Padahal kondisi si kakek sudah cukup renta. Untuk berjalan saja ia harus dibantu menggunakan tongkat. Belum jika ia membawa karung berisi barang yang berhasil dikumpulkannya. Kasihan melihatnya. Apakah si kakek masih memiliki keluarga?
Hari Minggu cuaca sangat cerah. Saya menunggu Fahmi dan ayahnya yang sedang pasaran kitab, duduk di depan masjid. Menyaksikan ulah santri yang bermain dan guyon. Semua khas santri pondok pesantren salafiyah. Bikin betah dan kadang tertawa melihatnya.Tiba-tiba dari ujung masjid terlihat sosok si kakek menggusur karung yang berisi barang yang bisa dijual, hasil yang ia peroleh dikumpulkannya sore itu. Kasihan banget melihatnya. Berjalan tertatih, kakinya menginjak paving blok tanpa alas kaki. Karung dengan susah payah ditarik oleh tangan kanan. Tangan kiri memegang tongkat dan menjaga keseimbangan badannya.
Saya bingung apa yang harus dilakukan?
“Mana rerencanganna¹?” tanya si kakek dengan ramah. Gurat wajah yang begitu sepuh sangat terlihat.
“Aya di lebet, Pak.²” Jawab saya tak kalah hormat.
Ia meminta izin lewat, saya hanya bisa mengangguk menatapnya. Saya ingin membantu tapi bagaimana caranya?
Salah satu pengurus pondok mengatakan, kalau si kakek memang sudah biasa ngambil (mulung) sampah yang bisa dijual dari pondok. Banyak santri yang mau membantu tapi selalu ditolak. Karena itu meski tampak kerepotan namun santri segan untuk membantu. Karena dipastikan si kakek akan menolak.
Saya melihat bekal untuk anak dan suami yang sedari tadi dibawa. Segera saya mengambilnya dan berlari memburu si kakek yang belum begitu jauh. Sepertinya ia hendak menyeberang makanya cukup lama berhenti.
“Aki, tadi kami botram³ nunggu Aki ga datang-datang. Ini bagian Aki. Nanti Aki makan di rumah saja ya...”
Si kakek nampak terkejut dan menatap lama. Saya segera ambil tangannya lalu pegangan tas keresek diselipkannya dijari-jarinya.
Segera mengucapkan salam dan saya berlari kembali ke halaman depan masjid.
Saat pasaran selesai sebelum magrib seperti biasa kami makan bersama. Istirahat hanya sebentar karena nanti bada isya pasaran dimulai lagi. Ketika mau buang sampah bekas makanan saya bilang supaya pisahkan botol plastik dan kertas daur ulangnya.“Buat apa ih?” tanya Fahmi.
Saya bilang pokoknya kumpulkan saja. Besok sore kalau ada si kakek datang, tinggal berikan. Dia pasti tidak akan menolak. Mungkin dengan begitu setidaknya meringankan usaha si kakek dalam mengumpulkan barang bekas yang bisa ia jual lagi.
Bisa saja saya, para santri atau pihak pondok memberikan uang sumbangan buat si kakek karena kasihan. Tapi ternyata itu bukan jalan keluarnya. Selain si kakek menolak dengan alasan ia melakukan itu hanya supaya ada kegiatan dan bisa bantu memilah sampah kobong, pun selama ia sehat dan mampu memulung sampah tetap ia lakukan.
Sedikit meringankan bebannya mungkin dengan cara memilah sampah yang bisa didaur ulang dan memberikannya sehingga si kakek tidak kesulitan membongkar tempat sampah mencari botol bekas dan lainnya.
Tidak semua orang yang terlihat miskin kehidupannya fakir. Adakalanya kita segan mau bantu karena takut dikira cuma mengasihani atau alih-alih malah dikira merendahkan.
Banyak di sekitar kita orang-orang yang kita anggap profesinya memprihatinkan padahal mereka melakukan itu atas dasar kesenangan.
Seperti saat makan ketupat legendaris di depan alun-alun Cianjur, ada seorang nenek menjajakan dagangannya. Sekian lama tidak ada yang beli. Kasihan memang, padahal tidak juga. Ia berdagang katanya memang sejak muda. Jadi saat ini jika ia berpangku tangan saja, justru merasa tidak nyaman.
Begitu juga di Pasar tradisional Pagelaran tempat saya tinggal, di sana setiap Selasa dan Jumat banyak nenek yang sudah sepuh tapi tetap berjualan dengan ceria. Mulai lalapan, olahan tradisional dan jualan hasil kebun lainnya. Saya dan beberapa ibu-ibu yang sefrekuensi selalu mendahulukan beli ke meraka sebagai upaya bantuan yang kami berikan.
Dengan membeli dagangannya semoga tidak dianggap mengasihani atau menurunkan martabatnya. Secara kalau memberi justru ia atau keluarganya bisa tersinggung. Apalagi ada anak dan cucu dari mereka itu adalah teman saya baik saat sekolah maupun tetangga di daerah dengan profesinya yang cukup terpandang.
Seperti saat pandemi, banyak teman blogger yang tidak punya pekerjaan dan alih profesi jadi pedagang. Trik membantu mereka ialah dengan membeli dagangannya. Yah, meskipun tidak selalu tapi setidaknya kita sudah ikut memajukan usahanya. Tidak pelit pula untuk ikut promosi sesuai kondisi baik di sosial media maupun dari mulut ke mulut. Dengan memajukan usahanya semoga tidak membuat mereka merasa dikasihani atau direndahkan.
¹ "Mana temannya?"
² "Ada di dalam, Pak"
³ Makan bersama
Tidak ada komentar:
Posting Komentar