Selasa, 31 Oktober 2023

KaDO di Halaman

Baru saja hujan turun sekitar tiga kali, itu pun masih diselingi cuaca panas terik, sudah ada empat orang yang menagih janji, untuk memberikan bibit tanaman yang berkhasiat untuk obat-obatan secara alami.

Di halaman rumah saya memang banyak ditanam beberapa tanaman herbal ataupun apotik hidup. Saat musim kemarau sekitar tiga bulan kemarin, banyak tetangga yang meminta tanaman tersebut untuk mengobati penyakit yang dideritanya. Alhamdulillah meski kemarau, air sumur kami tidak kering. Jadi masih bisa dipakai untuk menyirami halaman sekitar 400m³ tersebut.

Mereka minta tanaman obat itu ke saya karena selain memang tidak punya lahan untuk menanam, mereka yang punya pun mengaku tanaman nya mati karena kekeringan. Jadi sekaligus minta bibit tanamannya. Hanya saya jawab nanti saja kalau sudah masuk musim penghujan. Secara dikasih sekarang pun kalau masih kemarau nanti takut tidak tumbuh maksimal.

Karena itu saat dua hari kemarin hujan turun di tempat kami, kemarin sore dan tadi pagi saat mau pengajian mingguan di kampung dan pesantren, buibu tetangga sudah ada yang minta bibit tanamannya. Padahal saya belum mempersiapkan sama sekali.

Secara tanaman yang dikembangbiakkan dengan distek, kan harus dipersiapkan dulu termasuk media tanamnya. Kecuali yang dikembangbiakkan dengan biji, saya memang nyimpan beberapa. Itu pun tetap harus disediakan media tanam yang bagus dan cocok sehingga bibit bisa tumbuh dengan bagus.

Jadi ingat perjalanan membawa beberapa bibit tanaman herbal dan obat itu ketika saya masih bekerja dan bolak balik ke ibukota dan sekitarnya sekitar delapan tahun lalu. Ya karena sebagian besar bibit tanaman herbal yang saya punya ini, berasal dari Kampoeng Djamoe Organik – Martha Tilaar Group.

Saat saya masih kerja di media yang berkantor pusat di Taiwan, sebagai jurnalis biro Indonesia, saya sering kebagian liputan untuk daerah luar Jabodetabek. Salah satunya ketika ada undangan launching produk kosmetika dari Martha Tilaar ini.

Saat itu semua media diundang mengunjungi Kampoeng Djamoe Organik (KaDO) Martha Tilaar sebagai pusat pendidikan pelestarian lingkungan yang beralamat di Kawasan Industri Cikarang.

KaDO di Halaman Okti

Berangkat dari meeting point di MC Donald Sarinah, rombongan media menaiki bus menuju Cibarusah Kawasan EJIP Pintu II, Cikarang Bekasi. Gak nyangka aja dulu itu, kalau di kawasan industri Cikarang masih ada lahan hijau. Suasananya beneran asri seperti di kampung saya sendiri. Gak heran sih karena ada ratusan pohon dan tumbuhan hidup di sana.

Saya senang main ke Kampung Djamoe Organik ini karena kita bisa bernapas dengan bersih dan bebas. Bukankah oksigen yang biasa kita hirup sudah hilang kualitasnya? Udara sudah bercampur polusi kerap kali membuat kita kekurangan oksigen. Di wilayah hijau oksigen bersih ini bisa kita temui.

 Suasana yang asri di tengah kawasan industri yang terus membuang polusi benar-benar sulit ditemui bahkan di ibu kota sekalipun. Semilir angin sejuk yang berembus dari rerimbunan pepohonan hijau di Kampung Djamoe Organik sudah bisa dirasakan sejak pengunjung masuk di gerbangnya.

Di kampung ini di samping kiri dan kanan dipenuhi dengan tanaman obat dan kosmetika (Toka) yang banyaknya lebih dari 650 jenis tumbuhan.

Kawasan lahan terbagi dua jenis sesuai klasifikasi tanaman, yaitu Aromatic Land dan Beauty Land.

Aromatic Land dipenuhi dengan tanaman-tanaman yang memiliki aroma. Seperti pandan, melati, som jawa, kolesom, kenanga, kamboja, kayu putih, dan masih banyak lagi.

Beberapa tumbuhan dinilai sebagai tanaman langka, dahulu bahkan dianggap mustahil dapat hidup di Indonesia seperti halnya zaitun, buah merah dan kemenyan bisa dibilang sebagai tanaman langka. Tapi ternyata dapat hidup di Kampung Djamoe Organik Martha Tilaar ini.

Lain lagi dengan Beauty Land yaitu lahan yang dipenuhi dengan tumbuhan yang bermanfaat bagi pemeliharaan kecantikan mulai dari rambut, tubuh dan kulit.

Tumbuhan yang terdapat di Beauty Land di antaranya, nanas, lavender, temu giring, jati, bengkoang, lidah buaya, dan banyak lagi.

Nanas itu baik untuk perawatan rambut, sedangkan lavender dan temu giring baik untuk perawatan kulit. Berbeda lagi dengan daun jati yang berkhasiat untuk tubuh untuk menjaga agar tidak obesitas.

KaDO di Halaman Okti

Di Kampoeng Djamoe Organik ini pengunjung diajak ke proses pemilihan dedaunan dan pengeringan tumbuhan-tumbuhan tadi yang sudah dipanen untuk dijadikan jamu. Semuanya terbuka untuk umum  agar dapat menjadi sarana edukasi bagi masyarakat.

Tidak hanya itu, di Kampung Djamoe Organik kita juga bisa mampir ke Rumah adat Manado yang mana berfungsi sebagai bangunan penyambutan juga berfungsi sebagai kedai sehat alami tempat pengunjung membeli jamu instan kemasan.

Di rumah adat inj juga dijual hidangan-hidangan yang dapat langsung disantap. Bahan baku makanannya tentu saja berasal dari hasil budidaya organik. Bukan fast food tapi slow food.

Dimana proses slow food dalam penyajian makanan di kedai ini membutuhkan waktu sedikit lebih lama untuk menjamin semua makanan yang akan disantap terhidang dalam keadaan hangat dan segar.

Saat pulang, kami diberi buah tangan berupa bibit pepohonan baik tanaman apotik hidup maupun tanaman obat dan kosmetika. Bebas pilih mau bawa yang mana saja. Saat itu saya membawa bibit Cangcauh (daun cincau hijau), zodia, handeuleum (daun merah), stevia, dan daun sirih.

Kecuali stevia, semuanya masih tumbuh dan bahkan sudah dikembangbiakkan. Bahkan Cangcauh udah menghasilkan uang lumayan karena daunnya sering diborong oleh penjual es cincau hijau.

Memiliki lahan ditanami tanaman obat dan kosmetika maupun apotik hidup memang banyak manfaatnya. Sebagai orang tua saya bisa melakukan hobi merawat tanaman, sekaligus menikmati alam yang asri. Sedangkan anak bisa jadi sarana edukasi untuk ikut menjaga alam.

Lebihnya ya bisa berbagi dengan kawan satu frekwensi. Berbagi kepada mereka yang juga hobi memelihara tanaman obat dan kosmetika walaupun dalam skala sederhana.

KaDO di Halaman Okti

Di kampung tempat saya tinggal, halaman rumah saya bisa dibilang memiliki tanaman obat herbal dan apotik hidup terlengkap. Dimata mereka kalau memerlukan tanaman obat atau apotik hidup tinggal datang saja ke rumah.

Saya sendiri memiliki keinginan untuk menambah ilmu dan wawasan terkait pengolahan tanaman herbal, serta apotek hidup ini dengan berbagi dengan teman-teman sesama pencinta tanaman obat dan kosmetika. Ngadain acara apa, semacam sharing gitu atau berbagi dan tukar bibit.

Keinginan yang sering muncul tapi belum pernah terealisasikan salah satunya mengunjungi Museum Jamu pertama di Indonesia Nyonya Meneer di Kaligawe Semarang Jawa Tengah.

Saat masih kerja, sering bepergian ke luar kota bahkan luar provinsi. Sambil menyelam minum air, sambil kerja bisa sekalian traveling mengunjungi lokasi wisata yang sedang ngetop.

Kini setelah murni jadi ibu rumah tangga di rumah saja, susah rasanya mau melangkah ke luar rumah itu. Untuk mendapatkan informasi lengkap seputar Museum Jamu Nyonya Meneer yang berdiri pada tanggal 18 Januari 1984 ini mungkin saya harus menghubungi Blogger Semarang.

Meski informasi bisa didapat melalui internet, tapi tetap saja datang langsung ke lokasi akan terasa beda sensasinya ya.

Apalagi museum sebagai cagar budaya untuk melestarikan warisan leluhur tak hanya bagus untuk nambah wawasan, tapi juga bisa jadi sarana edukasi dan rekreasi bagi generasi muda.

Sehingga kalau sudah tahu ilmunya, tanaman obat dan kosmetika di halaman rumah ini siapa tahu bisa diracik jadi hal yang lebih bermanfaat untuk kesehatan dan aktivitas kita.

KaDO di Halaman Okti
Read more ...

Sabtu, 28 Oktober 2023

Memaksimalkan Kinerja? Upgrade Gadget Jadul ke Laptop HP ProBook 440 G10

Berakit-rakit ke hulu sampai basah, menarik sampan saat gerimis. Genjot semangat kerja lembur pun tak masalah, demi bisa mendapatkan Laptop HP ProBook 400 G10 Series

Eea... HP ProBook 400 G10  Series emang keren dan lagi viral ya...

Memaksimalkan Kinerja? Upgrade Gadget Jadul ke Laptop HP ProBook 440 G10

Sumpah, jari-jari saya ini berasa udah keriting plus mengeras, saking lamanya kapalan dibawa ngetik sekian lama. Ya mau bagaimana, kalau gak kerja ya gak bakalan mendapatkan cuan.

Sayang sekali produktivitas saya sedikit menurun akhir-akhir ini karena tangan sering kebas, kesemutan. Mungkin karena saking seringnya memegang gadget dengan satu tangan, kebiasaan saat mengetik melalui ponsel android sebagaimana biasanya.

Belum lagi mata yang sudah menyesuaikan diri dengan usia, mulai kabur dan sering berair jika melototi layar ponsel yang tak lebih dari 6 inchi ini. Sungguh tidak nyaman.

Kepikiran untuk segera mengganti ponsel jadul ini dengan gadget yang lebih mumpuni, yaitu dengan Laptop HP, tepatnya HP ProBook 440 G10. Secara dengan laptop ini saya yakin bakalan bisa lebih maksimal lagi dalam melakukan pekerjaan. Dengan begitu siapa tahu penghasilan pun akan semakin lancar...

Bekerja makin maksimal dengan HP ProBook 400 G10 

Sebagai freelancer saya memerlukan gadget yang mumpuni untuk bisa menjalankan semua aktivitas yang dibutuhkan. Seperti mengetik, mendesign, berselancar dan sebagainya.

Gadget yang handal macam HP ProBook 400 G10  dengan keunggulannya sehingga saya bisa bebas bekerja dari mana saja saat saya butuhkan.

Kalau sudah punya alat tempur yang memadai seperti HP ProBook 400 G10, saya yakin saya bakalan bisa lebih fokus menjalankan pekerjaan. Mau berselancar di dunia maya, mau memantau bisnis, atau sekadar bersenang-senang nonton drama Korea atau mendengarkan musik, demi mengistirahatkan diri dari kepenatan kalau menggunakan laptop yang awet dan mudah diupgrade bawaannya pasti tenang.

HP ProBook 400 G10  emang didesign untuk gaya kerja yang nonstop. Performanya dirancang supaya bisa mendukung kegiatan bisnis sehari-hari.

Memaksimalkan Kinerja? Upgrade Gadget Jadul ke Laptop HP ProBook 440 G10

Bekerja dengan HP ProBook 400 G10 Bikin Nyaman Pikiran Tenang

HP ProBook 400 G10 memang didesain untuk gaya hybrid working, sebuah konsep di mana karyawan bisa melakukan pekerjaan secara fleksibel, baik dari kantor maupun dari luar kantor seperti rumah, working space, atau di mana saja di tempat lain yang mereka inginkan.

HP ProBook 400 G10 memiliki tampilan terbaik dilihat dari segala arah. Memiliki resolusi kamera 5 MP menghadirkan gambar yang jelas dan tajam, dengan fitur pelacakan otomatis sehingga siapapun bisa selalu berada di dalam bingkai foto.

Memilik HP ProBook 400 G10 bisa sekaligus sambil bergaya, bagaimana pun ekspresinya.

Bagaimana tidak, dengan desain berwarna space silver dan casing aluminiumnya yang kokoh, HP ProBook 400 G10 Series terlihat ekslusif dan pantas menarik perhatian.

Nikmati ketipisan bentuk HP ProBook 400 G10 dan kemampuan mobilitas

Laptop ini menawarkan mobilitas luar biasa dengan bentuknya yang tipis, bobot yang ringan, serta kontrol layar serbaguna. Sangat cocok jadi teman performa untuk bisnis sehari-hari.

Bisa mendesign dan membuat grafik yang  mendukung kreativitas, termasuk mewujudkan bermain game dan mempercepat alur kerja dengan grafik canggih untuk mengeluarkan potensi kreativitas.

Memaksimalkan Kinerja? Upgrade Gadget Jadul ke Laptop HP ProBook 440 G10

Mengisi daya cepat laptop HP ProBook 400 G10 hanya dalam 30 menit dengan masa pakai baterai hingga 50%. Dengan begitu kita sudah bisa menikmati kemampuan yang tahan lama untuk semua pekerjaan dan hiburan. Asyik, bukan?

Di rumah atau di tempat kerja siapapun bisa tetap produktif sambil merasakan kemampuan layar HP ProBook 400 G10  dengan tampilan micro-edge dan teknologi IPS luar biasa yang bisa mengungkapkan semua detail yang diharapkan untuk menunjang produktivitas maupun saat menikmati waktu luang.

Keamanan dan daya tahan tingkat lanjut HP ProBook 400 G10 

Menggunakkan HP ProBook 400 G10 sekaligus melindungi bisnis maupun berbagai kreativitas dengan keamanan endpoint berlapis. Tak rugi menggunakan PC yang awet dan mudah diservis, yang telah lulus uji MIL-STD, bukankah semua itu bisa kita anggap sebagai langkah berinvestasi?

Memilik identifikasi biometrik, adalah kemudahan dalam mengamankan perangkat HP ProBook 400 G10 dengan pengenalan wajah dan sidik jari. Halnitu bisa jadi cara menghindari kata sandi yang rumit serta meminimalkan risiko kebocoran data.

HP ProBook 400 G10 memiliki tampilan cahaya biru redup dengan HP Eye Ease®

Kebetulan sekali dengan mata saya yang sudah mulai bermasalah. Dengan memiliki HP ProBook 400 G10 saya bisa sekaligus melindungi mata ini dari cahaya biru yang berbahaya dengan layar yang memiliki cahaya biru redup yang peduli dengan kesehatan mata.

Masih banyak keunggulan lain dari HP ProBook 400 G10, seperti:

• Dapat diisi daya hingga 50% dalam waktu 30 untuk memulihkan daya secara cepat.

• HP Long Life Battery menyimpan lebih dari 65% kapasitas aslinya setelah 1000 siklus pengisian daya.

• Standar industri unik: ADP 1 tahun + paket perlindungan baterai 2 tahun.

• Jika unit utama bergaransi 3 tahun, garansi baterai juga akan ditingkatkan menjadi gratis 3 tahun.

• Opsi lainnya adalah baterai tahan lama dengan pengisian cepat 42 WHr.

• Data berasal dari pengujian laboratorium internal HP yang dilakukan pada bulan Juli 2018, yang menggunakan standar internasional ASTM dan metode pengujian ASTM D4060.

• Wolf Security. Memberikan fitur keamanan premium perangkat yang layak bagi Anda dan bisnis Anda.

Memaksimalkan Kinerja? Upgrade Gadget Jadul ke Laptop HP ProBook 440 G10

Yuk, ambil langkah lebih maju demi memaksimalkan kinerja dengan HP ProBook 400 G10 

Dilengkapi dengan perangkat lunak dan fitur evolusioner terbaru untuk meningkatkan pengalaman, performa, bisnis, serta untuk menciptakan perubahan yang positif tidak ragu lagi jika pilihan jatuh pada HP ProBook 400 G10.

Selain itu, yang harus kita ketahui adanya dampak berkelanjutan dari perusahaan HP dimana perusahaan raksasa ini menciptakan perubahan positif yang nyata bagi bumi, karyawan, dan komunitas tempat tinggal, bekerja, dan menjalankan bisnis karena menggunakan material yang ramah lingkungan serta selalu menerapkan aspek greenjobs.

Sekali memiliki HP ProBook 400 G10 bukankah sudah sekaligus beberapa langkah positif ke depan kita ambil?

Memaksimalkan Kinerja? Upgrade Gadget Jadul ke Laptop HP ProBook 440 G10

Read more ...

Selasa, 24 Oktober 2023

Kumaafkan Belum Tentu Kulupakan

Namanya manusia, pasti tidak lepas dari salah. Sudah hukum alamnya secara benar selalu bukan malaikat, salah melulu juga bukan setan yang dilaknat.

Ada banyak kesalahan yang dibuat teman, orang terdekat, atau bahkan pasangan, yang sampai sekian lama masih saja menghantui pikiran.

Menurut psikolog beberapa kesalahan yang tidak mudah termaafkan seperti tindakan melakukan kekerasan fisik, selingkuh alias pengkhianatan, berbohong yang berkepanjangan, pelecehan baik psikis maupun emosional, dan kelakuan tidak bertanggung jawab lainnya.

Meski ada saja orang yang bisa dengan mudah memberikan maaf dan pengampunan kepada pelaku tindakan tersebut namun tidak mudah sebenarnya untuk bisa melupakan semuanya.

Lalu kenapa dimaafkan kalau tidak bisa mengikhlaskan?

Ada banyak hal yang menyebabkan kita sebagai manusia harus saling maaf dan memaafkan. Sewaktu masa pandemi covid-19, saya pernah ikut kajin dan salah satu tema yang dibahas terkait maaf memaafkan serta ikhlas dan mengikhlaskan ini.

Adalah Ustadz DR. Firanda Andirja, Lc.,MA yang menuliskan tentang puluhan sebab kenapa harus memaafkan.

Menurutnya, sifat memaafkan bukanlah sifat yang patut disepelekan, melainkan sifat mulia karena memaafkan adalah sifat yang agung dan yang Allah Subhanahu wa Ta’ala sebutkan bahwa perangai ini merupakan salah satu dari ciri-ciri penghuni surga.

Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabadikan hal memaafkan ini dalam firman-Nya

“(yaitu) Orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan.”

(QS. Ali-’Imran : 134)

Di dalam ayat yang lain Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfrman

“Dan memaafkan itu lebih dekat kepada takwa.”

(QS. Al Baqarah : 237)

Masih ada firman lainnya: “Dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak suka bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”

(QS. An-Nur : 22)

Secara langsung diperintahkan Allah SWT, menandakan jika begitu pentingnya sifat memaafkan. Sebagaimana sifat pemaaf Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Menurut Ustadz Firanda, manusia hendaknya bisa memaafkan dan meyakini bahwa Allah Subhanahu wa ta’ala yang menciptakan perilaku seorang hamba, sehingga benar atau salah sesungguhnya ada Dia yang membolak-balikkan hati.

Meyakini bahwa musibah menimpa karena dosa-dosa yang dimiliki, jika sudah memahami kesalahannya bukankah manusia berkesempatan untuk memperbaikinya juga?

Sebaiknya yakini juga bagaimana besarnya ganjaran Allah Subhanahu wa ta’ala atas orang-orang yang memaafkan, sehingga sekeras apapun hati kita, jika keridhoan Allah yang dicari tak mungkin kita membangkang.

Banyak kisah dan pengalaman yang menggambarkan bahwa memaafkan akan membersihkan hati dari penyakit-penyakit hati terhadap orang lain. Dengan memaafkan, hati menjadi lebih lapang dan tenang.

Orang yang mampu memberikan maaf, pasti hatinya meyakini bahwa memaafkan akan menambah kemuliaan seseorang, kemuliaan yang muncul dari dasar hati.

Orang yang memaafkan juga diyakini kesalahannya akan dimaafkan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala.

Sebaliknya, jika kita tidak memberikan maaf, apalagi sampai balas dendam dan membalas kezaliman orang lain, sesungguhnya itu hanya akan membuang-buang waktu, dan memungkinkan hilangnya maslahat yang besar sepanjang kehidupan ini.

Apalah kita, jika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam saja Beliau tidak pernah melakukan pembelaan terhadap dirinya. Karena sesungguhnya balasan itu dari Allah Subhanahu wa ta’ala.

Padahal orang yang memaafkan akan dicintai dan diridhai, serta akan dibersamai oleh Allah Subhanahu wa ta’ala.

Orang-orang diyakini akan mudah memberikan maaf jika tahu sifat bersabar itu  adalah separuh iman.

Sifat orang yang mau memaafkan akan melatih dirinya untuk bisa mengendalikan hawa nafsu. Kemuliaan nya orang yang bersabar dan memaafkan akan ditolong oleh Allah Subhanahu wa ta’ala.

Meski memaafkan itu tidak mudah, tapi sudah banyak kejadian dengan memaafkan akan menghentikan kezaliman orang kepada diri kita sendiri dan lingkungan sekitar.

Sebaliu, melakukan membalas kezaliman hanya akan menambah kezaliman orang lain terhadap diri kita. Membalas kezaliman hanya akan menjerumuskan seseorang kepada kezaliman pula. Sementara kezaliman yang dialami seseorang justru akan menghapuskan dosa dan mengangkat derajat seseorang tersebut.

Bisa dibayangkan jika si A melakukan kezaliman kepada kita, lalu kita tidak memaafkannya dan bahkan balik menzaliminya, ia yang kemudian merasakan (balasan) kezaliman kita, justru akan dihapuskan dosa-dosanya dan bahkan diangkat derajatnya. Bukankah jika demikian, kita sendiri yang merugi?

Memang mending segera memberikan maaf meskipun tidak diminta, karena memaafkan adalah kekuatan untuk melawan orang yang berbuat zalim.

Dengan memaafkan akan membuat orang yang menzalimi menjadi merasa rendah. Sehingga dengan satu perbuatan memaafkan saja, sudah akan melahirkan kebaikan-kebaikan yang banyak yang mengiringinya.

Maaf dan memaafkan sudah menjadi nasihat baik yang diajarkan dalam agama Islam. Bahwa sesama manusia harus saling memaafkan atas kesalahan yang pernah diperbuat. Di mana orang yang membuat kesalahan harus mengakui dan memohon maaf dengan tulus, sama juga dengan orang yang menerima perlakuan buruk juga wajib memaafkan dengan ikhlas.

Tapi pada kenyataannya, meski begitu, dalam hubungan sesama manusia, tentu maaf dan memaafkan bukan suatu hal yang gampang dilakukan.

Di mana sebagian orang mungkin merasa sulit untuk memaafkan seseorang yang telah melakukan kesalahan besar padanya. Apalagi jika kesalahan tersebut telah menyakiti hati atau membawa kerugian lainnya. Hehe, ini mah murni curhat saya...

Sementara dalam Islam sudah dijelaskan jika setiap umat muslim diharuskan untuk meneladani sifat mulia Allah yaitu pemaaf.

Namun, Allah SWT juga tidak melarang jika hamba-Nya tidak ingin memaafkan kesalahan seseorang. Sebab, hal ini sudah hak dari setiap manusia, meskipun pada akhirnya orang yang tidak memaafkan akan mendapatkan kerugian seperti yang sudah diuraikan di atas.

Jika posisi kita berada dalam kondisi yang melakukan kesalahan, minta maaf lalu katanya tetap tidak dimaafkan, apa yang harus dilakukan?

Islam sudah mengatur semuanya . Dijelaskan bagi orang yang tidak dimaafkan, Rasulullah telah mengajarkan bacaan doa khusus yang bisa diamalkan untuk mendapatkan pertolongan dari Allah.

Doa Saat Kesalahan Tidak Dimaafkan

Rasulullah SAW menganjurkan sebuah doa yang bisa dibaca ketika kita tidak mendapatkan maaf dari orang lain. Berikut bacaan doa saat kesalahan tidak dimaafkan :

“Ya Allah, sesungguhnya aku memiliki dosa kepada-Mu dan dosa yang kulakukan kepada makhluk-Mu. Aku bermohon Ya Allah, agar Engkau mengampuni dosa yang kulakukan kepada-Mu serta mengambil alih dan menanggung dosa yang kulakukan kepada makhluk-Mu.”

Seperti yang sudah dijelaskan, bahwa maaf dan memaafkan adalah anjuran yang diajarkan dalam agama Islam. Meskipun begitu, Allah tidak melarang setiap hamba-Nya untuk tidak memaafkan orang lain yang berbuat salah. Sebab, itu sudah menjadi hak dari setiap manusia dalam bersikap dan berperilaku pada orang lain.

Tentu, bagi orang yang melakukan kesalahan dan tidak dimaafkan, ini menjadi hal yang sulit. Ketika upaya untuk meminta maaf sudah dilakukan dengan baik, namun tidak dimaafkan oleh orang yang dituju, maka jalan satu-satunya adalah memohon pertolongan dari Allah.

Dari bacaan doa tersebut, dapat dipahami bahwa Allah lah yang menjadi penolong hamba-Nya yang mengalami kesulitan. Dengan doa tersebut bisa memohon ampunan kepada Allah, sekaligus meminta pertolongan agar bisa membukakan pintu maaf dari orang yang dimaksud.

Jika orang tersebut tidak juga memaafkan, tenang saja, doa tersebut dapat membantu untuk memohon kepada Allah agar memberikan imbalan kebaikan dan pengampunan doa pada orang yang dimaksud. Toh walaupun ada pihak yang sangat mudah memberikan maaf, tapi belum tentu dapat mengikhlaskan semuanya. Dengan begitu, semoga kondisi hati bisa sedikit merasa lebih lega, ya.

Wallahualam

Read more ...

Senin, 23 Oktober 2023

Untung suka nulis, hidupku jadi bisa lebih waras...

Tergelitik dengan tema yang disodorkan, menulis untuk menjaga kesehatan mental bagi perempuan. Menyebabkan muncul banyak pemikiran di kepala saya, apakah laki-laki kesehatan mentalnya tak perlu dijaga? Atau hanya perempuan sajakah yang memiliki permasalahan mental lalu harus bisa menulis untuk bisa mengobatinya? Jadi  mereka para perempuan dengan keluhan yang sama akan kesehatan mental tapi tidak bisa menulis bagaimana bisa sembuh?

Satu fakta yang mencengangkan adalah ketika saya menemukan keterangan yang disampaikan Hetih Rusli, editor fiksi Gramedia Pustaka Utama pada sebuah artikel yang dimuat di CNN Indonesia yang menyebutkan kalau para penulis perempuan di Indonesia itu lebih laku.

Sebagai perempuan yang ngakunya juga penulis, mata jadi terasa lebih berbinar, dong. Benarkah penulis perempuan di Indonesia lebih laku? (Bayangan cuan pun langsung berputar di kepala...)

Menyebutkan nama-nama penulis perempuan di Indonesia jauh lebih mudah ketimbang penulis lelaki. Hal itu bisa kejadian mungkin karena jumlah penulis berkelamin perempuan memang lebih banyak. Tapi, konon itu hanya berlaku di Indonesia saja lho!

Kepada CNN Indonesia Hetih menjelaskan, kejadian lebih banyak penulis perempuan dibandingkan penulis laki-laki karena paradigma masyarakat di Indonesia yang masih patrilineal. Patrilineal itu sistem kekeluargaan yang menarik garis keturunan pihak laki-laki atau ayah.

Mayoritas di Indonesia, masih menganggap urusan mencari nafkah adalah amanat yang diemban para pria. Sementara profesi penulis, masih dianggap profesi sampingan.

Ya sampingan. Lah saya saja meski dua per tiga dari 24 jam keseharian saya dipakai untuk menulis alias ngetik, (melebihi waktu jam kerja pegawai resmi itukan) tetap saja bilang sebagai freelancer. Menulis sebagai hobi. Menulis sebagai pekerjaan sampingan.

Lalu apakah karena itu (jika ada) para laki-laki enggan jadi penulis?

Saya sendiri paham dan merasakan, profesi penulis masih dianggap pekerjaan sampingan. Pekerjaan jadi penulis dianggap enggak akan selamanya bisa jadi harapan tulang punggung keluarga. Semandiri apa pun perempuan, laki-laki tetap punya citra dan tanggung jawab lebih di lingkungan sosial.

Seolah ada pemikiran yang tidak baku kalau pihak laki-laki mau (bekerja) jadi penulis, harus memikirkan apakah penghasilan dari menulis ini bakalan sanggup atau tidak untuk membiayai keluarganya kelak?

Kejadian seperti itu justru kebalikannya jika di negeri Barat seperti Amerika Serikat dan Inggris karena di sana justru lebih banyak penulis berjenis kelamin laki-laki daripada penulis perempuan.

Lihat saja contohnya, penulis seperti Stephen King, John Green, atau Nicholas Sparks secara finansial mereka itu sudah tak perlu pekerjaan utama lainnya karena dengan jadi penulis saja mereka itu sudah sukses.

Secara mereka itu kan dengan royalti dari menulis satu buku saja sudah bisa menghidupi keluarga sampai kenyang banget.

Perlu diketahui kalau oplah penjualan di tanah air dan negeri Barat beda ya. Ibarat bisa terjual 100 ribu eksemplar di luar negeri, sudah termasuk penulis menengah. Mencapainya pun tidak sulit. Sementara untuk di Indonesia, terjual lima ribu eksemplar saja sudah sangat beruntung. Itu pun bisa terjadi dalam waktu tahunan.

Penulis di luar negeri bisa menjual sebanyak 10 ribu itu sudah kayak enggak laku. Lah kalau di kita, bisa jual sebanyak itu sudah bikin selametan.

Kenapa bisa terjadi demikian, mungkin hubungannya dengan minat baca. Keluarga di Indonesia yang berjalan-jalan ke mal lebih memilih membelikan anaknya kopi seharga Rp 40 ribu atau Rp 50 ribu ketimbang buku. Betul kan?

Jadi jangankan generasi mudanya, orang tuanya saja emang sudah ga ada minat baca (dan menulis).

Di negara maju dan negara yang bacaan sudah jadi membudaya seperti Jepang, dunia masyarakatnya di mana-mana baca buku. Sampai anak-anak dibiasakan dan terbiasa membaca buku. Jajan buku buat mereka ibarat jajan es krim. Favorit dan banyak disukai anak.

Di Indonesia, orang lebih memilih ngobrol, chatting, main sosmed, dan browsing daripada membaca buku atau membaca e-book. Karena memang di Indonesia membaca belum menjadi budaya.

Bukan hanya itu, di negeri Barat juga mereka serius mencetak penulis. Ada sekolah khusus untuk belajar menulis sehingga secara teknis dari awal sudah terasah. Sedang penulis Indonesia, bahkan yang sudah menghasilkan karya, masih banyak kesalahan teknis seperti penggunaan titik-koma, tanda kutip, EYD, dan sebagainya.

Itu terbukti saya pernah baca, naskah yang masuk ke redaksi penerbitan di Indonesia, kalau mengikuti standar Amerika, naskah yang masuk bisa ditolak semua.

Terus lagi di sekolah kita, penghargaan terhadap bahasa Indonesia itu kurang. Saya lihat di lingkungan sekolah anak saya saja, para wali murid lebih bangga anaknya bisa bahasa Inggris. Padahal sehari-hari ngomong pakai basa Sunda.

Pengalaman masa kecil saat masih di sekolah dasar, ketika ada pelajaran Bahasa Indonesia dan tugasnya mengarang (biasanya saat masuk setelah liburan sekolah) dari satu kelas berisi 30 orang, hanya dua orang menulis full di kertas folio yang disediakan. Saya dan satu lagi Wina, teman saya yang juga perempuan.

Kembali ke kisah banyaknya penulis perempuan di Indonesia di awal, fenomena ini terjadi sepertinya juga berkaitan dengan perbandingan pengonsumsi novel. Karena perempuan lebih punya banyak waktu, jadi mereka juga lebih banyak jadi pengonsumsi novel ketimbang lelaki.

Semakin banyak yang minat terhadap membaca, maka semakin besar kemungkinan diikuti dengan kegiatannya menulis. Jika banyak perempuan peminat baca semakin banyak juga presentasi perempuan penulisnya.

Keterampilan membaca dan menulis adalah kegiatan yang saling berkaitan. Kemampuan menulis yang baik tidak dapat diperoleh tanpa kemampuan membaca yang baik, karena dengan memiliki kemampuan membaca yang baik seseorang akan mendapatkan informasi yang lebih luas, pengalaman yang didapatkan pun lebih banyak sehingga mampu melahirkan tulisan yang benar, cerita yang sangat menarik dan disukai banyak peminat.

Jika di Indonesia lebih banyak penulis perempuan, sebaliknya, penulis di Amerika Serikat atau Inggris justru kebanyakan membranding diri menjadi ‘lelaki’. Salah satu contohnya: J.K. Rowling. Saat merilis Harry Potter, Rowling menggunakan inisial J.K. agar terlihat seperti nama lelaki.

Padahal mau jenis kelamin perempuan maupun laki-laki, andai mereka tahu bagaimana begitu banyaknya manfaat dari menulis ini, niscaya akan banyak yang mengisi waktu luangnya, dengan menyibukkan diri untuk menulis.

Ya, manfaat menulis itu banyak. Bisa jadi tempat untuk menuangkan ekspresi, tempat untuk meningkatkan kreativitas, ajang latihan dalam memperkuat daya ingat, dengan menulis menjadikan hidup lebih produktif, menulis bisa jadi sebagai ajang media belajar yang baik, dengan menulis bisa terus mengasah diri dalam meningkatkan kemampuan dalam berbahasa dengan baik, dengan membiasakan diri menulis jadwal keseharian menjadi terorganisir, menulis juga bisa jadi alat untuk menghibur diri sendiri maupun yang baca tulisan kita, dan satu lagi nih, menulis itu bisa membantu mengurangi stress.

Saya pernah membaca sebuah studi yang diterbitkan dalam Journal of Experimental Psychology, di sana dinyatakan jika menulis tentang pengalaman stres itu dapat membantu mengurangi kecemasan dan membantu orang merasa lebih tenang dan santai.

Karena itu banyak yang bilang menulis sebagai healing, menulis sebagai terapi jiwa, atau menulis sebagai upaya jalan penyembuhan.

Semua itu saya akui kebenarannya. Sedikit rahasia saya ketika berhasil menjuarai lomba kepenulisan, itu saya perhatikan, ternyata kebanyakan momen yang bisa mendapatkan hadiah adalah ketika saya terpuruk dan dalam keadaan diri sedang kecewa.

Mungkin ketika saya sedang down, semangat dan ide yang di mata dewan juri menjadi nilai baik itu muncul dengan maksimal. Ketika terpurydan stress, saya meluapkan segala kemarahan dan kekecewaan dalam bentuk tulisan. Seolah ada yang membimbing bagaimana saya bisa keluar dari tekanan itu untuk bisa membebaskan jiwa yang terkurung raga.

Karena saat menulis, bukankah hati dan pikiran saya bisa bebas mau melanglang buana kemanapun?

Setelah menyadari jika menulis ini bisa jadi sebagai ajang tetapi jiwa, maka menulis bukan lagi sebagai hobi, tapi sudah menjadi obat dan kewajiban.

Ah beneran, rasanya beruntung banget saya ini suka dengan dunia tulis menulis, karena setelahnya, kehidupan yang saya jalani ini jadi bisa terasa lebih waras...

Read more ...

Minggu, 22 Oktober 2023

Support System Blogger Kampung

Tanpamu, belum tentu aku bisa jadi blogger...

Masih ingat saja sampai sekarang, tetangga ada yang bertanya, bagaimana caranya bisa mendapatkan pekerjaan seperti saya, yang dimatanya cukup menerima produk, lalu mereview dengan rekaman ala-ala shooting film gitu, terus diupload di sosial media.

“Beneran itu dibayar? Kok bisa sih Teh? Ajarin aku dong pengen bisa juga kaya gitu...”

Saya hanya tersenyum saja menyikapinya. Sambil memberikan jawaban. Kalau mau mendapatkan job seperti itu, jadi blogger aja dulu. Nanti perlahan-lahan kalau bisa konsisten peluang mendapatkan pemasukan akan datang dengan sendirinya.

“Blogger teh naon? Bagaimana caranya?”

Perlahan juga saya jelaskan, jika blogger itu siapa saja yang suka menulis di blog. Tulisannya bisa apa saja, termasuk review dan curhat (saya banget pokonya ...) dan untuk memiliki blog tentu saja kita harus akses gadget dan internet.

“Anak saya hapenya canggih. Pasti bisa atuh jadi blogger seperti Teh Okti, ya?” kata tetangga saya yakin.

“Oh tentu saja, siapapun bisa menjadi blogger. Silakan suruh anaknya search di google saja kalau gitu. Lebih mudah cari informasinya kalau gadgetnya canggih dan udah terkoneksi dengan internet mah.” Jawab saya senang. Sekaligus mengakhiri obrolan. Merasa gak akan ada ujungnya kalau apa yang dibahas, sedikit pun tak dimengerti oleh lawan bicara.

Tidak sedikit yang bertanya seperti itu. Selain ibu-ibu tetangga di kampung , ada juga dari teman-teman sekolah, teman-teman suami, dan ada dari para mahasiswa yang domisili atau belajar di Cianjur.

Semua tentu saja saya kasih informasinya. Secara saya justru senang kalau kedepannya bermunculan banyak blogger Cianjur yang berkualitas dan konsisten. Jadi jika ada acara, saya ada teman pakukumaha...

Namun sekitar 13 tahun saya tinggal di Cianjur Selatan setelah menikah ini, ternyata tidak banyak blogger yang “berhasil” atau paling tidak konsisten dalam mengurus blognya.

Memang dikira gampang menjadi blogger? Memang uang bisa mampir sendiri begitu saja tanpa ada benefit yang bisa diambil?

Sementara saya sendiri yang dikira tetangga “Enak pisan Teh Okti mah jadi blogger, diam di rumah aja terima paketan lalu review dapat deh uang...”

Hello... Tidak semudah itu pada kenyataannya. Tentu saja saya jadi blogger pun mengawalinya dari nol. Karena jaman saya sekolah, di tanah air belum ada internet. Saya mengenal dunia blogging pun saat saya kerja di Taiwan. Saat itu kecanggihan teknologi memang lebih dahulu berkembang di sana.

Ketika saya pulang kampung, tinggal di pelosok Cianjur yang belum masuk internet perjuangan saya untuk tetap bisa update blog pun bisa dibilang berdarah-darah.

Andai tidak ada support sistem yang mendukung saya secara mental maupun emosional belum tentu blog saya bisa hidup sampai sekarang dan orang menyebut saya sebagai blogger.

Saya harus berterima kasih kepada mereka yang selalu membantu saya sehingga saya tetap kuat. Tanpa sistem pendukung ini tidak mungkin saya menjadi saya seperti sekarang ini.

Siapa saja yang menjadi support system sehingga saya bisa menjadi seorang blogger?

 Support System Keluarga

Support system pertama yang saya miliki adalah keluarga di rumah. Mereka terdiri dari suami, anak, orang tua, termasuk sahabat dan teman.

Suami

Setelah menikah saya meyakini jika apa pun yang saya lakukan harus seizinnya. Alhamdulillah suami sangat mendukung. Ketika ada acara blogger ia sering mencoba mendaftarkan diri demi bisa menemani saya. Ketika harus melakukan kewajiban yaitu menulis reportase acara dan tugas sosial media lainnya, ia rela belajar dan mengadaptasikan dirinya dengan semua aktivitas blogging.

Pun ketika internet baru masuk ke wilayah Cianjur Selatan ia langsung daftar berlangganan dengan tujuan memudahkan saya dalam mengerjakan segala job yang diterima.

Ketika sudah memiliki anak, suami memahami bagaimana kerepotan saya diganggu balita. Ia dengan sadarnya mau momong anak, memberikan saya keleluasaan untuk menyelesaikan apa yang seharusnya saya kerjakan.

Pokoknya suami menjadi support system pertama dan utama bagi saya hingga saya bisa tetap update artikel di blog hingga saat ini. Terimakasih ya Pak Suami...

Anak

Sejak kecil, anak sudah sering melihat saya mengetik dan edit foto atau video. Dengan sendirinya ia bisa mengatakan ibu sedang kerja, jika melihat saya dengan kegiatan itu.

Semakin anak besar, apalagi saat pandemi, anak dituntut untuk bisa menggunakan gadget. Tidak begitu sulit saya memberitahukan. Yang ada justru anak lebih pintar. Anak dengan piawainya bisa mengoperasikan sendiri gadget, dan saking pintarnya ia sering melenceng menggunakan gadget di luar waktu yang saya berikan.

Akhirnya saya memberikan batasan kapan anak bisa menggunakan gadget dan kapan ia harus menyimpannya.

Awalnya saya ragu, jangan-jangan anak bakal komplain, kenapa ia dibatasi megang gadget, sementara saya justru setiap ada waktu senggang justru pakai hape.

Alhamdulillah rupanya anak memang sudah tahu, kalau saya megang hape berarti memang sedang kerja. Entah itu ngedraf tulisan, menyelesaikan tugas di group support baik blog maupun media sosial, atau sedang mengerjakan pekerjaan terkait blogging lainnya.

Saya emang selalu minta dukungan terhadap anak. Apalagi kalau hendak ngejar trending topik di Twitter (X) karena biasanya dalam waktu tertentu saya butuh fokus ke gadget. Jika anak tidak diberitahu kemungkinan ia bisa mengganggu atau memecahkan konsentrasi saya.

Orang tua

Dalam hal ini yang masih ad adalah ibu saya sendiri. Sejak pulang kampung dari merantau dan aktif ikut acara blogger di seputar Jabodetabek, saya masih bisa pulang pergi meski kadang harus tidur dalam kendaraan.

Namun jika ikut acara blogger yang lebih jauh dan lebih lama, saya selalu menitipkan anak kepada neneknya. Ibu saya pun siap dan mendukung saat ketitipan anak karena ibu selalu saya beri tahu mau kemana dan acara apa, lalu pulangnya kapan.

Sahabat dan Teman

Support system dari jajaran teman pun tidak mungkin saya lupakan. Sebagai blogger daerah, apalagi dulu waktu baru-baru pulang ke tanah air setelah belasan tahun merantau dari luar negeri saya merasa asing di negara sendiri. Pesatnya pembangunan dan semakin padatnya pemukiman bikin saya takut dan was-was menjadi korban tindakan kriminal.

Kegaptekan saya pun makin mengokohkan keberadaan sahabat dan teman-teman inilah yang sering membantu saya mencarikan solusinya. Jika saya kemalaman, selalu ada teman yang mengajak nginap di tempatnya. Otomatis makan dan kebersihan diri ditanggung di dalamnya.

Jika saya diburu waktu sementara kalau naik busway atau Kopaja (saat itu belum ada LRT) bisa terlambat, suka ada teman yang dengan senang hati mengantarkan saya menggunakan sepeda motornya ke lokasi acara.

Saat saya tertinggal infomasi karena ke kampung susah sinyal, teman dan sahabat ini selalu siap menjadi perpanjangan tangan informasi kepada saya. Termasuk ketika ada tawaran job, tidak sedikit teman yang lebih dahulu menawarkan kepada saya, sebelum dipublikasikan menerima pendaftaran secara umum.

Bayangkan kalau tanpa dukungan dan support dari mereka-mereka itu, bisa dipastikan saya tidak akan bisa selancar yang diharapkan setiap kali ada urusan.

Support System Dukungan Emosional

Mood

Suasana hati juga termasuk support system yang tidak bisa saya kesampingkan begitu saja. Kondisi mood sering mempengaruhi cepat lambatnya saya mendapatkan ide dalam menuangkan kegiatan ke dalam tulisan, atau saat harus menjabarkan jasil review ke dalam gambar atau video.

Dukungan Penghargaan

Adanya kejuaraan yang bisa saya ikuti dan apalagi jika kebetulan jadi juara, itu terasa sekali sangat memompa semangat saya untuk bisa menggali ide dan kreativitas semakin lebih baik.

Lingkungan yang nyinyir

Lebih ke ajang pembuktian. Ketika ada nyinyiran dari kiri kanan, saya jadikan support system saja untuk memacu saya bisa membuktikan kepada mereka yang nyinyir itu kalau saya juga mampu.

Dukungan Instrumen

Domain dan hosting

Sebagai blogger profesional, adanya kepemilikan TLD sudah pasti jadi sebuah identitas, bukan?

Sampai saat ini, sejak saya memiliki blog top level domain (TLD) sudah berganti jasa penyedia domain dan hosting selama dua kali. Awalnya tak banyak tahu kisaran harga dan sebagainya. Hingga semakin lama semakin banyak mendapatkan info saya bisa ketemu jasa penyedia domain dan hosting yang lebih murah dan lebih berkualitas.

Ponsel

Mengawali masuk dunia blog saat masih menjadi TKW, pilihan menulis menggunakan ponsel bukan hanya sebagai kepraktisan, tapi juga perpanjangan nyawa.

Ada membeli laptop tapi dinyinyiri kakek nenek alias orang tua majikan. Daripada terus terjadi pergesekan menggunakan ponsel jadi pilihan dan akhirnya setelah laptop dicuri maling saya justru lebih nyaman menggunakan ponsel. Saking terbiasanya, ponsel ini jadi support system yang tidak bisa tergantikan sampai sekarang.

Internet

Sebagai penulis, saya dituntut untuk mengimbanginya dengan membaca. Berkat adanya koneksi internet saya tidak merasa kesulitan dalam mencari informasi yang mendukung artikel-artikel yang saya buat.

Dukungan Informasi yang selalu memudahkan dan memotivasi saya untuk membangun perilaku dan membuat pilihan yang positif ini tentu saja bagian dari support system saya dalam mematangkan diri menjadi seorang blogger.

Jika perjuangan saya untuk menjadi blogger terbentuk karena banyak dukungan, mulai dari keluarga, emosional diri dan instrumen alat penunjang maka tidak menutup kemungkinan sebenarnya kita pun bisa menjadi support system bagi yang lainnya.

Mau blogger atau pun bukan, kita juga bisa menjadi support sistem yang baik bagi yang lain dengan berbagai macam cara:

  • Mendukung dengan sepenuh hati. Untuk dapat menjadi sosok support system yang baik, seseorang perlu mendukung orang yang disayangi dengan dukungan sepenuh hati.
  • Mau menjadi pendengar yang baik. Saat seseorang memerlukan tempat untuk berbagi cerita, siapkan waktu dan fokus terhadap permasalahannya.
  • Dapat memberikan saran dan masukan akan masalah yang dihadapinya. Walaupun belum tentu saran dan masukan kita jadi solusinya.

Begitulah, perjalanan panjang saya dikelilingi begitu banyak support system sehingga saya bisa menjadi seorang blogger seperti sekarang ini.

Read more ...

Sabtu, 21 Oktober 2023

Film yang Tidak Bosan Ditonton Seumur Hidup!

Matilda, tontonan yang tidak bosan melihatnya seumur hidup!

Sebenarnya, hingga sekarang di usia mendekati setengah abad, saya jarang menonton tayangan baik di televisi maupun layar lebar. Saya lebih suka membaca dan memelototi rangkaian huruf dalam kertas atau semakin modern seperti sekarang media bacaan bergeser menjadi platform digital.

Terlebih sejak kecil saya terlahir dari keluarga menengah ke bawah. Saat pertama kali stasiun televisi swasta hadir di negara kita, kesempatan nonton film anak semacam Doraemon atau kisah Si Unyil hanya saya lakukan jika saya benar-benar memiliki waktu luang. Itu pun harus numpang nonton di tetangga yang memiliki televisi. Secara di rumah kami saat itu memang tidak memilikinya.

Ketika almarhum bapak mampu beli televisi meski masih layar hitam putih, saya yang pada dasarnya kurang suka menonton, pun lebih memilih membaca-baca majalah anak dan remaja yang saat itu memang sedang buming. Bobo, Kawanku, lalu majalah Anita, Hai dan sebagainya. Sampai setiap halamannya keriting, menggulung. Mungkin karena saking seringnya saya buka-buka dan saya baca ulang terus jika belum mendapatkan edisi terbaru.

Dunia saya baru mulai dijejali tontonan ketika bekerja menjadi TKW dan bertugas mengasuh bocah usia Paud hingga TK. Karena mendampingi mereka, mau tidak mau saya harus ikut melihat tayangan film anak-anak. Tidak sekedar lihat, tapi juga dituntut untuk bisa memberikan pendapat dan menjawab setiap pertanyaan yang diajukan anak majikan terkait film yang ditonton.

Aduh, beneran seperti mau ujian negara saja deh! Deg-degan dan berkeringat. Secara selama ini kan tidak pernah melakukan itu. Malah majikan menyuruh saya untuk menonton terlebih dahulu setiap DVD baru yang dibawakan. Dengan harapan saya lebih dulu bisa mengambil kesimpulan dan mendapatkan gambaran sekiranya besok saat nonton mendampingi anak, ada pertanyaan tak terduga dari bocah yang memang anak di luar negeri itu pada kritis dan pintar, saya sudah bisa mempersiapkan jawabannya.

Awalnya saya merasa terbebani dengan mendampingi anak majikan menonton ini. Bagi sekilas yang melihat mungkin ini pekerjaan mudah, apa susahnya sih menemani anak nonton film?

Mereka tidak tahu jika anak majikan selalu bertanya hingga membuat kepala saya selalu ngebul berasap saking harus berpikir keras mencari informasi demi bisa menjawab pertanyaannya. Meski ujungnya jika saya angkat tangan, anak dan saya akan sama-sama bertanya ulang kepada ibunya si anak, dan baru merasa lega ketika sudah sama-sama mendapatkan jawabannya.

Matilda, Tontonan yang Tidak Bosan Seumur
<p>

Jaman itu belum seperti sekarang apa-apa bisa serba ditanyakan ke google, ya. Jadi bisa dibayangkan dong, bagaimana pusingnya saya saat itu. Tapi beruntung majikan selalu memiliki solusi dan membuat saya serta anaknya sama-sama paham dengan pelajaran yang bisa diambil dari setiap film anak yang ditonton.

Ada banyak film anak yang selalu diputar ulang sehingga saya saat itu merasa bosan. Mulai film yang cocok untuk anak perempuan, atau film yang lebih banyak diminati anak lelaki. Pun film dengan cakupan lebih luas bisa ditonton oleh anak cewek maupun cowok.

Pelajaran tanpa guru dari film

Disela obrolan dengan majikan, saya bisa menangkap maksud ia memberikan waktu kepada anaknya untuk rutin menonton film itu supaya anak bisa mengambil pelajaran hidup dari kisah yang ditayangkan.

Jadi semacam pelajaran tanpa menggurui yang diulang, dengan sendirinya anak bisa mengingat, perbuatan apa yang tidak baik, bagaimana jika dilakukan, dan apa dampaknya jika tetap memaksakan diri melakukan keburukan itu.

Benar saja, jangankan diterapkan pada otak dan pemikiran anak yang masih polos dan bersih, saya saja yang daya pikirnya sudah terkontaminasi dengan banyaknya pikiran serta beban hidup, seolah masih bisa mengingat dengan jelas setiap pelajaran hidup yang ditonton dari sekian banyak film-film itu.

Misalnya dalam film diperlihatkan bagaimana tokoh jahat pada akhirnya. Sehingga anak diajarkan untuk tidak melakukan hal buruk itu kecuali nanti akan mendapatkan balasan yang buruk pula. Pun sebaliknya, tokoh yang selalu teraniaya tapi tetap melakukan kejujuran dan kebenaran, pada akhirnya mendapatkan kehidupan yang lebih baik.

Dua hal itu menjadi pelajaran hidup yang tidak mudah dilupakan karena saking seringnya menonton jadi dalam otak ini bayangan nya sudah menebal dan tidak mudah terhapus.

Hingga saya berkeluarga dan memiliki anak, kadang saya menerapkan pola ajar seperti itu meski tidak bisa sama percis seratus persen karena perbedaan adat dan kebiasaan.

Namun saya siasati, jika tidak ada tontonan maka saya ambil cara lain seperti dengan mengganti nya dengan menyuguhkan cerita anak, dongeng atau bahan bacaan yang cocok.

Tontonan berseri Babby Einstein jadi salah satu stimulasi bagi tumbuh kembang anak. Seiring bertambahnya usia anak tayangan diganti dengan film yang lebih tinggi lagi pelajaran hidup yang disampaikannya.

Dan salah satu film anak yang sering ditonton dan tak pernah bosan menontonnya sampai sekarang adalah film Matilda.

Matilda, Kisah Gadis Jenius dengan Kemampuan Ajaib Telekinetik

Film Matilda selain menjadi tayangan film lepas ternyata juga sudah cukup lama bolak balik ditayangkan di televisi. Wajar ya secara film Matilda ini dirilis pada tahun 1996.

Film bergenre komedi satir ini masuk ke dalam jajaran tayangan film yang sering saya tonton sampai berkali-kali.

Saya tidak pernah bosan meski ada beberapa orang mengatakan bosan lah nonton itu terus mengingatkan kalau film Matilda dulu sejak saya masih sekolah SD sudah sering diputar oleh salah satu saluran televisi.

Yang bikin saya tidak pernah bosan menontonnya karena cerita anak ini dibalut dengan kisah fantasi yang jenaka. Film Matilda bisa memberikan nilai moral kepada orang tua dan juga para guru untuk lebih memperhatikan perkembangan dan kemampuan anak-anak.

Meskipun kelihatannya ini adalah film keluarga yang bisa ditonton bersama anak-anak, sebaiknya dalam menikmati film ini anak selalu berada di bawah bimbingan orang tua. Sebagaimana majikan saya dulu menugaskan saya untuk itu.

Beberapa adegan di film ini disertai beberapa pemahaman yang mungkin saja disalah artikan oleh mereka. Jadi karena itu sebagai pendamping kita harus lebih tahu banyak dan siap menjawab setiap pertanyaan yang diajukan anak.

Film Matilda disutradari oleh Danny DeVito. Selain menyutradarai, Denny DeVito ikut berperan bersama sang istri yaitu Rhea Perlman bermain dalam film favorit ini. Keduanya melakoni peran sebagai orangtua Matilda, yaitu Harry Wormwood dan Zinnia Wormwood.

Namun sangat disayangkan 20 tahun berselang dari film ini kalau gak salah sekitar tahun 2016, mereka memutuskan untuk bercerai setelah 35 tahun mengarungi bahtera rumah tangga. Untuk soal itu mohon maaf kita di sini gak ada porsi untuk membahasnya ya.

Sinopsis Film Matilda

Yang masih selalu saya ingat dari film Matilda ini saat dikisahkan kalau Matilda adalah seorang anak yang lahir di lingkungan keluarga yang buruk dalam hal mengurus anak. Keluarga Wormwood tak menyadari bahwa mereka telah dianugerahi seorang putri yang begitu istimewa. Meski begitu mereka sepertinya memang terlalu bodoh untuk menyadari kelebihan yang ada pada putri mereka.

Padahal Matilda telah menunjukkan perkembangan yang jauh lebih cepat dari anak seumurannya. Ia sudah bisa menuliskan namanya sendiri di usia bayi, padahal ia belum disekolahkan. Sayangnya hal tersebut selalu luput dari pandangan orang tuanya bahkan selalu acuh.

Memang ya sangat disayangkan jika anak seperti diri Matilda harus terlahir di lingkungan keluarga yang seperti itu. Ayahnya adalah seorang penipu yang menjual mobil bodong.

Beruntung dibalik tubuh kecilnya, Matilda memiliki pemikiran yang jauh melebihi anak seumurannya. Di usia yang terbilang masih sangat kecil, ia memiliki pemikiran yang sangat kritis dalam membedakan mana yang salah dan benar.

Matilda pun memiliki kemampuan untuk menolak terbawa dalam didikan jelek orang tuanya. Selain itu dibalik kejeniusannya, Matilda memiliki kemampuan telekinesis yang mungkin ia dapatkan karena terlalu jeniusnya?

Akhirnya Matilda dimasukan ke SD Crunchem Hall yang dikepalai oleh Agatha Trunchbull. Ketimbang kepala sekolah, penampilan  Agatha ini menurut saya malah lebih mirip sosok sipir penjara wanita yang sangar. Hehe... Meski mengepalai sekolah dasar yang didominasi oleh anak-anak rentang usia 6 hingga 12 tahun, Agatha sebenarnya begitu membenci anak-anak. Fakta yg sangat mencengangkan, bukan?

Sekolah yang dibina Agatha jauh dari kesan menyenangkan untuk anak umur segitu. Ia tak segan menghukum anak-anak yang dianggap menyebalkan olehnya.

Namun selalu ada sisi baik disamping sisi buruk. Di tengah suasana sekolah yang begitu mencekam, Jennifer Honey selaku wali kelas Matilda hadir memberi suasana hangat ke dalam kelas.

Bu guru Jennifer justru lebih dahulu menyadari kejeniusan Matilda saat gadis kecil itu mampu menghitung di luar kepala.

Dan siapa sangka dibalik sosok lembut ibu guru Jennifer ternyata tersimpan masa kecil yang kelam antara dirinya dengan Agatha Trunchbull.

Persamaan nasib yang dialami ibu guru Jennifer dengan Matilda membuatnya begitu peduli terhadap gadis cilik menggemaskan itu. Ia pun akhirnya berjuang untuk mengambil hak asuh Matilda.

Film Matilda memiliki adegan yang mungkin tidak bisa dilupakan begitu saja oleh para penonton, yaitu saat Agatha Trunchbull menghukum Bruce Bogtrotter untuk menghabiskan kue coklat berukuran besar.

Lucu, gemes, sekaligus kesal dan sedikit jijik sebenarnya pada adegan ini. Bagaimana tidak, Bruce dihukum makan kue cokelat yang begitu besar karena telah mencuri kue coklat milik kepala sekolah yang kejam itu.

Meskipun di awal saat mencicipi kue coklat tersebut, Bruce nampak menikmatinya karena rasanya yang lezat. Tapi adegan ini cukup bikin mual untuk dibayangkan. Terlebih sebelumnya, dikatakan bahwa kue tersebut telah bercampur dengan darah dan keringat dari pembuatnya. Ih, jorok kan?

Lepas dari adegan itu, film yang dibintangi tokoh sesuai judulnya ini, tetap memiliki ciri khas bagaimana kisah seorang anak perempuan bernama Matilda yang luar biasa jenius, mandiri, dan memiliki hobi membaca buku.

Tidak merasa rugi nonton ulang film Matilda karena menurut saya fil ini memiliki kelebihan:

• Memiliki pesan yang langsung tersampaikan kepada penonton

• Mengingat kita bahwa kejujuran dan kebenaran lebih berharga dari segalanya

• Mengingatkan tentang pentingnya sebuah keluarga

• Memberikan banyak nilai-nilai kehidupan yang bisa diperoleh tanpa kita sadari

• Pemilihan pemain yang tepat sehingga dapat memerankan tokoh dalam cerita dengan baik

Matilda, Tontonan yang Tidak Bosan Seumur Hidup!

Kekurangan filmnya jika ada mungkin pada adegan yang terasa tidak memiliki tujuan yang jelas. Beberapa adegan juga masih terasa seperti dilebih-lebihkan. Mungkin sebenarnya agar bisa menggali imajinasi anak supaya bisa lebih keluar lagi keunggulannya.

Film Matilda mengajarkan tentang pentingnya keluarga dalam sebuah kehidupan. Bahkan jika kita mau berjuang bersama keluarga kita bisa melewati berbagai masalah yang ada. Apalagi dalam perkembangan jaman seperti sekarang dimana generasi muda dalam mengenal budaya terlihat sudah mulai menghilang.

Matilda secara tidak langsung melukiskan kehidupan anak yang berupaya mengenal budaya moral serta pengalaman menghadapi kejahatan, kebohongan dan ketidakjujuran.

Berbagai konflik terjadi dalam film ini, salah satunya sikap tolong-menolong yang dilakukan oleh tokoh terhadap tokoh lainnya. Konflik tersebut menimbulkan aspek moralitas yang menjadi pesan dalam film ini.

Film Matilda bagus dijadikan tontonan sepanjang jaman karena terdapat beberapa nilai moral yang sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari terutama bagi anak-anak, misalnya menjalin persahabatan dan persaudaraan tanpa memandang status sosial, tolong-menolong sebagai wujud makhluk sosial, keberanian tidak didasari perbedakan gender, perilaku dibentuk oleh lingkungan sekitar dan kepekaan terhadap lingkungan sekitar.

Sudah nonton film Matilda? Gimana kesannya, bosan gak atau ketagihan untuk menontonnya lagi?

Read more ...

Jumat, 20 Oktober 2023

Tips Sukses Tumbuh Kembang Blogger Bersama Komunitas

Punya banyak teman di komunitas blog? Kenapa akrab dengan teman tersebut? Bagaimana supaya bisa nyaman berada di sebuah komunitas?

Komunitas dapat diartikan sebagai sebuah kelompok dari suatu masyarakat. Ada juga yang mendefinisikan sebagai sekelompok orang yang hidup di suatu area khusus yang memiliki karakteristik dan kepentingan yang sama

Komunitas dan menjadi bagian dari komunitas menurut saya hal yang sangat penting. Seperti yang kita ketahui sebagai manusia yang mana adalah makhluk sosial, satu sama lain pasti saling membutuhkan. Maka dari itu, dengan adanya komunitas dirasa akan mempermudah hubungan sosial antar individu.

Tujuan dibentuknya komunitas tergantung dari komunitas itu sendiri. Meski pada umumnya komunitas dibuat untuk saling membantu satu sama lain dalam menghasilkan sesuatu. Sesuatu disini pastinya adalah tujuan yang telah ditentukan sebelumnya itu tadi.

Seperti komunitas ngeblog, tentu saja di dalamnya ada tujuan misal untuk meningkatkan performa blog, sharing informasi dunia blogging dan sebagainya.

Manfaat bergabung dengan komunitas sangat banyak. Di antaranya sebagai sarana penyebaran informasi, meluaskan relasi, meningkatkan rasa percaya diri, memberikan dukungan, meningkatkan wawasan dan masih banyak lagi.

Menyadari banyak sekali manfaat bergabung dalam sebuah komunitas, sebagai blogger kampung alias blogger daerah, yang tidak mudah menjangkau ibukota serta sekitarnya dimana pusat pemerintahan, perekonomian dan sebagainya sering diadakan, termasuk acara-acara yang sering mengikutsertakan blogger sebagai pesertanya, mengikuti berbagai komunitas (masuk menjadi anggotnya) adalah sebagai upaya untuk menutupi segala kekurangan itu.

Dengan bergabung di komunitas, saya bisa dengan mudah mendapatkan informasi. Mendapatkan kesempatan berpartisipasi secara online yang mana hak dan kewajibannya tidak jauh berbeda dengan blogger yang bisa hadir on the spot.

Bayangkan kalau saya tidak bergabung dengan komunitas blogger, bagaimana susahnya mendapatkan link untuk kerjasama dan job. Walaupun di daerah juga suka ada acara yang mengikutsertakan blogger sebagai partisipan, tapi sangat kecil. Tidak selamanya bisa menutupi kebutuhan. Alih-alih bisa menghasilkan cuan, buat ganti biaya domain per tahun saja belum mencukupi.

Semakin banyak komunis ngeblog yang saya ikuti, semakin besar kesempatan saya untuk bisa berkembang, menambah wawasan dan peluang untuk mendapatkan uang melalui job yang ditawarkannya.

Meski tidak semua komunitas selalu memberikan peluang itu, tapi saya tidak pernah pilih-pilih dalam bergabung menjadi member sebuah komunitas. Karena kan sejak awal juga kita sudah ketahui bahwa berdirinya komunitas itu untuk kemajuan bersama.

Apakah saya akrab dengan member komunitas? Kalau ini saya tidak bisa memberikan jawaban pasti. Takutnya terjadi kesalahpahaman. Bisa saja saya bilang akrab dengan teman blogger, eh siapa tahu dianya justru malah membenci saya. Hehe ... Bisa saja kan?

Saya tidak bisa memastikan keakraban antar sesama blogger ini karena posisi saya yang domisili di pinggiran daerah, sehingga jarang interaksi langsung kecuali melalui media online.

Dan kita tahu sendiri melalui dunia maya apa saja bisa dipoles, dipercantik dan editan. Benci bisa dianggap mencinta sebaliknya pengagum malah dikira haters.

Namun saya bisa menjamin untuk teman-teman blogger (apalagi para suhu alias blogger senior) yang sudah saya jumpai secara langsung, mereka semuanya baik hati dan tidak sombong. Itu terbukti ketika saya pulang dari merantau di Taiwan, lalu berkesempatan kopdar dengan berbagai blogger tanah air, mereka sangat welcome kepada saya.

Padahal saya hanya seorang TKW, sementara mereka selain blogger senior juga memiliki jabatan dan posisi mentereng seperti editor, aparatus sipil negara, dosen, dan sebagainya.

Mereka mau menerima saya sebagai teman dan lanjut berkomunikasi melalui sosial media atau media perpesanan lainnya.

Alhamdulillah ya, melalui mereka rezeki saya juga terus mengalir sampai sekarang. Melalui tangan baik para pengurus komunitas blogger saya yang pengangguran di tanah air ini bisa terus melanjutkan hidup dan kehidupan.

Komunitas blogger yang saya ikuti dan akrab menjadi teman cukup banyak. Tidak bisa saya sebutkan semua disini karena selain itu tadi takutnya salah paham (saya merasa akrab sementara menurut beliau eh, siapa kamu?) ada juga blogger yang kebaikannya tidak mau disebutkan.

Intinya nih komunitas blogger yang cukup akrab dengan saya dan selalu terkenang karena selain pernah bertemu langsung juga memiliki kenangan manis, sehingga saya seolah memiliki ikatan batin atas kebaikan serta jasanya akan saya jabarkan secara garis besarnya.

Mohon izin dan maaf yang sebesar-besarnya ya, jika saya dianggap lancang mengakui kalau saya akrab dengan komunitas blogger berikut ni:

Komunitas Ngeblog Emak Emak Blogger (KEB)

Sejak diluncurkannya komunitas ini saya lebih banyak hanya menjadi silent reader. Tapi semua ilmu dan informasi yang dishare para pengurus sangat manjur bisa menggembleng saya menjadi blogger daerah yang lebih baik.

Interaksi mulai terjalin ketika KEB mengadakan acara di Bandung. Saat itu pengurus KEB (diketuai Makpon Mira Sahid) memberikan hadiah yang sangat berharga kepada saya yang kebetulan memiliki tanggal ulang tahun yang sama dengan lahirnya komunitas KEB ini.

Ayo, ada yang tahu kapan KEB ulang tahun?

Sampai sekarang saya masih menggunakan kain tenun pemberian dari KEB sebagai sajadah ataupun pashmina. Ya semacam selendang bermotif tradisional gitu. Bagus pokoknya. Warnanya membumi, saya suka.

Kehangatan pelukan semua jajaran pengurus KEB saat itu masih terasa. Sayang foto-foto di saya hilang semua karena ponsel dan laptopnnya hilang dicuri maling sekitar tahun 2019.

Rangkulan MakPuh Indah seolah masih terasa sampai sekarang, ibarat pelukan seorang bunda terhadap anak kandungnya. Begitu juga keakraban dari jajaran pengurus KEB lainnya saat itu. Bersama KEB saya bukan hanya dianggap member, tapi juga keluarga besar.

Komunitas Ngeblog Blogger Cianjur

Tinggal di Cianjur coret memuat saya kesusahan untuk mencari teman ketika ada keperluan terkait dunia blog. Saya dan Ketua Relawan TIK Cianjur akhirnya mengumpulkan teman-teman asal Cianjur yang aktif dalam dunia blogging.

Hingga bertemu dengan beberapa teman blogger dan kami sepakat membuat komunitas Blogger Cianjur yang diketuai Asep Lukman.

Blogger Cianjur sering mengadakan sharing dan kegiatan bertempat di Gedung Perpustakaan Daerah Cianjur. Sementara untuk koordinasi kami merasa lebih simpel melalui group WhatsApp.

Seringnya berinteraksi apalagi saat itu pernah sama-sama ikut acara HACI, program Bupati Cianjur dalam rangka mempromosikan pariwisata Cianjur, membuat kami jadi lebih kenal satu sama lain dan terjalin keakraban.

Meski banyak yang muncul dan tenggelam, hanya beberapa blogger saja yang masih eksis, tapi sampai sekarang komunikasi masih tetap terjalin.

Komunitas Ngeblog Arisan Backlink

Belum resmi menjadi komunitas sih, karena kami hanya dikoordinir oleh blogger senior asal Bandung Maria G. Soemitro dibantu beberapa blogger lain seperti Kak Maria Tanjung.

Melalui group arisan ini saya merasa lebih akrab dengan semua member arisannya secara untuk membuat backlink ke blog mereka, supaya nyambung gitu, saya sering menghubungi mereka satu per satu.

Dari sanalah obrolan muncul dan bahkan saya sering bertanya lebih jauh soal pribadi dengan harapan bisa membuat cerita atau artikel yang beda untuk menyisipkan link blog yang bersangkutan.

Komunitas Ngeblog Penggila Kuliner

Seringnya jalan dan makan-makan dengan komunitas yang diketuai oleh blogger Rahab Ganendra bikin keakraban dan silaturahmi terus bertambah.

Bercanda dan saling menjahili kerap terjadi antara satu sama lainnya. Apalagi mereka kebanyakan domisi di Jabodetabek, jadi sering bertemu dan mengikuti acara yang sama.

Untuk mengimbanginya setiap ikut acara ini saya selalu mengikutsertakan ko anak dan suami. Jadi selain akrab dengan saya, juga sudah saling mengenal dengan keluarga kecil saya juga.

Termasuk beberapa pengurus lain, seperti blogger Yon Bayu, blogger Ison, dan lainnya yang telah berpulang ke Rahmatullah dulu sering mengadakan acara di Cianjur sehingga kontak kami semakin terjalin erat.

Komunitas Ngeblog Pengguna Commuterline

Sebelum kena PHK, saya bekerja pada sebuah perusahaan penerbitan di Taiwan yang di Indonesia ini kantor perwakilannya ada di Jakarta.

Setiap hari kerja saya bepergian ke daerah Jabodetabek menggunakan berbagai moda transportasi. Mulai elf dari kampung ke kota kabupaten, lalu sepeda motor dari Cianjur ke Ciawi atau ke Stasiun Bogor. Lanjut kereta listrik dari Bogor ke titik tujuan, bisa juga menggunakan busway dan atau APTB.

Karena itu saya bergabung di komunitas CLICK yang diketuai blogger Muthiah Alhasany ini untuk mendapatkan banyak informasi dan teman seperjalanan.

Meski tema komunitasnya pertransportasian tapi kegiatan di dalamnya ada ngeblog dan interaksi sosial media juga. Bahkan sampai sekarang masih aktif mengadakan lomba blog yang tujuannya merangsang setiap member untuk terus aktif menulis dan silaturahmi.

Komunitas Ngeblog Penikmat Film (Komik)

Bergabung dengan komunitas yang dikoordinir Dewi Pusoa dan beberapa admin lainnya ini karena saat itu di Cianjur tempat saya tinggal belum ada bioskop.

Menyiasati supaya bisa nonton gratis sekaligus bisa mendapatkan banyak benefit lainnya akhirnya saya ikut deh menjadi anggota.

Keakraban terjalin karena biasanya nonton bisokop kan sore sampai malam. Nah karena saya domisilinya jauh, otomatis harus nginap, tuh. Beberapa kali saya nginap di tempat sesama anggota Komik. Berangkat bareng, pulang bareng, sampai nulis bareng pula. Dari sanalah keakraban muncul. Sehingga silaturahmi makin erat terjalin.

Itu sebagian komunitas yang saya ikuti dan akrab dengan sesama pengurus maupun membernya. Tapi ibarat pepatah lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya, yang artinya setiap daerah memiliki adat istiadat yang berbeda; satu aturan di suatu tempat bisa berbeda dengan aturan di tempat lain, maka begitu juga dengan komunitas.

Setiap komunitas memiliki aturan dan kebiasaan masing-masing. Disitulah kita harus pintar membawa diri. Agar keberadaan kita dirasakan manfaatnya oleh anggota lain.

Tips supaya betah dan nyaman saat berkomunitas

  • Jujur dan terbuka dengan segala kondisi dan permasalahan
  • Saling membantu dan inisiatif untuk kemajuan komunitas
  • Saling menghargai dan menghormati. Kesopanan dan etika tetap nomor satu meskipun sudah sangat akrab dengan pengurus atau member komunitas itu
  • Cepat tanggap dan bertanggung jawab jika ada tugas atau job sehingga tidak mengecewakan pengurus komunitas

Semoga bermanfaat dan mohon maaf jika ada kata yang tidak berkenan ya 🙏🏻

Read more ...

Kamis, 19 Oktober 2023

Rahasia Dapur Blogger Melempem

Apa yang membuat seorang blogger melempem alias lama tidak aktif ngeblog?

Saya sendiri, alasannya banyak. Tapi intinya hanya ada tiga alasan yaitu karena malas, karena kesibukan dan karena kendala teknis.

Udah gitu aja?

Ish! Gak seru ya. Mana ada seribu kata kalau segitu aja udah tamat. Haha ...

Jadinya mau gak mau harus bikin artikel listicle nih, ya. Baiklah. Yuk kita bahas lebih detail mengenai rahasia dapur saya yang kadang memang bertranformasi jadi blogger melempem alias lama gak update tulisan di blog.

Jadi ada 3 alasan besar kalau pemilik blog tehokti.com ini hiatus. Apa saja alasannya itu?

1. Karena Malas

Deuh, mani jujur pisan atuh, Teh...

Ya, alasan utama gak update blog itu sebenarnya sih karena rasa malas. Karena kalaupun menyalahkan adanya writer block, alias kebuntuan dalam mendapatkan ide tulisan, sebenarnya itu karena ditunggangi rasa malas itu.

Karena jika benar tidak malas, bisa saja kan saat mentok di tulisan tertentu itu, bisa jajal dulu tulisan dengan tema lain. Bener teu?

Ya cakupannya kan kita biar update blog, jadi intinya mengeluarkan artikel alias tulisan, bukan? Apalagi alasannya kalau bukan emang malas?

Malas ini sendiri bisa muncul saat pikiran saya mulai melenceng dari niat awal kenapa mau jadi seorang blogger.

Bisa dibilang rasa malas menulis ini muncul saat niat jadi blogger goyah, alias tidak konsisten lagi. Boleh setuju boleh tidak, boleh menyalahkan si writer block sebagai tersangka, atau kemalasanmu sebagai tersangka utama. Jawaban ada di benak masing-masing ya.

2. Karena Kesibukan

Betul, semua orang juga sibuk. Semua sama memiliki waktu selama 24 jam setiap harinya. Selama itu, sebagai ibu rumah tangga tentu saja memiliki tugas yang harus didahulukan.

Meski sebenarnya, bisa kita kembalikan lagi ke alasan pertama, yaitu malas dan niat yang mulai goyah. Karena saya pernah mengalami sesibuk apa pun, kalau emang sedang tidak malas, niat untuk mempublikasikan sebuah artikel sangat kuat, dalam waktu yang sangat mepet pun itu artikel jadi terpublikasi. Ini sih sepertinya pengalaman murni para pejuang deadline garis keras ya. Hehe...

Jadi kesibukan seperti apa yang bisa bikin saya melempem sampai keteteran update blog?

Ngurus urusan anak

Ya, sebagai seorang ibu, anak pastinya jadi prioritas utama. Apalagi anak saya bisa dibilang manja, pemalu, dan dalam melakukan apapun butuh pendampingan ekstra.

Saya bisa keteteran (bahkan sampai lupa) untuk ngeblog kalau pas anak ada acara seperti berkemah, atau ikut perlombaan keluar sekolah.

Tahu sendiri saya tinggal di Cianjur Selatan yang ke kota kabupaten berjarak 3 jam kendaraan. Saat anak ada kegiatan otomatis harus saya antar, itu memerlukan waktu pulang pergi minimal dua hari.

Nah, selama itu, saya sering lupa dengan rumah maya alias blog karena fokus pada kegiatan anak dan stamina kami.

Perjalanan dengan jalan naik turun bergelombang, gak hanya bikin mabuk perjalanan, tapi juga bikin konsentrasi buyar. Kalau sudah begitu, boro-boro mau update blog, kan? Yang ada berusaha memulihkan diri dulu.

Terus kalau antar anak naik gunung juga, itu pulang pergi bisa sampai seminggu saya gak bakalan bisa fokus ke blog, karena konsentrasi ke mendampingi anak.

Kerja serabutan sehari-hari

Hidup di kampung memang banyak suka dukanya. Tapi kalau kita bersyukur, rasa sukanya pasti bakalan lebih dominan. Namanya orang kampung, hidup di desa, apalagi kegiatan kerja kesehariannya kalau bukan bertani dan berkebun? Dan saya suka sampai lupa waktu kalau sudah terjun ke kebun.

Menghirup udara bersih, melihat pemandangan yang hijau, memanen hasil kebun walau tak seberapa, semua itu membuat saya terlena dan lupa kegiatan lainnya.

Sering bablas waktu kalau saja tidak mendengar suara adzan dari speaker masjid kampung sebelah perkebunan saking betahnya. Jadi lupa deadline, dan menunda-tulisan hingga akhirnya tak publish-publish sampai itu artikel kadaluarsa karena lama ngendap di draft.

Me time

Yang bikin saya lama tidak update blog, itu karena waktu yang seharusnya dipakai untuk ngetik lebih banyak digunakan untuk melakukan hobi dan kesenangan. Salah satunya seperti membaca novel di platform bacaan online.

Kalau platformnya berbayar, saya pasti bisa membatasi diri. Tapi setelah ketemu aplikasi novel gratis dan bahkan mendapatkan reward recehan setiap selesai membaca (syarat dan ketentuan berlaku) akhirnya saya setiap hari ketagihan untuk meneruskan bacaan itu.

Apalagi kalau sudah menemukan cerita yang bagus, bawaannya ratusan bab itu ingin dibaca habis secepatnya. Kalau udah betah buka gadget buat baca gitu, lupa kan tuh sama blog.

3. Karena ada kendala teknis

Jika alasan point pertama dibuat karena kesalahan atau kelalaian sendiri. Sengaja gak sengaja tapi disetujui, gitu kan.

Nah alasan kedua kenapa saya bisa lama gak update blog ini, karena murni di luar kehendak saya. Apa saja?

Listrik mati internet mati

Mau percaya atau tidak, di kampung saya ini, setiap turun hujan, selalu saja diiringi listrik mati. Otomatis internet yang kami pakai juga ikut mati. Kalau sudah begitu, mau bagaimana? Ngedraf sih bisa tapi tetap memperhatikan daya baterai juga. Jangan sampai kehabisan hingga gak bisa berkomunikasi juga, ya kan?

Masih mending ketika baterai masih banyak dan kuota di ponsel mencukupi. Sekedar untuk ngintip media perpesanan masih bisa lah ya. Tapi untuk buka blog yang mana loading nya aja bisa kali sambil masak mie, mulai rebus air sampai mendidih dan mie matang siap disantap, itu halaman blog belum juga terbuka. Sudah, jika begitu saya tinggalkan. Iya, daripada buang waktu kan?

Ponsel masuk UGD alias diservice

Alasan lain kalau pas ponsel saya ini sedang ngambek, otomatis saya ga bisa buka dunia maya.

Perlu tahu ya kalau sejak mengenal internet dan blog, sampai sekarang saya menulis blog langsung dari ponsel. Jadi ketika ponselnya rusak (sering rusak karena emang ponsel jadul juga) tak ada jalan bagi saya untuk bisa update blog, sepenting apapun itu.

Sakit

Nah kalau sakit ini sebenarnya bisa dibuat sebagai alasan bisa juga tidak. Kalau sakitnya masih bisa dibawa main hp, saya masih bisa update blog. Tapi kalau pas sakitnya ga bisa diajak buat megang gadget, ya udah saya ga bisa ngotak ngatik lagi apapun, termasuk blog. Sekuat apapun niat dan motivasinya, jika kehendak Nya tak mengizinkan, kita ga bisa juga memaksakan.

Jadi, eh, btw ini sudah seribu kata belom sih? Hehe... Itu saja sih alasan-alasan yang bisa bikin saya lama ga update blog, meski sebenarnya saya tidak ingin membiarkan blog saya jamuran dan bersarang laba-laba karena tahu sendiri blog ini sudah jadi mata pencaharian saya.

Alasan terbesar saya yang menjadikan motivasi untuk terus bisa blog ya karena penghasilannya ini. Penghasilan dari blog ini kan jadi dana operasional untuk keberlangsungan pondok mengaji yang saya dan suami kelola.

Blogger daerah macam saya, yang ga bisa ikutan event berbayar, ga bisa menghadiri acara launching, dan ga bisa ikutan event blogger lainnya, kalau ga update blog secara mandiri, mana bisa dilirik pengguna jasa? Ya gak?

Jika blog dibiarkan lama tidak update bagaimana bisa menghasilkan cuan? Itulah kenapa semelempem-melempemnya saya, blogger Cianjur ini tetap berusaha update blog, kecuali karena ada 3 alasan utama di atas itu.

Kalau manteman, pernah jugakah membiarkan blog lama tidak diupdate? Boleh share dong alasannya kenapa...

Read more ...