnya kyk belum banyak media yang mengangkat tradisi ini ya.
    Nah, kalau di sekolah2 apakah sudah banyak yang memperkenalkan budaya ini teh?
    Memperkenalkan lewat sosmed maupun blog kyk gini juga bisa mengangkat Kampung Adat Miduana ya, syukur2 ada yang menjadikan buku.

    BalasHapus
  20. Jalan di bagian selatan memang terjenal dengan jalannya jelek sama teh di Sukabumi selatan juga begitu. Tapi alhamdulillah sekarang sudah pada bagusan jalannya. Saya penasaran dengan Kampung Adat Miduana , pengen main deh kesana. Adat dan budayanya benar-benar harus dilestarikan. Kalau di Sukabumi ada kampung adat Ciptamulya dan Ciptagelar. Adat Kuramasan , saya jadi ingat perkataan ibu saya katanya kalau mau menyambut hari-hari besar saya harus keramas biar badan ini bersih semuanya. Apalagi menyambut bulan Ramadan, harus bersih bersih termasuk keramas. Ternhyata di Kampung Adat Miduana juga ada yaa tradisi ini.

    BalasHapus
  21. Syukurlah kalau akses di Cianjur sudah semakin membaik, sehingga berefek pada wisata daerah juga.

    Soal Kampung Adat Miduana, saya baru dengar. Ternyata di Cianjur juga masih ada kampung adat ya. Memang banyak budaya tradisiobal yang mulai ditinggalkan anak muda. Itulah pentingnya kita menggunakan teknologi untuk memperkenalkan budaya itu lagi. Mungkin secara ritual tidak sama persis, tapi nilai baik yang terkandung di baliknya harus tetap dipertahankan.

    BalasHapus
  22. Peran media sosial dan anak muda dalam melestarikan budaya bangsa ini cukup besar. Dengan membingkai indah adat istiadat serta budaya Kampung Adat Miduana, semoga semuanya tetap terjaga.
    Edukasi ke sekolah dan gak malu saat menggunakan atribut khas Kampung Adat Miduana.

    BalasHapus
  23. Kampung Adat Miduana menarik banget karena bukan hanya menawarkan pemandangan, tapi juga cerita tentang kehidupan dan tradisi masyarakatnya. Destinasi seperti ini memang punya daya tarik tersendiri karena kita bisa belajar budaya sekaligus menikmati suasana alam yang masih asri. Jadi makin banyak tempat di Indonesia yang masuk wishlist.

    BalasHapus
  24. Sedih banget baca awal awlanya, masih ada sekolah yang kondisinya memprihatinkan. Baca kampung adat Miduana jadi inget Kampung Baduy. Agak mirip. Itu sayang kalo smapai tradisinya punah terverus zaman, semoga anak mudanya pada mau meneruskan biar gak punah , kalo sampai punah bakal rindu. sedih

    BalasHapus
  25. Waw, lengkap banget pengetahuan budaya desa adat Miduana inii mbak. Ternyata walaupun penduduknya terhitung gak terlalu banyak, hanya sekitar 21 rumah saja, tapi budayanya tetap dilestarikan ya. Semoga pada generasi mudanya juga bisa meneruskan budaya yang hidup di sana.

    Buat aku yang bukan orang Sunda, baru engeh istilah Kuramasan setelah baca beberapa kalimat, ahaha. Engeh kalau itu dari kata "Keramas", ihihi.

    BalasHapus
  26. Baru tahu soal ini, Teh, padahal saya beberapa kali ke Cianjur. Menarik banget semoga tetap dilestarikan dan makin banyak masyarakat luas yang tahu soal ini.

    BalasHapus
  27. sebagai warga....eh numpang lahir dan besar sampai usia 5 tahun sih di Cianjur, baru tahu kalau ada kampung adat disana, harus kesana kalau liburan lebaran nanti meski kondisinya agak memperihatinkan ya. harus banyak di share nih biar di sorot pemerintah juga

    BalasHapus
  28. Seru banget baca bagian tradisinya, Teh. Baru tahu ada Tradisi Kuramasan yang sekental itu di Miduana. Keren banget ya, warga di sana masih sekonsisten itu ngejaga tatali karuhun lewat Dongdonan Wali Salapan di zaman modern gini. sangat perlu dileastarikan di jaga dna tentu saja lebih diperhatikan oleh semua pihak

    BalasHapus
  29. Jadi pengen ke kampung adat ini teh, udah pernah dioajakin dulu. Tapi belum kesampean juga ke Cianjur lagi.

    BalasHapus
  30. wah aku baru denger adanya Kampung Adat Miduana ini di Cianjur. mungkin harusnya lebih terekspose ga sih, biar lebih banyak yang tau keberadaannya. apalagi adanya tradisi2 miduana yang masih dijaga sampai saat ini.

    BalasHapus
  31. Baru tahu ada kampung adat sekeren ini di Cianjur Selatan, Kak! Aturan harus lewat gowah dulu sebelum ke jamban itu unik banget, jadi penasaran sama filosofinya 😆 Setuju juga, melestarikan budaya nggak harus kaku, bikin video pendek atau konten sosmed bisa jadi cara yang asyik.

    BalasHapus