Rabu, 05 Oktober 2022

Kembali ke Alam atau Dangdutan?

Saya amati aktivitas camping alias berkemah sekarang menjadi trend wisata yang bukan hanya milik anak berseragam Pramuka, anak  Pecinta Alam atau anak muda pada umumnya. Karena kakek nenek pun banyak yang tidak mau ketinggalan.

Sampai anak saya berseloroh, “Kakek nenek bukannya diam di rumah saja ya?”

“Hust! Gak boleh gitu. Semua orang dan siapa saja boleh kok ikutan apa saja. Asal tidak merugikan satu sama lain.” Bisik saya memberikan pemahaman.

Memang saat itu kami melihat ada satu rombongan keluarga yang sedang membuat mini api unggun. Salut dengan sang kakek dan nenek yang masih kuat tidur di tenda, bercengkerama ditengah dinginnya malam dengan anak dan cucu-cucunya.

Kebahagiaan memang sulit diukur oleh seberapa banyak kekayaan. Meski saat camping identik dengan kondisi hidup serba terbatas, namun banyak saja yang melakukan itu.

Tapi untuk kakek nenek dan keluarganya itu tentu saja ada pengecualian. Melihat fasilitas yang cukup lengkap mereka boyong ke tempat camping, sudah menjelaskan bagaimana wah nya kondisi mereka. Jauh beda dengan para camper pada umumnya yang justru terlihat kere dan kumal.

Maksudnya saya dan keluarga ini contohnya. Kami akui camping yang kami lakukan bukan camping ceria. Jauh lah meski nyatanya kami lebih dari ceria, tertawa terbahak sampai perut rasanya sakit melilit saking tak hentinya tertawa. Ya, saking selalu bergurau, dan bercanda. Acara kami ini lebih tepatnya camping apa adanya. Saking sederhana dan minim fasilitas.

Jelas beda dengan mereka. Ada yang sengaja datang dengan kendaraan yang dimodifikasi untuk kegiatan campignnya, campervan.

Ide modifikasi kendaraan untuk aktivitas camping yang sudah masuk di GAIKINDO Indonesia International Auto Show (GIIAS) tahun lalu, disana banyak booth menarik salah satunya dari Camper Van Indonesia.

Contoh berbagai modifikasi mobil yang biasa digunakan untuk kegiatan camping maupun perjalanan jarak jauh bisa dengan mudah kita temukan di sana. Meski kami tidak mampu beli, tapi suka saja karena secara tidak langsung dengan melihat saja, kita juga sudah diberikan edukasi soal campervan dan motorhome yang belakangan ini cukup tren. Cocok dengan kegiatan tamasya kekinian, karena itu juga mungkin ya kendaraan ini sedang marak-maraknya.

Maka dari itu mobil dengan konsep yang berbeda ini memberikan edukasi baru agar masyarakat lebih mengenal apa itu campervan atau motorhome.

Anak saya mengagumi motorhome yang memiliki peralatan di kabinnya terbilang lengkap mulai dari dapur, tempat tidur, kamar mandi, dan sebagainya. Mobil ini didesain untuk perjalanan jauh dalam waktu berbulan-bulan layaknya rumah berjalan.

Bagaimana tidak kagum, berbanding terbalik dengan fasilitas motorhome mereka, yang kalau saat camping dapur kami cukup tungku dibuat dari batu dengan bahan bakar seadanya nyari ranting dan dedaunan kering. Tempat tidur hanya tenda kap 3 beralas matras yang kalau bangun meninggalkan rasa pegal dan sakit pinggang.

Kamar mandi? Paling banter kalau ketemu sungai. Haha, toiletnya cukup menggali tanah dan menguburnya kembali. Begitulah kehidupan di alam. Jauh beda dengan fasilitas yang ditawarkan motorhome.

Jika pada motorhome tampak gagah dengan atap yang sudah ditinggikan serta pemasangan tenda awning yang asyik untuk duduk-duduk sembari bersantai, maka kami cukup gogoleran di rerumputan beratapkan langit bertabur bintang. Itu kalu cuaca bagus. Cuaca buruk, melipir ke warung kopi si mamang tukang dagang saja. Haha...

Intinya walau mereka sebatas camping di area camping "manja", tetapi trend ini memang semakin banyak diminati oleh banyak kalangan dan usia.

Namun sayang, tidak sedikit saat camping mereka seolah memiliki area itu secara pribadi. Kami yang sejatinya bisa menikmati kenyamanan hidup di alam dengan suasana alami, sering terganggu suara musik, bahkan yang berasal dari sound system acara rombongan.

Sedihnya yang datang secara pribadi pun tak sedikit yang ikut pamer suara dari sound system mobilnya atau bahkan yang sengaja membawa seperangkat sound system ke tendanya. Gusti ... Anak saya sampai langsung ngajak pulang saking berisik bikin dia jadi tidak betah.

Saya dan suami sering ajak anak camping atau kegiatan di alam karena ia tipe anak yang suka keheningan. Anak kami bisa menemukan kebahagiaan dan dunianya jika berada di gunung, sungai, kebun, dan pantai selama suasana damai dan tidak berisik.

Sejak kecil, Alhamdulillah anak kami tidak memiliki riwayat sakit serius kecuali batuk pilek dan demam yang bisa diredakan dengan obat tradisional atau obat dari apotek terdekat. Bisa dibilang anak kami belum pernah dibawa atau periksa ke dokter anak karena selain di kampung kami sampai sekarang belum ada praktik dokter anak, juga memang sakitnya anak saya sakit biasa saja.

Ada yang bilang, terbiasa sejak kecil banyak hidup di alam secara tidak langsung bisa menguatkan daya tahan dan kekebalan tubuh anak. Saya sendiri gak tahu pasti. Tapi saya pikir daripada anak di rumah saja kecanduan gadget, bisa-bisa TEXT CLAW: akibat dari penggunaan gawai yang berlebihan, kan lebih baik melakukan kegiatan positif. Seperti mendaki dan camping ini.

Tapi anak saya mulai merasakan tidak betah manakala sedang camping mendapat tetangga tenda yang berisik dengan suara musik. Mungkin sudah saatnya, pengelola camping ground memikirkan hal itu. Karena bagi  Tukang Ngaprak (kelayapan), atau para peminat sejati hobby berpetualang hidup di alam, mereka datang itu untuk menikmati alam yang benar-benar alami. Keheningan dan kenyamanan bahkan tak jarang dijadikan sebagai media kontempelasi diri di tengah guru tertua manusia, ialah alam yang benar-benar masih alami.

Nikmatnya mendengar suara gemericik air, kicau burung berebut makanan, desir angin yang menerpa dedaunan, suara serangga malam, suara khas burung hantu, semua itu tak bisa tergantikan oleh suara musik dangdutan.

Para tamu ingin camping sambil mendengarkan musik? Ya sah-sah saja sih. Tapi ya harus punya toleransi juga dong terhadap tamu lainnya. Setidaknya bisa membatasi suaranya dan kapan waktunya.

Ketika seorang tamu menyewa semalam sepetak lahan untuk tendanya atau  mobilnya, mereka punya hak privasi atas suasana dan tujuan mereka datang yang sejatinya untuk menikmati kegiatan dan suasana alam.

Entahlah...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar