Senin, 16 Januari 2023

Mengemis atau Membuka Jalan Sedekah?

Sebentar lagi di kampung saya akan ada peringatan Isra Miraj Rasulullah. Anak mengaji di rumah, selalu kami didik untuk tampil di depan masyarakat membawakan pesan dari peringatan Hari Besar Islam itu dalam acara yang di daerah kami disebut lesengan atau imtihan.

Namanya juga anak-anak ada yang semangat, ada yang antusias, ada yang malu-malu, bahkan ada juga yang menolak. Sebagai pembimbing mereka, saya dan suami selalu berusaha menyemangati supaya mereka semua ikut berpartisipasi.

Salah satu yang selalu bikin mereka antusias adalah dibagikannya bingkisan setelah mereka tampil. Jadi seolah mereka yang berani tampil ke panggung, akan memperoleh upah berupa bingkisan yang biasanya berisi snack atau jajanan.

Setelah tampil mereka senang mendapatkan bingkisan ala-ala

Darimana dana bingkisan itu? Kadang dari uang pribadi. Hasil dari ngeblog selama ini, memang saya alokasikan untuk biaya operasional pondok pengajian Al Hidayah yang saya dan suami kelola ini. Tapi jika kami sedang tidak punya uang, saya berusaha untuk mendapatkan donatur. Baik menghubungi teman- teman saat bekerja di luar negeri, majikan tempat saya bekerja, maupun teman-teman blogger dan teman dunia maya.

Jujur, sebenarnya menyampaikan ini saya malu dan minder. Meski tidak banyak yang kami harapkan, tapi namanya meminta, rasanya tetap malu saja.

Sementara kami tidak pernah meminta uang apapun kepada anak santri yang mengaji. Dengan semangat mereka untuk datang saja rasanya sudah sangat senang. Karena di jaman serba digital seperti sekarang, meski kami berada di lingkungan kampung kota santri dengan julukan Cianjur sebagai gerbang marhamah tapi masuknya gadget sudah banyak merebut perhatian anak. Andai tidak ada kerja sama yang baik dengan pihak orang tua wali santri, mustahil mereka mau berangkat mengaji.

Karena itu berdasarkan faktor pendidikan para orang tua yang pemahamannya juga masih rendah, kami tidak ingin memberatkan mereka. Cukup sekali kami pernah mendengar “Ga apa lah anak saya mah gak ngaji juga, karena kami memang gak punya Al Qur’an dan biayanya”. Alih-alih mendidik anak semaksimal mungkin ternyata masih ada orang tua yang masa bodoh dengan kondisi pendidikan dan akhlak anak-anaknya. Nauzubillah...

Sejak itu saya dan suami sepakat, selagi ada kami menggratiskan semua biaya. Asal anak anak di kampung saya ini semangat berangkat ngaji sehingga mereka memiliki setidaknya ilmu dasar dan mengenal akhlak terpuji sejak dini.

Sempat ada yang menyarankan supaya saya mendaftarkan pondok mengaji ini menjadi yayasan atau lembaga pendidikan yang resmi supaya nantinya bisa mendapatkan bantuan operasional dari pemerintah. Tapi saya dan suami memang belum jauh berpikir sampai sana. Secara ilmu kami saja masih cetek.

https://www.instagram.com/p/CXUn3fmvQVX/?igshid=OGQ2MjdiOTE=

Jadi sampai sekarang pondok mengaji ini kami kelola secara sederhana saja. Tergantung bagaimana kondisi rezeki kami. Jika mentok yaitu tadi, saya menghubungi teman-teman melalui postingan di media sosial. Siapa tahu ada hati yang tergerak mau sedikit berbagi rezeki.

Alhamdulillah meski malu, minder dan takut tidak bisa amanah, kepercayaan teman-teman dari tempat mereka mengais rezeki, kepercayaan majikan saya waktu bekerja di luar negeri dan kepercayaan para blogger yang telah menyisihkan sebagian rezekinya itu ternyata cukup tinggi terhadap saya. Tidak hanya dari kaum muslim, donatur dari non muslim juga ada.

Kepercayaan mereka itu saya jadikan tantangan supaya bisa berkelanjutan. Karena saya yakin, yang saya lakukan ini bukan meminta, tapi mengajak berbagi kebaikan sekecil apapun yang bisa kita lakukan.

Saat ramai sistem donasi melalui KitaBisa, saya pun pernah melakukannya. Dari dana target dua juta rupiah, selama masa kampanye itu berlangsung dana terkumpul sekitar 600.000. Rupanya saat itu sistem melalui KitaBisa masih terbilang ribet bagi sebagian orang. Sistem transfer langsung dirasa lebih cepat, praktis dan “tidak banyak yang tahu”.

Bingkisan yang dibeli dari hasil donasi para blogger lebaran tahun 2022

Akhirnya saya meminta donasi alias sumbangan secara door to door saja. Menghubungi secara personal dan memberikan laporan penggunaan dana untuk apa saja juga secara pribadi.

Dari sekian banyak donatur yang telah ikut berpartisipasi memajukan aktivitas Pondok Mengaji Al Hidayah ini, dengan tidak mengurangi rasa hormat, saya mohon maaf tidak menyebutkan nama, tapi pasti pahala akan mengalir terus kepada mereka, yang telah memberikan sebagian rezekinya untuk membeli Al Qur’an , mukena, sarung, seragam mengaji dan rezeki berupa uang yang saya manfaatkan untuk kebutuhan Kegiatan belajar dan mengajar seperti buku, alat tulis, papan tulis, kitab, Iqro, rekal, dan sebagainya. Termasuk membeli snack jajan anak yang kami bagikan saat ada perayaan lesengan atau imtihan.

Di satu sisi saya merasa mengajak melakukan kebaikan ini adalah sebagai bagian dari ibadah. Saat pemikiran itu ada semangat pun muncul dengan tingginya. Tapi ketika sisi minder mencuat, apalagi jika ada yang nyinyir mengatakan kalau mencari donatur ini kedok untuk memenuhi kebutuhan sendiri rasanya ingin menghilang saja dari permukaan bumi ini. Tapi ya kasihan nanti bagaimana kelanjutan anak didik di pondok mengaji kami? Karena selain ada anak kurang mampu, ada pula beberapa anak yatim yang harus kita santuni.

Ini seragam mengaji dananya saya kumpulkan dari donatur para blogger tahun 2019 lho...

Saat ini kami merencanakan membuat seragam warna putih, supaya anak lelaki bisa menggunakannya untuk solat Jumat

Tidak ada komentar:

Posting Komentar