Rabu, 27 Juli 2022

Kisah Inspiratif Penderita Kusta Produktif

Kamu tahu penyakit kusta? Bagaimana penyandang kusta masih ada yang dikucilkan masyarakat? Padahal Orang Yang Pernah Mengalami Kusta (OYPMK) juga manusia. Butuh makan, butuh pekerjaan, butuh pengakuan dan kehidupan yang layak sebagaimana manusia biasa lainnya.

Jika ada yang masih beranggapan OYPMK tidak produktif, itu salah besar. Kata siapa OYPMK tidak produktif? Buktinya nih kalau mereka diberi kesempatan dan kepercayaan, ada kok yang bekerja sampai punya jabatan sekelas supervisor. Keren gak tuh?

Di acara Talkshow Ruang Publik KBR dengan tema Peran Pemerintah Dalam Upaya Peningkatan Taraf Hidup OYPMK, yang menghadirkan narasumber Bapak Agus Suprapto, DRG. M.Kes  selaku Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Kesehatan dan Pembangunan Kependudukan Kemenko PMK RI, beserta Mas Mahdis Mustafa, seorang OYPMK Berdaya yang saat ini sudah berprofesi sebagai supervisor cleaning service di PT. Azaretha Hana Megatrading, dijelaskan sampai habis, bagaimana para OYPMK bisa berdaya dan mendapatkan kehidupan yang layak.

Memang sih ya, stigma di masyarakat tentang kusta itu masih melekat kuat. Hingga saat ini, OYPMK dan penyandang disabilitas masih selalu mengalami berbagai tantangan dan kesulitan kala mereka kembali ke masyarakat. Salah satu tantangan yang dihadapi adalah minimnya akses pekerjaan bagi penyandang disabilitas ini.

Diketahui pada tahun 2019 saja tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK) kaum disabilitas sebesar 45,9%, artinya dari 10 penyandang disabilitas usia kerja, hanya 5 orang yang masuk dalam angkatan kerja. Angka ini hanya sepertiga dari TPAK non disabilitas. Rendahnya TPAK disabilitas menandakan bagaimana sulitnya para penyandang disabilitas dan OYPMK dalam kesempatan pasar tenaga kerja.

Penyandang disabilitas termasuk OYPMK di mata masyarakat masih dianggap sebagai kelompok yang tidak produktif. Bagian dari kaum yang dianggap tidak memiliki kemampuan yang layak.

Mas Mahdis sendiri mengakui jika memang OYPMK itu sebagian besar tidak punya pendidikan, tidak punya keterampilan, dan punya keterbatasan fisik. Ditambah rata-rata OYPMK berasal dari kalangan keluarga menengah ke bawah. Lamanya jangka waktu pengobatan yang rutin bisa menghambat jalur pendidikan yang harus ditempuh. Tapi, dibalik semua itu ingat, OYPMK juga manusia. Punya pikiran, ide dan kemauan. Jika diberi kesempatan dan pelatihan, semua anggapan buruk dan minim itu bisa ditepis. Sepanjang OYPMK memiliki keinginan yang kuat, sepanjang mau berusaha, belajar dan bekerja keras, mereka juga bisa bekerja dan bersaing dengan calon pekerja lainnya.

Sayangnya sebagian besar masyarakat masih beranggapan dan memiliki adanya kekhawatiran kerugian materiil dalam menyediakan aksesibilitas di tempat kerja bagi penyandang disabilitas khususnya OYPMK. Itu yang menjadi sebagian hambatan yang ditemukan dari sisi penyedia kerja.

Menyandang penyakit itu bukan pilihan. Siapapun tidak ingin menderita. Tapi jika Tuhan sudah menakdirkan, itu ujian dan kita harus bisa melewatinya, demikian yang diungkap Mas Mahdis. Masih teringat jelas pertama kali ia menderita kusta sekitar tahun 2010. Itu pun tidak diinformasikan jika ia menderita kusta. Tim medis dari puskesmas hanya mengatakan jika ia kena alergi.

“Tapi kok alergi pengobatannya lama? Karena penasaran saya baca itu nama obatnya lalu cari informasi obat apa itu barulah saya tahu kalau saya menderita kusta.” Jelasnya.

Awalnya Mas Mahdis tidak memiliki semangat hidup. Kondisi badan sakit, kulit hancur, sehari-hari hanya jadi tanggungan keluarga. Hingga ia didatangi kader NLR (Netherland Leprosy Relief) organisasi non-pemerintahan (LSM) yang mendorong pemberantasan kusta dan inklusi bagi orang dengan disabilitas termasuk akibat kusta. Mas Mahdis pun gabung di organisasi tersebut.

Setelah gabung di NLR mulailah memiliki rasa percaya diri, ingin bekerja karena tidak ingin jadi beban keluarga.

Ketika akan melamar kerja, Mas Mahdis terlebih dahulu menghubungi bagian HRD nya, ia bertanya apakah menerima calon pekerja OYPMK? Jika menerima, ia lanjut ke proses pendaftaran. Namun jika tidak menerima maka ia segera melupakan perusahaan tersebut.

Hingga ia diterima di perusahaan PT. Azaretha Hana Megatrading sebagai tenaga kebersihan dengan sistem outsourcing kontrak setiap tahun.

Bahagianya dirasakan Mas Mahdis bekerja di perusahaan itu karena ia dan OYPMK lainnya mendapatkan kemudahan kerja. Saat ini ia membawahi dua divisi yang satu divisi terdiri dari sepuluh orang. Dari sepuluh orang tersebut, semuanya laki-laki hanya satu yang bukan OYPMK.

Menjabat supervisor cleaning servis di sebuah perusahaan besar tentu saja tidak semudah membalikkan tangan. Ada perjuangan dan kerja keras Mas Mahdis untuk sampai disana. Tetap menjaga kesehatan dan kualitas hidup sangat ditekankan olehnya terlebih kepada sesama OYPMK, ia berpesan jangan mau dipandang sebelah mata. Jangan diam saja dianggap tidak punya keahlian, lawan dengan tetap belajar, menambah keterampilan, bekerja maksimal untuk membuktikan meski memiliki keterbatasan fisik tapi mampu bekerja.

Rasanya lega ya mendengar cerita inspiratif penyandang disabilitas OYPMK seperti Mas Mahdis ini. Tapi bagaimana dengan penyandang disabilitas lain yang masih tidak seberuntung dirinya?

Lalu, bagaimana peran pemerintah dalam meningkatkan taraf hidup OYPMK melalui dukungan dan pemberdayaan di masyarakat sehingga mendapat kesempatan bekerja layaknya masyakarat pada umumnya? Apa saja yang sudah dilakukan organisasi atau lembaga swasta dalam upaya memberikan manfaat hingga memberdayakan penyandang disabilitas dan OYPMK?

Disampaikan Bapak Agus Suprapto, DRG. M.Kes  selaku Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Kesehatan dan Pembangunan Kependudukan Kemenko PMK RI bahwasanya pemerintah terus menjalankan program terkait pemberdayaan dan kesehatan bagi penderita kusta. Dengan terus mengadakan sosialisasi demi menghapus stigma buruk terhadap OYPMK di kalangan masyarakat, termasuk terus mengupayakan untuk meningkatkan kualitas para OYPMK. Pemerintah terus mendorong penderita kusta untuk berobat rutin secara gratis di puskesmas. Mulai jangka waktu 6-12 bulan. Pemerintah tidak hanya menyediakan obat tapi juga tanggung jawab sepenuhnya.

Sebagaimana kita tahu, penderita kusta di Papua banyak yang mengeluhkan alergi dengan obat yang dikonsumsi. Penelitian dan upaya berkelanjutan tentu saja dilakukan pemerintah hingga permasalahan bisa diselesaikan. Selain itu pemerintah juga melalui berbagai program kementerian terkait terus mengupayakan pola hidup sehat mulai tingkat bawah hingga kabupaten/kota seperti di Medan, Solo dan sebagainya karena kunci dari penyakit kusta adalah kebersihan.

Pemerintah terus mengupayakan kesetaraan bagi penyandang disabilitas dalam arti penderita atau penyandang disabilitas bisa hidup normal dan mendapatkan perlakuan yang layak.

So, sudah seharusnya kita mendukung upaya pemerintah ini. Buang stigma buruk terhadap penyandang disabilitas khususnya OYPMK dan beri mereka kesempatan sehingga mereka bisa membuktikan kemampuannya dan menginspirasi bagi yang lain. Siap?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar