Lagi viral kisah pengalaman teman saya yang dulu sempat barengan kerja di Hong Kong. Teman saya itu ditolak untuk ganti kartu ATM terbaru oleh petugas bank di Indonesia, karena berbagai kendala. Padahal pihak bank sendiri yang terus kasih reminder kalau nasabah harus secepat mungkin mengganti kartu ATM, bukan?
Seperti yang diceritakan teman saya itu jika ia masih belum bisa membuat kartu ATM baru di sebuah bank swasta terkemuka di tanah air ini karena ia datang ke kantor cabang yang bukan dimana tempat ia membuka rekening jaman dulu.
Teman saya itu, menyebut kejadian ini sebagai “Pengalaman yang memacu hormon adrenalin di Indonesia”. Saking greget dan guemmeshnya...

Secara saya sendiri, punya pengalaman hampir sama dengan apa yang dialami teman saya itu. Waktu kami sama-sama kerja di luar negeri, saat cuti atau liburan pulang ke tanah air, kadang kami gunakan kesempatan tersebut untuk membuka rekening. Secara saat itu di negara penempatan kami bekerja belum ada kantor cabang bank dari negara sendiri. Paling ada jasa pengiriman uang. Beda dengan sekarang, bank plat merah maupun swasta berlomba-lomba membuka kantor cabang di negara yang banyak WNI nya.
Terlepas dari semakin canggih dan modernnya teknologi, sekarang bisa buka rekening tanpa harus datang ke kantor bank terkait. Cukup modal smartphone dan jaringan internet saja, sudah bisa punya rekening bank resmi, bukan? Makanya ketika teman saya tersandung kasus gagal bikin ATM terbaru ini pasti akan membuatnya kesal.
Jadi teman saya ini pulang ke tanah air, sekalian mau ganti kartu ATM lama ke ATM baru milik sebuah bank swasta yang “tidak bergantung” alias merdeka independen. Tahu kan bank mana?
Kebetulan mau ganti ATM nya di kantor cabang kota lain, tapi ya masih di wilayah Indonesia ini. Hanya bukan di kantor cabang tempat ia dulu buka rekening.
Masalah muncul karena pengajuan ganti kartu ATM teman saya ini ditolak alias tidak disetujui oleh kepala cabang bank tersebut. Alasannya karena :
Pembukaan rekening karena tidak ada foto nasabah.
Lah saya juga barengan teman saya itu dulu buka rekening tahun 2012-an memang masih tidak disuruh foto. Kalau agak ribet sih iya secara saat cuti itu saya juga tidak punya KTP Indonesia. Saat itu saya buka rekening di bank swasta yang logonya berwarna biru menggunakan identitas paspor dan KTP Taiwan. Lokasinya di kantor cabang Cianjur. Saya buka rekening tabungan saat masih lajang. Lalu ganti ATM akhir tahun kemarin itu udah punya buntut satu alias anak.
Ke bank untuk buat ATM baru pun saya bawa anak. Sampai antisipasi bawa alat seni gambar biar anak tidak rewel kalau saya lama ngurusin surat-surat perbankan.
No hp ganti
Aduh, secara saat buka rekening tahun 2012-an itu saya juga masih ingat, kita boleh beli nomor sesuka hati. Belum ada aturan dari Kominfo harus mendaftarkan no ponsel menggunakan identitas seperti sekarang. Ya wajar pula kalau teman saya itu ganti nomor hp secara saat itu kami hanya cuti. Paling lama sebulan di tanah air. Balik lagi ke negara penempatan ya kartu nomor lama mending dibiarkan hangus saja.
Kartu simcard kan ada expired-nya, beda dengan kartu pos semakin lama semakin berharga. Apalagi kalau gambarnya doodle klasik nan indah pasti akan disimpan sebaik-baiknya.

Ada informasi penulisan data yang tidak sama
Meskipun teman saya itu sudah menunjukan semua dokumen terkini yang dibutuhkan. Ini sih sebenarnya bukan rahasia lagi, banyak TKW/TKI yang biodatanya sering ganti. Apalagi di era pemerintahan sebelum pemerintahan Presiden Joko Widodo.
Saya sendiri tiga kali buat paspor, tiga nama dan alamat berbeda. Jaman dulu itu pihak perusahaan tenaga kerja itu entah apa maksudnya suka ganti biodata calon pekerja migran. Saat era Presiden Jokowi hal itu dilarang keras karena termasuk human trafficking alias pemicu adanya aksi perdagangan manusia.
Mungkin karena saat itu belum menggunakan sistem biometrik seperti sekarang. Jadi kalau jaman saya bikin rekening dilihat sekarang ada data yang beda, saya pun mengalaminya. Jangan heran teman saya di Singapura, Hongkong dan Taiwan masing-masing memiliki panggilan yang berbeda untuk saya karena nama saya di setiap paspor juga beda. Hehe...
Tapi meski saya punya kendala yang sama seperti teman saya itu Alhamdulillah waktu ganti Kartu ATM akhir tahun lalu lancar-lancar saja. Memang ditanya ini itu sih dan cukup lama dibandingkan nasabah lainnya, secara saya pun ganti kartu ATM di kantor yang berbeda dengan kantor cabang saat saya dulu buka tabungan. Tapi tetap bisa kok mendapatkan ATM baru. Bahkan ditawari menggunakan asuransi rekanan bank mereka. Saya iseng bilang mau aja kalau ngendorse. Wkwkwkwkkk! Sambil nunjukin beberapa link artikel review asuransi yang pernah saya buat. Eh, mereka malah tertawa.

Nah sementara masalah teman saya ini, dari pihak bank katanya ngasih jalan keluar, solusinya teman saya disuruh ngurus kembali ke kantor cabang dimana dulu ia melakukan pembukaan rekening. Padahal sudah dijelaskan oleh teman saya kalau untuk ke kota tempat ia dulu buka tabungan teman saya itu tidak bisa. Selain jauh, ada hal yang jadi alasan dan itu tidak bisa dijelaskan disini. Dan efortnya terlalu besar kalau ke sana hanya untuk buat kartu ATM baru.
Sampai sekarang teman saya masih belum punya ATM terbaru dari bank yang tidak bergantung tersebut. Mudah-mudahan saja pihak bank tersebut bisa memperbaiki sistem pelayanan terhadap teman saya ini. Apalagi sekarang masing masing bank kan punya trik tersendiri untuk menarik minat calon nasabah supaya bisa buka rekening praktis dan secepat mungkin.

Tidak hanya mudah di jangkau nasabah. Tapi juga tidak perlu keluar rumah untuk mengunjungi kantor cabang berada karena bisa daftar buka rekening sambil tiduran di rumah cukup menggunakan smartphone yang terkoneksi dengan jaringan internet.
Saya dan teman-teman lain, yang ikut prihatin dengan masalah teman kami ini banyak yang menyarankan udah tutup saja rekening di bank itu dan buka rekening baru di bank mana aja yang tidak ribet proses pembuatan rekening dan kartu ATM nya.
Bagaimana kalau saran dan pendapat para blogger nih? Bagaimana baiknya?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar