Rabu, 08 Juni 2022

Pengalaman Hidup Seminggu Tanpa Smartphone

Pengalaman Hidup Seminggu Tanpa Smartphone, Bisa?

Di jaman serba canggih dan digitalisasi seperti sekarang ini kepikiran gak sih, kalau kita bisa hidup tanpa smartphone? Kayanya hidup kita gak bisa dipisahkan dari kehadiran layar sentuh berbentuk persegi panjang itu, ya? Buktinya bukan hal aneh kalau melihat orang yang matanya terus terpaku ke layar monitor ponsel. Seakan hidup ini enggak ada artinya lagi tanpa adanya gadget canggih. Secara apapun, semua hampir dikendalikan dari barang ajaib ini, bukan?

Apakah kamu salah satunya yang demikian? Meski buka ponsel cuma buat buka aplikasi itu-itu saja seperti FB,  Instagram, Twitter, dan aplikasi perpesanan atau portal berita, sekadar untuk  baca berita (tepatnya infotainment) terkini?

Penelitian yang dilakukan Samuel Veissiere, Asisten Profesor di Departemen Psikiatri dan Antropologi Universitas McGill, dalam jurnal yang ia unggah di laman Frontiers in Psychology, Samuel menjelaskan bahwa alasan seseorang scrolling media sosial seperti Instagram, sebenarnya bukan karena smartphone. Tapi karena keinginan untuk bersosialiasi, mengamati perilaku orang, dan dilihat oleh orang lain.

Jadi menurut Samuel sering buka ponsel itu bukan karena ketagihan dapat notifikasi handphone, tapi karena keinginan untuk berhubungan dengan orang lain. Dan penghargaan sosial yang diperoleh dari berinteraksi lewat smartphone inilah yang mendorong perilaku obsesif pengguna.

Kan jadi penasaran, kalau memang alasan enggak bisa lepas dari smartphone karena kebutuhan sosial, apa berarti orang yang enggak pakai smartphone jadi antisosial, kurang pergaulan, dan dijauhi teman? Enggak juga kan?

Secara direncana atau tidak, hidup tanpa smartphone sudah berulang kali saya pikirkan manakala baterai smartphone saya ini kembali ngedrop. Kalau sebelumnya nge-charge memerlukan waktu sekitar 3 jam untuk bisa penuh, maka akhir bulan lalu baterai ponsel saya yang sudah ganti dua kali ini kembali berulah. Sehari semalam dicharge, baterai tetap gak terisi penuh. Ditambah ponsel saya jatuh dan menyebabkan konektornya bergeser sehingga charger sama sekali tidak bisa terkoneksi.

[caption id="attachment_12524" align="aligncenter" width="300"] Ini baterai yang ngedrop dan ternyata memang sudah rusak[/caption]

Saya pun mengambil beberapa pertimbangan. Antara beli smartphone baru atau mengganti konektor dan baterai saja (tapi dengan suku cadang yang asli, karena menggunakan baterai kw hasilnya tidak maksimal) Keputusan harus segera diambil sebelum ponsel ini beneran habis baterai dan mati.

Kedua keputusan itu mana pun yang akan saya pilih tetap akan membawa saya kepada kondisi akan hidup tanpa hape, paling tidak selama beberapa hari. Sampai ponsel bisa diperbaiki atau sampai bisa beli ponsel baru.

Hidup tanpa smartphone, bisa gak ya? Saat saya masih bekerja, saya akan jawab tidak bisa, kecuali akhir pekan. Secara membuat artikel dan mengirimkan ke editor semua menggunakan hape ini. Tapi ketika saya sudah tidak bekerja sejak April lalu, saya justru merasa tertantang untuk mencobanya. Tanpa hape, siapa takut?

Menimbang karena sudah tidak kerja, tidak memiliki pemasukan tetap, smartphone baru sepertinya bukan prioritas. Apalagi harga baterai original smartphone ini dulu masih kisaran setengah jutaan, sekarang sudah turun di bawah dua ratus ribu saja. Saya pun mengambil keputusan untuk memperbaiki konektor dan mengganti baterai yang sudah ngedrop dengan baterai original saja. Semoga pilihan ini hasilnya sesuai harapan.

Bismillah, hidup tanpa smartphone pun saya alami mulai hari Rabu, 1 Juni 2022. Setelah sehari sebelumnya, saat baterai sudah menipis saya sempat beli online baterai original dulu melalui e-commerce. Setelah itu, pasrah. Meski saya bukan pekerja online tapi kebiasaan pegang hape memang susah untuk ditinggalkan. Yang bisa saya lakukan ya mempersiapkan mental, jiwa, dan raga saja. Saya harus kuat, hehe!

Rabu 1 Juni 2022

Masih suka terkejut kalau ingat ini hari Rabu, takut masih ada hutang list blogwalking yang belum terselesaikan. Tapi saya yakin, seminggu terakhir ini semua list blogwalking sudah beres. Malah saya gak berani ikutan list baru, entah kenapa rasanya malas aja. Ternyata mungkin itu sebuah firasat kalau hape sebagai alat tempur ini bakalan bermasalah. Beruntung juga setoran draft untuk job, rasanya sudah terkirim semua. Meski sudah mati tapi hape belum dibawa ke tukang servis karena masih menunggu baterai-nya dulu yang diperkirakan bakal sampai hari Minggu.

Kamis, 2 Juni 2022

Ponsel anak dan suami jadi sasaran telepon dan pesan dari keluarga secara Kamis ini kami mengajak paman dan sepupu untuk menebang pohon di halaman. Karena nomor saya tidak bisa dihubungi maka telepon beralih ke nomor suami dan anak. Semua bertanya kenapa, tapi setelah dijelaskan mereka mengerti. Biasanya jika ada momen apapun saya selalu iseng foto atau rekam video menggunakan hape. Tapi karena hp mati, kini saya banyak diam saja. Padahal berkumpul dengan sepupu dan saudara dari pihak ibu saya ini tidak bisa dengan mudah bisa saya ikuti.

Jumat, 3 Juni 2022

Rasanya sudah mulai terbiasa tanpa hape. Ke pasar biasanya tiga barang tidak boleh lupa, tas belanja, dompet dan ponsel. Sekarang ponsel berhasil saya tinggal dengan ikhlas di kamar. Iyalah dibawa juga buat apa, wong hape mati. Hehehe.

Penasaran sih sebenarnya pengen ngecek email siapa tahu ada surat penting, tapi laptop suami selalu dibawa dan kalau di rumah juga selalu dipakai. Akhirnya beneran saya pun terbebas dari intip-mengintip.

Tapi mulai sering merhatiin depan rumah kalau pas ada suara sepeda motor. Berharap kurir pengantar beterai yang saya beli segera datang. Meski estimasi Minggu, kalau cuacanya bagus dan beruntung, Jumat atau Sabtu paketan sudah bisa saya terima.

Sabtu, 4 Juni 2022

Nongkrong depan rumah, nungguin siapa tahu kurir langganan lewat dan mampir, tapi ternyata belum ada juga. Kalau ada ponsel, biasanya bisa tahu dengan ngecek sampai mana belanjaan kita berada. Ini karena hape mati jadinya saya hanya bisa menebak-nebak saja. Yang bikin teringat ini udah tanggal empat, biasanya tanggal lima saya sudah mulai bayar tagihan. Seperti listrik, air dan internet. Karena semua ada di hape yang mati, saya pun diam saja. Jatuh masa tempo juga masih lama.

Minggu, 5 Juni 2022

Saudara kembali berdatangan karena katanya tidak biasanya nomor ponsel saya tidak bisa dihubungi. Nomor suami dan Fahmi, mereka tidak tahu. Mereka datang alasannya takut terjadi apa-apa. Saya sih senang saja. Merasa ditengokin meski tidak sakit, hehehe. Setelah duhur, pas hujan angin besar, kurir yang dinanti datang juga. Baterai original untuk hape saya akhirnya saya terima. Malamnya setelah selesai anak-anak mengaji saya bawa ponsel ke counter langganan di Sinagar Tanggeung. Sayang tidak bisa ditungguin, besok Senin baru bisa diambil.

Senin, 6 Juni 2022

Hampir lupa kalau hari ini hape sudah bisa dibawa. Tapi karena cuaca buruk, ditambah suami di sekolah ada pemeriksaan dari IRDA sehingga pulang sedikit lebih sore, plus saya merasa sudah lebih tidak ketergantungan dengan hape, akhirnya hape belum sempat diambil. Enam hari tanpa hape, ternyata bisa juga saya lalui...

Selasa, 7 Juni 2022

Dulu dikit-dikit tengok hape. Bentar-bentar cek ponsel. Berebut isi form meski yang nyangkut seribu banding satu.

Apalagi ini Selasa hari pasar di Pagelaran, biasanya saya bawa ponsel lalu transfer dan transaksi urusan perbankan lainnya di ATM dekat toserba sekalian jalan ke pasar. Tapi setelah enam hari ponsel mati dan saya tidak ada interaksi sama sekali dengannya perasaan kok malah terasa lebih kalem ya? Ya, rasanya tidak seterburu-buru sebelumnya, gitu. Ngambil hape pun jadi antara semangat dan malas.

Baru malam harinya hape berhasil saya bawa pulang. Pas dilihat, baterai tinggal 9 persen langsung deh saya matikan dan dicharge buat full dulu. Saran dari tukang servis nya, seperti itu. So, dipastikan besok Rabu, ponsel akhirnya bisa kembali saya operasikan. Sungguh rasanya tidak sabar, mengecek informasi apa saja yang seminggu ini sudah saya lewatkan.

Uji coba beterai smartphone

Pas setelah subuh meriksa baterai hape udah full, rasanya gimana, gitu. Ada semacam perasaan penasaran, tapi tak menggebu seperti biasanya. Kayaknya sudah mulai terbiasa enggak pakai smartphone. Toh seminggu tanpanya ternyata saya baik-baik saja. Malah rasanya lebih tenang, bisa tidur (terpaksa awalnya) total setiap malam karena ga ada lagi kebiasaan pegang hape sambil rebahan. Rasanya lebih enak karena saya juga bisa menyaring informasi apa yang diterima.

Sekitar pukul lima pagi saya buka hape. Buka lagi pukul tujuh lewat dan baterai baru masih bertengger di angka sembilan puluhan. Semoga nih baterainya gak mudah ngedrop lagi.

Ketika saya cek WhatsApp, banyak banget informasi yang dilewatkan. Pekerjaan yang harus segera saya selesaikan adalah setor pageview sebuah artikel. Seharusnya dikirim awal bulan tapi karena saya baru baca pesannya Rabu 8 Juni maka saat itu saya segera kirim dan meminta maaf terhadap PIC yang menangani. Alhamdulillah Si Kakak PIC memahami dan menerimanya.

Kabar membahagiakan adalah masuknya fee dari sebuah campaign dan sepertinya saya masuk peserta campaign terbanyak karena mendapatkan bonus. Itu saya lihat dari jumlah nominal yang masuk di e-wallet.

Membuka email, ada satu penawaran kerjasama untuk sebuah review. Tapi melihat syarat salah satunya KPI artikel sebulan pertama minimal harus seribu, rasanya tidak terlalu kecewa saya melewatkan email tawaran kerjasama ini. Secara saya tahu sendiri kemampuan view di blog saya seberapa, itu pun kalau ikut list blogwalking.

Sisanya, Alhamdulillah masih bisa saya kondisikan. Intinya, setelah seminggu saya hidup tanpa smartphone, saya seperti menjadi anak yang terlahir kembali. Bukan suci tanpa dosa, tapi enggak tahu apa-apa karena hampir semua informasi yang saya butuhkan ada di ponsel itu.

Jadi begitulah pengalaman saya kurang lebih seminggu tanpa smartphone. Selain faktor media sosial, yang paling memberatkan dari kondisi ini adalah tanpa smartphone saya tidak bisa mencari kerja sampingan. Padahal itu sangat penting secara jadi sumber pemasukan kehidupan saya saat ini setelah tidak bekerja tetap lagi.

Ternyata bisa juga ya hidup tanpa hape dan koneksi internet di jaman sekarang yang hampir semua kegiatan sehari-hari membutuhkan peran smartphone. Meski seminggu tanpa benda itu saya harus mengakui kalau jadi agak renggang dengan teman dan saudara yang enggak bisa saya temui langsung atau ajak ngobrol lewat aplikasi selain WhatsApp.

Saya bisa mengatakan kalau saya bukan termasuk yang ketagihan atau kecanduan dari smartphone. Bagaimana dengan kamu? Pernah tak berhubungan dengan smartphone kuat berapa lama dan bagaimana kisahnya?

 

Baca juga artikel menarik lainnya:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar