Sabtu, 31 Januari 2026

Pertemanan Adalah Kekayaan Permusuhan Adalah Beban

Setuju tidak dengan pendapat tersebut?

Guru saya pernah mengatakan lebih baik memiliki seribu sahabat daripada satu musuh. Satu musuh terasa lebih berat daripada seribu teman karena dampak negatif dari permusuhan sering kali lebih kuat, lebih mengganggu, dan lebih membebani pikiran dibandingkan dukungan dari banyak teman.

Pepatah ini menekankan bahwa persahabatan selalu terasa kurang, sementara satu permusuhan saja sudah terlalu banyak untuk ditanggung.

Mengapa satu musuh terasa lebih berat? Sungguh punya musuh seekor itu sangat menguras energi emosional.

Memiliki musuh pasti bakalan menguras energi mental. Muncul rasa kebencian, dendam, atau rasa tidak nyaman yang terus menghantui.

Sementara ketika kita memiliki teman yang ada justru memberi energi positif. Tapi efeknya sering tersebar dan tidak sekuat satu konflik yang menekan.

Memiliki satu musuh saja bisa merusak reputasi atau hubungan sosial yang lebih luas. Permusuhan sering menimbulkan ketidakpercayaan, gosip, atau konflik yang menyebar ke lingkaran lain.

Sebaliknya, seribu teman tidak selalu bisa menutup dampak buruk dari satu musuh yang vokal.

Circle Pertemanan

Sahabat Menguatkan Musuh Melemahkan

Secara psikologis, manusia lebih sensitif terhadap ancaman daripada dukungan. Secara psikologi, otak kita lebih fokus pada hal negatif (negativity bias).

Wajar kalau kerasa satu musuh bisa membuat rasa aman terganggu, meski ada banyak teman yang mendukung.

Memiliki seribu teman belum tentu semuanya berkualitas; banyak di antaranya mungkin hanya kenalan.

Tapi ketika memiliki musuh, meski jumlahnya kecil, bisa memberikan beban yang nyata dan langsung terasa.

Karena itu tidak heran banyak sesepuh, para guru yang menekankan pentingnya perdamaian dan kerukunan dalam hubungan antar warga maupun antarindividu.

Dalam budaya Indonesia yang menjunjung tinggi gotong royong dan kebersamaan, memiliki musuh dianggap mengganggu harmoni sosial.

Jadi, satu musuh lebih berat karena efek negatifnya langsung terasa, lebih intens, dan bisa merusak keseimbangan hidup, sementara seribu teman sering kali tidak cukup untuk menutupi luka yang ditimbulkan oleh satu permusuhan.

Banyak teman banyak rezeki

Pepatah ini sering kita dengar dalam kehidupan sehari-hari, dan sebenarnya mengandung makna yang cukup dalam.

Rezeki tidak selalu berarti uang, tapi bisa berupa peluang, ilmu, dukungan moral, atau bahkan kesehatan. Dengan banyak teman, kita membuka lebih banyak pintu untuk berbagai bentuk rezeki.

Manusia adalah makhluk sosial. Semakin luas jaringan pertemanan, semakin besar kemungkinan kita mendapatkan informasi, peluang kerja, atau bantuan saat membutuhkan.

Dalam hal berkolaborasi, teman bisa menjadi partner bisnis, rekan kerja, atau kolaborator dalam proyek kreatif. Dari sinilah rezeki bisa mengalir.

Dengan berteman memunculkan rekomendasi dan peluang. Banyak orang mendapat pekerjaan atau peluang usaha dari rekomendasi teman.

Teman adalah support system. Saat menghadapi kesulitan, teman bisa memberi dukungan emosional yang menjaga semangat kita tetap hidup—ini juga bentuk rezeki.

Circle Pertemanan

Seribu Teman Tak Cukup, Satu Musuh Terlalu Banyak

Tapi ingat, kualitas lebih penting daripada kuantitas. Banyak teman tidak otomatis berarti banyak rezeki. Jika hubungan hanya sebatas kenalan tanpa kedekatan, manfaatnya bisa terbatas.

Harus dipahami juga akan risiko pergaulan. Tidak semua teman membawa kebaikan. Ada juga yang bisa menjerumuskan. Jadi, penting memilih lingkungan yang sehat.

Jangan lupa, rezeki itu tetap bergantung pada usaha dan keberkahan. Teman hanyalah salah satu jalan, bukan satu-satunya sumber.

Relevansi Pertemanan Modern

Di era digital, “banyak teman” bisa berarti banyak koneksi di media sosial. Namun, yang benar-benar membawa rezeki adalah hubungan yang tulus dan saling mendukung, bukan sekadar angka followers.

Networking profesional (seperti di LinkedIn, komunitas kreatif, forum dan sebagainya) adalah contoh nyata bagaimana pepatah banyak teman banyak rezeki ini masih relevan.

Pepatah banyak teman banyak rezeki mengajarkan kita untuk membangun hubungan sosial yang sehat dan luas, karena dari sanalah peluang dan keberkahan sering datang.

Namun, jangan lupa bahwa kualitas pertemanan dan usaha pribadi tetap menjadi kunci utama.

Suka Duka Berteman dari Pedesaan

Memiliki teman di pedesaan memang punya warna khas yang sulit ditemukan di tempat lain. Ada kehangatan, kebersamaan, tapi juga tantangan. Beda dengan pertemanan atau pergaulan di kota, ya.

Walau sekarang tinggal di pedesaan, tapi saya pernah juga bergaul, berteman dan interaksi dengan orang-orang kota. Bahkan orang dari luar negeri. Nah dari semua pengalaman itu maka bisa saya katakan pertemanan antara orang di desa dan di kota itu berbeda.

Circle pertemanan saya selain tetangga atau ibu-ibu pengajian di kampung, ada juga circle teman sekolah dan circle teman dunia maya.

Circle Pertemanan

Circle Tetangga

Berinteraksi seperlunya mengingat saya jarang keluar rumah. Bertemu dan ngobrol kalau ada acara pengajian, memasak bersama untuk peringatan hari besar keagamaan atau hari besar nasional.

Selebihnya sering ada tetangga yang datang ke rumah karena urusan anak-anak mereka yang mengaji di tempat kami.

Circle Teman Sekolah

Karena saya sekolah di tiga kota kabupaten yang berbeda maka circle nya juga bisa dihimpun berdasarkan lokasi. Circle teman SD di Bandung, circle teman SMP di Tasikmalaya dan circle teman SMU di Cianjur.

Meski berjauhan kami terhubung dalam konektivitas sosial media dan group perpesanan.

Walaupun ada teman sekolah di sekitar tempat tinggal sekarang, kami jarang bertemu atau interaksi karena kesibukan masing-masing.

Circle Teman Dunia Maya

Paling dulu adalah teman dari Facebook. Lalu merambah ke teman Kompasiana (biasanya disebut Kompasianer) lalu teman dari dunia blogger lainnya.

Mereka ini ada yang loyal, amanah, tidak sedikit juga yang manis di depan kecut di belakang.

Ada yang baik banget sampai sekarang udah seperti keluarga saja. Padahal ada yang belum pernah jumpa sama sekali. Ada juga yang biasa aja, hare-hare. Ada perlu ya ngontak, ga ada mah cicing we.

Circle Wali Santri

Seiring berkembangnya teknologi dan perkembangan jaman termasuk pertumbuhan anak, maka semakin kesini nambah nih circle saya dengan adanya sesama wali santri. Mirip dengan circle dunia maya, circle wali santri juga ada yang udah jumpa, ada yang belum sama sekali.

Bedanya jika circle dunia maya yang dibahas saat interaksi itu seputar dunia menulis di blog, konten sosial media, dan seputar job terkait kepenulisan atau review. Kalau circle wali santri interaksi ya fokus ke soal kondisi anak di pondok.

Kebetulan pondok anak tempat mengenyam ilmu ada di luar pulau. Tepatnya di Solok Sumatera Barat. Nah, siapa yang tidak khawatir kan anak merantau sendiri di sana? Untuk mengurangi rasa khawatir itu adanya circle wali santri ini sedikit banyak memperingan kekhawatiran itu.

Ada wali santri yang mudif ke pondok, mereka share foto dan video di group. Menginformasikan berita santri-santri terbaru. Saya yang sepertinya tidak mungkin mudif ke Solok tentu saja senang bisa ikut mengintip kondisi anak semata wayang di sana.

Kalau anak ada masalah, semua wali santri ikut turun tangan. Terutama yang bisa mewakili wali santri lain yang berhalangan hadir.

Saat anak sakit di pondok, wali santri asal Bengkulu, Batam dan Sumatera Barat “menggantikan” kami yang di Jawa mengurus dan merawat mereka semua.

Circle Pertemanan

Sebaliknya, ketika anak-anak ikut jambore Pramuka Muslim Sedunia di Cibubur, kami yang di sekitar Banten, DKI dan Jabar ini yang jadi orang tua mereka, yang dekat ini yang menggantikan ayah bunda di luar pulau yang berhalangan hadir menjenguk ke perkemahan di Cibubur.

Intinya circle wali santri ini sangat terasa sekali manfaat dan keberadaannya. Mungkin minimal hingga 7 tahun kedepan, selama anak mondok di PMDG kebersamaan circle wali santri ini akan terus ada.

Dan saya yakin walaupun anak sudah lulus dari pondok silaturahmi circle wali santri ini akan tetap terjalin.

Banyak teman banyak rezeki. Saya sangat mempercayai itu. Rezeki di sini bukan berarti uang atau harta saja. Tapi bisa juga kesehatan, pertolongan yang tidak disangka, dan sebagainya.

Terbukti bersama teman hidup semakin berwarna dan beban terasa lebih ringan.

Suka (Kebahagiaan) bersama teman yang saya rasakan:

🕳️ Kebersamaan tanpa batas:

Teman-teman di kampung biasanya tumbuh bersama sejak kecil, jadi ikatan emosinya kuat. Main layangan, sepak bola di lapangan, atau nongkrong di warung jadi rutinitas penuh tawa.

Bahkan karena saya lahir di jaman sebelum ada listrik masuk desa maka berangkat ngaji pakai obor pun jadi kenangan berharga bersama teman-teman.

Nonton layar tancap, berangkat sekolah naik mobil truk tangki Pertamina, dan masih banyak kenangan bersama teman yang rasanya mustahil bisa dialami lagi oleh anak jaman now.

Semua pengalaman kebersamaan itu sampai berkeluarga dan punya anak cucu semua terkenang begitu jelas.

🕳️ Gotong royong:

Saat ada hajatan, panen, atau acara desa, teman-teman kompak saling bantu. Rasa solidaritas ini bikin hubungan makin erat.

Gak peduli dengan mantan pacar, kalau pas ada acara RT atau desa, jika kebetulan dipertemukan dalam kepengurusan kepanitiaan, tuntutan profesionalisme harus dijunjung.

Jadinya walau bete ketemu wajah mantan, dibuat enjoy aja demi kesuksesan acara sampai selesai. Hahaha…

🕳️ Kesederhanaan yang hangat:

Walau fasilitas terbatas, kebahagiaan terasa lebih tulus. Obrolan ringan saat jalan kaki ketika berangkat dan pulang sekolah atau mengaji bisa jadi momen berharga.

Dulu belum ada internet, komunikasi masih pakai surat-menyurat. Walau harus ngirit uang jajan demi bisa beli perangko, tak apa yang penting bisa tahu kabar teman nun jauh di sana.

🕳️ Rasa aman dan dekat:

Karena semua orang saling kenal, berteman di kampung terasa seperti punya keluarga besar.

Apalagi saya anak atau cucu perempuan pertama dari pihak bapak. Sementara sepupu dan saudara bapak kebanyakan laki-laki. Saat masa puber, beneran merasa terjaga sekali karena dikelilingi wali dan mahram yang perhatian.

Bukan tidak boleh pacaran, tapi saudara yang kebanyakan laki-laki itu menjaga saya supaya tidak mudah didekati orang yang hanya iseng.

Duka (Tantangan) bersama teman yang sampai sekarang suka kepikiran buat saya:

Konflik kecil:

Kadang muncul perselisihan karena hal sepele, misalnya rebutan lapangan atau beda pendapat saat kerja bakti.

Saya orangnya blak-blakan. Suka bilang suka, sebel bilang sebel. Mungkin banyak teman yang sakit hati karena ucapan saya yang tanpa filter. Tapi namanya anak-anak, tak lama kemudian kami akur lagi.

Kalau sekarang, setelah dewasa jika ada konflik dengan teman, saya memilih diam saja. Kalau salah saya segera minta maaf. Kalau konflik masih tidak reda, saya ikhlaskan saja. Tentu saja tanpa diminta pun saya sudah memaafkan mereka.

Keterbatasan peluang:

Ada teman yang harus merantau ke kota untuk sekolah atau kerja, sehingga circle pertemanan jadi renggang.

Awalnya merasa tidak rela berpisah, tapi gak bisa menolak karena masing-masing memiliki pilihan dan masa depan. Sedihnya hanya sesaat saja. Berganti kebahagiaan jika sudah dapat kabar keberhasilannya.

Gosip dan iri hati:

Di pedesaan, lingkungan nya kecil, kabar cepat menyebar. Kadang ada rasa iri atau salah paham yang bikin hubungan renggang. Saya cuek saja. Yang penting saya berusaha tidak gibahin orang. Kalau saya yang digibah anggap saja sedang proses pembersihan dosa.

Perbedaan jalan hidup:

Seiring waktu, teman-teman ada yang tetap di kampung, ada yang pergi. Perbedaan ini bisa bikin jarak emosional. Pengennya tetap bersama kumpul ngariung. Tapi mana ada orang saudara sendiri saja jodohnya dari luar daerah.

Intinya, berteman di kampung itu seperti menanam padi: ada musim hujan penuh tantangan, ada musim panen penuh kebahagiaan.

Suka dukanya justru membuat ikatan itu lebih bermakna, karena setiap cerita—baik tawa maupun air mata—menjadi bagian dari kenangan bersama.

Circle Pertemanan

Manfaat Berteman

Memiliki banyak circle teman bisa membawa banyak manfaat, baik secara pribadi maupun profesional. Manfaat yang saya rasa:

Manfaat Pribadi

🩸 Dukungan emosional beragam:

Setiap circle punya dinamika berbeda, sehingga saya bisa mendapat perspektif dan dukungan yang lebih luas saat menghadapi masalah.

Contohnya saya berteman dengan ahli terapis. Saat saya sakit kaki, saya lihat bagaimana dia memberi terapi kepada pasien. Saya ikuti gerakannya. Alhamdulillah sakit kaki saya ikut mereda.

🩸 Pengalaman hidup lebih kaya:

Teman dari latar belakang berbeda memberi cerita, kebiasaan, dan budaya baru yang memperkaya cara pandang.

Waktu bekerja di luar negeri teman berlibur selain orang Indonesia ada juga dari warga negara China, Philipina, Vietnam, Thailand dan sebagainya. Mereka cara berpikir dan gaya hidupnya beda dengan kebiasaan saya.

Dalam hal itu, yang baiknya saya adopsi, yang kurang cocok saya tinggalkan.

🩸 Mengurangi ketergantungan:

Tidak hanya bergantung pada satu kelompok, sehingga lebih fleksibel dan tidak merasa kehilangan jika satu circle sedang sibuk.

Banyak teman banyak relasi. Mau bepergian ke mana kebetulan ada sesama anggota backpacker di sana. Insyaallah jika membutuhkan bantuan mereka akan dengan senang hati menolong. Begitu juga sebaliknya.

Manfaat Sosial

🩸 Jaringan lebih luas:

saat berteman saya bisa terhubung dengan lebih banyak orang, itu bisa membuka peluang kolaborasi, kerja sama, atau sekadar memperluas relasi.

🩸 Fleksibilitas sosial:

Ada circle untuk berbagai kebutuhan—misalnya circle hobi, circle kerja, circle keluarga—yang membuat saya bisa menyesuaikan diri dengan situasi.

🩸 Mengasah keterampilan sosial:

Berinteraksi dengan banyak circle melatih kemampuan komunikasi, empati, dan adaptasi. Lain lubuk lain ikannya. Setiap pertemanan akan memiliki jalan ceritanya masing-masing.

Manfaat Profesional

🩸 Kesempatan karier:

Banyak circle berarti banyak pintu informasi, rekomendasi, atau peluang kerja.

🩸 Kolaborasi kreatif:

Circle berbeda bisa jadi sumber inspirasi untuk ide-ide baru. Sebagai manusia setengah abad, jika berteman dengan remaja kinyis-kinyis, siapa tahu style saya juga bakalan kebawa berjiwa muda. Cie...

🩸 Reputasi lebih kuat:

Semakin banyak circle yang mengenal kita, semakin besar peluang membangun citra positif. Sepulang jadi TKW, saya aktif di dunia perburuhan, saya sering menjadi paralegal dan memberikan advokasi ke teman-teman buruh yang berasal dari daerah kantong TKI.

Siapa kira, ada beberapa peneliti yang sering interaksi dengan saya terkait permasalahan tenaga kerja ini merekomendasikan saya kepada camat dan kades di kampung, ketika pemerintah saat itu gencar menggagas Desa Migratif.

Tapi dari semua itu, tentu ada tantangan nya juga: bagaimana kita bisa menjaga keseimbangan waktu, energi, dan kualitas hubungan agar tidak sekadar “kenal banyak orang” tanpa kedekatan yang berarti.

Jika itu semua adalah ulasan tentang Circle Pertemanan menurut saya sekarang bagaimana kalau menurutmu manteman? Circle mana yang paling memberi energi positif buatmu—circle kreatif, circle kuliner, atau circle sosial? Atau ada circle lain?

Read more ...

Senin, 26 Januari 2026

Cara Mengoptimalkan Penggunaan Promo myBCA

Menggunakan layanan digital Bank BCA tidak hanya memudahkan transaksi sehari-hari, tetapi juga memberikan kesempatan untuk menikmati promo myBCA.

Dengan memanfaatkan penawaran ini, kita selalu nasabah Bank BCA tentu saja berkesempatan dapat memperoleh potongan harga, cashback, atau keuntungan lainnya yang membuat setiap transaksi lebih hemat.

Promo myBCA juga bisa mempengaruhi cara kita mengatur pengeluaran dan memaksimalkan manfaat dari setiap transaksi digital yang dilakukan, sehingga aktivitas finansial menjadi lebih efisien dan terencana.

Memahami Jenis Promo yang Tersedia

Salah satu langkah penting untuk mengoptimalkan penggunaan promo myBCA adalah memahami berbagai jenis penawaran yang tersedia. BCA menghadirkan promo yang beragam untuk mendukung kebutuhan transaksi digital nasabah.

Memaksimalkan Promo myBCA

Beberapa jenis promo yang bisa dimanfaatkan antara lain:

🕳️ Cashback langsung pada pembayaran tertentu.

🕳️ Diskon harga untuk produk atau layanan tertentu.

🕳️ Promo bundling yang menggabungkan beberapa transaksi sekaligus.

🕳️ Penawaran spesial pada periode tertentu, seperti hari besar atau promo bulanan.

Dengan memahami jenis promo, kita bisa memilih penawaran yang sesuai dengan kebutuhan transaksi harian, sehingga pengeluaran menjadi lebih hemat dan terkontrol.

Selain itu, pemahaman ini membantu perencanaan keuangan jangka panjang, meningkatkan kesadaran belanja, menghindari impulsif, serta memaksimalkan manfaat promo tanpa mengorbankan kualitas produk atau layanan yang dibutuhkan keluarga sehari-hari secara konsisten.

Cara Mendapatkan Promo dengan Praktis

Setelah memahami jenis promo, langkah berikutnya adalah memanfaatkan penawaran tersebut dengan cara yang praktis.

myBCA menyediakan berbagai fitur yang memudahkan nasabah untuk mengakses promo kapan saja dan di mana saja.

Beberapa cara prakti yang bisa dilakukan antara lain:

⭕ Mengecek menu promo di aplikasi myBCA secara rutin agar tidak melewatkan penawaran terbaru.

⭕ Mengaktifkan notifikasi untuk selalu mendapatkan update promo.

⭕ Memastikan transaksi dilakukan sesuai syarat dan ketentuan promo.

⭕ Menyimpan bukti transaksi digital sebagai referensi penggunaan promo berikutnya.

Langkah-langkah ini mempengaruhi kenyamanan kita dalam bertransaksi dan membantu memastikan bahwa setiap promo dapat digunakan secara maksimal.

Hal ini juga meningkatkan kepercayaan, mengurangi risiko kesalahan, mempercepat proses pembayaran, mendukung pengalaman pengguna yang aman, efisien, konsisten, serta mendorong loyalitas jangka panjang terhadap platform pilihan kita setiap hari rutin.

Keamanan Transaksi saat Memanfaatkan Promo

Selain kemudahan, keamanan menjadi hal penting saat memanfaatkan promo. BCA menempatkan perlindungan data dan transaksi sebagai prioritas utama.

Setiap transaksi yang dilakukan menggunakan promo myBCA dilengkapi autentikasi yang aman dan enkripsi data untuk menjaga kerahasiaan informasi nasabah.

Beberapa fitur keamanan yang mendukung penggunaan promo antara lain:

✳️ Autentikasi melalui PIN atau biometrik saat login dan melakukan transaksi.

✳️ Enkripsi data transaksi untuk melindungi informasi pribadi.

✳️ Pemberitahuan notifikasi untuk setiap transaksi yang dilakukan.

✳️ Pemantauan aktivitas transaksi yang mencurigakan secara real time.

Keamanan yang terjaga pastinya mempengaruhi rasa percaya kita dalam memanfaatkan promo secara rutin, ya gak sih? Kalau saya sih begitu. Sehingga setiap transaksi yang kita lakukan berjalan dengan tenang dan nyaman.

Strategi Mengoptimalkan Penggunaan Promo

Untuk mendapatkan manfaat maksimal, penggunaan promo myBCA perlu dilakukan secara strategis. Dengan perencanaan yang tepat, kita dapat menggunakan promo untuk mengurangi pengeluaran harian atau memaksimalkan keuntungan saat melakukan transaksi digital.

Beberapa strategi yang bisa diterapkan antara lain:

🌀 Mengutamakan penggunaan promo dengan cashback atau diskon terbesar.

🌀 Memanfaatkan promo untuk transaksi rutin seperti tagihan bulanan atau belanja kebutuhan sehari-hari.

🌀 Memantau periode berlaku promo agar tidak terlewatkan.

🌀 Menyusun anggaran dan memilih promo sesuai prioritas kebutuhan.

Dengan strategi yang tepat, setiap transaksi jadi lebih bernilai dan mendukung pengelolaan keuangan digital yang lebih efisien.

Memaksimalkan Promo myBCA

Manfaat Lain dari Mengikuti Promo

Selain menghemat biaya, memanfaatkan promo myBCA juga membantu kita merencanakan pengeluaran dengan lebih baik.

Setiap transaksi menjadi lebih terkontrol, sementara keuntungan tambahan dari promo seperti cashback dapat digunakan untuk kebutuhan lain atau transaksi berikutnya.

Beberapa manfaat tambahan dari mengikuti promo myBCA antara lain:

🩸 Mendukung pengelolaan keuangan yang lebih disiplin.

🩸 Menambah nilai dari setiap transaksi digital yang dilakukan.

🩸 Memberikan pengalaman bertransaksi yang lebih menyenangkan dan efisien.

🩸 Mempermudah perencanaan anggaran bulanan atau harian.

Demikianlah manteman... dengan memahami jenis promo, memanfaatkan penawaran secara praktis, menjaga keamanan transaksi, dan menerapkan strategi yang tepat, kita dapat mengoptimalkan penggunaan promo myBCA.

Apalagi nih, biasanya jelang hari raya seperti Imlek maupun Lebaran, banyak promo dan cashback yang ditawarkan. Suka berburu diskon juga gak nih?

Bagi nasabah Bank BCA adanya Promo myBCA bisa mempengaruhi cara kita memanfaatkan layanan digital BCA sehingga setiap transaksi menjadi lebih hemat, aman, dan bernilai lebih.

Read more ...

Sabtu, 24 Januari 2026

Mencari Buku Resep Roti Unyil

Setiap memasuki tahun baru, apakah ada target manteman berapa buku yang ingin dibaca? Saya sendiri sih tidak pernah muluk-muluk. Secara setelah tinggal di pedesaan dan jarang keluar kandang (baca: bepergian ke kota) jadi jarang sekali beli buku. Sebagai gantinya, saya banyak membaca buku digital, baik melalui ipusnas maupun beli buku elektronik (ebook).

Saat scroll-scroll melihat judul buku digital biasanya muncul banyak banget judul buku yang menarik. Kalap mata, biasanya saya main ambil langsung pinjam atau ngantri dulu kalau bukunya sedang banyak dibaca.

Kalau sudah begitu sudah bisa dipastikan tidak bisa ditargetkan deh berapa banyak buku yang akan dibaca. Dan masalahnya sering pinjam tapi tak sempat membaca hingga tamat, harus sudah keburu dikembalikan. Mau bagaimana lagi?

Karena itu saya tidak lagi berani menargetkan berapa buku yang harus dibaca dalam rentang waktu tertentu. Termasuk dalam resolusi tahun baru.

Apalagi tahun baru 2026 ini, bagi kami waktunya bertepatan dengan perpulangan anak dari pondok. Lalu beberapa hari kemudian memasuki bulan puasa. Diperkirakan bakalan cukup riweuh...

Biasanya jelang Ramadan dan Lebaran saya suka nyari informasi destinasi wisata keluarga. Sekarang saya justru sibuk nyari buku resep bikin roti. Baik buku resep versi cetak maupun digital, yang pasti apa yang saya cari sekarang bukan soal tips liburan seperti dulu lagi.

Target membaca buku 2026

Kenapa jadi belok ada keinginan mencari buku resep membuat roti?

Joint usaha roti yang gagal

Awalnya karena kegagalan. Teman suami di sekolahnya ada yang ngajak buka usaha bareng, berdagang roti mini alias roti Unyil. Dijajakan di sekolah, dengan sasaran pasar nya juga anak sekolah. Kerjasamanya, suami kasih modal, teman suami yang menjalankan usaha buat rotinya.

Sudah berjalan sekitar dua mingguan, rotinya memang laku. Dijual seharga dua ribu rupiah cukup laku diminati anak-anak. Di kampung sejenis roti Unyil dengan berbagai rasa dan aneka bentuk masih banyak dilirik konsumen.

Hanya ketika ada anak yang jadi reseller membawa kotak rotinya ke kelas, membuat salah seorang guru marah dan memberikan peringatan. Guru itu pun melarang berjualan roti di sekolah.

Perkataan guru tersebut sampai ke teman suami yang ngajak kerjasama membuat roti. Mungkin karena baper, atau sakit hati atau apalah pastinya gak tahu juga, akhirnya teman suami ini memilih berhenti memproduksi roti lagi. Adapun modal milik suami semuanya dikembalikan.

Begitulah, karena kerjasama batal maka jualan roti pun tidak dilanjutkan. Sayang banget. Padahal dari obrolan dan beberapa pertanyaan yang sudah saya ajukan, diperkirakan prospek jualan roti dengan sasaran pasar anak sekolah itu cukup bagus.

Tanggung keranjingan, saya jadi ketagihan untuk praktek sendiri membuat roti Unyil nya. Tentu saja bukan untuk dijual tapi buat dimakan sendiri saja dulu. Apalagi kalau untuk skala besar dibutuhkan banyak peralatan.

Pas ibu saya 40 harinya meninggal dan saya beres-beres di rumah, ternyata ada oven peninggalan ibu masih baru, begitu juga loyang dan cetakan kue nya. Saya kepikiran ini waktunya pas banget. Pas kepikiran mau belajar buat roti, pas juga ada oven dan peralatan baking warisan dari ibu. Daripada tidak dipakai lebih sayang lagi kan ya.

Belajar melalui buku resep Roti Unyil

Setelah memeriksa semua peralatan membuat roti warisan ibu cukup lengkap, saya pikir tinggal mempelajari cara buat dan takaran adonannya. Bertanya ke teman suami rasanya tidak mungkin. Secara resep rahasia dia mana mau dibagikan ke orang lain. Solusinya, ya belajar sendiri dengan melihat buku resep membuat roti.

Nah, jadilah membaca buku resep membuat roti ini jadi salah satu buku yang masuk list target buku yang harus saya baca tahun ini. Alasannya ya karena saya mau belajar membuat roti itu tadi.

Target membaca buku 2026

Apa itu roti unyil?

Roti unyil adalah varian roti berukuran mini-biasanya hanya seukuran dua jari-yang bisa langsung habis dalam sekali lahap. Ukurannya kecil, tapi isinya enak. Bikin ketagihan.

Roti ini cepat viral karena bentuknya yang lucu, rasa yang enak, dan pilihan topping yang sangat beragam. Cocok buat semua umur, dari anak-anak sampai orang tua.

Kenapa memilih membuat roti Unyil? Bukan belajar membuat roti lainnya?

Selain saya suka roti Unyil, alasan lainnya karena ukurannya mini gak bikin bosen, varian rasa yang enak dan beragam, tampilan visualnya sangat menggoda, sekaligus harga bahan-bahannya juga terjangkau.

Roti unyil bukan cuma camilan lucu, tapi peluang bisnis yang besar kalau tahu cara mengolahnya jadi produk berkualitas dan menjualnya dengan strategi yang tepat.

Itulah kenapa saya ingin membaca buku resep membuat roti ini hingga selesai, supaya semua ilmunya bisa saya pahami.

Walaupun membaca buku sampai tamat sering kali lebih sulit daripada yang kita bayangkan—bukan karena bukunya jelek, tapi karena rutinitas, distraksi, atau motivasi yang naik-turun.

Tapi ada sedikit tips praktis dan kreatif nih supaya buku yang kita baca bisa dibaca sampai tamat hingga halaman terakhir.

Strategi membaca buku supaya bisa sampai tamat

1. Tentukan Niat dan Tujuan

Tanyakan pada diri sendiri: Mengapa ingin menamatkan buku ini? Untuk hiburan, pengetahuan, atau inspirasi?

Tuliskan tujuan kecil: Misalnya, “Saya ingin memahami sejarah di balik tokoh ini” atau “Saya ingin menikmati cerita sampai akhir.”

2. Buat Jadwal Membaca

Target harian: 10–20 halaman per hari atau satu bab kecil.

Gunakan waktu tetap: Misalnya sebelum tidur atau saat pagi hari.

Manfaatkan momen singkat: Baca saat punya waktu tambahan seperti saat sedang menunggu, di transportasi, atau saat istirahat.

3. Pecah Buku Jadi Bagian Kecil

Tandai bab atau sub-bab sebagai “checkpoint.”

Anggap setiap bagian sebagai mini target, sehingga terasa lebih ringan.

4. Kurangi Distraksi

❤️ Matikan notifikasi ponsel saat membaca.

❤️ Cari tempat nyaman dengan suasana tenang.

❤️ Gunakan penanda buku atau sticky notes untuk mencatat ide tanpa mengganggu alur.

5. Bangun Rasa Tanggung Jawab

Sharing progress: Ceritakan lagi buku yang dibaca di blog, media sosial, atau ke teman.

Book club/komunitas: Lakukan diskusi dengan komunitas pecinta buku. Biasanya jika ada tuntutan atau tekanan dari teman, bisa membuat kita lebih termotivasi untuk segera menamatkan.

Reward diri sendiri: Setelah selesai membaca satu bagian, beri hadiah kecil (misalnya beli camilan favorit) begitu seterusnya hingga bisa menamatkan membaca bukunya.

6. Nikmati Proses, bukan Sekadar Hasil

Jangan terlalu keras pada diri sendiri jika masih lambat dan belum bisa menamatkan buku bacaannya. Biarkan membaca jadi pengalaman menyenangkan, bukan kewajiban kaku. Jadi mau tamat atau tidak, enjoy aja dulu.

Jika buku terasa berat, selingi dengan bacaan ringan agar tetap segar.

Potensi Tantangan dan Cara Mengatasinya

⭕ jika mudah bosan atau sering ngantuk → pilih waktu membaca saat fokus tinggi.

⭕ jika merasa kesulitan memahami teks berat → pecah bacaan jadi bagian kecil, gunakan mind map.

⭕ jika membaca terlalu lambat → latih kecepatan dengan skimming dan kurangi subvokalisasi.

Begitulah. Mau membaca buku fisik atau buku digital, kiat membaca buku tersebut sama-sama bisa diterapkan. Dan bagi saya mencoba menerapkan semua strategi itu hasilnya cukup efektif, lho!

Read more ...

Kamis, 22 Januari 2026

Body Recomposition: Turunkan Lemak Tanpa Terobsesi Angka Timbangan

Kita ngobrolin soal body recomposition, yuk... jadi ini tuh cara turunkan lemak tanpa terobsesi angka timbangan. Nah, gimana, tema obrolannya cukup menarik, bukan?

Banyak orang yang rutin nge-gym mulai sadar bahwa angka di timbangan tidak selalu sejalan dengan progres tubuh. Saat mengecek lewat kalkulator BMI, hasilnya bisa terlihat stagnan, padahal badan terasa lebih kencang dan bertenaga. Kok bisa sih? Di sinilah konsep body recomposition mulai relevan, terutama untuk kita yang ingin terlihat lebih fit tanpa harus terpaku pada penurunan berat badan.

Body recomposition berfokus pada dua hal sekaligus: pertama untuk mengurangi lemak tubuh dan kedua untuk meningkatkan massa otot. Perubahannya tidak selalu terlihat dari angka, tetapi lebih terasa dari bentuk tubuh dan performa harian.

Apa Itu Body Recomposition?

Body recomposition adalah pendekatan fitness yang menargetkan perubahan komposisi tubuh, bukan sekadar berat badan. Artinya, lemak berkurang secara perlahan sementara otot bertambah atau tetap terjaga.

FitHub kalkulator BMI

Pendekatan ini sering dipilih oleh orang yang ingin tampil lebih lean dan kuat tanpa harus mengalami fluktuasi berat badan yang ekstrem. Dalam banyak kasus, berat badan bisa saja tetap sama, tetapi proporsi tubuh berubah cukup signifikan.

Untuk lifestyle gym jangka panjang, pendekatan ini terasa lebih realistis dan berkelanjutan.

Kenapa Timbangan Sering Tidak Relevan?

Timbangan hanya menunjukkan total berat tubuh, tanpa memberi tahu dari mana berat tersebut berasal. Saat kita rutin latihan beban, tubuh akan membangun otot, yang memiliki massa lebih padat dibandingkan lemak.

Akibatnya, penurunan lemak bisa “tertutup” oleh peningkatan otot. Inilah alasan kenapa berat badan terlihat tidak berubah, meskipun progres sebenarnya sedang berjalan.

Dalam kondisi seperti ini, fokus berlebihan pada timbangan justru bisa menurunkan motivasi.

FitHub kalkulator BMI

Peran BMI dalam Konteks Body Recomposition

BMI (Body Mass Index) dapat membantu kita menentukan apakah berat badan kita ini sudah ideal sesuai dengan tinggi badan atau tidak. Hasilnya, dapat memberikan gambaran awal tentang kondisi tubuh dan bisa menjadi titik dasar untuk mulai menjaga atau memperbaiki pola hidup.

BMI bisa memberi gambaran awal tentang kondisi tubuh secara umum. Namun untuk body recomposition, angka ini sebaiknya tidak dijadikan tolok ukur utama.

Kenapa begitu? Karena seseorang bisa saja berada di kategori BMI yang sama selama berbulan-bulan, tetapi mengalami perubahan signifikan pada bentuk tubuh dan kekuatan fisik. Karena itu, hasil dari kalkulator BMI lebih tepat dibaca sebagai referensi kasar, bukan indikator progres harian.

Pendekatan ini membantu menggeser fokus dari angka ke kualitas perubahan tubuh.

Indikator Progres yang Lebih Bermakna

Dalam body recomposition, progres lebih baik diukur dari hal-hal lain. Misalnya, perubahan lingkar pinggang, bahu, atau paha. Pernah merasa pakaian kita tiba-tiba terasa lebih longgar? atau lebih pas? Nah itu juga sering menjadi tanda awal perubahan.

FitHub kalkulator BMI

Selain itu, peningkatan performa latihan seperti beban yang makin berat, repetisi yang lebih stabil, atau recovery yang lebih cepat juga merupakan indikator penting.

Hal-hal ini sering kali terasa lebih nyata dibandingkan angka di timbangan.

Latihan yang Mendukung Body Recomposition

Latihan beban menjadi fondasi utama dalam body recomposition. Fokusnya adalah melatih kelompok otot besar dengan teknik yang baik dan progresi yang terukur.

Kardio tetap memiliki peran, terutama untuk mendukung pembakaran lemak dan kesehatan jantung. Namun porsinya biasanya disesuaikan agar tidak mengganggu proses pemulihan dan pertumbuhan otot.

Kombinasi yang seimbang membantu tubuh beradaptasi secara optimal.

Pola Makan: Tidak Ekstrem, Tapi Terarah

Body recomposition tidak identik dengan diet ekstrem. Pendekatannya cenderung moderat, dengan fokus pada asupan protein yang cukup dan keseimbangan nutrisi.

Defisit kalori biasanya dibuat ringan atau bahkan netral, tergantung kondisi tubuh dan intensitas latihan. Tujuannya adalah memberi tubuh cukup energi untuk latihan sekaligus mendukung pengurangan lemak secara bertahap.

Pendekatan ini lebih mudah dijalani dalam jangka panjang.

FitHub kalkulator BMI

Mindset yang Perlu Dibangun

Salah satu tantangan terbesar dalam body recomposition adalah kesabaran. Karena perubahan terjadi secara perlahan, hasilnya tidak selalu terlihat dalam waktu singkat.

Memahami bahwa progres tidak selalu linear membantu menjaga konsistensi. Fokus pada kebiasaan dan rutinitas jauh lebih penting daripada mengejar hasil instan.

Dalam proses ini, kalkulator BMI sebaiknya diposisikan sebagai alat bantu awal untuk memahami kondisi umum tubuh, bukan sebagai penentu keberhasilan body recomposition.

Gimana, penasaran apakah berat badan kita ini sudah sesuai dengan tinggi badan sebagaimana berdasarkan Body Mass Index? Yuk, coba cek aja dulu menggunakan kalkulator BMI ya...

Sampai sini dulu ngobrolnya ya, mau angkat jemuran dulu. Hihihi...

FitHub kalkulator BMI
Read more ...

Minggu, 18 Januari 2026

Di Balik Suasana 5 Tempat Menyulam Rasa yang Melahirkan Cerita

Jika diminta menceritakan 5 tempat berkesan yang sering menginspirasi, yang memacu produktivitas karena vibes nya, yang memberikan amunisi dalam charging energi, maka dengan mudah saya bisa menyebutkannya.

Bahkan sebenarnya lebih dari lima lokasi karena tempat berkesan itu memang lebih dari sekadar ruang, tapi juga jadi wadah energi, kenangan, dan inspirasi. Dan itu begitu banyak, tidak terhingga.

Kalau bicara tentang tempat berkesan yang sering jadi sumber inspirasi, biasanya bukan sekadar lokasi fisik, tapi juga suasana, kenangan, dan energi yang melekat di sana.

Berikut 5 tempat yang sering memunculkan ide-ide kreatif dan rasa hangat buat saya:

Tempat inspirasi sunset di gunung

Pegunungan di sore hari

Sejak pertama kali mendaki gunung saya dan team selalu memilih mendaki di musim panas. Bukan menantang kulit supaya gosong, melainkan memilih suasana supaya menemukan sore hari yang cerah dan bisa menangkap momen matahari tenggelam. Ketika bisa melihat langsung matahari tenggelam itu sangat luar biasa banget rasanya.

Matahari tenggelam dan bayang pepohonan yang kian memanjang, berulang seperti ritme kehidupan. Adalah inspirasi terbesar saya supaya berpikir, sesukses apapun, sekuat apapun, sebagai manusia kita tetap suatu saat akan pulang ke pangkuan Nya alias mati.

Selain itu saat cahaya jingga keemasan memberi nuansa reflektif, adalah waktu yang cocok buat saya untuk menulis artikel atau merenung.

Rasanya begitu damai, lupa sedih lupa susah, lupa utang untuk sesaat ketika di ketinggian yang tidak semua orang bisa menginjakkan kaki di sana, bisa merasakan semilir angin sore pegunungan yang membawa rasa kebebasan. Suasana seperti itu seakan membuka ruang ide tanpa batas.

