Tahun ini menjadi tahun terakhir anak saya duduk di bangku sekolah dasar. Tidak terasa, mau enam tahun ia menghabiskan masa belajar mengenakan seragam merah putihnya. Serasa baru kemarin anak masih malu-malu masuk di kelas satu, saat saya antar pada hari pertama masuk sekolah.
Sejak anak masuk sekolah, saya mulai menerapkan pola hidup minim sampah yang sudah saya jalankan selama saya bekerja dan tinggal di Taiwan.
Pola Hidup Minim Sampah
Apa itu gaya hidup minim sampah?
Majikan saya di Taiwan bilang kalau konsep gaya hidup minim sampah adalah konsep meminimalisir produk yang menyumbangkan sampah.
Selain aktivitas kita sehari-hari fokus untuk mengurangi sampah, gaya hidup ini juga menekankan supaya kita menggunakan sumber daya yang ada dengan bijak.
Jujur, awalnya saya merasa tersiksa dan ribet menerapkan pola hidup ini. Tapi karena takut oleh majikan (haha...) saya mau tidak mau selalu menerapkan pola hidup minim sampah ini dan lama-lama jadi terbiasa. Hingga merasakan benar bagaimana manfaatnya. Akhirnya saya menerapkan pola hidup minim sampah ini pada keluarga kecil saya, hingga sekarang. Jadi tidak instan ya, melainkan melalui perjuangan juga.
Padahal kalau boleh jujur juga, kondisi lingkungan tempat saya tinggal ini justru sangat bertolak belakang dengan pola hidup minim sampah ini. Bagaimana tidak, masyarakat sudah terbiasa buang sampah ke sungai dengan alasan ga ada pembuangan sampah lainnya. Hiksz!
Aparat desa saja, bahkan dinas kebersihan pasar kecamatan, membuang sampahnya itu ya ke sungai. Sisanya dibakar atau dijual. Miris bukan?
Mungkin karena kebiasaan di lingkungan dan rumah masing-masing yang terbiasa buang sampah sembarangan itu, anak-anak mengaji di rumah, dan anak sekolah di sekolah di mana anak saya ikut belajar di sana, sangat susah dibilangin untuk membuang sampah kepada tempatnya.
Padahal masalah sampah sudah sangat jelas bisa menimbulkan pencemaran yang akan merusak lingkungan. Termasuk ketika lingkungan sekolah anak rusak karena terbiasa buang sampah sembarangan, dapat menjadi sumber penularan penyakit. Selain mengganggu estetika, serta menurunkan tingkat kenyamanan dan pada akhirnya mengganggu berjalanya proses belajar mengajar, bukan?
Pola Hidup Asyik Minim Plastik
Bersama wali kelas, saya pernah mengajak para wali murid lainnya untuk menerapkan berbagai cara demi mengurangi sampah plastik di sekolah untuk menjaga lingkungan.
Misalnya dengan mengganti botol minum plastik anak-anak yang sekali pakai dengan botol minum sendiri yang bisa dicuci ulang.
Saya sendiri menerapkan disiplin kepada anak untuk mengurangi jajan yang dibungkus plastik, atau minuman menggunakan sedotan plastik, kecuali nanti membuang sampah plastiknya ke tempat sampah.
Kami juga menyediakan tempat sampah terpisah antara organik dan anorganik di setiap kelas dan sudut halaman sekolah sehingga anak-anak sudah mulai belajar memilah sampah.
Saya dan wali kelas juga mengimbau kepada para wali murid untuk mengganti kantong plastik bungkus bekal anak-anak dengan kantong kain, atau tas yang bisa dicuci ulang lainnya.
Selain tentu saja semua guru juga menerapkan kampanye kesadaran lingkungan kepada seluruh murid, yang biasa disampaikan oleh pembina upacara ketika upacara bendera hari Senin.
Daur Ulang Sampah Plastik
Gagasan ini memang berasal dari kurikulum pendidikan di sekolah. Namun pada realisasinya anak tidak bisa melakukan dengan baik karena lebih condong ke kebiasaan buruk di awal yaitu membuang sampahnya sembarangan.
Lalu bagaimana cara mengajarkan kepada siswa sekolah tentang pengelolaan sampah? Yang kami lakukan di sekolah anak adalah:
Melalui guru seni budaya dan keterampilan mengajarkan kepada anak untuk membuat sampah daur ulang menjadi karya seni.
Belajar sambil bermain. Biasanya hari Sabtu, siswa membawa bekal dan mengajaknya main ke sungai yang lokasinya memang dekat dengan lingkungan sekolah. Di sana dengan suasana santai memberitahukan kepada anak bagaimana sampah bisa mengakibatkan banjir kalau dibuang sembarangan ke sungai, dan sebagainya.
Melihat Langsung. Saat akhir pekan lainnya supaya anak tidak bosan main ke sungai melulu, kami ajak sepulang sekolah ke tempat pengepul. Dimana di sana banyak ditampung botol plastik bekas, dan barang rongsokan lainnya dimana semua itu bisa didaur ulang kembali.
Tidak hanya itu, yang lebih ketat lagi adalah upaya anak-anak dalam menjaga kebersihan kelasnya. Bagaimana mereka menjaga kelasnya dan kebersihan lingkungan sekolah misalnya dengan membuang sampah pada tempatnya, selalu membersihkan kelas setiap hari sesuai jadwal piket yang telah dibuat, memisahkan sampah kering dan sampah basah, mendaur ulang barang yang sudah tidak terpakai menjadi kerajinan, dan lain sebagainya.
Memang ya, sampah plastik saat ini bukan hanya tanggung jawab segelintir orang, namun menjadi tanggung jawab semua pihak termasuk kita.
Mengenalkan kepada anak sekolah akan pola hidup minim sampah lebih baik sehingga anak terbiasa sejak kecil, syukur-syukur seiring bertambah usianya anak bisa menerapkan dan menularkan kebiasaan baiknya itu kepada lingkungan sekitarnya kelak. Dengan begitu, secara sendirinya karakter baik peduli lingkungan akan tercipta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar