Gak sengaja nguping obrolan suami dengan keponakan sore itu.
“Dit, laptop Amang sigana eror. Kapan pulang? Tolong dilihat…”
Saya bisa nebak, kalau gak Sabtu atau Minggu keesokannya, selanjutnya, pasti suami ngajak ke kota, ketemuan sama kakaknya, sekaligus nemuin Adit, keponakan nya itu. Satu lagi, dipastikan bakalan dibawa itu laptopnya. Karena ketemu sodaranya itu hanya alibi, tujuan utamanya biar dicek masalah laptopnya itu kenapa.
Mungkin itu salah satu keuntungan punya keponakan yang masuk ke golongan generasi Zoomers alias gen z?
Generasi Z itu kelompok orang yang lahir sekitar tahun 1997–2012, (maaf kalau ada perubahan tahun) generasi itu dikenal sebagai generasi pertama yang tumbuh sepenuhnya di era internet, smartphone, dan media sosial.
Mungkin karena itu juga mereka ini sering disebut “digital natives” karena sejak kecil sudah akrab dengan teknologi digital. Beda dengan saya dan suami kelahiran tahun 80an ini, sudah 20 tahun an lewat baru kenal internet dan media sosial.
Tapi walaupun saya masuk ke golongan generasi milenial (yang lahir antara rentang waktu sebelum kelahiran generasi Zoomers itu tadi) justru merasa bangga dan memiliki keanekaragaman pengalaman. Karena masa pada generasi Milenial ini hanya kami yang mengalami transisi dari analog ke digital, sedangkan Gen Z sudah lahir di dunia digital.
Walaupun usia paman dan keponakan ini beda sekitar belasan tahun, tapi karena diasuh sejak kecil akhirnya udah seperti adik kakak saja. Jadi tempat berbagi ide dan curhat. Lebih tepatnya udah seperti best friend aja alias besti.
Tidak mudah sebenarnya ngasuh keponakan yang memiliki karakteristik Gen Z ini. Karena mereka masuk di dunia digital native alias anak-anaknya udah pada melek teknologi, terbiasa dengan smartphone, media sosial, dan informasi instan lainnya.
Mau tidak mau pamannya itu kudu bisa multitasking. Dalam arti kudu bisa mengimbangi mengerjakan banyak hal berbau teknologi sekaligus, seperti berpindah aplikasi dan gadget dengan cepat. Iya kalau enggak gitu ya bakalan ketinggalan sama kemampuan sang keponakan.
Asyiknya punya keponakan yang masuk di golongan generasi Zoomers ini mereka itu rata-rata terbuka terhadap keragaman. Jadi bisa lebih inklusif dan peduli isu sosial. Begitu juga dalam memilih karir, lebih pragmatis dan hati-hati. Mungkin karena pemikiran mereka lebih terbuka kali ya, jadi lebih realistis dalam memilih karier, berusaha menghindari kesulitan generasi sebelumnya.
Kalau jaman suamiku sebagai paman nya kan masih ada dalam kungkungan kepercayaan yang kolot, kalo mau masa depan bagus itu ya jadi PNS, atau abdi negara. Ngono...
Sementara keponakan kami ini tidak lagi percaya dengan iming-iming bahagia bila jadi PNS. Mereka lebih suka ke hal-hal yang kolaboratif atau bahkan gerakan sosial. Bisa dilihat saat memilih jurusan, karena sejak dini keponakan terlihat suka bekerja dalam tim, menghargai kepemimpinan non-hierarkis gak sangka ambil jurusan sepertinya ikut teman-temannya. Bukan mengikuti saran pihak orang tua dan jajarannya.
Tapi salutnya walau di keluarga besar kami mereka para keponakan ini adalah termasuk generasi perintis, tapi mereka beneran bisa beradaptasi.
Walaupun harus ambil sekolah di luar pulau, harus ngekos dan semuanya ngurus sendiri, tapi Alhamdulillah mereka mudah menyesuaikan diri dengan perubahan teknologi dan tren baru di tempat barunya itu.
Meski begitu, tetap ada risiko yang bakalan ditemukan. Seperti karena keseharian bergulat dengan dunia digital, dirasa atau tidak bakalan ada semacam tekanan media sosial, termasuk risiko kecemasan sosial dan paparan layar berlebihan.
Dalam hal karir dan pekerjaan juga sebenarnya dikhawatirkan karena cenderung ke memiliki ketidakpastian karier. Beda dengan pegawai tetap dan mendapatkan tunjangan gitu. Keponakan lebih cenderung ke bisnis dan wirausaha. Tentunya juga banyak menghadapi persaingan global.
Karena mereka para keponakan kami ini punya karakteristik unik sebagai generasi digital, pendekatan yang tepat bisa membuat komunikasi lebih lancar dan kolaborasi lebih produktif salah satunya dengan menggunakan jasa keahlian mereka sehingga mereka beneran merasa dibutuhkan oleh keluarga.
Yang harus dimengerti kalo butuh bantuan para keponakan ini ajakan atau tawaran yang kita ajukan harus fleksibel. Kudu sabar dan paham kalo sistem kerja mereka generasi Z ini lebih suka sistem kerja hybrid semaunya mereka.
“Tenang Mang, yang penting beres. Simpen aja laptopnya di si mamah. Ntar Adit pulang langsung dikerjakan…” begitu jawabannya dengan mudah ketika pada akhir pekan ternyata dia gak pulang-pulang sementara pamannya udah jauh-jauh dari kampung datang dengan harapan supaya lekas jumpa dan laptop yang bermasalah segera didapatkan solusinya.
Begitulah punya keponakan seumuran gen z. Tidak bisa mengekang melainkan beri mereka ruang untuk brainstorming dan partisipasi aktif.
Jadi, kiat bersahabat dengan Gen Z dalam dunia kerja, antara beradaptasi dengan karakter mereka, sama-sama belajar, dan tetap mendidiknya, kalau antara paman dan keponakan ini malah jadi besti, itu karena kuncinya adalah komunikasi yang cepat, transparan, berbasis teknologi, dan penuh makna. Gitu aja.

jadi ikut ngerasa happy sesudah baca tulisan Teh Okti
BalasHapusBestian ponakan dengan pamannya itu sesuatu banget
mau gak mau saya jadi ngeliat lingkungan keluarga saya
Kok gak ada ya? Hiks
Teh Okti, setuju kalau mereka itu digital natives, tapii kenapa ya kalau komunikasi mesti syabarnya berkali lipat. Mereka tuh juga kadang punya pola pikirnya sendiri yang bikin pusing tujuh keliling🥹
BalasHapusSaya pernah lagi liburan bareng sekeluarga, kebetulan bareng dengan salah satu divisi perusahaan yang sedang gathering. Sempat nguping wejangan pemimpin divisinya. Intinya memang harus saling beradaptasi supaya antar generasi bisa jadi erat. Karena sebetulnya semua ada kelebihan dan kekurangan. Tapi, selama bisa beradaptasi dan berkomunikasi baik, malah jadinya akan erat.
BalasHapusNoted. Kunci bersahabat dengan Gen Z itu adalah komunikasi yang cepat, transparan, berbasis teknologi, dan penuh makna.
BalasHapusBuat kita-kita yang beda generasi hanya perlu pendekatan yang berbeda dan ruang untuk berkembang sesuai cara mereka.
Semoga keponakan Teh Okti terus tumbuh jadi pribadi yang adaptif dan berdampak, dan semoga "laptop yang eror" itu segera beres juga ya, Teh! 😄
Persis kaya anak aku, pinter benerin laptop, tapi ya gitu, mood mood an hahaha
BalasHapusTapi seru juga kadang ngeliat ni anak kaya masih bocah tp di sisi lain lho udah dewasa banget ni anak, udh pinter reparasi
Ponakanku di kampung anak IT serupa dengan ponakan Teh Okti, jadi langganan konsul dan perbaikan device keluarga besar...Tapi ya gitu, meski cocok-cocokan waktu, karena dia banyak job sampingan
BalasHapusSukses buat ponakannya ya Teh
Kedua anakku generasi Zoomers yang lahir di 2000 dan 2004. Keduanya pun punya minat yang persis sama di dunia IT. Duh kalau sudah ngobrol sama ayahnya, akutu gak nyambung euy hahahaha. Secara cuma aku yang anak sos hahaha. Tapi bener loh anak-anak Zoomers ini tuh minat utamanya adalah soal teknologi dan selalu punya agenda kegiatan sendiri. Jadi saat bisa mengajak mereka pergi bareng orang tua tuh rasanya seneng banget.
BalasHapus