Sepertinya ayam di belakang rumah --yang ributnya gak ketulungan, petak-petok sangat berisik sambil gak mau diam, naik turun padahal jelas kalau hendak bertelur ya tinggal ngeram di tempat yang sudah disediakan jerami saja --kalah tersaingi dengan mondar-mandirnya saya karena sangat khawatir begitu mendapat kabar kalau di Padang Sumatera Barat dan sekitarnya telah terjadi bencana banjir serta longsor.
Pikiran saya langsung melesat ke anak semata wayang yang sedang menuntut ilmu di pelosok kabupaten Solok, Sumatera Barat. Bagaimana kondisinya sekarang? Apakah terkena dampak banjir dan longsor? Apakah baik-baik saja? Dan ribuan pertanyaan lainnya yang muncul silih berganti berjejal di kepala bikin saya tak kalah riweuh dibandingkan ayam yang mau bertelur di belakang rumah itu tadi.
Hujan deras yang mengguyur Sumatera sejak akhir November 2025 membawa banjir bandang dan tanah longsor yang meluluhlantakkan banyak wilayah di Pulau Andalas.
Di Aceh, di Sumatera Utara, dan di Sumatera Barat ada ribuan rumah hanyut, sekian banyak jalan terputus, dan ratusan ribu orang harus mengungsi.
Bagaimana tidak khawatir, kalau anak merantau di sana sendirian, pun belum bisa dibilang mandiri. Jangankan kondisi serba darurat, keadaan normal saja masih harus sering banyak diingatkan dibantu dan dinasehati.
Yang paling membuat khawatir itu nomor ponsel ustadz biasa kami komunikasi tidak aktif! Ya Allah bagaimana tidak tenang, coba? Bagaimana seorang ibu tidak akan gelisah (sampai ayam bertelur saja kalah) kalau anak berada di dekat daerah bencana sementara tidak dapat dihubungi.
Group wali santri kelas 1 angkatan anak saya, yang kebanyakan berasal dari Jawa Barat dan Banten pun makin berisik. Saling tanya saling info. Benar-benar mendebarkan hingga akhirnya didapat info dari Wali Pengasuhan Pondok kalau Ustad yang biasa berkomunikasi dengan kami sudah berangkat ke Mesir untuk melanjutkan pendidikannya. Oalah, pantesan ponselnya tidak aktif.
Sebagai penggantinya Wali Pengasuhan Pondok memberikan informasi kalau semua anak PMDG di Kampus 9 Alhamdulillah baik-baik saja. Nah, baru deh kekacauan sedikit mulai mereda.
Paling tidak kekhawatiran akan kondisi anak sudah tidak sebesar sebelumnya. Apalagi keesokan harinya anak juga menelepon. Memberi kabar kalau ia sehat dan baik-baik saja.
Hanya tidak bisa nelepon lama-lama karena gantian katanya. Secara saat itu sinyal timbul tenggelam dan listrik sering mati.
“Walau disini gak kena bencana tapi sepertinya ikut darurat, Bu…” kata Fahmi, anak saya dengan suaranya yang terputus-putus.
“Gak apa darurat juga ya, Mi. Yang penting bersyukur Ami sehat, selamat, dan tidak lupa terus berdoa supaya semuanya lebih baik dan dimudahkan.”
“Iya, Bu. Aamiin…” katanya kembali terputus-putus.
Saya yakinkan kepada anak kalau di tengah serba kekacauan itu, percaya akan selalu ada hikmah. Akan terlahir kisah-kisah ketangguhan yang menghangatkan hati. Cerita bahagia dan inspiratif walaupun tetap dalam bencana mah bisa dipastikan 99% nya adalah tentang luka dan duka.

Saat akhirnya komunikasi di wag kembali tersambung setelah salah satu ustadz bagian pengasuhan menjadi pengganti ustadz sebelumnya, akhirnya didapatkan kabar yang lebih detail kalau anak pondok semuanya sehat dan selamat.
Solok tidak terkena dampak bencana, hanya ada kebagian hujan dan angin dengan intensitas cukup kerap saja. Alhamdulillah…
Tapi meski demikian, kabar buruk muncul dari wali santri yang berdomisili di Padang dan sekitarnya (sudah pasti juga di Aceh mengingat di sana ada PMDG Kampus 8 yang mana santrinya 60% berasal dari Aceh dan sekitarnya).
Hingga saat tulisan ini dibuat, ada belasan wali santri di PMDG Kampus 9 tempat anak saya menuntut ilmu yang terdampak. Rumah kena banjir, kendaraan terbawa arus, kehilangan harta benda hingga ternak dan lahan pertanian.
Tak kuat menahan tangis mendengar cerita dan kesaksian wali santri lainnya di wag kalau salah satu santri ada yang rumahnya di kampung hilang terseret habis oleh arus banjir. Kabar orang tua dan keluarga lainnya juga belum ditemukan. Semoga saja hanya karena saluran telepon yang mati, sehingga belum bisa berkomunikasi, bukan karena hal lain. Hikz! Pokoknya sedih sekali rasanya.
Salah satu wali santri yang tinggal di Cipondoh sampai ada yang berseloroh jika saja ia bisa jual tanah di Tangerang, akan diboyong santri itu menjadi keluarga supaya anaknya ada temannya.
Karena terbayang bagaimana nanti ia pulang. Semua telah menghilang... Rumah dan tanah yang hilang bisa diganti dengan membeli di situs jual beli tanah terpercaya seperti Properti1.com lah kalau hilang orang tua dan saudara, bagaimana?
Refleks aksi gotong royong di tengah penderitaan itu pun bermunculan untuk saling menguatkan.
Kita bisa melihat di berita, warga di Aceh bahu-membahu membangun dapur umum dari bahan seadanya. Mereka memasak nasi dan lauk sederhana untuk dibagikan ke pengungsi tanpa memandang suku atau agama.
Para pemuda di Tapanuli Utara Sumatera Utara menjadikan masjid dan gereja sebagai posko bersama. Mereka menyalakan lilin, menyiapkan tikar, dan menjaga anak-anak agar tetap merasa aman.
Tak kalah heroik aksi ibu-ibu di Padang yang merajut solidaritas dengan membuat pakaian darurat dari kain sumbangan, memastikan setiap anak punya selimut untuk tidur di posko.
Di group wali santri keluarga besar PMDG Kampus 9 pun tak ketinggalan, para pengurus gercep menggalang dana untuk berbagai keperluan para korban bencana tersebut.
Meski banyak kehilangan, semangat warga tidak padam. Anak-anak diusahakan supaya tetap bisa belajar walaupun berada di tenda darurat, dengan papan tulis seadanya.
Relawan lokal menyalakan obor harapan dengan mengajarkan lagu-lagu penyemangat, agar trauma tidak menguasai jiwa.
Para petani yang sawahnya rusak bertekad menanam kembali, percaya dan semangat bahwa tanah Sumatera akan bangkit bersama kegigihan mereka.
Bencana ini bukan hanya tentang kerugian, tetapi juga tentang ketangguhan manusia. Warga Sumatera menunjukkan bahwa solidaritas adalah kekuatan yang lebih besar daripada banjir dan longsor.
Dari dapur umum hingga posko darurat, dari doa hingga kerja nyata, mereka membuktikan bahwa kemanusiaan tidak pernah tenggelam.
Gelombang boleh jadi mengakibatkan bencana, tapi sekaligus membawa gelombang solidaritas.

Air bisa saja membawa luka. Air—dalam bentuk hujan deras, banjir bandang, atau gelombang laut—bisa berubah dari sumber kehidupan menjadi kekuatan yang melukai.
Dalam konteks bencana di Sumatera, air melambangkan alam yang mengingatkan manusia bahwa ia tidak bisa sepenuhnya dikendalikan.
Luka yang dibawa air mengakibatkan kerusakan rumah dan tanah yang selama ini menopang kehidupan. Mengakibatkan hilangnya rasa aman, dan duka mendalam bagi mereka yang kehilangan orang tercinta.
Secara filosofis, luka dari air mengajarkan bahwa dunia ini adalah ruang yang terus bergerak dan berubah, dan manusia hidup di tengah ketidakpastian yang tak pernah sepenuhnya bisa ia kuasai.
Namun dibalik itu ketika alam membawa luka, justru ada manusia yang mampu membawa cahaya.
Cahaya yang dimaksud bukanlah sesuatu yang bisa menghapus bencana, tetapi yang memberi harapan setelahnya.
Ada uluran tangan-tangan yang saling membantu, masyarakat yang bahu-membahu mengevakuasi dan merawat, hingga melahirkan kehangatan solidaritas yang muncul secara tulus justru ketika segalanya remuk.
Cahaya manusia ini adalah simbol dari nilai tertinggi kemanusiaan: kemampuan untuk merespons kegelapan dengan kebaikan, untuk menyalakan harapan ketika dunia memadamkannya.
Fenomena alam ini mungkin jadi pengingat bahwa bencana bukan hanya tentang keruntuhan alam, tetapi tentang kebangkitan moral manusia.
Di tengah alam yang tak dapat dicegah, manusia tetap mampu memilih untuk menjadi penerang.
Ini bukan sekadar kalimat, tetapi sebuah refleksi bahwa kekuatan terbesar manusia bukan pada kemampuannya menahan bencana, tetapi pada kemampuannya merawat satu sama lain setelah bencana itu datang.
Mengutip tagline salah satu stasiun televisi, bahwa duka Sumatera adalah duka kita bersama. Yuk kita bantu semampunya... Biar air membawa luka tapi kita bisa menjadi cahaya pengobatnya...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar