Jumat, 22 September 2023

Lanjut Kuliah atau Menikah? Bantu Aku Mengambil Keputusan yang Tepat

Ingin nangis tapi gak bisa maksa mengeluarkan air mata. Mau kesal dan marah, tapi gak tahu harus melampiaskan nya pada siapa. Bagaimana ini? Sungguh bingung ketika keinginan terbentur dengan kenyataan. Bagaimana kubisa mengambil keputusan yang tepat kalau orang terdekat saja tidak mendukung impianku?

Salahkah kuambil keputusan untuk sekadar menyenangkan diri sendiri?

Bukan iri, tapi saya merasa kok agak menyesal gitu ya melihat teman-teman banyak yang melanjutkan lagi pendidikannya, sementara saya tidak. Jadi muncul tuh pemikiran kenapa ibu rumah tangga lain bisa sukses kembali belajar sementara saya tidak?

Padahal dulu, saat saya tidak bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang perkuliahan dikarenakan hantaman ekonomi akibat krisis moneter saya banting setir memilih menjadi TKW, itu niat awalan ingin punya modal untuk biaya kuliah.

Eh seiring berjalannya waktu, saya lebih memahami kondisi hidup dan kehidupan saya beserta keluarga, ternyata saya lebih memilih menjadi tulang punggung keluarga seutuhnya setelah ditinggal bapak untuk selamanya, untuk membiayai ibu dan adik.

Apakah saya menyesali itu? Tentu saja tidak. Keputusan yang saya ambil dulu saya lakukan setelah saya mempertimbangkan semua, termasuk sesuai keyakinan saya dimana ketika akan mengambil sebuah keputusan saya lebih dulu mengadukan kepada Allah SWT melalui solat istikharah.

Jika keinginan saya tidak atau belum terkabul, maka bisa jadi Allah tangguhkan hingga sampai di waktu yang tepat, atau Allah ganti dengan hal lain yang justru itu lebih baik buat saya, atau malah keinginan itu dijauhkan dari saya karena meski menurut saya itu baik, tapi Tuhan Maha Tahu bisa saja itu justru hal yang tidak baik bagi saya.

Hidup yang kita jalani ini hasil dari keputusan yang pernah kita ambil di masa lalu. Dan apa pun keputusan yang telah diambil, maka kita harus siap untuk menerima dan melaksanakan konsekuensi dari hasil keputusan tersebut, bukan?

Mengambil keputusan yang tepat adalah salah satu bagian penting yang pasti akan selalu ada dalam kehidupan kita yang terus mengalami perubahan ini. Saat seseorang dihadapkan pada berbagai pilihan ataupun permasalahan, diperlukan suatu ketetapan hati untuk memutuskan pilihan terbaik ataupun solusi terbaik dari permasalahan yang dihadapinya. Agar hasilnya, baik sesuai keinginan maupun tidak, tidak bikin kecewa.

Memang dibutuhkan proses, pemikiran lebih jernih, dan kekuatan mental untuk bisa menerima semua itu. Ditambah rasa syukur yang harus selalu ditingkatkan supaya kita tidak terjerumus kepada sifat sombong.

Dulu saya menentukan pilihan untuk merelakan uang yang sudah terkumpul untuk modal keluarga, sementara saya memilih kembali lagi bekerja merantau ke luar negeri. Mungkin itu sudah yang terbaik untuk saya. Atau bisa jadi itu sebuah solusi baik dan hasilnya menjadikan saya seperti sekarang ini.

Mengambil keputusan yang tepat

Selanjutnya saya memilih menikah dan membina rumah tangga daripada lanjut kuliah. Lagi-lagi mencoba mengambil-keputusan yang tepat meski setelah menikah, keinginan untuk duduk di bangku kuliah kembali lagi meronta-ronta.

Keputusan yang sudah saya ambil mungkin akan berperan penting dalam menentukan langkah selanjutnya guna mencapai tujuan yang akan saya capai. Jadi meski sekarang suka melirik disertai tatapan wah, kepada mereka para ibu rumah tangga yang disambi kuliah lagi sementara saya kok gini-gini saja, sedikit pun tidak membuat saya harus menyesal.

Saya menyadari, selama seseorang masih menjalani kehidupan, berbagai pilihan ataupun permasalahan akan selalu datang silih berganti dan keputusan pun akan senantiasa dibutuhkan seiring datangnya berbagai pilihan ataupun permasalahan yang harus dihadapi.

Masalahnya, siapkah kita menerima semua konsekuensi dari keputusan yang kita ambil itu?

Kalau sebuah mengambil keputusan yang tepat, disertai dengan ikhlas dan syukur, apa pun hasilnya, yakin bisa diterima dengan lapang dada...

Macam pertimbangan saat ambil keputusan

Ada tiga macam pertimbangan yang sering digunakan dalam mengambil keputusan. Pertama, mengambil keputusan berdasarkan pertimbangan dan pengalaman diri sendiri di mana hasil keputusan itu kadang-kadang benar tetapi juga kadang-kadang salah.

Kedua mengambil keputusan berdasarkan pertimbangan dari orang banyak atau masyarakat luas di mana hasil keputusannya bisa benar tetapi bisa juga salah.

Terakhir mengambil keputusan dengan menjadikan kebenaran sebagai petunjuk, maka hasil keputusannya menghasilkan manfaat dan tidak mungkin merugi.

Orang tua dan guru mengaji saya selalu bilang, keputusan dikatakan benar jika keputusan itu tidak hanya bermanfaat dan berguna bagi diri sendiri, tetapi juga dapat bermanfaat dan berguna untuk orang banyak.

Untuk itu, sebagai makhluk sosial yang senantiasa menjalin komunikasi dan berinteraksi dengan orang banyak, kita hendaknya tidak mengambil keputusan yang hanya menyenangkan diri sendiri tetapi merugikan orang banyak. Karena mengambil keputusan untuk menyenangkan diri sendiri hanya akan memberikan beragam penderitaan.

Marilah kita menjadikan kebenaran yang merupakan kebenaran universal sebagai pedoman bagi kita dalam menjalani kehidupan ini. Termasuk menjadikan sebagai petunjuk dalam mengambil keputusan.

Dengan memahami dan mempraktikkan serta memiliki keteguhan pikiran yang sadar setiap saat dan berkesadaran penuh dalam setiap aspek kehidupan, itu akan sangat membantu kita membuat keputusan yang rasional dan benar yang akan bermanfaat untuk diri sendiri dan bermanfaat untuk orang banyak serta akan mendatangkan kebahagiaan.

Semoga semua makhluk hidup berbahagia dengan semua keputusan tepat yang diambilnya...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar