Kalau makan di Alam Sunda, apapun lauknya saya akan lebih merasa nikmat jika makan dengan lauk hati ampela ayam ditemani rebung atau sayuran lain. Termasuk ketika berada di luar negeri saat bekerja jadi TKI. Berjodoh karena di negara tempat saya bekerja, hati ampela dan rebung selalu ada, malah dalam kualitas terbaik.
Padahal cara masak dan penyajiannya tidak ribet. Asal matang saja saya sudah merasa tergugah selera. Jadi cukup direbus, dibakar atau digoreng dan saat dihidangkan tidak lupa taburkan sedikit garam.
Begitupun rebung dan sayuran lainnya, cukup direbus. Ya kalau ada bumbu dan peralatan paling ditumis dan dicampur bahan masakan lainnya.
Apa yang bikin saya tergila-gila suka dengan hati ampela dan sayuran? Mungkin karena suka teringat masa kecil kali ya, dimana kehidupan saya banyak dihabiskan berada di lingkungan yang serba kekurangan.
Sejak kelas lima SD hingga lulus SMA, saya tidak tinggal dengan orang tua. Kondisi yang memprihatinkan menjadikan saya pribadi yang apa adanya, terbiasa ditempa dengan keadaan terburuk sekalipun.
Seperti makanan saat itu yang terasa paling mewah ialah ketika makan dengan hati ampela dan sayuran. Jangan bayangkan itu dapat beli, atau sudah tersaji dengan olahan menggugah selera lainnya, melainkan dikirim saudara dan saya harus mengolahnya sendiri.
Biasa makan sehari-hari dengan teri atau kerupuk, menjadikan saat lebaran dikasih jeroan ayam dan diizinkan mengambil sisa panen sayuran dari kebun para juragan itu terasa sangat istimewa.
[caption id="attachment_12023" align="aligncenter" width="500"]Selalu terbayang bagaimana senangnya kala itu, pulang sekolah langsung ngambil sayuran sisa panen bandar di kebun. Terbayang nanti makan bakalan ada hijau-hijaunya, meski menumis hanya berbumbukan minyak jelantah dan garam secukupnya.
Atau saat lebaran, ketika banyak saudara yang memotong ayam, saya selalu dikasih bagian jeroannya saja. Meski harus jeli membersihkan semua kotorannya sendiri tapi wanginya usus hati ampela yang dibeuleum di hawu (dibakar di atas bara perapian) sudah sangat menggoda. Ya, cukup dibakar sampai matang, jadi santap makan terenak meski nasinya nasi kemarin, dingin pula. Secetek itu, tapi kebahagiaannya selalu terasa hingga sekarang.Berbanding terbalik dengan anak dan suami, mereka justru tidak menyukai apa yang saya sukai itu. Suami lebih menyukai makanan berkuah santan seperti gulai, rendang, rawon, soto dan atau makanan berbumbu rempah sejenisnya. Kondisi kehidupannya yang terlahir di keluarga yang cukup berada menjadikan ia anak yang tercukupi semua kebutuhan dan sandang pangannya. Terbiasa demikian terbawa hingga saat dewasa dan berumah tangga.
[caption id="attachment_12024" align="aligncenter" width="500"]Sementara Fahmi putra saya ia layaknya anak jaman now, sukanya makanan cepat saji seperti kentang goreng, nugget, dan makanan frozen food lainnya. Dan saya tidak pernah melarang atau membatasinya selagi dalam batas kewajaran. Toh kalau sudah bosan berhenti dengan sendirinya.
Banyak perbedaan tapi saya selalu berusaha untuk menyajikan kesukaan mereka secara bersamaan. Kalau terlalu repot, biasanya saya mengalah karena saya bisa makan apa saja mengikuti kesukaan anak dan suami. Saya tidak ingin merusak momen bahagia mereka, apalagi sampai mengusik inner child (sisi batin terdalam masa lalu)nya.
Inner child kok bahas makanan kesukaan? Jika kamu salah satu yang memiliki pertanyaan seperti itu, maka kamu harus paham dulu apa Itu inner child?Apa itu inner child?
Mendefinisikan secara lebih mendetail tentang inner child maka dapat definisikan inner child adalah sisi kepribadian seseorang yang masih bereaksi dan terasa seperti anak kecil atau sisi kekanak-kanakan dalam diri seseorang.Dilansir dari Psychology Today, inner child adalah sekumpulan peristiwa masa kecil, yang baik atau buruk, (nah perlu ditekankan ya, yang baik dan yang buruk, jadi bukan yang buruknya saja) dan membentuk kepribadian seseorang seperti sekarang ini.
Jika kamu bertanya inner child kok bahasannya makanan kesukaan, mungkin kamu bagian dari team yang menganggap kalau inner child hanyalah “kasus” yang buruk-buruknya saja itu tadi. Hehe... Padahal sudah jelas seperti dikatakan psikolog Diah Mahmudah saat membawakan materi “Bertemu Dengan Innerchild” pada hari Sabtu, 19 Maret 2022 jika inner child ini melingkupi masa lalu yang buruk dan atau masa lalu yang menyenangkan.
Dan saya tidak ingin mengangkat hal yang dianggap buruk itu. Biarlah yang dianggap buruk jadi konsumsi kami pribadi saja. Yang ingin saya bagikan sekarang adalah hal hal yang menyenangkan saja, sisi happy inner child kami.
Saya salah satu yang memiliki pendapat jika ada luka pengasuhan masa lalu, biarlah itu terjadi cukup sampai generasi saya saja. Selanjutnya saya akan “menciptakan” pengasuhan yang menyenangkan dan membahagiakan.
Karena setelah mengikuti webinar “Bertemu Dengan Innerchild” bareng Biro Psikologi Dandiah Care saya jadi paham, jika inner child ini berpengaruh terhadap kepribadian, dan cara bersikap seseorang ketika dewasa nanti.
Oh saya tidak ingin putra saya mendapatkan hal tidak menyenangkan lalu dibawanya hingga ia dewasa dan berumah tangga. Disini sebagai orang tua saya harus bisa memutus rantai ketidaknyamanan anak, menjadi kebahagiaan anak.
Saya tidak ingin pengalaman masa kecil anak saya di masa ini bisa memiliki efek destruktif pada masa dewasa dan tuanya nanti.
Inner child pada setiap orang adalah inti dari kepribadian yang terbentuk dari pengalaman-pengalamannya tentang bagaimana cara bertindak untuk dicintai yang didapatkan selama masa kanak-kanak. Dan semua itu kuncinya ada pada pola pengasuhan orang tua/wali dan lingkungan.Bagaimana luka inner child bisa kita ganti dengan happy inner child?
Sebisa mungkin jauhkan anak dari pengalaman menyakitkan yang bisa saja ia alami saat kecil, misalnya seperti mendapatkan kekerasan selama masa kanak-kanak, atau mengalami pengabaian, kurangnya kasih sayang, lepas kontrol pendampingan, kurang perlindungan dan abainya pengasuhan dalam keluarga. Apapun yang disfungsional dan dapat melukai inner child anak sebisa mungkin saya hindari. Meski jujur ini teramat susah ya.Tahukah kalau luka masa kecil itu apabila tidak disadari dan disembuhkan, maka akan terbawa hingga ke kehidupan dewasa?
Dan banyak penelitian membuktikan, secara karakteristik, orang-orang yang inner child-nya sedang terluka akan menunjukkan masalah dengan kepercayaan, keintiman, perilaku adiktif dan kompulsif, serta hubungan saling ketergantungan.
Akibatnya, banyak dari mereka akhirnya memiliki attachment, bonding atau hubungan dengan orang tuanya sangat minim.
Lebih parah lagi trauma masa kecil itu bisa membawanya pada implementasi perilaku ketika dewasa yang seringkali merasa tidak percaya diri, anti kritik, mudah tersinggung, mudah marah, takut disakiti orang lain, khawatir, cemas, dan merasa tidak aman.
Saya bukan berarti tidak memiliki masa lalu yang menyakitkan. Hanya saya cenderung memilih menyembuhkan luka masa lalu dengan tidak melanjutkannya lagi ke anak saya.
Teori mengatakan menyembuhkan luka batin bisa dilakukan dengan rekonsiliasi atau reconnect dengan inner child. Langkah itu bisa membantu kita menemukan dan melepaskan emosi yang selama ini dipendam.
Menyembuhkan inner child yang terluka adalah sebuah proses yang panjang dan sebuah perjalanan yang sangat personal. Tidak mudah. Saya sadari itu karenanya saya lebih memilih menciptakan happy inner child dengan “anak kecil” dalam diri ini.
Saya lebih menekankan kalau anak sebagai amanah butuh untuk diterima, dirangkul, diperhatikan, dan dicintai. Kita perlu menyisihkan waktu untuk berdialog dengan anak. Berharap kelak ia dewasa berumah tangga dan jadi orang tua juga melakukan hal yang sama.
Saya ingin meyakinkan anak bahwa kita aman, kita baik-baik saja, dan kita diterima serta dicintai sehingga ia berlaku demikian kepada generasi penerusnya.
Mengabaikan hubungan diri dengan inner child si anak justru akan menjadi rantai derita yang tidak berujung hingga lahir generasi berikutnya.
Cukupkan rantai derita itu pada diri saya saja. Putuslah rasa sakit yang turun-temurun ini hanya pada diri saya dan tidak meneruskannya ke generasi selanjutnya.
Caranya dengan menyadari, mengakui, menerima, dan mencintai inner child dalam diri kita bagaimanapun keadaannya.
Semua beban inner child itu akan terasa lebih ringan jika kita bisa dengan ikhlas memaafkan, menerima takdir, dan mengingat Allah dan berdoa. Dan yang terakhir adalah berusaha untuk kompak dengan pasangan melalui komunikasi yang sehat dan keterbukaan.
Jangan lupa, persiapkan juga psikologis anak untuk menjalankan perannya di keluarganya sendiri kelak, utamanya bagi anak yang sudah mendekati baligh, atau usia siap menikah. Wallahualam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar