Minggu, 11 September 2022

Kisah Anak Tahan Dingin Gak Cukup Kuat Panas

“Naik elf, berani mabuk?”

Saya tatap lekat bola matanya. Ia mengangguk, meski lemah. Tidak ada pilihan.

“Ayolah kalau begitu ...”

Saya segera membereskan pakaian yang akan dibawa Fahmi. Sudah sejak kemarin merengek terus ingin menginap ke rumah neneknya di Sukanagara, tetangga kecamatan dengan jarak tempuh kendaraan sekitar setengah jam.

Biasanya ayahnya yang mengantar menggunakan sepeda motor. Namun kali ini ayahnya selalu pulang sore karena ada kegiatan. Pilihannya saya yang mengantarkannya tapi pakai kendaraan umum alias elf. Sayangnya kalau naik elf, biasanya Fahmi suka mabuk kendaraan. Jadi bagaimana?

Fahmi dan sepupunya saat di rumah ibu saya. Karena udara di Sukanagara dingin, siang hari pun anak-anak dipakaikan jaket, seperti sedang berada di musim dingin saja.

Makanya tadi saya tanya benar-benar untuk meyakinkan, ternyata meski seperti berat hati, Fahmi setuju saya antarkan naik kendaraan umum. Mau meski berisiko dia kena mabuk kendaraan, demi bisa nginap di Sukanagara?

Selain kangen dengan kedua sepupunya, setiap akhir pekan atau saat libur sekolah Fahmi sering minta nginap di Sukanagara karena suhu di sana sangat cocok menurutnya. Secara di Sukanagara itu udaranya dingin. Sementara di sini di rumahnya, ia belum bisa tidur kalau tidak dikipasi. Sering bangun dan sulit lagi tidur kalau kipas diam-diam saya matikan.

Fahmi memang terbilang anak yang tahan dingin, tapi gak cukup kuat panas. Mungkin itu sebabnya ia lebih suka mendaki gunung, daripada main ke pantai.

Waktu usia 3,5 tahun pertama kali ia diajak naik ke Gunung Slamet, teman-teman orang dewasa semua pada menggigil kedinginan. Eh Fahmi mah anteng, pecicilan. Saat kami rebutan sarung tangan, telapak tangan Fahmi hangat, jauh dari kata beku sebagaimana tangan saya dan ayahnya. Entahlah... Tapi hal itu menjadikan ayahnya punya kesimpulan, harus naik gunung membawa Fahmi lagi, untuk kembali melihat apakah hal sama kembali terjadi?

Gunung Ciremai, Sindoro, Gede, Pangrango, adem ayem berhasil didakinya tanpa ada rasa kedinginan. Kalau kepanasan, iya banget.

Kemanapun pergi bareng Fahmi saya selalu membawa hihid (kipas khas orang Sunda yang dibuat dari anyaman bambu, yang biasa suka dipakai tukang sate itu, lho!) dan kanebo dengan box nya (supaya tahan basah lama). Antisipasi kalau Fahmi kepanasan, itu alat tempurnya.

Saat naik ke Gunung Kerinci, ranger dan polisi hutan banyak yang mengkhawatirkan anak saya akan kena hipotermia. Setelah buat surat pernyataan jika ada hal tidak diinginkan menimpanya, itu diluar tanggung jawab mereka, baru kami diizinkan naik.

Kami yang tahu tertawa dikulum saja. Tidak banyak yang tahu bagaimana susahnya saya membujuk Fahmi supaya mau menggunakan jaket saat di gunung demi keselamatannya, sementara ia menolak karena kepanasan, maunya pakaian biasa saja.

Awalnya saya merasa khawatir juga. Tapi ketika tidur di tenda, saya selimuti pakai sleeping bag, punggungnya panas, dahinya berkeringat. Wah, gawat! Pikir saya. Fahmi malah minta pintu tenda dibuka buat ada angin katanya. Ya ampun... Orang pada kedinginan, ia sendirian kepanasan. Saat orang nyaman dalam sleeping bag, saya harus ngahihidan (mengipasi pakai hihid, macam orang mengipasi bakar sate).

Sejak itu saya tahu, Fahmi memang beda. Atau justru itulah kelebihannya demi kelancaran setiap pendakian yang dilakukan? Entahlah.

https://www.instagram.com/reel/Ch511YBgDjk/?igshid=YmMyMTA2M2Y=
Alhamdulillah, Fahmi jadi pendaki peserta upacara HUT RI termuda di puncak Gunung Kerinci, gunung api tertinggi di NKRI

Dulu waktu saya masih kerja, saya menitipkan Fahmi di rumah ibu, eh dia mah asyik-asyik saja. Rupanya ia nyaman dengan suhu di rumah neneknya yang meski tidak pasang AC tapi sudah sangat dingin.

Meski hanya berjarak sekitar 19 Km, namun cuaca dan suhu di Sukanagara dan Pagelaran tempat saya tinggal sekarang ini, memang sering jauh beda. Mungkin karena Sukanagara wilayah perkebunan teh, sehingga suhu udaranya lebih dingin dibandingkan di Pagelaran yang terdiri dari dataran rendah, berhampar sawah.

Apakah perkebunan teh identik dengan cuaca dingin dan segar? Gak tahu juga. Hanya pengalaman saya yang kecil dan dibesarkan di Sukanagara, memang di sana saya tidak pernah lepas jaket, meski tengah hari sekalipun.

Tugu pucuk teh sebagai icon di kecamatan Sukanagara, Cianjur. Perkebunan teh di daerah Sukanagara terkenal menghasilkan teh hitam dan teh merah. Hasilnya banyak diekspor.

Karena itu saya tidak heran kalau jalur puncak selalu padat dan banyak dikunjungi wisatawan dari ibu kota dan sekitarnya yang sekadar mencari udara segar. Apalagi memiliki kondisi seperti Fahmi, tahan dingin, gak cukup kuat panas.

Lagian wilayah kebun teh itu pemandangannya selalu khas dan indah ya? Cocok banget buat bikin konten para Lifestyle Blogger karena memang banyak lokasi Wisata Menarik yang bisa diulas.

Ngomongin soal kebun teh, saya jadi pengen cerita tentang masa kecil saya yang tinggal di wilayah perkebunan teh. Semoga ada waktu dan kesempatan, saya cerita di artikel selanjutnya ya...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar