Minggu, 05 Februari 2023

Meremove Amandel

Libur akhir tahun kemarin, saya dan keluarga tidak kemana-mana sama sekali. Selain kondisi pasca gempa belum pulih benar, juga cuaca buruk berupa hujan angin terus menerus mengguyur beberapa wilayah terdekat. Ditambah kondisi saya benar-benar drop. Selama dua mingguan saya hanya terkapar menahan kesakitan sendirian.

Bukan tidak kasihan kepada anak, saat libur semesteran jangankan liburan mengunjungi lokasi yang sangat ingin dikunjunginya seperti kolam renang, pasar malam, atau pantai selatan. Mengunjungi neneknya saja untuk silaturahmi, ia sama sekali tak melakukannya.

Mungkin semua penyebabnya ya karena saya. Saya yang malas ngapa-ngapain berimbas kepada anak suami yang juga jadi tidak bisa kemana-mana. Padahal libur akhir tahun itu sekaligus libur semester adalah saat yang tepat untuk memaksimalkan waktu bersama keluarga, dimana pak suami yang bekerja sebagai ASN seperti Mbak Ira waktu liburannya gak banyak.

Sebenarnya tanpa saya anak dan suami bisa bebas bepergian kemana saja. Hanya ketergantungan kami satu sama lain sebagai team bringka alias tukang bring kaditu bring kedieu bersama-sama (bahasa Sunda, artinya kesana kemari selalu bersama-sama) mungkin itu yang menyebabkan anak dan suami merasa kurang klop kalau salah satu diantara kami tidak ikut.

Saya sendiri meski sedang sakit, selama bisa solat berdiri, terbiasa kok mengurus sendiri. Sudah beberapa kali mengalami kesakitan yang sama, tapi saya tetap bisa menjalankan pekerjaan rumah tangga, tanpa bantuan orang lain. Kecuali kalau badan ingin dipijat, ya pastinya itu baru memerlukan pertolongan orang lain.

Kesakitan saya, bersumber dari amandel (tonsil) yang sering kambuh. Saat SD kelas lima, saya mengalami nyeri leher dan sakit menelan. Periksa ke Puskesmas Batununggal (saat itu saya masih tinggal di Kotamadya Bandung) dokter bilang amandel saya bengkak, kena infeksi. Harus segera dioperasi. Kalau tidak, tonsilitis ini bisa kambuh secara berkala.

Namun orang tua saya mana tahu soal seperti itu. Setelah diberi obat sementara, dan nyeri leher saya tidak terasa lagi, begitu juga menelan makanan bisa kembali normal, maka saya dianggap sembuh sudah.

Baru setelah saya dewasa mengerti dengan situasi, yang menjadi kendala saya tidak melakukan operasi amandel saat itu adalah karena faktor keuangan orang tua saya yang tidak punya.

Kelas enam, saat ebtanas berlangsung, amandel saya kambuh lagi. Sambil menahan kesakitan saya berusaha menjawab semua soal ujian dengan benar. Masih ingat saat itu teman pintar di kelas, namanya Nurdin sangat telaten membantu saya. Hendi, teman sekelas tetangga rumah dia selalu menjaga saya ketika berangkat dan pulang sekolah. Sungguh terimakasih untuk semua kebaikan kalian. Padahal kalau dipikir sekarang, mana ada teman cowok yang tulus mau ngurusin teman perempuannya yang sakit seperti saya. Secara anak SD tahun 80-90 mana ngerti masalah tentang perempuan. Tapi kala itu mereka betul-betul sangat membantu saya. Semoga kesehatan dan keselamatan selalu menyertai kalian, sobatku...

Setelah beres ebtanas, amandel saya tidak kunjung sembuh, guru kelas memanggil bapak untuk membicarakan penyakit saya ini. Lagi-lagi karena tidak mampu biaya, bapak dan paman saya malah membawa saya berobat tradisional ke Tasikmalaya. Jadi amandel saya tidak dioperasi melainkan menjalani pengobatan kampung saja.

Sampai kini, amandel saya sering kambuh. Pemicunya bisa makanan pedas, bumbu gurih, atau kondisi badan sedang tidak fit.

Saat amandel saya kambuh, selain sakit di leher dan sakit saat menelan apapun, badan pun langsung terasa meriang. Sakit kepala dan ngilu sekujur badan datang silih berganti. Jika sudah demikian, saya tidak bisa banyak bergerak, hanya terbaring pasrah. Merasakan kesakitan sambil berdoa semoga sakit ini segera mereda. Mau gimana lagi, saat menelan ludah saja harus berjuang menahan sakit, mana bisa mau mengerjakan hal lain?

Setelah berumah tangga sakit amandel jarang saya alami mungkin karena semua makanan di rumah saya yang bikin, jadi saya yang mengontrol bumbu penyedap rasa maupun tingkat kepedasan. Jadi saya gak kepikiran mau berobat serius ke dokter mengingat jika saya menerapkan pola hidup sehat, insyaallah amandel ini pun baik-baik saja.

Tapi kadang kecolongan kalau abis jajan bakso di luar. Meski mewanti-wanti jangan pakai penyedap rasa, atau saya tidak menuangkan saos sambal tapi selalu saja rasa gurih, atau penggunaan zat kimia lainnya dalam makanan itu bisa terdeteksi oleh amandel. Dan langsung saya akan merasa kesakitan.

Beberapa teman merekomendasikan obat herbal, namun sejauh ini saya belum mencobanya. Obat herbal andalan saya ya air putih saja, hehe...

Jika disodorkan pertanyaan:

Bagian mana yang ingin kamu install ulang dari hidup kamu? Buat membersihkan cookies, chace, virus dan hal lainnya yang bikin kamu lemot bergerak saat ini?

Maka jawabannya adalah saya ingin kembali ke masa kecil dan meremove (baca mengobati dengan operasi) amandel saya ini sehingga tak menimbulkan kekambuhan berkepanjangan seperti sekarang.

Virus, cookies, atau apapun istilahnya yang harus segera di clear kan dari diri saya ini selain dosa-dosa yang menggunung, juga yang bikin eror badan saya sehingga sering lemot dan terpaksa harus di shut down dulu ini termasuk penyakit jasmaniah yang diderita. Saat kambuh, gak hanya bikin saya lemot, tapi juga perlu diinstal ulang.

Kalau manteman, jika  ditanya bagian mana yang ingin kamu install ulang dari hidup kamu? Buat membersihkan cookies, chace, virus dan hal lainnya yang bikin kamu lemot bergerak saat ini? Apa coba jawabannya?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar