Cara Melindungi Data dan Privasi di Media Sosial
Media sosial saat ini sudah jadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Kita menggunakannya untuk berkomunikasi, mencari informasi, berjualan atau melakukan pembelian, bekerja, hingga berbagi momen bersama keluarga.
Namun, ada satu hal yang sering terlupakan, kalau setiap unggahan, foto, lokasi, dan informasi yang kita bagikan itu bisa menjadi bagian dari jejak digital.
Hal ini semakin penting karena penggunaan internet di Indonesia sudah sangat besar. Data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menunjukkan bahwa pada 2024 terdapat sekitar 221,56 juta pengguna internet di Indonesia, dengan tingkat penetrasi mencapai 79,5%.
Artinya, semakin banyak aktivitas kita berlangsung di dunia digital, semakin penting pula menjaga data pribadi.
Apa yang Dimaksud Data Pribadi?
Data pribadi adalah informasi yang dapat digunakan untuk mengenali seseorang, baik secara langsung maupun jika digabungkan dengan informasi lain.
Contoh data pribadi antara lain: nama lengkap, nomor telepon, alamat rumah, email, foto dan video pribadi, lokasi, tanggal lahir, informasi pekerjaan, data keluarga, informasi rekening atau keuangan dan data identitas seperti KTP.
Indonesia sendiri telah memiliki Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2022 tentang Pelindungan Data Pribadi (UU PDP). Undang-undang tersebut menegaskan bahwa pelindungan data pribadi merupakan bagian dari perlindungan diri pribadi dan hak warga negara.
Mengapa Data di Media Sosial Harus Dijaga?
Masalahnya bukan hanya soal akun diretas. Informasi yang terlihat sederhana dapat digunakan untuk berbagai tujuan. Misalnya, seseorang mengunggah foto tiket perjalanan lengkap dengan nama dan kode tertentu. Di lain waktu, ia membagikan alamat rumah, tanggal lahir, nama anggota keluarga, serta lokasi secara rutin. Jika dikumpulkan, bukankah informasi tersebut dapat memberikan gambaran yang cukup lengkap tentang kehidupan seseorang?
Data pribadi juga dapat dimanfaatkan untuk melakukan penipuan, phishing, pencurian identitas, atau mengambil alih akun. Karena itu, jangan menganggap informasi kecil sebagai sesuatu yang tidak penting.
1. Jangan Terlalu Banyak Membagikan Informasi Pribadi
Buat saya, tidak semua hal dalam kehidupan harus dipublikasikan. Ini sekali lagi buat saya lho ya. Terserah buat kalian yang emang suka dikit-dikit upload dan update.
Hanya saja, sebaiknya pikirkan kembali sebelum mengunggah: “Apakah informasi ini aman jika dilihat orang yang tidak saya kenal?”
Karena itu, hindari membagikan secara terbuka nomor telepon, alamat rumah, dokumen identitas, informasi rekening, atau detail perjalanan secara real-time.
Bahkan foto KTP atau dokumen resmi sebaiknya tidak diunggah ke media sosial, kecuali benar-benar diperlukan dan dilakukan melalui saluran resmi.
2. Periksa Pengaturan Privasi Akun
Media sosial biasanya menyediakan pengaturan mengenai siapa yang dapat melihat postingan, menghubungi kita, melihat informasi profil, atau mengetahui lokasi.
Jangan hanya menggunakan pengaturan bawaan. Luangkan waktu untuk membuka menu Privacy (Privasi) dan Security (Keamanan).
Cek kembali:
- Siapa yang dapat melihat postingan?
- Siapa yang dapat mengirim pesan?
- Apakah lokasi dibagikan?
- Aplikasi apa saja yang terhubung?
- Apakah informasi profil terlalu terbuka?
CISA (Panduan perlindungan akun media sosial ) juga merekomendasikan pengguna membatasi data yang dapat dikumpulkan melalui pengaturan privasi, termasuk akses terhadap lokasi dan informasi akun.
3. Gunakan Password yang Kuat dan Berbeda
Jangan menggunakan password yang sama untuk semua akun. Misalnya password email sama dengan password Facebook, Instagram, dan marketplace. Jika satu akun berhasil dibobol, akun lainnya bisa ikut terancam.
Gunakan password yang panjang, unik, dan sulit ditebak. Biar gak pusing atau lupa, rajin bikin catatan manual dan simpan di tempat aman.
Hindari bikin pasword dengan kombinasi sederhana seperti: 123456, tanggal lahir, nama anak, nama pasangan, atau nomor telepon.
Panduan keamanan CISA terbaru juga menekankan pentingnya password yang panjang dan unik serta tidak menggunakan kembali password yang sama di berbagai layanan.
4. Aktifkan Verifikasi Dua Langkah
Ini salah satu perlindungan paling penting. Verifikasi dua langkah atau Two-Factor Authentication (2FA) membuat seseorang tidak cukup hanya mengetahui password untuk masuk ke akun.
Misalnya, setelah memasukkan password, pengguna masih harus memasukkan kode dari aplikasi autentikator atau melakukan verifikasi tambahan.
CISA menjelaskan bahwa autentikasi multifaktor memberikan lapisan keamanan tambahan. Bahkan jika password berhasil diketahui pihak lain, mereka masih membutuhkan faktor autentikasi kedua untuk masuk.
Jadi, kalau fitur 2FA tersedia di akun media sosial kita, lebih baik aktifkan saja.
5. Jangan Sembarangan Mengklik Link
Pernah mendapat pesan seperti: “Selamat! Anda mendapatkan hadiah.”
Atau: “Akun Anda akan diblokir. Klik link ini untuk melakukan verifikasi.”
Jangan langsung percaya!
Pesan semacam ini bisa menjadi phishing, yaitu upaya menipu seseorang agar memberikan informasi seperti username, password, kode OTP, atau data lainnya.
FTC (Panduan penggunaan two-factor authentication) menjelaskan bahwa penipu dapat menggunakan phishing untuk mencuri kredensial login seseorang.
Sebelum mengklik link, periksa siapa pengirimnya dan pastikan alamat situsnya benar.
Ingat: jangan pernah memberikan kode OTP atau kode verifikasi kepada orang lain.
6. Hati-Hati Mengunggah Lokasi
Fitur lokasi memang berguna, tetapi jangan selalu membagikan keberadaan secara real-time kepada publik.
Contohnya: “Sedang liburan tiga hari di luar kota.”
Jika informasi tersebut diketahui banyak orang, secara tidak langsung kita juga memberi tahu bahwa rumah mungkin sedang kosong dalam waktu tiga hari ke depan.
Bukan berarti tidak boleh membagikan foto liburan. Lebih aman jika sebagian unggahan dilakukan setelah kita meninggalkan lokasi tersebut. Saya sering begitu. Ambil foto kapan, uploadnya juga kapan. Itu tergantung ada kuota. Kalau gak ada kuota, ya nunggu pulang dulu, pakai wifi rumah. Haha…
Jadi jangan protes kalau acara mendaki gunung pas peringatan kemerdekaan RI, eh dipublis nya pas liburan natal dan tahun baru. Heuheu!
7. Jangan Asal Menghubungkan Aplikasi ke Media Sosial
Kadang sebuah aplikasi meminta kita masuk menggunakan akun Google, Facebook, atau platform lainnya. Sebelum menyetujui, lihat izin apa yang diminta.
Apakah aplikasi tersebut membutuhkan akses ke profil? Kontak? Foto? Email? Atau Lokasi?
Jika tidak diperlukan, jangan berikan akses.
Secara berkala, periksa juga daftar aplikasi pihak ketiga yang masih memiliki akses ke akun dan cabut akses yang sudah tidak digunakan.
8. Hati-Hati Membagikan Foto Anak dan Keluarga
Berbagi foto keluarga tentu merupakan hal yang menyenangkan. Apalagi saya, anak cuma satu-satunya eh, lulus SD malah langsung merantau jauh pula. Kalau dikirim foto atau video ini oleh ustadz nya, pengennya segera upload, dong! Dengan bangga ingin dunia tahu, nih, anak saya lagi ini …
Ya, sebagai ibu yang normal saya pun lakukan itu. Namun, jangan sampai foto atau video tersebut secara tidak sengaja menunjukkan informasi sensitif, seperti: Nama sekolah, seragam dengan identitas sekolah, alamat rumah, nomor kendaraan, dokumen keluarga, lokasi rutin dan jadwal kegiatan anak.
Karena itu saya upload tapi saya set privasi nya hanya untuk orang tertentu saja.
Jadi bukan berarti harus berhenti berbagi foto atau video keluarga, ya. Prinsipnya sederhana: bagikan secukupnya dan pikirkan risikonya.
9. Jangan Percaya Akun yang Mengaku sebagai Teman
Akun palsu sering dibuat menyerupai akun orang yang kita kenal. Misalnya tiba-tiba teman mengirim pesan: “Tolong pinjam uang, saya sedang butuh.”
Tetot! Jangan langsung percaya…
Hubungi teman tersebut melalui nomor telepon atau jalur komunikasi lain yang sudah dikenal.
Hal yang sama berlaku ketika seseorang meminta password, OTP, kode verifikasi, atau meminta mengklik link tertentu. Ingat, teman asli tidak seharusnya meminta kode keamanan akun siapapun.
10. Rutin Perbarui Aplikasi
Update aplikasi bukan hanya soal mendapatkan fitur baru. Pembaruan juga sering berisi perbaikan keamanan. Karena itu, gunakan aplikasi dari sumber resmi dan aktifkan pembaruan otomatis jika memungkinkan.
CISA memasukkan pembaruan software sebagai salah satu langkah dasar untuk menjaga keamanan perangkat.
11. Ingat: Sekali Diunggah, Belum Tentu Mudah Dihapus
Menghapus postingan tidak selalu berarti informasi tersebut benar-benar hilang. Orang lain mungkin sudah: Mengambil screenshot, mengunduh foto, menyimpan video, atau sudah membagikannya kembali.
Karena itu, sebelum menekan tombol “Post”, biasakan berhenti beberapa detik dan bertanya:
“Apakah saya tetap nyaman jika postingan ini dilihat orang lain beberapa tahun lagi?” Kalau ragu, lebih baik jangan unggah.
Lima Kebiasaan Sederhana yang Bisa Dimulai Hari Ini
Tidak perlu menjadi ahli teknologi untuk menjaga privasi. Mulailah dari lima hal berikut:
1. Jangan membagikan data pribadi secara berlebihan.
2. Gunakan password yang kuat dan berbeda untuk setiap akun penting.
3. Aktifkan 2FA.
4. Jangan sembarangan mengklik link atau memberikan OTP.
5. Periksa pengaturan privasi media sosial secara berkala.
Yuk! Bijak Menggunakan Media Sosial
Media sosial seharusnya menjadi tempat untuk terhubung, mengembangkan peluang baik, berbagi pengalaman, dan mendapatkan informasi seperti saya jadi banyak tahu tentang lokasi wisata di Sumatera Utara, dan sekitarnya berkat informasi yang dibagikan oleh Travel Blogger Medan. Karena secara rutin setiap Mbak Suci melakukan outdoor activity akan publish di blognya itu.
Jadi cegah media sosial jangan sampai jadi pintu masuk bagi orang lain untuk mengambil alih kehidupan pribadi kita.
Menjaga privasi sebenarnya tidak harus rumit. Kita hanya perlu lebih berhati-hati terhadap apa yang dibagikan, kepada siapa informasi diberikan, dan bagaimana akun dilindungi.
Data pribadi adalah bagian dari diri kita. Kalau kita tidak menjaganya, siapa lagi?
Di era ketika ratusan juta orang Indonesia sudah terhubung ke internet, menjaga privasi bukan lagi pilihan tambahan. Ini sudah menjadi kebiasaan digital yang wajib kita miliki.
Sumber data dan rujukan
- APJII — Survei Penetrasi Internet Indonesia 2024.
- UU Nomor 27 Tahun 2022 tentang Pelindungan Data Pribadi.
- CISA — Panduan perlindungan akun media sosial dan MFA.
- FTC — Panduan penggunaan two-factor authentication.





Teh Okti, makasii makasiii reminder-nya.
BalasHapusBeneran sarat faedah bangeett ini, euy!
Secara, maling dan orang jahat di era digital nih buanyaakkk beuds.
Modus dan strategi mereka juga kian canggih.
Jadi, kita semua kudu alert, ya
jaman sekarang tuh ya, apa-apa diupload. Kudu benar-benar memilah mana yang bisa diupload dengan aman, mana yang nggak.
BalasHapusKejadian soal penipuan digital sudah banyak terjadi. Kerugiannya nggak sedikit pula.
Thank you pengingatnya, Teh
Ketika teknologi semakin canggih, tidak hanya kita yang beradaptasi dengan cepat, faktanya para maling pun demikian, ya. Jadi, jangan sampai kita kalah cepat dengan para pencuri data ini, better mengamankan dari pada menyesal kemudian.
BalasHapusEuforia di media sosial itu memang luar biasa, tapi tetap harus kontrol diri banget, ya. Inginnya semua momen dibagikan, tapi kalau over sharing takutnya memang ada oknum yang menyalahgunakan. So, lebih baik menahan diri saja dari pada kejadian yang tak diinginkan.
Mudah-mudahan dengan menjalankan tips-tips seperti yang Teh Okti bagikan, data kita lebih aman terjaga dan bermedia sosial tetap sehat tanpa mengundang bahaya. Hatur nuhun Teh sharing informasinya.
Teh aku setuju pisan sama pesan-pesannya. Jaman sekarang orang-orang kayanya udah banyak yang kebablasan posting data pribadi. Saya pribadi punya mutual friend yang kalau diperhatikan memang apa-apa diposting. Baru bikin pasport, eh pasortnya diposting tanpa blur, tiket pesawatnya juga. Saat itu juga langsung saya ingatkan. Edukasi macam tulisan Teh Okti ini sangat bermanfaat. Lain kali kalo ada temen yang posting data pribadi yang penting, mau saya share link blog Teh Okti aja.
BalasHapusBetul sekali ini Mbak Okti. sebenarnya yang bisa melindungi data privasi kita, ya kita sendiri. soalnya semua kendali ada di tangan kita ya. Makanya saya tidak pernah menggunggah hal-hal pribadi di medsos. saya juga kalau dari pergi, pasti unggah setelah meninggalkan tempat itu. Pastinya tidak tergoda mengklik tautan atau link mencurigakan.
BalasHapusAku sendiri skr ini sedang off medsos. Semua Ig, fb, threads, aku uninstall sampai batas waktu ga tau kapan 😄😄. Jenuh dengan berita2 yg lewat kok ga ada yg nyenengin. Tp medsos memang tempat yg rawaaan banget data2 pribadi bisa bocor.
BalasHapusMakanya aku setuju kalau anak2 dibatasi usianya, Krn kuatir mereka tanpa sengaja mengupload something yg sebenarnya ada kandungan data pribadi. Tp kepengen nya ya bener2 strict. Jangan cuma bilang ga boleh, tp ternyata pas si anak malsuin tahun lahir, bisa2 aja tuh. Berarti ada sesuatu yg hrs di improve lagi sistemnya
Anak2ku juga aku ajarin utk ga sembarang klik link , Krn takut phising. Apalagi kayak si Kaka udh ada gopay. Jangan sampe dihack dan dikuras uangnya hanya gara2 salah klik link
Relate banget nih apalagi bagian soal membagikan lokasi secara real-time cukup relate, apalagi sebagai orang yang sering bikin konten, kadang memang kita terlalu terbiasa update apa yang sedang dilakukan tanpa kepikiran soal jejak digital dan keamanan. Aku juga suka bagian “ambil foto kapan, uploadnya juga kapan” karena memang sederhana tapi sebenarnya jadi salah satu kebiasaan yang bisa diterapkan sehari-hari. Sebagai content creator yang suka latepost di suatu tempat, bener-bener jadi reminder buat lebih bijak sebelum asal posting sesuatu di media sosial.
BalasHapusYa betul teh, penting untuk hati-hati dengan informasi pribadi yang dibagikan di medsos. Jangan sampai memudahkan pelaku kejahatan menjadikan kita targetnya hanya dari pola informasi yang mereka baca dari postingan kita. Tak apa dibilang misterius, yang penting kita aman dan merasa nyaman. Cukup kepada yang memerlukan saja kita berbagi.
BalasHapusLokasi di mana kita berada memang sebisa mungkin jangan yang terlalu disorot banget sih. Apalagi ketika akan share story, kalau bisa jangan pas lagi di situ. Udah meninggalkan lokasi sejak lama, gapapa, pernah dapat edukasi seperti itu di medsos, karena membagikan lokasi termasuk ranah privasi juga
BalasHapusSekarang ini banyak banget ya aplikasi yang kalau kita instal itu minta izin buat akses ke Hpe padahal itu bahaya tapi di lain pihak kita juga perlu aplikasinya. Semoga aja sih kita bisa selalu berhati-hati saat mengunggah apapun di dunia maya
BalasHapusIni termasuk literasi digital ya Teh? Jangan sampai lah kasih tau alamat lengkap bahkan upload foto ID card di internet, bahaya kalau disalahgunakan oleh orang jahat.
BalasHapusSaya sendiri kadang masih suka spontan mengunggah foto atau cerita karena merasa itu hal biasa, padahal kalau dikumpulkan, informasi kecil tersebut bisa membentuk gambaran cukup lengkap tentang kehidupan kita. Bagian tentang lokasi dan kebiasaan upload setelah meninggalkan tempat juga menurut saya penting banget. Sederhana, tetapi sering luput dipikirkan. Apalagi sekarang modus penipuan digital semakin beragam. Jadi, bukan berarti harus berhenti berbagi di media sosial, tetapi memang perlu belajar memilah mana yang layak dibagikan dan mana yang sebaiknya tetap menjadi urusan pribadi. :(
BalasHapusSepakat banget kalau data pribadi itu harus dilindungi sekali apalagi di media sosial. Kita nggak pernah tau ada berapa ratus manusia yang punya niatan jahat. Ngeri banget kalau baca kasus sekarang-sekarang kan.
BalasHapusAku paling nggak suka deh share live location kalau lagi ngapain. Biasanya malah posting sehari atau dua hari dari bepergian. Jadi nggak mau bagiin info real time kecuali job.
Mesti punya kesadaran buat proteksi diri biar data pribadi nggak berceceran di media sosial. Semoga kita selalu dilindungi ya dari orang-orang jahat dan punya kesadaran penuh untuk menjaga privasi dan data diri.
Betul sih. Zaman sekarang harus lebihhl hati-hati dalam penggunaan media sosial. Nggak perlu semua hal dibagikan. Demi keamanan. Selain itu harus lebih jeli juga jangan asal pencet link.
BalasHapusYa pokoknya harus selalu waspada.
Aku masih pake password yang sama lagi di bbrp medsos. Paling cuman dibolak-balik. Atau tambah karakter khusus gitu kyk @#$ dan semacamnya.
BalasHapusBtw kalo login otomatis itu bahaya ga ya? Kan password kita disimpan di Google atau aplikasi khusus gt. Kyk aku skrg login WP blog pake face ID. Emg jadi parno sih kalo soal kerawanan kebocoran data pribadi ini. Jgn sampe aset digital yg berharga ini hilang aja gt.
Iya teh betul...sekarang nii kalau gak hati² ngerii bener pencurian data udah sangat mengkhawatirkan. Kalau kita gak hati³ bukan pencurian lagi namanya yaa karena secara tidak sadar kita sendiri yang menyajikannya dan jadi santapan empuk para pencuri itu.
BalasHapusKalau saya aktifkan verifikasi 2 faktor,,sangat membantu teh..jadi ada notif ke sms atau ke email. Betul kata teh okti jadi ada lapisan keamanan tambahaan.
Aku pernah ada di fase seneng banget posting foto..
BalasHapusLalu diingetin sama temen kalo nama anak dan nama sekolah anak jangan di posting..
Pas diingetin serasaaa.. "Ah, masa siih...??"
Tapi makin ke sini makin sadar kalo modus kejahatan uda semakin canggih. Jadi kudu serba teliti, jeli dan yang pasti adanya pengendalian diri.. gak mudah percaya sama orang asing.
Zaman sekarang mesti ekstra hati-hati soal data pribadi yang dibagikan di sosial media karena banyak banget orang jahat yang bisa memanfaatkannya untuk kepentingannya amat sangat mengerikan apabila data kita dipakai digunakan untuk hal-hal yang tidak baik dan benar jadi harus benar-benar dijaga
BalasHapusMemang di era digital ini, kita harus mewaspadai kejahatan Cyber yang makin banyak
BalasHapusSalah satunya ya dengan verifikasi dia langkah ya teh
Kalau aku tipe yang melakukan kegiatannya kapan, postingnya kapan wkwk.
BalasHapusNggak pernah mengunggah real time kecuali buat kepentingan pekerjaan kek di event2 gitu.
Nggak pernah jawab Wa/ call dari nomer yang nggak dikenal, kecuali ada mutual dan yang chat langsung mengatakan kepentingannya apa.
Emang kudu berhati2 lha zaman sekarang.Semua email dan sosmed dilindungi autentifikasi 2 faktor.
Aduh bener lagi nij Teh...kadang aku terlalu santai membagikan sesuatu di media sosial, padahal jejak digital itu bisa panjang banget. Setelah membaca ini, aku jadi berasa diingatkan lagi untuk lebih selektif sebelum posting, terutama soal data pribadi. Ternyata hal sederhana seperti mengecek pengaturan privasi dan berpikir ulang sebelum membagikan informasi bisa jadi langkah penting untuk menjaga keamanan diri ya Teh..
BalasHapus