Selasa, 12 Maret 2024

Faktor Naik Turun Semangat Berpuasa Anak di Bulan Ramadan

Fahmi putra saya berusia 11 tahun di bulan Maret ini, bertepatan dengan bulan Ramadan 1445 H.

Jauh sebelum bulan puasa tiba, ia selalu mengatakan kalau tak sabar rasanya ingin segera bulan puasa. Saya sendiri sampai merasa tidak percaya ketika Fahmi lebih antusias menanti kepastian sidang isbath, penentuan kapan jatuhnya tanggal 1 Ramadan dibandingkan membicarakan peringatan hari lahirnya pada awal Maret lalu.

Sampai saudara dan tetangga saya ada yang merasa heran. Katanya Fahmi mah beda ya, anak lain mah merasa enggan memasuki bulan puasa teh (mungkin malas menahan lapar) sementara Fahmi malah begitu antusias menginginkannya.

Padahal saat saya tanya, kenapa ingin segera memasuki bulan puasa? Jawabannya biar banyak makanan yang enak-enak saat berbuka, biar bisa main di halaman masjid setelah pulang solat tarawih seru kan bisa main petasan dan perang sarung-sarungan, dan biar bisa punya uang banyak, secara emang adik saya suka ngasih reward ke Fahmi kalau ia berhasil full tamat sebulan menjalankan puasanya.

Glek! Ada-ada saja dasar bocah! Kirain pengen segera memasuki bulan Ramadan itu alasannya apa, yang lebih kuat dan sahih, kek. Seperti biar bisa menamatkan bacaan Al Qur’an , atau biar bisa ikut pesantren kilat, dan sebagainya. Ini ternyata alasannya sungguh di luar nurul.

Anak di daerah lebih antusias menyambut puasa ?
Anak di daerah lebih antusias menyambut bulan Ramadan?

Tapi setidaknya, menurut saya pribadi sudah bagus itu anak sejak dini memiliki keinginan dan ketertarikan akan menjalankan ibadah di bulan suci umat Islam. Soal alasannya yang masih dianggap kekanak-kanakan, itu bisa diluruskan secara bertahap sesuai dengan tingkat usia dan kedewasaannya.

Fahmi sudah belajar puasa sejak usia lima tahun. Tentu saja tidak langsung seharian full. Melainkan secara bertahap, mulai seperempat hari, setengah hari, sampai bisa berpuasa sehari full.

Selain itu mungkin karena di rumah kami setiap hari ada anak mengaji, jadi ia sering mendengarkan bagaimana anak-anak santri diceritakan apa saja keutamaan puasa, fadilah puasa, bagaimana besarnya pahala puasa dan informasi sesuai didapat dari ajaran guru melalui kitab kuning terkait ibadah puasa lainnya sering ia dengar. Mungkin secara tidak langsung informasi dasar itu sudah tersampaikan dan dicerna secara mandiri oleh jiwa raganya.

Begitu juga dengan lingkungan sekitar tempat tinggal kami di kampung ini. Dibandingkan dengan kondisi keadaan di perkotaan yang sudah lebih heterogen, bulan puasa di pedesaan terasa lebih khidmat dan suasananya lebih kental.

Aktivitas keagamaan baik untuk anak-anak maupun orang dewasa sebagai pengisi ibadah di bulan Ramadan masih cukup padat dan diutamakan. Yah, meski tidak bisa dipungkiri saat ini ke pedesaan juga sudah masuk godaan dari yang namanya gadget dan game online. Dan itu pengaruhnya sangat kuat sekali, tapi setidaknya ada kegiatan seperti pesantren kilat, tadarusan, kaligrafi, dan kegiatan mengaji lainnya bisa sedikit meluruskan kebiasaan yang seharusnya dijalankan anak-anak.

Ibadah puasa anak tergantung bagaimana keluarga mendidiknya
Kebiasaan dalam keluarga menentukan bagaimana anak dapat menjalankan ibadah puasa

Beda dengan cerita keponakan teman saya yang tinggal di perkotaan. Mau ikut pesantren kilat harus diantar jemput karena lokasinya jauh dari rumah. Mau ke masjid harus didampingi karena dengan tetangga sudah acuh tak lagi saling menjaga dan memperhatikan.

Mau belajar mengaji harus keluar biaya dan waktu mengingat di perkotaan mendatangkan guru mengaji itu ibarat mendatangkan guru les/ privat. Beda dengan di kampung ustadz dan ustadzah masih banyak yang mengabdikan diri dengan sukarela. Bahkan pada umumnya di sini mengajarkan mengaji itu tanpa dibayar. Tinggal kemauan dan semangat anaknya saja.

Jadi kalau ada anak yang antusias menyambut bulan Ramadan maupun anak yang acuh dengan bulan suci umat Islam, tinggal kita lihat saja bagaimana keseharian anak itu apakah bergaul di keluarga yang agamis, atau tidak.

Begitu juga dengan lingkungan tempat tinggalnya, apakah lingkungan sekitar tempat tinggalnya cukup agamis atau lingkungan heterogen seperti di perkotaan pada umumnya?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar