Kamis, 14 September 2023

Perjalanan Malam Rezekinya Si Nasi Kuning

Pernah dengar tentang keajaiban rezeki? Banyak orang mencari tahu bagaimana cara membuka pintu rezeki agar hidup tidak diimpit kesulitan. Siang malam banting tulang untuk sesuap nasi, apakah kita salah satunya? Hemm...

Sebagai Muslim, saya percaya kalau rezeki telah dijamin dan dipastikan bagi hamba Allah oleh Nya.

“Dan tidak ada suatu binatang melata pun di muka bumi melainkan Allahlah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (lauh mahfuzh)."(QS Hud: 6).

Masih banyak lagi firman Allah SWT terkait rezeki. Setidaknya saya pernah membaca pada sebuah kitab kajian, ada sekitar 52 ayat dalam Al Quran yang menjelaskan soal itu (rezeki).

Yang pasti, ayat yang menjelaskan tentang kaitannya dengan rezeki itu, adalah pegangan kita sebagai hamba-Nya agar kita semua yakin bahwa rezeki kita dijamin oleh Allah. Tentu saja disertai dengan ikhtiar usaha dan doa

Jadi ingat pengalaman saya, suami dan anak Rabu sore kemarin. Kami bertiga melakukan perjalanan malam hari keliling kampung tapi hasilnya zonk. Jika mengingat itu, keyakinan akan kalimat rezeki tidak akan tertukar, rezeki harus dijemput (dalam arti manusia harus berikhtiar) jadi makin besar. Dan ujungnya kami suka tertawa-tawa jika mengingat kelucuannya.

Jadi ceritanya, tradisi di kampung kami, kalau setiap Rabu terakhir di bulan Safar itu setiap tahunnya ada sejenis peringatan. Rebo Wekasan adalah istilah untuk hari Rabu terakhir di bulan Shafar itu. Rebo Wekasan di kampung kami diisi dengan lebih mendekatkan diri pada Tuhan secara pribadi, dan melakukan pengajian secara umum untuk jemaah atau warga kampung.

Umat Islam pada malam Rebo Wekasan dianjurkan untuk berdoa dan melakukan amal kebaikan yang secara umum bertujuan menolak bala atau keburukan, memohon ampunan kepada Allah SWT dan mendapatkan kebaikan.

Pada hari Rabu Wekasan itu biasanya untuk saling menyemangati satu sama lain setiap rumah membuat olahan lalu dibawa ke majlis, baik di masjid atau di madrasah untuk dimakan bersama. Suguhan ini banyak macamnya, tergantung kemampuan dan kreativitas masing-masing.

Rau Wekasan kemarin, saya dan suami sepakat mau bikin nasi tumpeng. Tapi tidak dihantar ke masjid atau madrasah melainkan untuk dinikmati anak santri di pondok mengaji saja. Selain budget yang seadanya kami juga tidak ingin anak mengaji terganggu waktu hafalannya kalau harus “dipindahkan” ke luar pondok. Jelang Peringatan Maulid Nabi, anak santri dari beberapa hari lalu memang sudah diberi materi untuk perayaan maulid nabi dan mereka mulai menghafal untuk pentas nanti.

Jumlah santri ada 26. Saya bikin nasi kuning untuk 30 porsi. Tapi pas hari H, yang hadir hanya ada 20 orang santri saja. Malah dapat informasi kalau salah satu santri kami tidak mengaji karena ayahnya sakit kecelakaan kerja.

Sisa nasi kuning ada sekitar empat porsi lagi itu tidak mubadzir sih karena bisa langsung kami berikan pada tetangga atau anak-anak kampung meksipun tidak mengaji di kami.

Setelah bubar isya, suami ngajak saya dan anak untuk menengok orang tua santri yang kecelakaan tadi.

Saya bilang, apa gak ganggu kalau malam, siapa tahu mereka istirahat.

Tapi suami bilang habis mau kapan lagi, sementara besok pagi suami juga berangkat kerja. Pulang sore langsung ngawuruk (ngajar) lagi di pondok. Waktunya untuk menjenguk ya bada isya ini saja.

Okelah saya setuju. Menyiapkan nasi kuning dan lainnya, kami baru bisa keluar rumah sekitar jam delapan malam.

Melewati sisi kampung, kami berjalan beriringan. Suami di depan lalu anak di tengah sambil membawa senter. Saya di belakang sambil menenteng rantang berisi nasi kuning dan lainnya.

Kampung sudah terasa sepi. Apalagi arah ke rumah santri yang orang tuanya sakit kecelakaan ini jauh dari jalan raya. Jadi rumahnya agak ke belakang kampung, menuju persawahan dan makam umum.

Dari jauh sudah terlihat di depan sana, di pinggir persawahan berdiri dua rumah duduk jendela (bawahnya tembok, atasnya bagian dinding tidak ditembok) yang paling sisi sawah itulah rumah orang tua santri yang kami tuju.

“Tapi kok sepi ya?” Suami balik menghadap kami. “Apa mereka sudah pada tidur?”

“Ah, masa iya baru juga jam delapan lewat sepuluh menit...” sanggah anak yang disetujui saya.

Suami berjalan mengendap-endap menuju teras rumah paling sisi sawah itu. “Tunggu di sini ya, mau lihat dulu ada di rumah atau enggak... takutnya sakit terus dibawa berobat atau nginep dimana...”

Saya dan anak mengiyakan. Jika anak langsung jongkok di batu kali yang ada di pinggir sawah, sambil ngutak ngatik lampu senter. Sementara saya melihat pemandangan sekitar.

Meski suasana malam, saya bisa merasakan kalau siang, hamparan sawah di depan ini sangat indah dan warnanya sangat menyejukkan mata. Saung (dangau) yang terlihat di beberapa tempat ujung sawah jadi tempat favorit untuk main dan gogoleran (rebahan) sambil merasakan sejuknya semilir angin pedesaan.

Suasana sawah dan dangau di pedesaan

Suasana sawah di pedesaan, jadi teringat film Si Kabayan, bagaimana sosok sederhana itu hidup di tatar Sunda dengan segala kelucuan dan kepolosannya. Bagaimana interaksi ia dengan Nyi Iteung, sang istri dan Abah serta Ambu, mertuanya.

Sebagai orang Sunda tentu saja saya sangat paham bagaimana tradisi dan budaya yang sangat dijaga Si Kabayan hidup di pedesaan dengan segala depe-depe dan handap asor-nya (rendah hati dan tidak sombong). Temasuk bagaimana ia menghadapi mertua laki-laki (Abah) yang sering berseteru atau ketika mendengar curhat si Ambu (mertua perempuan) yang menginginkan menantunya giat bekerja dan punya penghasilan.

Hidup di kampung dengan segala limpahan rezekinya seharusnya tidak bikin khawatir. Udara masih bersih, mata air masih banyak tersedia, kekompakan dan gotong royong antar sesama pun masih terjalin kuat.

“Bu, kita pulang saja. Ternyata mereka udah pada tidur. Kasihan kalau kita ganggu.”

Lamunan saya bubar ketika suami sudah kembali di hadapan.

“Lah terus ini nasinya, bagaimana?” saya mengangkat rantang.

Setelah terdiam beberapa saat, suami menyarankan langsung ke rumah Ahmad saja. Temannya saat sekolah itu istrinya beberapa hari lalu baru saja melahirkan. Nasinya kasih ke mereka saja.

Tapi rumahnya Ahmad ada di sisi kampung sebelah sana. Ibarat saya sedang di sisi barat kampung, kalau ke rumah Ahmad, harus jalan kaki lagi ke sisi timur kampung. Melewati sawah dan rumah warga juga.

Saya setuju, mengingat sayang banget kalau nasi kuning ini tidak langsung dimakan. Meski ngedumel bilang capek, anak pun akhirnya mau ikut.

Kami berjalan menapaki galengan (jalan pinggir sawah yang lebarnya tak lebih dari setengah meter) dengan kembali berurutan. Suami di depan anak di tengah dan saya terakhir.

“Pada kemana ya orang-orang ini sepi banget...” anak mulai bicara.

Di kampung, habis isya orang udah langsung pada tidur. Suami berjalan sambil menjelaskan. Mereka kebanyakan kerja di sawah, kebun memerlukan tenaga. Jadi perlu istirahat. Apalagi besok harus bangun pagi dan kerja lagi.

“Uh, kalau Ami udah gak betah deh. Masih sore ini. Kenapa gak nonton tv aja dulu,” anak kami menimpali.

“Ya mereka kan sudah terbiasa. Lagian gak semua punya televisi. Kalaupun ada, mereka lebih baik hemat. Kehidupan di pedesaan memang masih banyak seperti itu,” suami dengan sabar menjelaskan.

Iya juga. Dulu waktu pertama kali saya dibawa pindah suami ke kampung ini, suasana depan rumah saja sangat sepi. Apalagi kalau musim hujan. Padahal rumah kami di pinggir jalan aspal. Sekarang mending udah banyak dibangun warung dan pertokoan. Jadi apalagi di pedalaman kampung yang masih banyak sawah dan kebun.

Masyarakat pedesaan pekerja keras

Kegiatan sehari-hari mereka sebagai pekerja kasar dan keras, memang membutuhkan waktu istirahat yang lebih banyak. Tidak ada istilah begadang, atau nonton drama Cina sebagai pengantar sebelum tidur. Mereka disiplin istirahat karena tuntutan keesokan harinya harus kembali bekerja keras.

Tak terasa akhirnya sampai juga di rumah Ahmad. Tapi kembali suasana sepi yang kami temui. Biasanya kalau ada yang habis melahirkan suka ada yang menemani baik keluarga atau tetangga. Jadi suasana rumah lebih ramai dan hangat. Ini pintu rumah tertutup rapat seolah tak ada penghuninya.

Anak bertanya apakah penghuni rumah ini juga sudah pada tidur?

Suami mengira mungkin mereka sedang keluar rumah.

“Jadi bagaimana ini nasi kuningnya?” saya kembali mengangkat rantang.

“Ya sudah kita bawa pulang lagi saja. Abis bagaimana, orang yang kita tuju pada tidak ada. Mungkin nasi kuning itu bukan rezekinya mereka.”

Sambil menarik nafas saya mengikuti saja. Kami balik kanan kembali mengitari kampung melewati pematang sawah dengan rute searah jarum jam kembali ke rumah.

Jalan di pematang sawah

Pas memasuki jalan aspal, dari gang rumah yang ada di depan rumah kami keluar seseorang. Suami menyapanya bertanya mau ke mana karena memang cukup akrab.

“Cari nasi goreng Pak, sejak sore saya belum sempat makan nih. Alhamdulillah tadi bawa penumpang ke daerah atas,” katanya sambil tertawa.

Tetangga kami itu tinggal sendiri. Istrinya sedang bekerja di Timur Tengah. Sehari-hari ia bekerja ngojek di pangkalan jalan masuk desa.

Suami menatap saya, minta pendapat. Saya paham dan segera saya sodorkan rantang padanya. Mungkin nasi kuning ini memang sudah rezekinya tetangga dekat rumah.

Kami langsung pamitan masuk rumah ketika tetangga berterima kasih dan bilang rantangnya akan dikembalikan esok setelah dicuci.

“Hadeuh! Kalau tahu gitu udah aja tadi tuh nasi kuningnya kasih ke dia aja langsung. Gak harus muter keliling kampung bawa-bawa rantang isi nasi kuning. Ibu gak bakat untuk jualan itu. Ga laku nasi kuningnya...”

Anak kami misuh-misuh sambil selonjor kaki di teras, sambil menunggu suami buka kunci pintu. Mendengar itu saya dan suami tertawa sampai terpingkal-pingkal.

Dipikir benar juga ya. Dasar bukan rezekinya orang tua santri ataupun Ahmad, meski kami bawa ke sana, tapi jalannya bukan rezekinya mereka ya akhirnya nasi kuningnya selamat tidak sampai.

Mungkin memang sudah rezekinya tetangga depan rumah. Sejak sore ia belum sempat makan, giliran mau beli, malah ketemu kami dan jadilah nasi kuning itu menjadi menu makan malamnya. Itulah keajaiban rezeki.

Banyak di antara kita beranggapan bahwa rezeki semata-mata hanya berupa uang, harta, dan benda. Padahal, itu hanya sebagian kecil saja. Sebagian besarnya meliputi semua apa yang ada di dalam kehidupan manusia. Berupa waktu, kesehatan, kebahagiaan, kebersamaan, persatuan, kesempatan, kerukunan, kecerdasan, keluarga, lingkungan yang baik, dan masih banyak lagi lainnya. Semua itu adalah rezeki yang Allah berikan kepada kita semua.

Jika ini yang dipahami sejak awal maka rahasia keajaiban rezeki akan terbuka dan bisa diamalkan oleh siapa saja. Karena sejatinya nafas yang kita hirup ini pun adalah rezeki kita yang tiada hingga nilai dan harganya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar