Menikah di masa new normal
Jadi Jumat kemarin tuh kami menghadirkan acara pernikahan sepupu di Jalan Suroso Cianjur. Termasuk mendadak secara diinformasikan oleh keluarga besar yang tinggal di sana hari Rabu tiga hari sebelum hari H. Jadi meski bisa dibilang minim persiapan kami pun berangkat mengingat sepupu kami ini putri bungsu dari adik bungsu ibu. Ibu ada enam bersaudara, semua perempuan. Ibu anak pertama. Jadi kalau posisi dalam keluarga mereka semua adalah adik sepupu saya.Selain gaya hidup adik almarhum ibu kami ini sederhana alasan lain yang menjadikan pernikahan sepupu tanpa hajatan pada umumnya adalah juga karena masih dalam suasana pandemi. Jadi pernikahan tetap dilangsungkan meski di rumah sempit dan padat. Intinya pertemuan silaturahmi keluarga besar saja. Kalau tidak ada acara resmi seperti itu jarang kami yang tinggal jauh di Pagelaran berkumpul bersama-sama.
[caption id="attachment_11484" align="aligncenter" width="300"]Kumpulan buibu tukar resep tanpa pernah praktik
Baru saja datang di halaman rumah Bibi, sambutan meriah dari sepupu lainnya sudah tidak bisa terbendung. Cipika cipiki, saling tanya kabar dan ungkapan merasa pangling dengan anak masing-masing yang sudah tumbuh semakin besar mengiringi pertemuan kami.Hidangan sederhana dikeluarkan bibi dengan alasan kami yang dari Pagelaran paling susah untuk dijumpai. Iya kali soalnya meski sama-sama berada di wilayah Cianjur, tapi saya memang mencil sendiri tinggal di pelosok bagian selatan.
Ribut -ribut ala suara perempuan mulai terdengar. Ternyata adik sepupu yang lain minta resep masakan dan kue-kue yang dihidangkan. Bibi pun dengan bangga memberikan contekan. Saya dan salah satu sepupu paling akrab putri dari bibi nomor tiga saling berbisik.
“Gayanya pada minta resep, udah di rumah dipraktikkan, tidak.”
“Jaman now ngapain susah menulis resep, di internet tinggal buka hp udah ketemu,” kami pun ngikik berjamaah.Menantu selalu tersibuk?
Kakak dari pengantin yang masih sepupu kami adalah seorang laki-laki dan tinggal di Bandung karena istrinya memang orang Bandung. Jadi mereka itu dua bersaudara. Saya lihat istrinya sepupu kami itu kok ga ada bergabung bersama kami, kemana ya? Mau tanya ke Bibi ga enak juga. Pas ambil minum buat Fahmi yang mulai kehausan, ternyata kakak ipar pengantin itu sedang sibuk di dalam mengatur makanan dan peralatan untuk makan prasmanan tamu yang datang. Basa basi setelah bertanya kabar saya ajak gabung dan ngobrol bareng, dengan santunnya ia bilang tugasnya mengurus semua ini, jadi sebelum acara pernikahan adik iparnya selesai, ia belum akan tenang. Duh, sosok kakak ipar sekaligus menantu yang sos sweet, Bibi pasti senang nih.Anakku bukan yang terburuk
Tidak berapa lama datang sepupu kami dari bibi nomor dua. Udah pada tahu kalau dia datang pasti tidak akan lama secara anaknya yang bungsu tidak pernah kerasan di tempat baru meskipun di rumah nenek atau saudara.Benar saja baru juga sampai pintu dan disambut meriah oleh kami, anaknya udah mulai merengek dan memukul-mukul ibunya. Pengen pulang, katanya tangisnya pecah. Kami hanya saling pandang, soalnya udah pada tahu itu anak tidak akan bisa dibujuk oleh yang lain kecuali emang ibunya membawanya pulang. Jadilah setelah menemui pengantin dan Bibi, sepupu kami ini langsung pulang dengan berat hati. Makanan yang baru sedikit disuapnya pun ditinggalkan.
[caption id="attachment_11485" align="aligncenter" width="169"]Kehamilan yang tidak pernah salah
Putri Bibi nomor empat datang bersama tiga orang anak perempuannya. Dulu terakhir ketemu anaknya masih dua. Ternyata sekarang sudah melahirkan lagi.“Teh, udah melahirkan lima bulan tapi perut ini masih juga buncit,” katanya sambil memegangi perutnya.
Saya tertawa. Sambil menyarankan apapun disyukuri saja. Saya yang mau hamil udah mau delapan tahun ini belum dikasih juga kesempatan, dia malah dengan mudah sudah melahirkan dengan sehat dan selamat. Kami pun berpelukan. Saling menguatkan.Rujak oh rujak
Semacam asinan yang jadi salah satu hidangan dalam menu prasmanan ada campuran nanas yang rasanya asam. Sampai bergidik ketika mengunyahnya. Tapi dalam suasana ramai dan panas, rujak asam seperti itu cukup segar juga disantap. Ditemani kerupuk yang gurih.“Yang baru melahirkan jangan makan rujak dulu, ntar tumbuh lagi,” kelekar seseorang dari dalam. Saya dan sepupu hanya saling pandang dan tetap menyantap asinan yang memang masam itu.
“Orang bisanya cuma ngomong ya, Teh,” kata sepupu saya tidak memperdulikan. Saya mengangguk dan menyarankan tambah lagi asinannya. Haha!Tradisi jumat
Fahmi dan ayahnya mulai siap berangkat jumatan meski masih pukul sebelas kurang. Kebiasaan suami memang mengajak anak untuk datang lebih awal. Apalagi Fahmi mau sekalian buang air kecil katanya. Di kamar mandi rumah Bibi ia tidak akan nyaman soalnya banyak barang dan lalu lalang orang. Saya pun menyiapkan semuanya untuk mereka.Tapi sepulangnya jumatan suami bercerita justru di toilet masjid malah tidak mengenakan. Sudah airnya kecil dan keruh, kamar mandinya bau dan bikin Fahmi tidak mau masuk. Terbayang dong bagaimana perasaan ayahnya, saat di tempat orang, mana anak takut tidak bisa menahan air kencingnya, bahaya. Sampai akhirnya Fahmi mau buang air di sana dibantu ayahnya.
Pas lagi mendengarkan khutbah, Fahmi juga katanya tertidur. Ayahnya lagi yang jadi sandaran. Ini anak pasti kecapean, secara dari subuh langsung berangkat menembus kabut dan udara pagi. Sesampainya di rumah Bibi jangankan bisa istirahat, yang ada panas dan berisik. Makanya dia ngantuk. Tapi ketika bubar jumatan ia tampak antusias karena ada yang membagikan minuman dan bubur ketan hitam. Mungkin ada yang sedekah Jumat kepada mereka yang bubaran dari masjid.Foto Mentok
Pulang jumatan Fahmi mulai gelisah lagi, pengen segera keluar dari suasana bising dan panas. Saya pikir pun takut keburu hujan, secara akhir-akhir ini setelah dzuhur hujan selalu turun. Kami kan akan langsung pulang kembali ke Pagelaran karena besok Sabtu Fahmi dan ayahnya harus sekolah. Tapi Bibi mengatakan harus ikut foto bersama dulu. Mumpung seluruh keluarga besar dari pihak ibu ada. Kami pun mengalah, setuju.Rumah Bibi adalah rumah warisan dari nenek. Sebagai anak bungsu semua setuju kalau rumah di tengah kota Cianjur itu meski kecil menjadi bagian si bungsu. Saya baru menyadari pas mau foto bersama, ruangan tamu yang disulap jadi pelaminan sangat sempit, tidak bisa menampung seluruh keluarga besar yang berjejer dan berlapis. Sampai tukang foto udah mentok ke dinding tetap tidak bisa mengambil gambar seluruh anggota keluarga. Akhirnya kami berfoto dibagi beberapa bagian. Ye, namanya bukan lagi foto bersama dong. Tapi foto masing-masing. Hihi ...
[caption id="attachment_11486" align="aligncenter" width="300"]Rumah pengantin
Sebelum pamit pulang, saya sempatkan ngobrol dengan pengantin yaitu sepupu dan suaminya. Bertanya setelah ini mau tinggal dimana.Sepupu bilang ia terpaksa akan ikut suaminya di Cikarang karena kerjanya di sana. Dalam hati mengucap kasihan dong nanti Bibi akan tinggal seorang diri.
“Kalau ada rezeki kami ingin segera punya rumah sendiri, Teh. Rumah ini kan udah rusak disana-sini. Biar nanti Mama saya ajak tinggal bareng,” seperti mengetahui isi hati saya, sepupu mengucapkan itu.
“Udah ada incaran sih, Teh. Ada hunian Mustika Village Sukamulya di Cikarang Bekasi yang kayanya cocok.”“Lokasinya strategis,” kata suaminya menjelaskan.
[caption id="attachment_11490" align="aligncenter" width="300"]Selain itu hunian Mustika Village Sukamulya pengembannya bekerja sama dengan Creed Group dari Jepang sehingga tercipta rumah terjangkau dan berkualitas.
Dengan harga cukup mulai dari IDR 160.000.000 saja, rumah idaman yang hanya memerlukan waktu 20 menit ke Stasiun cikarang dan Toll Cibitung Cilincing ini sudah bisa dimiliki dengan tanda jadi DP 2 Juta, booking fee 1 Juta. Begitu penjelasannya.
Memang ya, cita-cita setiap pengantin untuk memiliki rumah sendiri bukan hal yang tidak mudah. Akan selalu ada perjuangan untuk sampai di sana. Namun setelah saya lihat di websitenya, dengan berbagai kemudahan dari Mustika Village Sukamulya keinginan sepupu untuk punya rumah bukan lagi sebuah hal yang susah.
[caption id="attachment_11491" align="aligncenter" width="300"]Bagaimana tidak, PPN di Mustika Village Sukamulya 10% ditanggung pemerintah. Bebas biaya proses KPR, bebas biaya BPHTB, bebas biaya pajak, masih ada lagi bonus kulkas dua pintu. Wah... pasti bakal banyak yang mau dong ya.
Saya yakin sepupu masih berkesempatan memiliki Mustika Village Sukamulya yang memberikan konsep dan prinsip keseimbangan hidup berkualitas ini, secara ada 3300 unit hunian yang ditawarkan di atas lahan seluas 35 hektar. Asal sepupu gercep aja.
Lokasinya yang strategis dikelilingi sekolah, pasar, rumah sakit dan pusat belanja lainnya memang jadi magnet tersendiri bagi para pasangan muda milenial untuk memiliki properti dengan potensi investasi tinggi. Kalau Bibi diajak ke sana, pasti bakalan betah.
Saya mengangguk mendoakan semoga sepupu saya ini bahagia dengan pilihannya. Aamiin. Kami pun pamit pulangKudanya lelah
Sesampainya di rumah sekitar pukul lima sore kami langsung tepar berjamaah. Wuih, melakukan perjalanan dari subuh hingga petang dengan jalan off-road begitu memang sesuatu, ya. Belum lagi banyak drama seru yang jadi pengiringnya.Rasanya ingin segera memejamkan mata. Tapi sayang, pekerjaan rumah dan job campaign menanti dikerjakan sebelum deadline. Anak pun harus mandi dan bersiap mengaji. Sementara suami terpaksa harus basah-basahan mencuci motor. Kasihan, kuda besi jadul kami itu pun pastinya kelelahan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar