Rabu, 09 Maret 2022

Adab Santri dan Sang Admin

Setiap malam Sabtu, jadwal materi yang diberikan di Pondok Mengaji Al Hidayah yang kami kelola adalah Ilmu Hadits.

Tidak pernah lelah selalu disampaikan kepada seluruh santri mengaji, supaya memahami jika selain menuntut ilmu, kita juga harus memiliki adab.

Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda

أكملُ المؤمنين إيمانًا أحسنُهم خُلقًا

“Kaum Mu’minin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya” (HR. Tirmidzi no. 1162)

“Sesungguhnya perkara yang lebih berat di timbangan amal bagi seorang Mu’min adalah akhlak yang baik. Dan Allah tidak menyukai orang yang berbicara keji dan kotor.” (HR. At-Tirmidzi).

Kami sengaja menekankan terkait adab ini kepada anak-anak santri, supaya karakter baik sudah tertanam dalam diri mereka sejak dini. Ya syukur-syukur orang tua mereka juga mengajarkan itu. Tapi agak sangsi juga setelah melihat tingkah laku dan gaya bicara mereka yang jauh dari karakter baik.

Jangankan anak usia paud, anak usia sekolah SLTP pun mulai tidak menerapkan sopan santun. Guru ngaji sedang nyapu di jalan, santri lewat eh nyelonong aja. Tidak ada sama sekali ucapan permisi apalagi kebiasaan santri jaman dulu-- menghormati orang lain, tua muda apalagi guru dan orang tua-- dengan membungkuk badan dan rengkuh penuh hormat.

Miris memang, padahal sudah jelas banyak keterangan yang menyebutkan kalau adab itu adalah sebuah akhlak mulia, yang di dalamnya mengajarkan kesopanan, kesantunan, bertingkah laku, bertutur kata yang kesemuanya sesuai dengan ajaran Allah SWT dan Rasulullah SAW. Dan saya rasa (maaf bukan sara) non muslim pun mengajarkan etika seperti itu, bukan?

Harus diketahui kalau tanpa adanya adab, orang dengan ilmu tinggi dan kekuasaan sebesar apapun tidak akan disukai orang sekitar.

Saya jadi ingat dengan etika seorang admin di sebuah group. Melakukan kekeliruan terhadap member yang padahal terbukti si member tidak bersalah. Yang mengaku salah justru member lain yang telah melakukan kekeliruan sehingga pekerjaan temannya terhapus.

Apa yang dilakukan admin tersebut? Tiis we... Jangankan minta maaf, mengedepankan tiga kata sakti yang sebenarnya itu pelajaran untuk anak balita saja (permisi, maaf dan terimakasih) sama sekali tidak dilakukannya.

Okelah dia mungkin punya ilmu mumpuni, founder komunitas, bahkan keluarga terpandang dengan penghasilan ia dan pasangannya lebih dari cukup dibandingkan para blogger --yang seperti saya ini hasil menulis dipakai untuk menyambung hidup, bayar biaya tagihan listrik, beli sembako dan jajan anak. Tapi dengan sikap dan kelakuan seperti itu, secara tidak langsung ia sudah menggali kuburan keburukannya sendiri.

Tidak heran member group jadi penjilat, bersikap manis dan menyanjung sang admin sehingga bisa kecipratan job dan kemudahan lainnya meski dalam hati mereka lebih banyak dongkol dan ngedumel.

Oke, perilaku kita sebagai umat bisa saja tidak terkendali karena bersikap seperti itu mungkin bagi ia dan lingkungannya adalah hal biasa. Tapi kalau berkali-kali, orang juga bisa menilai dong, ini khilaf, atau emang sifat bawaannya dari orok seperti itu?

Secara dari umur saja sang admin lebih muda usianya daripada mayoritas para member yang seperti saya ini udah lewat dari kepala empat. Bukankah seharusnya ia bisa menempatkan diri? Sopan santun dan etika di wag saja, apalagi terbukti salah, jika mengakui dengan legowo, Insyaallah akan jadi sebuah ibadah. Sedangkan kita hidup hanya untuk menjadi hamba agar mendapatkan pahala, bukan?

Sering mendengar ciri yang membedakan manusia dengan binatang adalah akal atau ilmu. Pernyataan itu memang tidak keliru. Tapi mesti digarisbawahi, di atas ilmu masih ada yang lebih urgent, yakni adab atau akhlak.

Seberapa banyaknya ilmu yang dimiliki seseorang jika tanpa disertai adab yang baik akan menjerumuskan manusia dalam perilaku binatang, atau bahkan mungkin lebih rendah.

Coba renungkan, bukankah banyak peperangan, kesewenang-wenangan kekuasaan, kerusakan alam, atau sejenisnya semua itu muncul justru karena ditopang kemajuan ilmu pengetahuan dan kecanggihan teknologi zaman sekarang? Tapi karena tanpa disertai adab sebagai hal yang paling mendasar maka kehancuran lah hasilnya.

Ilmu memang sangat penting, tapi pondasi berupa akhlak baik jelas lebih penting. Karena akhlak lah yang menyelamatkan manusia dari keserakahan, kezaliman, kekejaman, keangkuhan, kebencian, dan sifat-sifat tercela lainnya. Termasuk kesombongan seorang admin yang merasa lebih dibandingkan membernya.

Lain lagi kalau sang admin mengedepankan adabnya, tentunya member akan semakin menaruh hormat dan segan. Sudah pintar, berilmu, founder komunitas, karir melejit, keluarga samawa, eh adabnya tinggi dan akhlak baiknya dipakai pula. Pasti semua menyayanginya dengan tulus...

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar