Rabu, 23 Maret 2022

Kelakuan Konyol Para Pendaki Bikin Kangen Bikin Tertawa Sendiri

Hampir tiga tahun tidak melakukan pendakian karena covid-19. Kangen juga sama kejadian konyol selama ngasuh anak karena di balik setiap pendakian itu, selalu ada cerita yang tak lekang diceritakan hingga masa tua datang. Mulai dari cerita konyol dan lucu, hingga cerita seram yang dialami kawan.

Karena biasanya setiap melakukan pendakian kami akan bareng dengan teman seperjalanan yang baru dikenal. Mulai dari pendaki senior sampai mereka yang masih remaja, yang ikut pendakian karena gaya-gayaan saja.

Kini kalau ingat semua itu serasa sedang bernostalgia, dari sekian banyak kenangan saat mendaki beberapa bisa dianggap kelakuan konyol. Untuk manteman yang suka melakukan pendakian, mungkin salah satu cerita yang akan saya kisahkan ini juga pernah ada dalam rombongan pendakian kalian. Kalau ingat tak jarang bikin tawa ngakak.

Boss Mandor

Dari sekian banyak anak-anak yang ngetrip bareng suka ada yang jadi mandor alias bisanya cuma melongo aja. Saat yang lain packing carrier, dia mah wara-wiri tanpa kejelasan nengokin sana sini. Pas yang lain bongkar pasang tenda, dia malah tampak bingung mau ngapain. Bukannya bantu kek, suka kesel aja ngeliatnya. Tapi ya gimana mungkin emang nggak bisa apa-apa. Dia ikut mendaki karena kehasut temannya aja. Tanpa ilmu ataupun basic survival sebagaimana anak pecinta alam pada umumnya yang selalu ada latihan atau ikut pembelajaran.

“Hei, jangan bengong mulu. Lihat Fahmi anak kecil aja dia bantuin megangin tali, ambilin patok. Kamu ngapain, malah berdiri aja. Bantuin kek, ngapain kek.“ Kesel jadinya.

“Duh, kan nggak bisa pasang tenda Teh. Takutnya entar malah ngerusak. Udah saya joget dan nyanyi aja ya buat ngehibur kalian semua, gimana?”

Wkwkwkwkkk... Dasar! Ga tak kasih makan ntar baru tahu rasa loh! Padahal sudah jadi rahasia umum kalau selama pendakian itu antara satu dengan yang lainnya itu kudu kompak, saling bantu dan saling mengalah.

Nah tipe begitu tuh namanya pendaki “mandor.“ Mereka adalah kalangan yang biasanya bingung mau ngapain ketika temen-temennya sibuk dengan kegiatan pendakian.

Tapi biasanya karena mereka kerjanya hanya berdiri aja sambil mengamati jalannya proses, akhirnya suka dikerjain juga. Kawan-kawan akan ganti “memanfaatkannya” di sesi kegiatan yang lainnya. Entah disuruh ngumpulin kayu buat api unggunlah, ambil air buat masaklah, suruh tidur di luar tenda,  atau apapun dengan dalih salah siapa nggak ngebantu pas semua orang sibuk mendirikan tenda. Hehee…

Tipe Indigo

Gunung identik dengan hal mistis gak sih? Menurut saya sih enggak. Meski percaya mahluk gaib itu dimana pun ada. Kalau pas mendaki ada seseorang yang ngaku bisa melihat dengan indra ke-enamnya. Biasanya saya gak mau bareng.

Bukan kenapa, biasa dikit-dikit ngomong “mereka” sebentar-sebentar bilang “ada lihat anu”. Lah ini saya biasanya mendaki kan dengan anak. Fahmi mana ngerti yang begituan. Bukannya bikin nyaman menikmati suasana alam, yang ada anakku malah ketakutan. Oh no! Oke kalau misalkan dia bisa lihat yang nggak kasat mata, tapi gak harus diumbar juga kali? Seolah kemampuannya itu wah banget.

Yang begitu biasa kami suruh jalan sendiri. Gimana caranya kek suruh jalan di depan, suruh jadi swiper, pokoknya jangan bareng kami meski nanti tetap satu rombongan. Ngakaknya itu pas kita tinggal, atau suruh jalan sendiri eh dia malah nangis-nangis katanya takut! Glek! Katanya ahli lihat penampakan tapi kok takut sendiri. Saya rasa setiap pendaki sudah tahu, kalau masing-masing gunung biasanya memiliki cerita sendiri-sendiri. Tiap pendaki pun sudah paham, saat mendaki itu pasti butuh menjaga sikap sehingga tidak mengganggu “penghuni gunung.” Nah, kalau pun benar mengalami kejadian aneh atau ngeliat yang nggak kasat mata itu sebaiknya diem. Nggak usah diomongin ke pendaki lainnya saat masih di atas. Mending pas turun atau udah ada di rumah sekalian aja laporannya. Bukan apa-apa, bukankah ini sudah jadi semacam kode etik sesama pendaki? Kalau belum tahu ya makanya kalau mau jadi pendaki belajar dulu.

Bestie Rempong

Melihat kami sering mendaki dengan anak, ada beberapa keluarga yang (mungkin) nekat melakukan pendakian juga. Ahay, dikira mendaki bawa anak semudah itu?

Yang newbie ini biasanya rempongnya naudzubillah. Kalau rempongnya buat diri sendiri mungkin nggak masalah, tapi ketika menghambat pendakian, merembet ke yang lain, ya semua mana mau dan udah pasti menyalahkannya.

Apalagi kalau sampai dia bawa anak, duh Gusti! Pendaki begitu biasa modal awalnya hasil kerja keras googling sana sini. Tapi karena jiwa si anak bukan tipe petualang (hanya korban ambisi orang tuanya aja yang pengen terlihat wah) ujungnya ngerepotin temen.

Saya aja dan suami mati-matian jaga anak sendiri eh direcokin juga ama dia yang anaknya duh, pokoknya susah dijelasin deh! Jadinya kalau mau mendaki lagi kucing-kucingan. Ngintip-ngintip dia ikut gak? Kalau dia ikut, kita jangan. Kalau dia gak ikutan, kami yang ngegas...

Pendakian as Pelarian

Mungkin abis putus dan belum bisa move on, mendaki jadi pelarian buat melupakan mantan. Tapi pernah lho ada yang bapernya nggak ketulungan. Kita ngomong apa aja dia nyambungnya ke perasaan. Bahkan, hal sepele macam lihat awan aja dia lihatnya apa terus selalu dikaitkan sama mantan. Segitunya... Pokoknya percis kaya lagu jadul “Aku mau makan ingat kamu, aku mau tidur ingat kamu...” Tipe yang begini bawaannya curhat melulu. Ujungnya “Ah gue jadi pengen balikan.” langsung mewek Ati-ati, kalau ada temen abis putus mending nggak usah diajakin mendaki gunung ya. Daripada kamu sendiri yang makan ati.

Demi Konten

Akhir-akhir ini ada banyak pendaki yang banci foto. Dikit-dikit berhenti buat motret, dikit-dikit berhenti buat selfie. Segala macam alasan dikeluarkan, termasuk dengan dalih kelelahan padahal mau midioin pemandangan, atau mengabadikan perjalanan rombongan.

Model begini niatnya emang udah buat hunting konten ya. Makin kemari, makin banyak spesies pendaki kaya begini. Kamu yang sabar kalau ada salah seorang kawan di rombonganmu yang modelnya kek begini. Dia bakal sering tiba-tiba hilang dan tiba-tiba muncul.

Tapi kalau kita deket sama yang tipe begitu ada untungnya juga. Perjalanan kita bakal diabadikan. Saya selalu memanfaatkan momentum seperti itu buat mengabadikan perjalanan pendakian anak. Caranya mudah aja, cari aja yang pegang hape kemana-mana, atau selalu ada kamera yang menggantung di lehernya. Titipin aja bilang fotoin atau vidioin Fahmi, ya. Ntar pas udah turun tahu-tahu ngebrudul aja wa berisi foto dan video Fahmi selama perjalanan. Tanpa harus saya yang kerepotan tanpa harus hire team dokumentasi perjalanan, kan lumayan. Hehehe

Pendaki Cantik

Udah pasti ini mah berada di barisan kaum hawa. Tas pribadinya mirip sama kantong ajaibnya Doraemon. Selain peralatan ngelenong, eh make up maksudnya, segala hal yang nggak penting pun kalau ga disuruh tinggal pasti dibawa. Mending kalau yang dibawa sebatas plester dan perlengkapan P3K lainnya, ini mah hairdryer pun dibawa. Mbok dipikir dulu kalo mau mendaki ya ...

Pernah itu dia pikir di Mandalawangi mau konser kali, bawaan skincare nya aja lebih besar dari kotak trangia.

Belom camilan seperti cokelat, permen dan madu manuka. Tahu dia bawa madu manuka saya pepet aja terus. Hehehe! Secara madu manuka kan tergolong madu eksklusif. Madu Manuka didatangkan langsung dari New Zealand. Madu manuka juga dikenal sakti berkat sejumlah manfaat yang dimilikinya.

Jujur saya tahu madu manuka ya dari sesama pendaki juga. Dari teksturnya, madu manuka berbeda dengan madu biasa. Alih-alih bening dan berwarna kecoklatan, madu manuka bertekstur lebih kental dengan warna yang lebih gelap dan keruh. Bila dilihat sepintas, mirip seperti karamel.

Kandungan madu manuka empat kali lebih banyak daripada madu biasanya. Tidak heran bisa membantu menyembuhkan beberapa macam penyakit, seperti membantu mengatasi masalah pencernaan karena berkhasiat mengurangi asam lambung; bantu mengurangi masalah kulit, seperti jerawat, borok, bisul dan eksim.

Malah menurut penelitian yang dipublikasikan di Jundishapur Journal of Natural Pharmaceutical Products, madu manuka diklaim bisa membantu pemulihan luka, mengurangi rasa sakit dari luka bakar, dan mengurangi peradangan di kulitnya.

Peneliti dari School of Dentistry, University of Otago di Selandia Baru menemukan bahwa mengemut atau berkumur madu manuka bukan hanya saja mengurangi 35% plak gigi, tetapi juga menurunkan 35% daerah yang berdarah untuk orang-orang yang terkena gingivitis (radang gusi).

Berkat sifat antibakterinya, madu manuka bisa menghentikan pertumbuhan bakteri seperti pada penyakit radang tenggorokan yang terkait dengan infeksi. Itulah kenapa beberapa pendaki suka ngemut madu, atau menambahkan madu dalam minuman untuk detoks tubuh selama dalam perjalanan.

Ternyata manfaat madu manuka sepadan dengan harganya yang mahal. Tapi, jangan sampai tertipu dengan madu manuka palsu yang beredar di pasaran. Madu Manuka yang asli memiliki label UMF di kemasannya. Biar tidak tertipu pastikan beli madu manuka di tempat resmi seperti Natural Farm.

Emang sih ya para pendaki cantik itu sebenarnya termasuk visioner, memikirkan segala kemungkinan yang akan terjadi selama mendakian. Kaki lecet dan kamu butuh plester, dia ada. Gunting kuku pun dia bawa, butuh sarung tangan, dia bakal siapin, bercandanya butuh kehangatan pun akan dia berikan deh! Wkwkwkwkkk...

Tapi bakal  bikin kesel kalau dia bawa hal nggak penting macam hairdryer, ricecooker, atau benda-benda yang nggak bakal bisa difungsikan di gunung nantinya. Ini bukan ngarang, tapi pengalaman kami lho ya. Makanya merasa kangen juga jika teringat kekonyolan itu. Bersyukurlah kalau kamu nggak punya temen macem ini selama pendakian. Dan percayalah, itu tuh kejadian saat pendakian pertama saja. Selanjutnya dia gak bawa segala macam lagi. Iya pengalaman buat apa dibawa-bawa kalau dipakai saja tidak.

Minta diantar (tapi) jangan diantar

Bingung gak? Itu kejadian nyata dan biasanya pelakunya cewek-cewek kinyis. Dia yang ribut banget minta anterin pipis pas tengah malem. Lah giliran dianter (biasa yang nganter kalau malam ya cowok) malah nyuruh jangan diantar, tunggu disitu. Jangan deket-eket. Buat apa minta diantar kalau nyatanya dia berani itu pipis sendirian juga. Wkwkwkwkkk...

Pendaki idaman

Sebenarnya kalau bukan porter atau guide jarang ada pendaki idaman. Kecuali tipe pendaki yang baiknya super. Udah nyampe atas, eh dia mau turun lagi buat bawain carrier temennya yang kelelahan. Atau sedingin apapun udara tengah malam dia mau juga anterin temennya pipis di semak-semak belakang tenda. [caption id="attachment_11184" align="aligncenter" width="227"]Wisata gunung mencakup kuliner, flora, fauna dan budaya Jangan ngaku jadi pecinta alam kalau masih buang sampah sembarangan. Bikin bangga itu kalau kamu buang sampah pada tempatnya[/caption]

Masih banyak lagi pengalaman konyol saat melakukan pendakian. Gak bakal habis menuliskannya saking banyaknya. Yang pasti jika teringat kisah itu semua. Kalau keinget temen, pasti membatin dan tertawa. Dan hal sereceh itu bikin kangen mereka juga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar