Indonesia mencatatkan sejarah penting di panggung internasional dengan menjadi tuan rumah World Muslim Scout Jambore (WMSJ) 2025, sebuah ajang pertemuan besar para Pramuka muslim dari penjuru dunia.
Sebagai salah satu wali santri dari keluarga besar Pondok Pesantren Modern Darussalam Gontor (PMDG) tentu saja merasa bangga ketika jambore pramuka muslim dunia pertama kali diadakan di Indonesia oleh keluarga besar Gontor.
Dunia Wali Santri
Jauh sebelum liburan semester tiba, Bunda Raden, (Raden ini teman sekelas Fahmi di Gontor 9, dan saya sudah sering kontak-kontakan dengan mamanya itu sejak masih di Gontor 2) menginformasikan jika ia akan buka stand di perkemahan Cibubur pada acara Jambore Pramuka Gontor.
Kabar ini tentu saja sangat membahagiakan karena lapak Bunda Raden bisa jadi basecamp semua santri dari Gontor 9 termasuk keluarga besarnya.
Buat para emak, stand kuliner bisa jadi tempat cari wangsit untuk mendapatkan informasi terkait ide market day, secara Bunda Raden ini sejak lama sudah berpengalaman banget dalam jualan berbagai olahan kuliner.
Belum apa-apa wag wali santri pun sudah rusuh. Maklum ya, begitulah keseharian ibu modern, walau cucian numpuk, pekerjaan seabrek, tapi ngobrol di grup juga tetap aja jalan. Bahas berbagai rencana dan ide, janjian ketemuan (silaturahmi) di Cibubur saat jambore nanti salah satunya.
Awal bulan Agustus 2025 seluruh wali santri juga mendapatkan majalah Gontor. Di edisi Shafar dan Rabi’ul Awwal itu diinformasikan juga mengenai Jambore Pramuka Muslim Dunia ini.
Saat liburan semester, Raden sendiri ternyata tidak pulang. Memilih mukim dan berwisata di Padang dan sekitarnya bersama santri lain yang sama-sama tidak ambil jatah libur.
Beberapa hari menjelang balik pondok, teman sekelas Fahmi yang bareng pulang untuk liburan ke Jawa share info, kalau mereka mau main dulu ke area perkemahan Cibubur khususnya mendatangi stand Bunda Raden.

Peserta jambore dari Gontor 9 kedatangannya ke Cibubur memang bentrok dengan kepulangan santri yang liburan. Seandainya bisa ketemuan dulu di Cibubur pasti membahagiakan banget. Sayangnya ketika berkunjung ke lapak Bunda Raden, peserta jambore dari Gontor 9 justru sedang ke Ancol. Otomatis tidak berjumpa deh ... Sayang banget ya...
Meski begitu, tidak menyurutkan semangat kami. Baik peserta jambore, santri yang liburan mau balik pondok maupun para orang tua. Semua tetap optimis dan saling mendoakan semoga semuanya disehatkan, dilancarkan hingga nanti kembali berkumpul di rayon negeri di atas awan (sebutan untuk Gontor Kampus 9 karena berada di ketinggian)
Balik ke laptop aja ya. Kita cerita soal jambore nya...
WMSJ 2025
World Muslim Scout Jambore (WMSJ) 2025 diselenggarakan di Bumi Perkemahan dan Graha Wisata Cibubur (Buperta Cibubur) Jakarta pada tanggal 9 sampai 14 September 2025 atau 16-21 Rabiul awwal 1447 Hijriyah.
Acara jambore ini diselenggarakan oleh panitia 100 tahun Gontor melalui kepanitiaan World Muslim Scout Jambore 2025 berdasarkan SK nomor 5 tahun 1446H/2025M.
Kegiatan ini bukan hanya untuk mengenalkan Pramuka Indonesia ke dunia internasional tapi juga menjadi media transmisi nilai-nilai dasar kepramukaan seperti kerja sama disiplin dan semangat kooperatif.

Aspek pendidikan yang diperoleh peserta sangat lengkap mencakup kognitif atau ilmu keterampilan, efektif atau nilai dan sikap, serta fisik atau ketahanan dan kedisiplinan.
Gontor ingin menjadikan ajang ini sebagai sarana pembinaan talenta terbaik serta membangun jaringan persaudaraan lintas bangsa. Bukankah saat ini dunia butuh lebih banyak pemuda Muslim yang bisa menjadi agen perdamaian?
100 Tahun Gontor
WMSJ 2025 bukan hanya tentang tenda-tenda berdiri di lapangan, atau api unggun yang menyala di malam hari, lebih dari itu kegiatan ini merupakan simbol peradaban dan legasi Pondok Modern Darussalam Gontor kepada dunia.
Jambore ini adalah tonggak sejarah untuk memperlihatkan kontribusi Gontor dalam mencetak generasi muda yang tangguh berkarakter dan siap menjadi pemimpin dunia, sebagaimana dikatakan Prof. Dr. KH. Husnan Bey Fananie MA. selaku ketua panitia peringatan 100 tahun Gontor.
Kegiatan jambore juga mendukung peraturan presiden RI nomor 12 tahun 2025 tentang rencana pembangunan jangka menengah nasional (RPJMN) 2025-2029 terutama pada butir Asta cita ke-4 dan ke-8 yang isinya menekankan pada penguatan pembangunan sumber daya manusia (SDM), pendidikan, sains, teknologi serta toleransi antar umat beragama dan harmoni sosial.

Kegiatan dalam Jambore ini terbagi dalam dua ranah utama onsite programme dan offsite programme. Keduanya dirancang secara sinergis untuk menjawab kebutuhan pembinaan generasi muda muslim secara utuh baik secara intelektual, spiritual, fisik maupun sosial.
Onsite Progrmme: wadah ekspresi dan pembinaan karakter
Berlangsung di area utama Buperta Cibubur onside program menghadirkan beragam zona kegiatan yang dirancang interaktif dan menyenangkan. Setiap zona menyuguhkan pengalaman unik yang menggabungkan edukasi eksplorasi dan hiburan bernilai.
Beberapa zona unggulan yang akan mewarnai 6 hari perkemahan, yaitu:
1 Technology and Science Zone
Zona ini menjadi ruang eksplorasi bagi peserta untuk mengenal lebih dalam dunia sains dan teknologi modern termasuk aplikasi teknologi ramah lingkungan dan inovasi digital.
Di sini peserta dapat mengikuti workshop eksperimen sederhana hingga simulasi teknologi yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari pendidikan dan kebencanaan.
2 Eco Green Scout Activities
Kesadaran lingkungan menjadi tema penting dalam agenda WMSJ 2025. Melalui aktivitas di zona ini peserta dilatih menjadi pramuka peduli lingkungan mulai dari praktik daur ulang, penanaman pohon, pengelolaan sampah, hingga pemahaman tentang krisis iklim global.
Pendekatan edukasi dilakukan secara praktis agar peserta mudah menyerap dan menerapkannya dalam kehidupan nyata.
3 Art for Peace and Literacy Corner
Kreativitas dan literasi mendapat tempat khusus dalam Jambore ini. Zona ini memadukan seni budaya dan literasi sebagai media kampanye perdamaian dan toleransi antar budaya.

Peserta disuguhkan workshop seni lukis, kaligrafi, puisi serta pojok baca yang berisi buku-buku Islam internasional, sejarah pramuka dan tokoh muslim dunia.
4 Scout Game Time and Sports Corner
Sebagai bagian dari pengembangan fisik dan sportivitas zona ini menghadirkan beragam permainan pramuka, olahraga tim dan kompetisi persahabatan.
Selain menumbuhkan semangat fair play kegiatan ini juga memperkuat jiwa kompetitif, kerjasama tim, dan kekuatan mental peserta.
5 Challenge Your Limits
Zona ini menjadi tantangan tersendiri bagi peserta. Berisi aktivitas fisik berbasis petualangan dan ketahanan seperti halang rintang, panjat tebing mini dan survival skill games.
Tujuannya adalah melatih ketangguhan mental, keberanian serta pengambilan keputusan cepat dalam situasi sulit.
6 Pentas Talenta Pramuka Muslim Dunia
Ajang ini menjadi wadah apresiasi atas potensi dan bakat peserta dari berbagai negara dari penampilan seni budaya, orasi kepemudaan hingga pentas nasi dan tarian tradisional.
Semuanya dirancang untuk memperkuat identitas budaya dan mempererat persahabatan lintas negara.
7 Anjangsana Antar Kontingen
Sebagai ruang silaturahmi, peserta berkesempatan mengikuti sesi anjangsana atau kunjungan antar tenda kontingen. Di sinilah nilai-nilai toleransi persaudaraan dan komunikasi antar budaya dibangun secara nyata.
Masing-masing kontingen diberi kesempatan untuk memperkenalkan budaya makanan khas dan keunikan negaranya.

Offsite Programme: Menjelajah Warisan Budaya dan Alam Indonesia
Tak hanya beraktivitas di dalam area perkemahan para peserta jambore juga diajak untuk menjelajahi keindahan dan keberagaman Indonesia melalui kegiatan luar perkemahan.
Offsite Programme ini dirancang sebagai wisata edukatif dan diplomasi budaya untuk mengenalkan Indonesia sebagai negeri yang kaya akan nilai-nilai kemanusiaan sejarah dan lingkungan.
Adapun destinasi yang dikunjungi yaitu taman mini Indonesia Indah, kebun Raya Bogor, monumen Nasional Monas dan Masjid Istiqlal.
Fakta Angka WMSJ 2025
Ada 200 regu peserta jambore dari Pondok Modern Gontor putra dan putri yang ikut berpartisipasi. Jika ditotal ada sekitar 2000 peserta.
Sebuah kehormatan bagi PMDG ada sekitar 400 Pesantren anggota FPAG yang tersebar di dalam dan luar negeri ikut hadir di acara spektakuler ini.
Tidak ketinggalan tercatat ada 12 sekolah Islam Internasional mewakili berbagai negara seperti Malaysia, Inggris, Australia hingga Sudan juga hadir di WMSJ 2025.
Ada 8 sekolah Islam nasional non Gontor yang turut berpartisipasi sebagai bagian dari jaringan kepramukaan nasional dalam jambore ini.
Pramuka dari negara-negara OKI seperti Arab Saudi, Turki, Mesir, Pakistan, Iran serta negara-negara Asia Tengah dan Afrika lainnya juga ikut memeriahkan acara jambore ini.
Tidak heran kalau peserta jambore ini membludak dengan rincian terdiri dari 15.000 peserta dalam negeri dan 200 peserta luar negeri.
Sebanyak 1500 relawan dan panitia Gontor terlibat dalam pengelolaan logistik, keamanan, kesehatan dan pelayanan selama jambore berlangsung.
Kurang lebih 25.000 hingga 40.000 pengunjung umum setiap hari mulai dari pelajar, orang tua, tokoh masyarakat hingga diplomat asing yang tertarik dengan konsep Jambore ini datang ke Buperta Cibubur Jakarta.

Momen Berkesan di WMSJ 2025
Kabar yang tidak kalah heboh dan jadi cerita tersendiri bagi para santri, alumni, maupun masyarakat umum adalah kehadiran tokoh terkenal yang ikut memeriahkan acara jambore ini.
Ada banyak tokoh yang berpartisipasi di acara jambore ini. Baik alumni Gontor maupun intelektual muslim lainnya termasuk artis. Seperti Ahmad Fuadi penulis novel trilogi Negeri Lima Menara, Wali Band, Fathin Shidqia, Iwan Fals sampai Raffi Ahmad.
Bagaimana tidak terharu, ketika Iwan Fals melantunkan lagu yang ia ciptakan khusus untuk kesyukuran 100 tahun Pondok Modern Darussalam Gontor. Semua peserta jambore larut terbawa suasana.
Malam itu, malam kedua di Bumi Perkemahan Cibubur terasa berbeda. Lampu panggung berpendar, layar LCD raksasa masih berdiri tegak menyaingi pepohonan, dan ribuan santri duduk rapi di lapangan utama.
Dari luar pagar besi, penonton umum tetap bisa menyaksikan kilau panggung musik Iwan Fals meski hanya dari kejauhan.
Tidak ada kericuhan, tidak ada botol melayang, bahkan tidak ada jingkrak-jingkrakan yang biasanya menjadi ikon konser musik tanah air.
Semua terkendali. Di tangan para santri Gontor, pentas musik di acara WMSJ 2025 itu pun tunduk pada disiplin dan akhlak.
Pernah baca, penelitian antropologi pendidikan mencatat bahwa pola disiplin di pesantren Gontor telah menjadi cultural capital yang membentuk perilaku kolektif santri.
Menurut M. Dawam Rahardjo (1995), Gontor menempatkan disiplin sebagai "sistem nilai internal" yang lebih kuat dari aturan formal negara. Maka tak heran, bahkan konser musik pun bisa berjalan tertib tanpa aparat keamanan, meski yang tampil di panggung, seorang legenda, Iwan Fals! Allahuakbar...

Yang unik, di acara Gontor ini bukan panitia yang mengundang Iwan Fals, melainkan Iwan Fals sendiri yang meminta hadir. Bayangkan...
Iwan Fals —sosok yang selama puluhan tahun dikenal sebagai penyambung lidah rakyat— merasa perlu menyambung lidahnya dengan santri.
Sungguh jarang seorang musisi nasional rela menukar posisi. Bukan diminta tampil, melainkan ia yang meminta sendiri untuk ikut serta dalam hajatan seabad Gontor yang fenomenal ini.
Seolah ada magnet spiritual yang lebih kuat dari sekadar undangan formal.Terlebih ketika ia menyanyikan lagu baru yang diciptakan khusus untuk peringatan seratus tahun Gontor. Iwan Fals seolah tidak ingin ketinggalan menuliskan sejarah, seperti yang pernah dilakukannya untuk berbagai peristiwa besar lainnya di negara ini.
Di media sosial sangat ramai respon terhadap lagu ciptaan Iwan Fals untuk Gontor. Banyak alumni menulis menggambarkan perasaan "menangis jiwa", terharu mendengar langsung suara hati Iwan Fals, menggambarkan Gontor dari nol hingga usia 100 tahun.
Kesaksian itu mencerminkan rasa kolektif, bahwa konser malam itu bukan hiburan, melainkan ziarah batin.
Iwan Fals tidak sekadar bernyanyi, ia menjadi penyambung syukur sebuah pesantren yang bertahan dalam gempuran zaman.
Dalam wawancara setelah acara, Iwan mengaku kagum dengan kesederhanaan pesantren. Kekuatan silaturahmi, rasa syukur, kasih sayang. Iwan bahkan merasa kecil di hadapan santri Gontor yang belajar kitab, bahasa Arab, dan bahasa Inggris sekaligus.
Dari seorang musisi yang terbiasa memberi suara, malam itu ia justru lebih banyak menerima. Ia merasa menjadi murid, bukan guru.
Berikut lirik lagu ciptaan Iwan Fals untuk Gontor. Kalau ada salah tolong informasikan ya, secara saya rekam dan catat ulang sedapatnya, pasti ada kekeliruan...
100 Tahun Gontor by Iwan Fals
Di ponorogo yang sunyi, Trimurti nyalakan api
Sebuah pondok lahir dari niat suci
Santri datang dengan harapan membawa mimpi negeri
Seratus tahun benih di tanam kini pohon bersemi
Dari lumbung padi desa, suara azan menjadi kompas
Bahasa Arab, Bahasa Inggris dan kitab menyatu tanpa batas
Disiplin jadi darah, ikhlas jadi nafas, Pesantren berdiri tegak walau zaman semakin keras
Anak kampung jadi pemimpin
Alumni pergi jauh
Ada yang jadi guru, ada yang jadi diplomat, ada yang jadi penyeru
Tak terhitung nama mereka tersebar
Bagai embun biru
Membawa ruh Darusalam
Dimanapun mereka tumbuh
Wahai Gontor rumah ilmu, rumah jiwa yang merdeka
Bukan milik pribadi, tapi wakaf untuk umat semua
100 tahun engkau berjalan
Setia pada cita-cita
Menggembleng manusia, bukan hanya mengejar nama
Mari kita nyanyikan bersama
Lagu syukur yang sederhana
Pondok 100 tahun berkahnya untuk dunia
Trimurti tersenyum dilangit
Melihat amanah terjaga
Api itu tak pernah padam
Akan terus menyala
---
Lirik tersebut ditulis langsung oleh Iwan Fals dan dinyanyikan pada Cultural Night Show, World Muslim Jamboree 2025, 100th Gontor, di Cibubur.
Keesokan harinya lagi, saat cuaca kurang bersahabat, hujan turun dengan deras disertai petir, hadir pula Raffi Ahmad, Utusan Khusus Presiden Indonesia Bidang Pembinaan Generasi Muda dan Pekerja Seni. Kedatangannya yang disambut hujan tidak menyurutkan semangat peserta Jambore, Raffi pun turun kelapangan sambil hujan-hujanan. Luar biasa.

Lucunya santri Gontor, ditengah banjir yang melanda tenda, mereka tetap tertawa bahagia sambil membuat parodi tarian Pacu Jalur, tradisi balap perahu tradisional masyarakat Melayu di Kabupaten Kuantan Singingi, Riau berkat fenomena “aura farming” yang viral. Dasar anak-anak pondok... Yang pasti pengalaman seru itu kelak pasti susah untuk dilupakan, deh!


Tidak ada komentar:
Posting Komentar