Keesokan paginya, setelah subuh segera hirup aroma tanah basah dan tetesan embun pada dedaunan segar yang menenangkan pikiran. Rasakan bagaimana seolah paru-paru bisa dicuci bersih hingga tak lagi bernoda.

Jika beruntung bisa mendengar suara burung yang sangat ceria, ditambah desahan gemerisik daun jadi latar alami untuk melahirkan berbagai inspirasi.

Buat saya yang lahir, tumbuh dan besar di alam pedesaan, suasana alami seperti itu terasa cocok untuk melahirkan ide-ide tentang kreasi keberlanjutan, kehidupan yang produktif, dan harmoni dalam karya.

Bangunan Almamater Sekolah

Tempat berkesan yang sering jadi sumber inspirasi selanjutnya adalah bangunan sekolah baik waktu SD, maupun sekolah lanjutan tingkat atasnya.

Dulu sebelum berumah tangga, setiap ke Bandung saya selalu mampir ke Maleer di daerah Binong (Jalan Gatot Soebroto) untuk main dan melihat sekolah dasar tempat saya pertama kali belajar menulis dan membaca.

Ada beberapa orang teman yang rumahnya masih di sekitar Gumuruh, janjian main ke sana dan kami bernostalgia mengenang masa saat jadi bocil dulu.

Tertawa, bercerita, membahas kelucuan jaman dulu, semua itu menjadi momen yang direka ulang dan tidak akan terlupakan. Recharge kenangan yang kelak saya jadikan tabungan untuk mengoleksi berbagai ide yang sempat terlupa.

Apalagi sekarang bangunan sekolah saat saya SD itu sudah tidak ada, sudah dilebur dengan sekolah lain karena keterbatasan lahan.

Teman-teman saat sekolah dasar juga sudah berumah tangga dan pindah domisili ke berbagai daerah di luar kota.

Momen yang sempat dibuat itu kemudian terus dicopy ulang dan dipaste-kan lagi dalam berbagai karya. Supaya kelak, anak cucu kami masih bisa mengenangnya.

Tempat inspirasi sekolah

Demikian juga saat berkesempatan silaturahmi ke bangunan sekolah waktu SMP di Tasikmalaya, berbagai ide menulis bermunculan mengingat kenangan waktu remaja sudah mulai bertambah banyak.

Interaksi dan pengalaman tidak hanya fokus pada belajar menulis dan membaca saja, tapi sudah mengenal pergaulan yang lebih luas lagi.

Pengalaman menginap di rumah teman, ngebolang dari satu kampung ke kampung lain, dari situ banyak sekali stok ide untuk dijadikan bahan tulisan bagi setiap content writer.

Adapun bangunan sekolah waktu SMU justru tidak banyak saya sambangi mengingat hampir setiap bepergian selalu saya lewati.

Kabar mengenai sekolah dan lingkungannya juga sering saya dapat secara cuma-cuma karena banyak saudara dan tetangga yang bersekolah di tempat yang sama.

Tanpa harus mendatangi lokasi, informasi yang diperlukan bisa dengan mudah didapatkan.

Perpustakaan

Adalah tempat selanjutnya yang selalu memberikan banyak inspirasi buat saya. Tempat dimana kumpulnya berbagai jendela dunia ini berada, selalu saya kunjungi.

Tidak pernah bosan, dan saya justru selalu mengangeni berbagai rak-rak buku yang penuh dengan ilmu, sejarah dan pengetahuan. Semua siap menyimpan ribuan cerita yang bisa kembali diceritakan ulang.

Keheningan suasananya memberi ruang untuk fokus dan eksplorasi ide secara maksimal. Cocok untuk segala kalangan, baik anak-anak, remaja, maupun mahasiswa dan profesional.

Untuk seorang blogger seperti saya, mengulik dan memperdalam SEO content writer cocok banget kalau dipelajari dalam suasana hening seperti ini.

Perpustakaan bagi saya adalah tempat yang sering memicu munculnya berbagai gagasan baik itu tentang perjalanan manusia, bahkan sampai soal kebijaksanaan rasa dan etika.

Tempat inspirasi perpustakaan

Tempat ibadah atau ruang spiritual

Saat menjadi musafir, saya selalu mengamati setiap rumah ibadah yang saya singgahi. Keunikan, ciri khas, sampai detail lainnya yang tidak dimiliki tempat ibadah lain selalu saya rekam dalam jejak dan ingatan.

Setiap dalam perjalanan, selalu muncul dan tertinggal berbagai gejolak emosi, nafsu hingga keegoisan diri. Namun ketika hati dibasuh air wudhu dan raga diajak bersujud untuk berserah diri, maka atmosfer damai itu langsung menyeruak membuat hati terasa jadi lebih jernih.

Ibadahnya tidak sampai lima menit. Tapi mengenang nya bisa sampai seumur hidup.

Tempat ibadah yang pernah saya singgahi selalu memberi inspirasi tentang makna hidup, rasa syukur, dan hubungan dengan sesama.

Semua pengalaman itu lebih dari cocok untuk dijadikan referensi dalam menulis refleksi, doa, atau narasi penuh makna.

Tempat inspirasi mushola

Rumah, surga duniaku

Bagian rumah yang sederhana di kampung selalu dirindukan dimanapun saya berada.

Rumah yang dibangun bermodalkan cucuran keringat dan kerjasama dalam menciptakan-nya bersama pasangan adalah tempat ternyaman setelah kedua orang tua tiada.

Tidak banyak bagian rumah yang selalu ngangenin dan memberikan inspirasi. Karena memang rumah kami minimalis tidak banyak design yang membuat orang terkenang.

Tapi sungguh sekian juta rasa kehangatan personal dan kenangan sehari-hari bersama ibu saat beliau masih ada, bersama anak semata wayang saat dia belum merantau ke luar pulau, semua itu kini justru sering jadi sumber ide paling tulus.

Dari hal kecil, lahir cerita besar yang relatable bagi banyak orang. Hal itu sudah berkali-kali saya buktikan.

Rumah kami yang sederhana bahkan sudah sekian belas tahun catnya pun belum berganti yang baru tapi meskipun begitu tetap jadi tempat ternyaman dan memberikan inspirasi yang mendalam. Begitulah rumahku adalah surgaku.

Tempat inspirasi dapur

---

Manteman, tempat-tempat tersebut di atas mulai dari gunung, sekolah, perpustakaan, rumah ibadah sampai rumah sederhana kami di kampung ini bagi saya itu bukan hanya mengandung makna secara fisik, tapi juga memiliki ruang batin yang menyalakan kreativitas.

Tempat yang biasanya lebih sering memberi inspirasi. Dari ruang alam terbuka seperti hutan, sekolah dan atau dari ruang personal seperti sudut rumah dan dapur tempat bereksperimen resep.

Semuanya sudah memberikan kontribusi yang nilainya tidak terhingga. Menjadi bagian dari karya yang saya abadikan di blog ini dan bisa dibaca anak cucu, kelak.

Read more ...

Senin, 12 Januari 2026

Nasib Kecipir Warisan

Hujan terus menerus mengguyur bikin cambah kecipir pemberian almarhumah ibu saya cepat membusuk. Gak bisa saya pindahkan karena memang membuat pembibitan langsung di lahan kebun. Mau gimana lagi selain pasrah akan nasib kecipir itu. Tumbuh bagus, ya syukur, gak juga ya namanya juga musibah bagi petani kampung.

Sejak sepulang dari merantau dan berumah tangga, ibu saya rajin nanam apa saja di halaman. Termasuk kecipir (Psophocarpus tetragonolobus). Jaat, roay, leunca, dan lalapan lain khas Sunda selalu tumbuh subur ketika ditanam almarhumah ibu. Padahal nanamnya hanya di pot kecil dengan tanah tidak seberapa.

Nama dan Istilah Kecipir

Kecipir atau kami di Sunda biasa memanggilnya dengan istilah jaat. Ada juga yang nyebutnya dengan istilah lokal lain seperti kacang botol, kacang belimbing, kacang embing dan istilah lainnya tergantung daerah di Indonesia aja pastinya ya.

Makanya saya juga jadi penasaran di Sumatera kecipir ini disebut apa? di Kalimantan sana kecipir ini disebut dengan nama apa? Dan sepertinya harus bertanya kepada Travel Blogger Balikpapan Mbak Aisyah Dian. Atau ke komunitas lain seperti Food Blogger Balikpapan dan Beauty Blogger Balikpapan untuk mengetahui informasi tentang nama di sana untuk kecipir ini.

Secara infonya katanya kecipir ini memang bagus tumbuh di wilayah tropis Asia Tenggara, Papua Nugini, hingga India.

Di beberapa artikel yang pernah saya baca, katanya kecipir itu bukan hanya polong mudanya saja yang bisa dimakan. Tapi juga daun nya, bunga nya, dan umbi. Daun dan bunganya saya sudah sering lihat, sementara umbinya saya malah belum pernah tahu. Selama ini saya cuma konsumsi buahnya saja yang biasanya dimakan mentah sebagai lalapan atau dimasak sebagai sayur.

Nasib Kecipir Warisan
Kecambah kecipir yang mulai merambat

Kandungan Gizi Kecipir

Meski banyak orang tidak melirik tumbuhan ini tapi ternyata memiliki kandungan dan kelebihan yang bagus lho, kecipir ini.

- Protein nabati (bahkan bisa menyaingi kedelai sebagai sumber protein)

- Karbohidrat dan serat yang baik untuk pencernaan

- Vitamin A & C untuk kesehatan mata dan daya tahan tubuh

- Mineral seperti kalsium dan zat besi

Manfaat untuk Kesehatan:

- Menurunkan berat badan berkat serat tinggi yang membuat kenyang lebih lama

- Menjaga kesehatan mata karena kandungan vitamin A

- Mengurangi risiko stroke dan penyakit jantung dengan nutrisi antioksidan

- Alternatif protein nabati yang ramah vegetarian/vegan

Karena berbagai kandungan dan kelebihannya itu ditambah kebiasaan sejak kecil keluarga sudah terbiasa konsumsi kecipir, maka saya pun mengikuti jejak almarhumah si mama untuk terus menanam jenis tanaman kacang-kacangan yang sering dianggap sebagai “sayuran kampung” ini.

Meski dianggap sayuran kampung karena mudah ditanam di pekarangan, justru saya kesulitan menanam kecipir ini. Beda dengan ibu saya, yang selalu berhasil menanam hingga subur dan mereka berbakti, saya justru sering mendapatkan kegagalan dalam nanam apapun. Termasuk kecipir ini.

Bibit polong kecipir warisan ibu saya saat beliau masih ada ini saya simpan baik-baik, mengingat saya dan suami begitu suka akan kecipir muda yang selain jadi lalap bisa juga diolah menjadi tumisan, sayur bening, atau bahkan tauco kecipir.

Waktu si mama masih ada saya tidak menanamnya karena di rumahnya ada tumbuh subur. Setiap ke sana selalu panen dan saya bawa ke rumah.

Setelah mama tiada, kepikiran saya harus mempertahankan tanaman ini yang sekaligus juga berperan dalam ketahanan pangan lokal karena seluruh bagiannya bermanfaat.

Saya akui, kecipir bukan hanya sayuran tradisional yang lezat, tapi juga superfood lokal dengan potensi besar untuk kesehatan dan gizi masyarakat.

Gak heran kalau Blogger Tangsel Teh Ani Berta juga menyukainya. Dulu kalau panen kecipir melimpah saya sering ngasih tetangga. Sampai pernah kirim ke Teh Ani juga. Beberapa kali Teh Ani bertanya udah panen jaat lagi gak? Saya bilang enggak nanam. Sejak itu, kini saya baru kepikiran mau nanam lagi.

Meski saya dan suami juga neneknya dan Omnya suka kecipir, tapi tidak dengan anak saya juga keponakan (anak adik saya).

Karena itu saya sempat nyari ide, bagaimana supaya anak juga suka memakan akan si ular hijau ini.

Dulu saya search dan dapat resep kreatif berbahan kecipir yang bisa diolah jadi camilan yang disukai anak.

Nasib Kecipir Warisan

Resep Kreatif dengan Kecipir

Jadi selain jadi lalapan, kecipir juga bisa diolah dengan cara ditumis (Tumis Kecipir Pedas Manis), dijadikan Salad (Salad Tropis Kecipir), digoreng (Kecipir Goreng Tepung ala Snack) disayur (Sayur Bening Kecipir & Jagung) disambal (Kecipir Sambal Matah) dll.

Nah yang disukai anak ternyata kecipir goreng dengan tepung yang diolah seperti camilan goreng daun bayam, keripik pare, ya sejenis itulah.

Resep Kecipir Goreng Tepung ala Snack

Siapa tahu ada yang mau coba juga resepnya, bisa langsung pakai atau modifikasi sesuai keinginan dan favorit masing-masing ya…

Kalau beneran disukai banyak kalangan berarti kecipir yang sering dianggap sayuran kampung yang sederhana ini bisa naik kelas, cukup dengan sedikit kreativitas.

Kecipir bisa berubah jadi camilan modern yang renyah dan menggoda. Gak mudah menghadirkan kecipir sebagai snack gurih yang cocok untuk teman ngobrol sore, suguhan tamu, atau ide jualan rumahan tapi mana tahu kalau tidak kita coba ya…

Bahan-Bahan

- 200 gram kecipir muda, potong-potong sesuai selera

- 100 gram tepung terigu

- 50 gram tepung beras (untuk ekstra renyah)

- 1 sdm tepung maizena

- 2 siung bawang putih, haluskan

- ½ sdt ketumbar bubuk

- ½ sdt garam

- ½ sdt kaldu bubuk (opsional)

- 150 ml air es

- Minyak goreng secukupnya

Cara Membuat

1. Siapkan adonan tepung: Campur tepung terigu, tepung beras, maizena, bawang putih halus, ketumbar, garam, dan kaldu bubuk.

2. Tambahkan air es: Tuang sedikit demi sedikit hingga adonan cukup kental untuk melapisi kecipir.

3. Baluri kecipir: Masukkan potongan kecipir ke dalam adonan, pastikan terlapisi rata.

4. Goreng: Panaskan minyak, goreng ji kecipir hingga kuning keemasan dan renyah.

5. Sajikan: Angkat, tiriskan, dan sajikan hangat dengan saus sambal atau mayones.

Nasib Kecipir Warisan
Kecipir Goreng Tepung

Tips & Variasi

- Gunakan air es agar hasil gorengan lebih crispy.

- Tambahkan daun bawang cincang ke adonan untuk aroma segar. Kalau gak suka boleh diskip aja ya.

- Bisa juga dicoba dengan tepung bumbu instan untuk rasa praktis.

- Sajikan dengan sambal matah atau saus keju agar lebih kekinian.

Sekali lagi semua tergantung selera, jadi boleh otak atik sendiri itu resep dan bahannya.

Nasib Kecipir Warisan

Balik lagi ke laptop, bahasan awal akan nasib kecipir saya yang kehujanan sepanjang siang dan malam itu, tumbuh sih tumbuh tapi udah segede itu belum juga terlihat bakal bunga.

Pupuk organik dan kotoran hewan sudah diberikan, entah karena intensitas hujan yang terlalu banyak bikin semua zat dan unsur hara yang dibutuhkan ikut terbawa aliran air sebelum diserap akar? Ga tahu juga.

Kita tunggu deh beberapa waktu kedepan. Semoga saja bisa segera berbunga dan berbuah. Mohon doanya ya…

Read more ...

Kamis, 08 Januari 2026

Cara Belajar Marketing Paling Mudah untuk Ibu Rumah Tangga

Banyak ibu rumah tangga merasa marketing adalah hal yang rumit dan hanya bisa dilakukan oleh orang dengan latar belakang bisnis. Padahal, konsep dasar marketing sangat sederhana, lho...

Marketing adalah proses memperkenalkan produk, membangun ketertarikan, dan mendorong orang untuk membeli. Tidak ada skill spesifik yang diperlukan, melainkan pemahaman produk yang dijual.

Cara Belajar Marketing Paling Mudah Untuk Ibu Rumah Tangga

Tertarik mempelajari ilmu marketing? Berikut sejumlah skill marketing paling mudah yang bisa dipelajari ibu rumah tangga.

Digital Marketing Ibu Rumah Tangga
Sumber Gambar: https://unsplash.com/

1. Memahami Produk yang Dijual

Langkah paling dasar dalam belajar marketing adalah memahami produk secara menyeluruh. Ibu rumah tangga tidak perlu menguasai teori pemasaran yang kompleks, tetapi perlu tahu dengan jelas apa yang dijual, manfaatnya, serta masalah apa yang bisa diselesaikan oleh produk tersebut.

Pemahaman produk yang baik akan memudahkan dalam menjelaskan ke calon pembeli dan menjawab pertanyaan yang sering muncul. Semakin paham produknya, semakin percaya diri saat menawarkan.

2. Mengenali Target Pembeli Terdekat

Marketing tidak harus dimulai dari pasar yang luas. Justru lebih efektif jika dimulai dari lingkungan terdekat, seperti keluarga, tetangga, teman sekolah anak, atau komunitas yang sudah dikenal.

Mengenali target pembeli memudahkan kita menyesuaikan cara komunikasi dan penawaran. Pendekatan ini lebih sederhana dan peluang terjadinya pembelian juga lebih besar.

3. Komunikasi Sederhana dan Jujur

Skill marketing berikutnya yang mudah dipelajari adalah komunikasi. Tidak perlu kemampuan berbicara yang persuasif atau berlebihan. Yang dibutuhkan adalah kemampuan menyampaikan informasi secara jelas, jujur, dan mudah dipahami.

Calon pembeli cenderung lebih percaya pada penjual yang apa adanya, menjelaskan kelebihan dan keterbatasan produk secara transparan, serta responsif saat dihubungi.

Kita juga bisa menunjukkan review positif produk yang dijual.

4. Membuat Konten Sederhana dari Aktivitas Sehari-hari

Di era digital, konten menjadi bagian penting dari marketing. Namun, konten tidak harus selalu terlihat profesional.

Foto produk asli, video singkat proses pembuatan, atau cerita pengalaman pelanggan sudah cukup untuk membangun kepercayaan. Yang penting natural ciri khas ibu rumah tangga.

Aktivitas sehari-hari bisa menjadi bahan konten yang relevan dan mudah dibuat tanpa perlu peralatan khusus. Seperti konten yang dibuat Dian Restu Agustina. Lihat deh isinya tentang keseharian seorang istri sekaligus ibu dan aktivitas bisnis ibu rumah tangga lainnya.

5. Memanfaatkan Media yang Sudah Digunakan

Ibu rumah tangga tidak perlu mempelajari banyak platform sekaligus. Fokus pada media yang sudah digunakan sehari-hari, seperti WhatsApp, Instagram, TikTok, atau Facebook.

Konsistensi dalam menggunakan satu media jauh lebih penting daripada hadir di banyak platform tetapi tidak aktif.

Dengan begitu, proses belajar marketing terasa lebih ringan dan terarah.

6. Membangun Kepercayaan Pelanggan

Kepercayaan adalah kunci utama dalam marketing. Respon yang cepat, pelayanan yang ramah, dan menjaga kualitas produk merupakan bagian dari strategi marketing jangka panjang.

Testimoni dari pelanggan, baik dalam bentuk chat maupun cerita singkat, juga bisa membantu meningkatkan kepercayaan calon pembeli lainnya.

7. Belajar dari Respon dan Pengalaman

Skill marketing tidak terbentuk dalam satu hari. Setiap pertanyaan, masukan, atau bahkan penolakan dari calon pembeli bisa menjadi bahan evaluasi.

Ibu rumah tangga dapat mengetahui apa yang perlu diperbaiki, baik dari sisi produk, cara promosi, maupun pelayanan melalui respon pelanggan. Proses ini membuat kemampuan marketing berkembang secara bertahap dan alami.

Belajar marketing bagi ibu rumah tangga tidak harus dimulai dari hal yang rumit atau membutuhkan modal besar.

Selama kita memahami produk, mengenali pembeli terdekat, serta memanfaatkan media yang sudah digunakan sehari-hari, kemampuan marketing dapat dibangun secara bertahap, baik untuk produk rumahan maupun kebutuhan bisnis seperti seragam kerja.

Hal terpenting adalah konsistensi dalam mencoba, belajar dari respon pelanggan, dan terus menyesuaikan cara promosi.

Seiring waktu, skill marketing ini tidak hanya membantu meningkatkan penjualan, tetapi juga membuka peluang usaha yang lebih berkelanjutan.

Read more ...

Sabtu, 03 Januari 2026

Touring ke Resepsi Santri di Ujung Dunia

Baru juga mau istirahat sebentar setelah solat ashar yang udah sedikit mendekati akhir waktu, kamis sore hari pertama di tahun baru itu tetangga sebelah rumah ketuk pintu, menyampaikan undangan dari Pondok Pesantren Mazroatul Ulum Citiis.

Kamis pagi sampai ashar, kami memang tidak ada di rumah, udah tiga minggu setiap Kamis saya berangkat ke rumah almarhum mama di Sukanagara, untuk membantu adik dan saudara lain menyiapkan tahlil ibu saya malam jumatnya.

Ternyata undangan itu untuk acara resepsi dari murid suami di ponpes tempat mengajar di tingkat Madrasah Aliah. Hari nya Sabtu 3 Januari. Lokasinya di kampung Sidamukti Desa Girimukti, Pasirkuda.

“Wah, jauh itu Girimukti mah, udah mau ke perbatasan Bandung. Sekitar satu jam dari sini. Itu baru ke desanya aja. Dari desa ke kampungnya ini sekitar satu jam lagi. Mana belum tahu juga akses jalannya bagaimana…” Kata suami mengeluhkan.

“Tapi kalau gak hadir, malu sama sesepuh pondok, secara pengantin perempuan adalah murid di MA, dan pengantin laki-lakinya adalah pengurus pondok. Kita lihat guru-guru di Aliah aja, Bu. Kalau mereka berangkat kita ikut. Kalau mereka tidak, kita juga batal saja.” Pertimbangan suami demikian karena memikirkan akses jalan ke Sidamukti yang masih rusak terutama dari persimpangan Rawa Getok nya (dekat Curug Citambur).

Resepsi Santri
Terlihat Curug dari berbagai puncak bukit. Sampai jam sepuluh lebih cuaca cukup cerah

Apalagi akhir-akhir ini hujan terus menerus turun, bikin jalan pasti becek, licin dan kemungkinan ada longsoran di perjalanan mengingat ke Sidamukti itu melewati beberapa puncak bukit.

Tidak disangka guru-guru MA di group justru mengabarkan untuk janjian berangkat bareng. Terutama guru-guru wanita, mereka malah menyarankan pulangnya sekalian main ke air terjun Citambur.

“Gak bosan apa main ke Citambur melulu?” suami membalas pesan di wag MA.

“Ih enggak atuh Bapak. Apalagi suamiku kan kemarin gak ikut. Jadi ini momen kami bertiga. Seperti Bapak, Ibu dan Fahmi kemarin, gitu loh.” Balas Bu Soni diiringi emoticon tertawa.

Resepsi Santri
Pencarian pada maps hanya sampai di Desa Girimukti. Bertanya kepada masyarakat setempat, dari desa Girimukti ke Sidamukti sekitar setengah jam lagi...

Memang waktu awal September 2025, pas Fahmi pulang liburan dari pondok (libur semester pertama berdasarkan penanggalan tahun Hijriah) teman-teman ngajar suami di MA Mazroatul Ulum Citiis ini mengadakan piknik ala-ala ke Citambur. Ya bukan piknik sebenarnya karena banyak yang udah tahu dan lokasi juga sangat dekat. Bisa dibilang silaturahmi mempererat persaudaraan sesama guru MA aja gitu.

Dan saat itu, yang datang tidak semuanya. Personil lengkap hanya kami (saya suami dan Fahmi) lalu Bu Rini beserta suami yang juga guru MA dan dua anaknya, Bu Mala beserta suami dan putrinya. Bu Syifa dan Pak Opik (keduanya ngajar di MA) beserta putranya. Sementara Bu Soni hanya beserta putrinya karena suami sedang kerja.

Yang tidak hadir saat itu Bu Ruruh, Pak Asep 1, Pak Asep 2 (ada dua nama Asep guru di MA) dan Pak Kamil.

Karena itu kesempatan main ke daerah Desa Girimukti yang bertetangga dengan Desa Pusakajaya dimana Curug Citambur berada ini dijadikan kesempatan untuk sekaligus mampir lagi ke Curug Citambur.

Resepsi Santri
Baru empat motor. Menjemput dua motor kemudian di depan

Ternyata hari Jumat sore hingga malam hujan turun hampir tidak berhenti.

“Bisa jadi ke Sidamukti nya batal nih” ucap suami sambil menerawang ke luar rumah dari balik jendela.

Saya pun tidak mempersiapkan pakaian dan lainnya seperti biasa kalau mau ke acara pernikahan. Dipikir buat apa dipersiapkan kalau besar kemungkinan bakalan batal.

Sabtu pagi ternyata hujan masih turun. Kami malah lesehan sambil nonton dan mendengarkan pengajian lewat streaming. Suami sesekali cek wag MA, takut ketinggalan info.

"Jam berapa kita berangkat? Cuaca agak cerah nih.” Salah satu teman suami bertanya di group.

Memang jam tujuh lewat di tempat kami juga hujan tidak turun lagi. Sinar matahari muncul dengan terangnya dibalik awan.

"Jam 10 ya, saya mau isi bensin dulu di SPBU Pagelaran” jawab Bu Soni.

“Bu, mereka jadi berangkat, gimana kita ikut saja?” suami meminta jawaban.

"Ya ayo ikut saja. Semoga cuaca bagus sampai kita pulang nanti.” Jawab saya sambil segera mencari pakaian yang cocok.

Saya pikir karena kondisi jalan banyak yang rusak, mana becek dan siapa tahu di tengah perjalanan turun lagi hujan, akhirnya saya memilih mengenakan setelan touring saja, rok celana dengan tunik dan jilbab warna senada. Sendal juga sendal karet biasa, supaya saat kena kotoran air hujan bisa dengan mudah dibersihkan. Kaos kaki tentu bawa cadangan.

“Kami tunggu di pertigaan Pasir Haur” kata Pak Opik menginformasikan.

“Kami udah selesai isi bensin.” Kata Bu Soni.

Dan tiba-tiba beliau japri nomor suami, jadi berangkat gak katanya?

“Siap Bu. Kami meluncur ke Pasir Haur ketemu Pak Opik di sana,” balas suami. Padahal dia belum mandi. Hihi, tapi bilangnya udah otw.

Lima belas menit kemudian saya dan suami pun berangkat. Tidak lupa membawa jas hujan.

Resepsi Santri
Saat depan minimarket Desa Kubang cuaca cukup cerah, matahari muncul dan udara jadi terasa panas. Bahkan gerah...

Sampai di Pasir Haur bertepatan dengan keluarnya sepeda motor Pak Opik beserta Bu Syifa. Kami turun bersamaan dan bersalaman. Buat saya ini pertemuan terbaru setelah liburan bersama Fahmi September lalu itu.

Senang waktu menyapa Zulfikar, putranya Pak Opik dan Bu Syifa yang berusia 4 tahun masih mengenali saya.

Lebih senang lagi melihat pakaian yang saya pakai warnanya senada dengan seragam yang dipakai Bu Syifa, dan juga pastinya buibu guru lainnya. Padahal saya dan mereka tidak janjian.

Resepsi Santri
Danau (rawa) Getok

Tidak lama Bu Soni dan putrinya beserta suami juga muncul. Beriringan dengan Pak Asep 1. Jadilah empat motor kami berangkat menuju pertigaan Rancagoong menunggu Bu Ruruh.

Di minimarket dekat Desa Kubang, kami berhenti karena ada yang mau belanja. Saat itu kami diskusi dan mengumpulkan donasi eh uang untuk disatukan. Jadi nanti diatasnamakan dari guru-guru MA. Yang pegang tentu saja Ketua Squad, siapa lagi kalau bukan Bu Soni. Hihi…

Dari obrolan depan minimarket sambil nunggu yang belanja saya tahu kalau Bu Rini dan Suami gak bisa ikut karena takut cuaca tidak bersahabat. Dengan anak dua laki-laki yang masih kecil mungkin memang diperlukan perjuangan banget ya kalau mau bepergian. Bu Mala juga tidak ikut bersama kami.

Selesai diskusi dan belanja kami lanjutkan perjalanan menjemput Bu Ruruh. Cuaca di Kubang saat itu panas. Kami sampai kegerahan saat berhenti depan minimarket tadi.

Di depan brilink pertigaan Rancagoong sesuai yang dijanjikan, ternyata Bu Ruruh belum ada. Dihubungi oleh Bu Soni, katanya masih ini, masih itu, dll. Akhirnya kami turun lagi menunggu sambil bersenda gurau. Saat itu cuaca sudah berubah mendung lagi. Bahkan ketika Bu Ruruh sampai dan saya sempatkan bersalaman dulu karena ini pertama kalinya saya dan beliau bertemu bertatap muka langsung, rintik hujan sudah mulai turun.

“Di Pertigaan Simpang, ada Pak Asep 2 ya,” kata Bu Soni menginformasikan sebelum kami melanjutkan perjalanan. Walaupun laki-laki tapi namanya tidak tahu lokasi, memang lebih baik berangkat bareng kan ya. Apalagi ini membawa nama satu instansi, Guru MA. Jadi bagusnya emang bareng-bareng berangkatnya.

Ketika lewat pertigaan Simpang, Pak Asep 2 sudah standby. Kami tidak berhenti karena hujan sudah mulai turun.

Enam motor akhirnya beriringan menerjang hujan. Padahal itu menurut suami belum setengah jalan. Waduh, masih lama ini perjalanan? Untung saya pakai setelan balap. Bukan gamis kaya Buibu guru MA itu. Jadi saya lebih leluasa membonceng suami walau kondisi hujan.

Lama-lama kepikiran juga, kalau menembus hujan yang semakin deras, pakaian bisa basah, bisa malu datang ke resepsi dalam kondisi jibrug alias basah kuyup. Mana jalan juga berbahaya. Dingin juga kalau naik sepeda motor dalam cuaca hujan bisa menyebabkan sakit.

Akhirnya kami semua berteduh di daerah Cimaja. Depan sebuah bangunan ruko yang baru setengah jadi.

Resepsi Santri
Berteduh di depan ruko yang masih setengah jadi sambil jajan jasuke, bakso, sampai crepes dan cireng juga ada

Gak disangka ada penjual jajanan sudah mangkal di sana. Si mamang jualan Sosis bakar, bakso bakar, jagung susu keju, dan cireng semua dalam satu motor.

Awalnya Zulfikar putra Bu Syifa yang jajan jasuke. Diikuti putrinya Bu Soni. Lalu putrinya Bu Ruruh. Kami bersenda gurau jadinya dengan celotehan yang absurd,. Sebelum makan di resepsi yang entah kapan sampainya karena hujan justru malah semakin besar, mari kita jajan dulu sepuasnya. Yang diuntungkan si mamang yang jualan dong.

Tergoda dengan jagung yang panas dengan keju yang lumer saya akhirnya jajan juga. Berdua dengan suami karena porsinya cukup banyak.

"Borong Bu, mumpung si Ade Fahmi ga ada. Nanti kalau Ade Fahmi pulang, ibunya kan yang puasa." Seloroh Bu Syifa. Kami semua tertawa.

Sambil jajan dan bercanda ditemani hujan yang tidak mereda saya lihat jauh ke perbukitan di sana masih tertutup awan dan kabut hujan. Entah kapan bisa berakhir.

"Bisa-bisa kita solat duhur disini nih," kata bapak-bapak sambil bercanda.

"Asal jangan nginep disini, kadung udah pergi dan ngasih tahu kita guru MA mau datang nih," timpal Bu Soni. Dan sampai adzan duhur terdengar, bener saja kami masih terjebak di depan ruko setengah jadi itu.

Setelah berdiskusi akhirnya sepakat untuk tetap berangkat melanjutkan perjalanan meksipun hujan dan harus pakai jas hujan. Bu Soni dan Bu Ruruh sampai membeli jas hujan sekali pakai di pinggir jalan demi kenyamanan putri-putrinya.

Resepsi Santri
Menembus hujan dengan jalan berbatu dan banyak kubangan

Enam motor kembali beriringan menerjang hujan. Sampai pertigaan menuju rawa getok (danau getok) jalan masih mulus. Tapi lewat pertigaan itu, asli jalan terjal berbatu ibarat sungai yang kekeringan (dan kali ini jadi sungai kering yang kehujanan) sampai berkali-kali mesin sepeda motor suami terbentur bebatuan jalan saking menonjolnya.

Tidak lama melewati rawa getok, jalanan mulai berkelok menurun curam. Saya sampai berpegangan dengan erat saking khawatir jatuh. Walaupun sebagian jalan sudah dicor tapi karena terhalang rimbunnya pohon bambu sehingga tumbuh banyak lumut dan menyebabkan jalanan licin.

Jembatan Rawa Getok penghubung beberapa desa yang terisolir ke kecamatan dan jalan nasional

Habis turunan yang curam itu (tandanya baru melewati satu bukit) kami melewati jembatan rawa getok. Jembatan cukup kuat dan bagus. Hanya jalan setelahnya masih banyak yang hancur.

Habis turun terbitlah nanjak. Ya setelah melalui jembatan rawa getok jalan kembali menanjak dan berbelok dengan tajam. Sampai kaget ketika di belokan yang sempit dari arah berlawanan ada kendaraan bak terbuka yang sedang melaju juga. Mobil itu segera menepi karena kami yang menanjak membutuhkan ruang lebih banyak.

Baru tahu kalau tanjakan itu ternyata tanjakan Sukalaksana yang viral karena banyak netizen yang bikin konten di tanjakan curam seperti cacing tersebut.

Baru tahu saat sudah di tempat resepsi kemudian, kalau paginya, saat mengantar calon pengantin laki-laki kendaraan dari Ponpes Mazroatul Ulum Citiis, hampir semuanya tidak bisa menyelesaikan tanjakan curam yang berkelok itu. Para santri pun sigap standby di pinggir jalan lalu mendorong kendaraan yang tidak melaju sehingga akhirnya bisa melewati tanjakan viral tersebut.

Resepsi Santri
Salah satu tanjakan curam yang kami lewati menuju resepsi santri di "ujung dunia". Ini mending jalannya sudah dicor. Tanjakan lain masih berbatu, bikin ngeri...

Ketika sampai di depan Kantor Desa Girimukti (yang ada di maps) ada persimpangan jalan. Takut salah, kami bertanya ke penduduk setempat dan ditunjukan jalan kalau mau ke kampung Sidamukti ambil arah yang ke kiri.

Berkali-kalai melewati jalan naik turun lagi hingga kami sampai di puncak bukit yang entah keberapa dan disini selain banyak pohon pinus banyak pula di bawahnya ditanam pohon kopi.

Resepsi Santri
Pemandangan dari atas awan. Melintasi beberapa bukit yang lokasinya tidak ada dalam Gugel Maps

Dari sini saya baru berani melihat pemandangan sekitar karena hujan mulai mereda. Masyaalloh... ternyata posisi saat itu beneran berada di puncak bukit. Melihat ke bawah sana, terlihat begitu kecil jalan tadi yang sempat dilewati. Rasanya takjub banget.

Melihat awan putih bergerak berarak di bawah sana seolah kami ini berada di atas awan. Sungguh pemandangan yang luar biasa. Berasa beneran bepergian ke ujung dunia saja. Haha...

Ternyata dari situ menuju ke lokasi resepsi masih harus mengendarai sepeda motor sekitar setengah jam. Jalan lumayan bagus karena sudah diaspal sebagian. Sebagian lagi ya rusak gitu deh. Apalagi kalau ada yang longsor, biasanya kan tidak segera diperbaiki jadinya ya rusaknya merembet.

Resepsi Santri
Naik turun berkelok-kelok. Perjuangan menuju resepsi di ujung dunia...

Hingga jam 13.00 wib akhirnya kami tiba di masjid Jami kampung Sidamukti. Di sana sudah banyak santri yang menunggu kami. Karena sebelumnya mereka selalu berkomunikasi dengan Bu Soni.

Kami memarkirkan sepeda motor, menanggalkan jas hujan dan tanpa benerin make up langsung menuju kampung di bawah sana menuju lokasi resepsi. Iya, masih harus jalan kaki lagi... wasai... beneran perjalanan menuju resepsi di ujung dunia banget ini mah...

Jalan kaki dengan kondisi menurun yang licin bikin kami merayap sambil berpegangan. Terlihat gamis para guru wanita udah kotor dan basah, ah cuek saja. Boro-boro memperhatikan penampilan, selamat di perjalanan aja udah bersyukur banget.

Dan hal yang tidak diinginkan beneran terjadi. Bu Soni yang berjalan depan saya tidak mampu menahan berat badan hingga saat menginjak jalan tanah yang basah licin berlumut akhirnya terjatuh. Blug!

Astagfirullah... saya langsung menjerit dan berusaha membangunkannya. Walau ga bisa karena postur tubuh Bu Soni jelas lebih tinggi besar daripada saya. Setelah datang suaminya yang berjalan di belakang akhirnya bisa bangun dan mencoba melanjutkan perjalanan.

Pakaian kotor tidak begitu terlihat karena ditutup kardigan dengan warna senada. Padahal menuju tempat resepsi sekitar 50 meteran lagi. Namanya musibah ga ada yang tahu ya. Yang dikhawatirkan jatuh di perjalanan tadi saat mengendarai motor, eh ternyata malah jatuhnya di halaman rumah.

Sesampainya di depan rumah pengantin dan panggung resepsi lantunan sholawat serentak dibawakan para santri menyambut kedatangan kami. Ada rasa haru, ada rasa sedih semua menyatu mengingat perjuangan perjalanan menuju resepsi di ujung dunia ini.

Resepsi Santri
Akhirnya sampai juga di resepsi santri di ujung dunia

Saat berfoto bersama saya lihat di ponsel, ternyata lokasi kampung itu tidak terdeteksi alias belum muncul di gugel. Pantesan lihat di maps hanya sampai Desa Girimukti saja. Kampung Sidamukti nya ini tidak terlacak radar rupanya. Beneran berada di ujung dunia. Di Kabupaten Cianjur ternyata masih banyak pelosok yang belum dikenal Gugel nih... Padahal katanya dari sini itu ke wilayah Kabupaten Bandung udah lebih dekat.

Selesai foto bersama (saya sengaja tidak ikut dan seperti biasa memilih jadi tukang foto saja) kami dipersilahkan untuk menyantap hidangan yang sudah tersedia. Tentu saja kami segera menyerbunya. Udah perjalanan jauh dengan kondisi tubuh kadinginan akibat hujan pastinya lapar tidak tertahan. Alhamdulillah selesai makan hujan mereda.

"Bu, kita pulang duluan saja. Mumpung tidak hujan. Kalau keburu kita sholat di rumah saja. Sholat di jalan juga ini pada basah dan kotor kan?" Suami berbisik disela obrolan bersama keluarga besar ponpes. Saya menyetujuinya. Langsung berkemas.

Resepsi Santri
Ketika pulang cuaca berubah cerah. Pemandangan sejauh mata melihat tampak jelas tanpa tertutup kabut

Sesampainya di atas dekat masjid Jami Sidamukti tempat kendaraan diparkir, cuaca benar terlihat cerah. Awan putih bergeser menjadi langit yang biru. Karena itu jas hujan semua dilipat saja. Kami berpamitan pulang tanpa mengenakan jas hujan lagi.

Kami pulang duluan karena tidak ikut rekan-rekan guru lainnya yang mau main dulu ke Curug Citambur. Saat berangkat, waktu menunjukkan pukul 13.33 wib. Target suami setengah tiga sore itu kami harus sudah sampai di rumah, supaya bisa menjalankan sholat duhur walau hampir akhir waktu.

Saya kira saya dan suami saja yang pulang lebih dahulu. Ternyata duo Pak Asep juga mengikuti kami di belakang. Bedanya duo Pak Asep itu setelah lewat Rawa Getok mampir dulu di masjid untuk solat duhur.

Resepsi Santri
Sekian lama menerjang jalan berbatu akhirnya sampai di pertigaan Rawa Getok lagi. Hati senang ketika bertemu jalan cor nasional dan muncul kendaraan elf Ciwidey Kab Bandung - Pagelaran

Saya dan suami tiba di rumah pukul 14.25 wib. Kalau pulang berasa cepat banget ya? Hehe... Cuaca juga cerah. Dasar... tapi ya alhamdulillah, kami kembali ke rumah dengan sehat dan selamat setelah menghadiri acara resepsi murid santri di ujung dunia...

Read more ...