![]() |
| Jangan Boros! 9 Barang yang Sebaiknya Tidak Dibeli Saat Harga Naik |
In this economy, harga barang pada naik tentu saja sering membuat kita khawatir. Takut harga semakin mahal, kita akhirnya membeli lebih banyak dari biasanya. Padahal, tidak semua barang yang harganya naik harus langsung dibeli atau ditimbun.
Dalam kondisi seperti itu, kemampuan mengatur pengeluaran justru menjadi semakin penting. Kita perlu membedakan mana kebutuhan yang harus dipenuhi dan mana keinginan yang masih bisa ditunda.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa inflasi dapat terjadi karena perubahan harga pada berbagai kelompok barang dan jasa. Sementara itu, Bank Indonesia menjelaskan bahwa harga sejumlah komoditas pangan dapat mengalami perubahan karena faktor pasokan, produksi, distribusi, cuaca, hingga musim.
Artinya, harga yang naik hari ini belum tentu terus naik dalam waktu yang lama.
Lalu, barang apa saja yang sebaiknya tidak buru-buru dibeli saat harga sedang naik?
Jangan Boros! 9 Barang yang Sebaiknya Tidak Dibeli Saat Harga Naik
1. Barang yang Stoknya Masih Banyak di Rumah
Ini merupakan salah satu cara paling sederhana untuk menghemat uang.
Misalnya, stok minyak goreng, sabun, deterjen, atau kebutuhan rumah tangga lainnya masih cukup untuk beberapa minggu. Tidak perlu langsung membeli banyak hanya karena mendengar harga akan naik.
Gunakan stok yang sudah ada terlebih dahulu. Saya lihat kalau membeli barang terlalu banyak juga bisa membuat uang kita yang seharusnya digunakan untuk kebutuhan lain menjadi tertahan dalam bentuk persediaan.
Tips: sebelum belanja, cek dulu ke dapur, kamar mandi, dan tempat penyimpanan di rumah. Catat barang yang benar-benar sudah hampir habis.
2. Pakaian dan Sepatu yang Belum Dibutuhkan
Pakaian dan sepatu biasanya bukan kebutuhan yang harus dibeli setiap kali ada kenaikan harga.
Jika pakaian sehari-hari masih layak dan sepatu masih nyaman digunakan, pembelian baru dapat ditunda.
Jangan membeli hanya karena sedang ada tren atau takut harga akan semakin mahal.
Lebih baik menunggu diskon atau membeli ketika memang benar-benar diperlukan.
3. Gadget Baru Padahal Gadget Lama Masih Berfungsi
Ponsel, laptop, tablet, smartwatch, dan perangkat elektronik lainnya memiliki harga yang bisa berubah mengikuti kondisi pasar dan produk baru.
Namun, jika perangkat yang dimiliki masih dapat digunakan untuk bekerja, belajar, berkomunikasi, atau menjalankan aktivitas sehari-hari, tidak ada alasan untuk buru-buru menggantinya.
Tanyakan kepada diri sendiri:
- Apakah perangkat lama masih berfungsi?
- Apakah pekerjaan terganggu?
- Apakah perangkat baru benar-benar diperlukan?
- Apakah pembelian bisa ditunda beberapa bulan?
Jika jawabannya masih bisa ditunda, simpan uangnya terlebih dahulu.
4. Barang Elektronik yang Sifatnya Pelengkap
Tidak semua barang elektronik merupakan kebutuhan utama.
Televisi tambahan, speaker, perangkat gaming, kamera, atau berbagai aksesori elektronik bisa ditunda apabila belum diperlukan.
Ketika harga sedang naik, barang seperti ini sebaiknya bukan menjadi prioritas.
Lebih baik uang digunakan untuk kebutuhan pokok, membayar kewajiban, atau menambah tabungan.
5. Barang Dekorasi Rumah
Dekorasi rumah memang bisa membuat suasana rumah menjadi lebih nyaman. Namun, barang seperti hiasan dinding, vas, karpet, pajangan, atau aksesori rumah bukan kebutuhan yang harus diprioritaskan ketika anggaran sedang terbatas.
Jika harga barang meningkat, pembelian dekorasi walaupun itu favorit tetap bisa ditunda.
Rumah yang nyaman tidak selalu harus dipenuhi barang baru. Kebersihan dan kerapian sering kali memberikan perubahan yang lebih besar tanpa membutuhkan banyak biaya.
6. Makanan yang Mudah Rusak Jika Dibeli Berlebihan
Ketika harga bahan makanan naik, membeli dalam jumlah banyak terlihat seperti cara untuk menghemat. Bener gak sih?
Tapi buat saya kok sepertinya strategi tersebut tidak selalu berhasil ya?
Sayuran, buah, daging, ikan, dan bahan makanan segar memiliki masa simpan terbatas. Jika terlalu banyak dibeli dan tidak segera digunakan, sebagian bisa rusak dan akhirnya terbuang.
Bank Indonesia mencatat bahwa kelompok volatile food atau bahan pangan yang harganya mudah berubah dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk pasokan dan distribusi.
Sebagai contoh, Bank Indonesia mencatat volatile food mengalami inflasi tahunan sebesar 5,58 persen pada Juni 2026. Namun pada Juli 2026, kelompok tersebut mengalami deflasi bulanan sebesar 1,68 persen. Kondisi ini menunjukkan bahwa harga pangan dapat berubah mengikuti kondisi pasokan.
Jadi, daripada menimbun makanan segar, lebih baik membeli sesuai kebutuhan dan kalaupun mau nyetok, sesuaikan aja dengan kemampuan penyimpanan.
7. Barang yang Dibeli Karena FOMO
FOMO atau fear of missing out adalah rasa takut ketinggalan sesuatu yang sedang populer.
Dalam belanja, FOMO bisa muncul ketika seseorang berpikir: ”Kalau tidak beli sekarang, nanti harganya semakin mahal.”
Masalahnya, keputusan tersebut sering dibuat berdasarkan kekhawatiran, bukan kebutuhan.
Sebelum membeli, coba tunggu satu atau dua hari. Jika setelah dipikirkan barang tersebut memang dibutuhkan, barulah pertimbangkan untuk membelinya.
Cara sederhana itu berdasarkan pengalaman pribadi saya beneran dapat membantu mengurangi pembelian impulsif.
8. Barang yang Hanya Mengikuti Tren
Barang yang sedang viral biasanya mendapatkan perhatian lebih besar.
Mulai dari pakaian, peralatan rumah tangga, gadget, aksesori hingga produk tertentu yang sedang ramai di media sosial.
Jika harganya sedang naik dan barang tersebut bukan kebutuhan, walaupun kita ingin, atau butuh, tidak ada salahnya menunggu dulu.
Tren bisa berubah dengan cepat. Barang yang hari ini populer belum tentu tetap populer beberapa bulan kemudian.
Jangan sampai uang keluar hanya karena takut ketinggalan tren.
9. Barang yang Tidak Memiliki Prioritas dalam Anggaran
Ini mungkin yang paling penting. Sebelum membeli barang apa pun, lihat kembali anggaran bulanan.
Jika kebutuhan utama seperti makanan, listrik, air, pendidikan, transportasi, dan kewajiban lainnya belum aman, sebaiknya jangan membeli barang tambahan.
Gunakan prinsip sederhana:
Kebutuhan pokok → kewajiban → tabungan/dana darurat → kebutuhan tambahan → keinginan.
Urutan tersebut dapat membantu kita menentukan mana yang harus didahulukan ketika uang terbatas.
Apakah Boleh Membeli Barang Saat Harganya Naik?
Tentu saja boleh.
Kenaikan harga bukan berarti kita harus berhenti berbelanja. Jika barang tersebut merupakan kebutuhan penting dan stoknya memang sudah hampir habis, tetap membelinya adalah hal yang wajar.
Yang perlu dihindari adalah membeli secara berlebihan karena panik.
Contohnya, jika kebutuhan minyak goreng keluarga hanya beberapa liter dalam sebulan, tidak perlu membeli puluhan liter hanya karena harga sedang naik.
Pertimbangkan juga beberapa hal seperti kata
- kemampuan keuangan,
- kebutuhan sebenarnya,
- masa simpan barang,
- tempat penyimpanan,
- harga di beberapa toko,
- kemungkinan adanya barang pengganti.
Dengan begitu, keputusan belanja menjadi lebih rasional.
Tips Menghemat Uang Saat Harga Barang Naik
Selain mengurangi pembelian barang yang tidak penting, ada beberapa cara sederhana untuk menjaga pengeluaran.
1. Buat daftar belanja
Tuliskan barang yang benar-benar dibutuhkan sebelum pergi belanja.
Daftar belanja ini membantu kita untuk bisa mengerem, mengurangi pembelian spontan.
2. Cek stok sebelum membeli
Jangan membeli barang yang ternyata masih tersedia di rumah.
3. Bandingkan harga
Harga barang yang sama bisa berbeda antara satu toko dengan toko lainnya.
Bandingkan harga sebelum membeli, terutama untuk barang yang cukup mahal atau dibeli secara rutin.
4. Cari alternatif
Jika harga satu bahan makanan meningkat, pertimbangkan bahan lain dengan harga lebih terjangkau dan tetap memenuhi kebutuhan keluarga.
5. Manfaatkan promo dengan bijak
Diskon tidak selalu berarti hemat. Barang seharga Rp50.000 yang mendapat diskon tetap menjadi pemborosan jika sebenarnya tidak diperlukan.
Jadi, jangan membeli barang hanya karena sedang diskon.
6. Hindari berutang untuk membeli barang yang tidak mendesak
Jika suatu barang bukan kebutuhan penting, lebih baik menunggu sampai kondisi keuangan memungkinkan daripada menambah beban utang.
Jangan Panik Menghadapi Kenaikan Harga
Kenaikan harga merupakan bagian dari dinamika ekonomi. Harga berbagai barang dapat berubah karena banyak faktor.
Data resmi Bank Indonesia menunjukkan bahwa harga komoditas pangan tertentu dapat bergerak naik dan turun sesuai kondisi pasokan. Karena itu, kita sebagai konsumen tidak selalu perlu mengambil keputusan terburu-buru ketika melihat harga meningkat dalam waktu singkat.
Yang paling penting adalah tetap tenang dan membuat keputusan berdasarkan kebutuhan.
Daripada membeli banyak barang yang belum diperlukan, lebih baik menjaga uang tetap tersedia untuk kebutuhan yang benar-benar penting. Betul apa betul?
Bijak Berbelanja
Saat harga naik, tidak semua barang harus dibeli atau ditimbun.
Pakaian, gadget baru, dekorasi rumah, barang elektronik tambahan, makanan yang mudah rusak, dan barang yang hanya mengikuti tren dapat ditunda jika memang belum dibutuhkan.
Sebaliknya, kebutuhan pokok yang benar-benar diperlukan tetap harus dipenuhi.
Kuncinya bukan sekadar mencari harga murah, tetapi mengetahui kapan harus membeli dan kapan sebaiknya menunda.
Ingat prinsip sederhana ini: Jangan belanja karena takut harga naik. Belanjalah karena memang membutuhkan.
Dengan kebiasaan tersebut, insyaallah kita bisa menghadapi kenaikan harga dengan lebih tenang sekaligus menjaga keuangan keluarga tetap sehat.
Sumber Referensi
1. Badan Pusat Statistik (BPS) – informasi resmi mengenai inflasi dan perkembangan harga barang dan jasa.
2. Bank Indonesia (BI) – laporan dan analisis perkembangan inflasi, termasuk kelompok volatile food.
3. Bank Indonesia – Analisis Inflasi Juli 2026 – informasi mengenai perkembangan harga dan faktor yang memengaruhi inflasi.
Sumber resmi dapat digunakan sebagai rujukan utama ketika memperbarui artikel sesuai data inflasi terbaru.






Setujuuu... Utk barang2 kebutuhan bulanan dan harian begini, aku juga ga nyetok kok. Selalu beli di saat memang barang ya udh mau habis aja. Apalagi kayak sayuran segar, pasti beli secukupnya. Krn pernah ngerasain beli banyak, trus ternyata dia ga tahan lama. Busuk deh. Niat mau hemat, malah mubazir .
BalasHapusKalaupun harga barang akan naik, tp toh kalau ga dibutuhkan, utk apa dibeli. Kalau terpaksa beli, ya sudah, tetap beli secukupnya . Krn di rumahpun tempat storage ku terbatas. Mau ga mau, harus sesuaikan dengan tempat nya juga drpd barang2 malah berantakan
Poin nomor 6 soal makanan segar itu jujur ngena sih. Dulu sempat kepikiran nakut-nakutin diri sendiri pas harga bahan pangan melonjak, akhirnya nekat nyetok banyak. Ujung-ujungnya malah busuk di kulkas karena nggak keburu dimasak, bukannya hemat malah rugi double.
BalasHapusSetuju banget, kuncinya emang di kontrol diri dan jangan gampang kena FOMO. Beli sesuai porsi kebutuhan aja jauh lebih bikin pikiran tenang dan kantong aman.
Gadget baru nih ngapain lah langsung beli kalau gadget lama masih bagus. Ada yang baru lagi, ntar harganya beda lagi.
BalasHapusAku setuju kalau soal belanja. Mending cek dulu di dapur. Apa-apa saja yang masih tersedia dan apa-apa saja yang sudah habis.
Jangan panikan cuma karena ada kabar kalau harga mau naik. Lantas nimbun barang yang sebenarnya nggak perlu-perlu banget atau masih bisa ditunda penggunaannya.
Kalau buat sekarang, semisal mau stok makanan kayaknya bahan makanan sih buat persiapan bulan Ramadhan. Memang masih sekitar 5 bulan, tetapi buat jaga2 sambil memantau harga sebelum naik. Sehingga membelinya bukan jadi kesalahan, tapi untuk antisipasi.
BalasHapus