“Ti, mudik euy!?”
Saya celingak-celinguk di antara para penumpang elf yang sudah memenuhi semua jok. Mencari sumber suara. Ah, hanya salah dengar mungkin. Saya pun fokus ke mencari tempat duduk. Yang kosong tinggal jok kayu cadangan. Harus ekstra pegangan, nih. Secara duduk di dekat pintu, mana kondisi jalan abrug-abrugan. Kurang kenceng pegangan bisa-bisa loncat keluar saat kendaraan melaju kencang.
Saya mencoba melangkah satu jok, melihat ada kursi kosong. Tapi belum sampai, udah ada yang mencolek.
“Punten, Teteh. Itu udah ada yang menempati. Tuh si bapak itu lagi beli dulu buah.”
Seorang ibu memberitahu. Saya tersenyum dan bilang makasih sudah diberitahu. Oke, kalau gitu fix saya duduk di bangku kayu cadangan itu aja karena semua jok sudah penuh. Saya pun mundur lagi. Dan memilih turun dulu, nunggu di luar elf saja. Toh kalau si bapak penumpang yang sedang beli buah mau masuk, saya tetap nanti harus keluar dulu demi bisa memberinya jalan.
“Rek mudik, lin?” tiba-tiba suara itu terdengar dari belakang. Aih, tenyata Yana. Ia terlihat kerepotan dengan kotak asongannya.
“Hey! Iya nih. Tadi abis antar Fahmi mau nginap di neneknya. Ini mau pulang ke Pagelaran. Tapi penuh. Ada sih masih bisa nanti nempel di pintu. Hehe...”
Senang ketemu Yana, teman sekelas waktu di kelas IPA. Meski dulu tidak begitu akrab, tapi setelah keluar sekolah kami malah jadi suka lebih leluasa ngobrol walau cuma ketemu sekilas. Ya seperti ini, saat saya lagi nunggu angkutan, dan dia sedang berdagang, menawarkan asongannya.
“Kumaha damang?” Yana bertanya kabar, ngajak salaman. Saya segera menjabat tangannya. Duh, senang sekali melihat ekspresi Yana yang tetap semangat, meski peluh terlihat mengucur di pipi dan dahinya.

Teringat beberapa tahun lalu, waktu ada acara reuni kelas, saya mengontak Asep dan Yana, karena mereka anak IPA yang satu kampung dengan saya di Sukanagara. Asep tidak bisa ikut karena ada pekerjaan. Sebagai tenaga medis, Asep libur tidak selalu bertepatan dengan tanggal merah. Sementara Yana, yang saya tahu sehari-hari ia ngasong (pedagang asongan) di terminal Sukanagara bilang, waktunya memang fleksibel. Mau dagang atau enggak tergantung niatnya. Tapi untuk hadir di reuni, ia bilang merasa minder.
Saya ngerti. Anak kelas IPA satu angkatan kami, khususnya anak laki-laki, semua sudah bekerja dengan profesi yang membanggakan. Guru, dosen, tenaga medis, ketua partai tingkat kabupaten, pengusaha dan sebagainya. Mungkin, hanya Yana yang jadi pedagang asongan di terminal. Wajar ia merasa minder. Tapi segera saya tepis keraguannya itu.
Saya jelaskan niat kita silaturahmi. Itu aja. Setelah keluar sekolah dan bekerja hingga berumah tangga, domisili teman satu kelas langsung berpencar. Ada yang di luar kota, luar provinsi, luar pulau bahkan di luar negeri. Susah mau ketemuan kalau tidak ada acara seperti reuni. Makanya reuni ini kita jadikan ajang silaturahmi. Dengan memperpanjang silaturahmi, pintu rezeki akan terbuka. Siapa tahu keberkahan datang dari sana.
“Kalau kamu minder karena ngasong, aku temenin deh. Janji kita berangkat dan pulang bareng. Kamu tahu kan aku ini mantan babu belasan tahun dan sekarang malah pengangguran... aku mah gak ada apa-apanya...” saat itu Yana tertawa, Manggut-manggut.
Yana akhirnya mau hadir bareng ke acara reuni kelas. Sejak itu pula saya dan Yana merasa lebih bebas bicara dan tegur sapa. Mungkin ia baru tahu kalau kelas kehidupan saya tidak jauh beda dengannya. Makan nasi uduk sambil nongkrong di pinggir jalan hayu, makan sushitei di mall juga bisa.

Seperti sekarang kalau ketemu kami bisa ngobrol bebas, tertawa, dan tidak jaim. Sampai dia bertanya hal di luar dugaan saya. “Okti teh dulu yang jadi sekretaris umum OSIS kan, ya? Waktu kelas satunya wakilnya Ika, pas kelas dua langsung kepilih sama Engkus, nya teu? Poho deui, euy! Hehe...”
Saya mengangguk. Sempat bingung juga, ngapain Yana bahas masalah itu?
“Lihat di group. Tapi gak mau komen sih, takut salah. Lagian da aku mah apa atuh, hehe...!” seolah mengerti pertanyaan saya yang tidak terucapkan, Yana langsung menjelaskan.
Sekitar dua minggu lalu, seorang teman kami satu kelas di IPA juga, yang sudah bisa dibilang sukses dalam karir dan pendidikannya, ngetag saya, Engkus, dan teman lain angkatan 99 pada sebuah foto. Fotonya sih berdua ia dan Engkus. Tapi captionnya, bikin dahi saya saat itu langsung berkerut. Katanya, ia bangga sebagai sekretaris umum OSIS bisa reuni kengan Ketua OSIS. Dia bilang berterima kasih kepada saya, sebagai wakilnya. Juga kepada Dikdik, sebagai bendahara umum OSIS.
Langsung saya sanggah captionnya itu dengan memberikan komentar. “ Sebentar sebentar... bukannya yang jadi sekretaris umum itu, justru saya? Dan yang jadi bendahara OSIS itu, Yuli, bukan Dikdik. Apa saya yang pikun?”
Jujur, buat saya soal kedudukan jabatan saat seragam putih abu itu siapapun tidak masalah, toh sekarang sudah tidak berguna lagi. Tapi saya tidak terima kalau seseorang memutarbalikkan fakta, terlepas dia lupa atau apalagi sengaja. Makanya saya “ingatkan” dia dengan memberinya komentar berupa penjelasan yang sebenarnya.
Tapi saya tunggu-tunggu tidak ada notifikasi lanjutan. Ketika saya cek, ternyata postingan itu sudah tidak ada. Mungkin dihapusnya.
“Loba teuing mikir tah jadi otakna eror. Maenya sekelas doktor ngaku-ngaku?” Yana kembali tertawa. Kali ini lebih lepas. Saya bisa melihat dari pancaran sinar matanya.
“Sekarang foto dan statusnya udah dihapus, Yan. Pas udah kukomen, meluruskan kalau yang sekretaris umum itu aku, bukan dia. Dan yang jadi bendahara itu Yuli, bukan Dikdik seperti yang ditulis dalam status yang dihapusnya itu. Eh gak tahu deh dihapus apa dihide, sabodolah...” Jelas saya panjang lebar. Entahlah kalau dengan Yana, saya kok merasa bebas aja kalau mau bicara.
Yana nyengir lagi. Posisinya bergeser karena ada penumpang yang membeli rokok. Sambil melayani pembeli, ia tetap ngobrol dengan saya. Hingga si bapak penumpang yang beli buah sudah naik, sopir pun bilang elf akan segera berangkat.
“Hati-hati nya, Ti.” Yana mundur sambil memangku kotak asongannya. “Jaman sekarang banyak teman makan-teman... Hehe!”
“Ya, nuhun Yan...” saya pun pamit. Elf mulai melaju dan saya terus ngeliatin Yana hingga bayangannya hilang dari pandangan. Dalam hati saya berdoa, semoga dagangan Yana laris, ia diberikan sehat dan selamat.
Selama dalam perjalanan saya terus kepikiran ucapan Yana. Jaman sekarang, teman makan teman bukan hanya istilah untuk teman yang nikung karena merebut pasangan seseorang. Tapi juga teman yang memutar balikan fakta dan mengakui apa yang bukan menjadi haknya. Maksud Yana mungkin merujuk pada kejadian teman kami yang postingannya sudah dihapus itu.
Iya, apa maksudnya coba ngaku ia bangga jadi sekretaris umum jaman seragam putih abu dan mengucapkan terimakasih kepada saya, yang katanya atas bantuannya sabagai wakil sekretaris telah ikut menyukseskan programnya. Gak mungkin kalau ia lupa. Secara saat pelantikan juga yang maju itu Engkus sebagai Ketua OSIS, saya sebagai sekretaris umum, dan Yuli sebagai Bendahara umum. Dia dimana malah ga tahu. Di barisan belakang pastinya.
Sejauh ini buat saya gak ada untung ruginya. Saya pun tidak mempermasalahkan. Seperti tadi, tidak sengaja jumpa Yana, kalau saja Yana tidak bahas soal itu duluan, saya mana ingat.
Teman makan teman? Ah, mungkin itu istilah yang dipakai Yana terlalu berlebih saja. Meski untuk waspada itu kita memang selalu diharuskan. Baik di dunia nyata, apalagi di dunia maya. Mencari Bestie dalam arti sesungguhnya itu tidak mudah.
Nuhun Yan, semoga kita mah selalu jadi bestfriend, ya...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar