Lagi milih gorengan dan donat terdengar grasak grusuk dari belakang. Pas ditengok, ternyata tetangga depan warung ini yang kesandung sendalnya sendiri lalu oleng dan hampir jatuh kalau gak pegangan ke tiang penyangga di dekatnya.
Seperti menahan malu dan sakit, ia permisi dan lewat dekat saya. Pintu masuk ke warung emang sedikit terhalang saya, yang keasyikan memilih camilan untuk sarapan.
Saya mengangguk hormat, karena bagaimanapun ia salah satu orang berpengaruh dan berkedudukan di kampung ini. Pun saya menyapa selayaknya berhadapan dengan tetangga karena rumah kami memang berada di kampung yang sama.
Sambil memanggil pemilik warung, ia mendekati lemari es dan mengambil sesuatu dari belakangnya. Semuanya dilakukan seperti terburu-buru.
Ternyata ia mencabut colokan yang tersambung ke ponsel yang sedang dicharge. Sambil kembali terburu-buru ia pamit kepada pemilik warung dan saya. Sambil berjalan ke rumahnya ia terlihat mengaktifkan ponselnya itu dan menghubungi seseorang.
Pemilik warung geleng-geleng kepala sambil berdecak. Katanya kejadian seperti itu bukan sekali-dua kali.
Maksudnya? Sambil menghitung gorengan dan donat yang saya pilih, saya mengemukakan keheranan...
Jadi jelas pemilik warung, orang itu tadi, seperti bukan seorang tenaga pendidik saja. Saya masih gak mengerti, maksudnya apa? Sambil menyodorkan uang dan menunggu kembalian, penasaran saya makin membesar.
Seperti bukan seorang tenaga pendidik, padahal semua orang tahu ia itu tadi kan seorang guru. Bahkan bisik-bisik orang, berkat kekuatan orang dalam ia satu-satunya di tempat kami yang bisa menjadi kepala sekolah meski tidak lulus guru penggerak. Dulu sebelum bercerai, pasangannya juga kepala sekolah.
Masih kata pemilik warung, jadi itu tadi tuh ia dari sebelum subuh udah gedor warung, bukan buat beli sesuatu, tapi mau numpang ngecas hapenya.

“Kenapa numpang ngecas hape disini?” meski tidak suka bergosip, tapi saya jadi kepo juga.
Karena listrik di rumahnya mati. Saking sibuknya wara-wiri sana sini katanya ia sampai kelupaan isi token listrik. Ya Tuhan! Saya melongo. Pemilik warung nyengir...
Jaman kek gini, sekelas orang terpandang di kampung kami, sampai segitu lupa buat isi token listrik karena sibuknya? Lalu numpang ngecas di tempat orang dan grasak-grusuk karena pagi ini takut gak bisa terima informasi penting selama ponselnya kehabisan daya?
Bukankah PLN sudah menetapkan standar minimal 20 kWH untuk batas kuota listrik di rumah? Jadi, ketika isian daya telah mencapai batas minimal tersebut, otomatis alarm akan berbunyi sebagai tanda bahwa si pengguna harus segera melakukan pengisian token listrik.
Makanya kalau dibilang lupa atau sibuk hingga kelupaan ngisi token listrik, kan berasa gak lucu ya... Akhirnya saya mengikuti gaya pemilik warung, nyengirrr...
“Dia itu guru, kepala sekolah, mendidik banyak anak orang untuk sekolah dan disiplin. Tapi mendidik anaknya sendiri gak bisa. Anaknya itu sering ditinggal di sini loh dan gak sekolah.”
Waduh! Kasihan juga itu orang tua dan anak kalau benar yang dikatakan pemilik warung. Kenapa bisa menelantarkan anak kalau sebenarnya ia tuh mampu dari segala hal?
Badan sehat, perekonomian mapan ditunjukkan oleh profesi yang bagus, malah ia menjabat di dua sekolah dengan kepemilikan kendaraan yang di atas rata-rata. Masa mendidik anak gak bisa? Masa memanage waktu di rumah sendiri yang cukup mentereng itu sampai keteteran?
Sekelas dia sampai lupa isi token listrik jelas memancing siapapun untuk memasang wajah smirk padanya.
Saya jadi penasaran ia emang kelupaan, atau tidak ada uang? Kalau kelupaan, kan bisa segera top up. Mau ke minimarket, pakai ewallet atau ke konter secara manual juga bisa. Jaman sekarang sekelas pejabat seperti ia yang ponselnya aja keluaran terbaru mana mungkin ga tahu kalau bisa install aplikasi buat belanja online dan bayar-bayar tagihan.
Kalau tidak ada uang, lebih tidak mungkin lagi. Ia tuh Pegawai Negeri Sipil, keturunan keluarga berada mengingat orang tuanya tokoh masyarakat dan wakil rakyat. Masa beli token seharga 25 ribu saja gak mampu?

Sambil pulang dari warung dan melewati rumah orang itu, saya lebih kepikiran kepada anak-anaknya. Yang kata pemilik warung tadi, sering tidak berangkat ke sekolah tanpa alasan. Apakah itu dampak dari perpisahan orang tua yang berimbas kepada anak-anaknya?
Sekelas tenaga pendidik, sehancur apapun biduk rumah tangganya rasanya tidak akan rela membiarkan anak sendiri terlantar, bukan? Apalagi saya yakin, saat mengenyam pendidikan yang menunjang profesinya sekarang itu, ia pasti mempelajari juga ilmu psikologi dan ilmu parenting. Lalu kemana semua yang pernah dipelajarinya itu kini?
Dari kejadian itu saya melihat, ilmu tentang mengasuh, membimbing, serta mendidik anak dengan cara baik dan benar ini tidak hanya cukup dipelajari tapi juga harus dipraktikkan.
Tidak mudah menerapkan prinsip utama pola asuh yang baik yaitu membesarkan dan mendidik anak dengan penuh kasih sayang, sekaligus mendukung, membimbing, dan menjadi teman yang menyenangkan. Contohnya ia yang diceritakan pemilik warung tadi.
Karena itu mungkin ya, sekarang ini wajar banyak bermunculan platfom belajar parenting untuk orang tua di Indonesia. Seperti sekolah parenting di Malang, yang cukup terkenal di kalangan para praktisi itu Sekolah Parenting Harum. Karena sejatinya sekolah untuk menjadi orang tua yang menerapkan sistem pola asuh terbaik itu tidak pernah ada batasnya.
Yang berpendidikan tinggi dan memiliki jabatan bagus seperti ia saja masih bisa menelantarkan anak dan keadaan di rumahnya sendiri, bagaimana dengan orang tua yang sama sekali tak mendapatkan sentuhan ilmu dan wawasan?
Beruntung rumah peninggalan mertua yang saya tinggali ini menggunakan listrik meteran pasca bayar, kalau pakai token terus kehabisan daya, bisa-bisa saya pun ikut numpang ngecas ponsel di warung sana, malu juga. Haha!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar