Sampai sekarang masih terbayang nyinyiran sekelompok orang di kampung tempat saya tinggal, mengenai istilah Tol Langit yang begitu buming setelah istilah itu diucapkan oleh tim kampanye nasional Jokowi Maruf Amin beberapa tahun lalu.
“Apaan tol langit? Mimpi kali tuh bikin jalan tol di langit. Tiangnya mau pakai apa? Hehehe...”Begitulah, bagi orang awam, yang tidak memikirkan dahulu apa yang hendak ia ucapkan, tanpa mengerti betul apa arti dan maksudnya, main asal komentar saja. Tidak sadar, kalau omongan dia itu justru jadi bahan tertawaan pihak yang sudah memahami apa yang dimaksud tol langit.
Perjuangan Tol Langit Hapus Kesenjangan Digital
Tinggal di Kabupaten Cianjur Jawa Barat, apapun provider yang dipakai, kalau cuaca buruk, listrik mati, sinyal timbul tenggelam itu sudah biasa. Apalagi yang tinggal di daerah 3T, daerah terdepan, terluar, dan tertinggal sana ya... Jangankan internet masuk desa, sarana prasarana penting lainnya saja masih kesulitan. Ini bukti kalau di wilayah Indonesia masih terdapat masyarakat yang belum mendapatkan akses internet.Pemerintah terus berupaya untuk menghadirkan internet di seluruh penjuru Indonesia demi mengatasi kesenjangan digital. Khususnya dalam memastikan kehadiran internet di 3T melalui Tol Langit ini. Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) memastikan terus melanjutkan pembangunan tol langit.
Jangan bayangkan tol langit itu ada banyak jalan tol di langit. Sampai seperti tetangga saya bilang itu tiangnya mau pakai apa, hehehe! Karena yang dimaksud tol langit, adalah “Jaringan internet di pedalaman yang sebelumnya hanya terwujud oleh satelit kini digantikan oleh fiber optic sehingga koneksi internet bisa lebih cepat. Jadi seperti tol yang bebas hambatan, internet bisa terkoneksi tanpa adanya gangguan,” demikian dijelaskan Direktur Utama BAKTI dari Kominfo, Anang Latif saat Webinar Media Sila dengan tema Apa Kabar Tol Langit, Selasa (14/9).
Potret Kesenjangan Digital Indonesia
Kehadiran tol langit jelas sangat dibutuhkan mengingat masih adanya kesenjangan digital di Indonesia. Pengguna internet di negara kita diketahui tahun 2019-2020 ada 73,7%. Dari sekitar 266 juta jiwa penduduk Indonesia, maka sekitar 196 juta jiwa yang berstatus pengguna internet aktif. Sisanya?Jika di Indonesia ada sekitar 83.218 desa, yang telah terjangkau jaringan internet 4G ada 70.670. Maka ada lebih dari 12 ribu desa yang belum terjangkau internet 4G baik di lokasi 3T maupun non 3T.
Menurut data International Telecommunication Union (ITU) ICT Development Index (IDI) 2017 Indonesia berada di rangking 111 di dunia dari 176 negara. Kalah sama Vietnam, Filipina, Malaysia apalagi Singapura.
Hasil studi dari Boston Consulting Group (BCG) 2017 ada sekitar 150 ribu lokasi fasilitas publik di negara kita masih belum terlayani internet.
Potret Kesenjangan Digital di negara itu masih ada. Meskipun sudah lebih 20 tahun privatisasi layanan telekomunikasi di seluruh penjuru Indonesia ternyata masih ada daerah “blank spot”, daerah yang tidak terjamah sinyal telekomunikasi sama sekali. Terutama di daerah yang kurang diminati oleh industri.
BAKTI Bukan Provider
Ya, meski burkutat dengan saluran telekomunikasi, tapi BAKTI bukan provider. Sekalipun tidak menjanjikan bisa menghasilkan laba, tugasnya tetap memberikan sarana dan prasarana untuk internet sampai ke semua wilayah. Contohnya ada satu desa yang tidak dilayani oleh provider. Karena jika dihitung berdasar untung rugi, daerah tersebut tidak akan memberikan keuntungan. Bagaimana mau untung jika biaya untuk sambungan provider misalkan pasang Base Transceiver Station (BTS), sampai ratusan juta rupiah, sementara jumlah penduduk desa tersebut tidak lebih dari dua puluh kepala keluarga. Jika semua penduduk desa tersebut menggunakan telepon seluler pun, tidak akan menutup modal awal provider untuk bisa menghadirkan sinyal ke sana.Nah, beda dengan BAKTI Kominfo, apapun masalahnya, kewajibannya tetap mengupayakan supaya internet bisa hadir ke sana.
Maka seperti namanya, istilah tol langit yang menggambarkan sambungan bebas hambatan berupa sinyal internet yang dapat menghubungkan seluruh daerah di Indonesia tanpa terkecuali, jadi program utama BAKTI.
Tol langit dapat diwujudkan dengan membangun jaringan backbone nasional dan satelit multifungsi berteknologi tinggi (High Throughput Satelite).Karena seperti dikatakan Pak Anang Latif, target pemerintah setidaknya harus ada sebanyak 92,6 persen dari total penduduk negara kita yang meningkat jadi pengguna internet aktif.
Cara yang ditempuh BAKTI untuk mewujudkan tol langit ini ialah dengan membangun infrastruktur telekomunikasi backbone yang menghubungkan antarkota atau kabupaten melalui jaringan serat optik Palapa Ring. Membangun infrastruktur middle mile berupa sambungan satelit, serat optik, dan microwave link sebagai penghubung hingga ke wilayah kecamatan. Dan membangun infrastruktur terakhir (last mile) berupa sambungan dari satelit, fiber optik maupun microwave link langsung ke pelanggan melalui BTS 4G, WiFi, dan lainnya.Realisasi dari tol langit ini, BAKTI Kominfo akan membangun fiber optic Palapa Ring Integrasi pada 2022 hingga 2023 dengan total 12.803 kilometer dalam dua fase pembangunan. Fase pertama pada 2022 sepanjang 5.226 kilometer dan fase kedua pada 2023 sepanjang 6.857 kilometer.
Dari total fiber optic yang akan dibangun, 8.203 kilometer akan dipasang di darat, 3.880 kilometer di laut, dan sisanya berupa microwave link.Jaringan Palapa Ring tersebut akan mengintegrasikan tiga Palapa Ring yang sudah terbangun yakni Palapa Ring Barat, Tengah, dan Timur. Jadi nanti ketiga jaringannya akan saling terhubung.
Program pembagunan Palapa Ring Integrasi yang membutuhkan biaya hingga Rp 8,6 triliun itulah yang akan menjadi bagian utama dari Tol Langit Nasional. Darimana sumber pendanaan program Tol Langit Nasional tersebut? Biayanya didapat dari kerja sama pemerintah dan pihak swasta.
Tujuan Tol Langit Nasional ya sudah pasti untuk memperkuat jaringan yang sudah ada dan menjadi backup bila di satu wilayah jaringannya terputus, sehingga pemanfaatan internet jadi lebih maksimal. Tidak ada lagi istilah tidak ada internet di daerah 3T sekalipun.Komitmen Moratelindo berpartisipasi dalam “Membangun Negeri”
Dalam memanfaatkan jaringan Palapa Ring yang sudah terbangun di wilayah barat, tengah, dan timur Indonesia itu praktiknya tidak mudah untuk dikerjakan karena banyak sekali tantangannya.Adalah PT Mora Telematika Indonesia (Moratelindo) sebagai salah satu mitra kerja BAKTI Kominfo yang dipercaya membangun jaringan Palapa Ring wilayah Barat dan Timur dalam proyek Tol Langit Nasional ini.
Presiden Direktur Moratelindo, Galumbang Menak menyebutkan tantangan saat mengerjakan proyek Tol Langit Nasional di wilayah timur Indonesia khususnya ini hadir dari faktor geografis, faktor sosial, dan faktor administratif.
Tantangan menghadirkan Internet ke daerah 3T
Kondisi geografis Indonesia bagian timur yang terdiri dari pegunungan tinggi memberi tantangan yang luar biasa. Khususnya di wilayah Papua yang gunung-gunungnya bisa mencapai lebih dari 4.000 meter di atas permukaan laut.Bayangkan bagaimana membangun BTS di lokasi yang hanya bisa diakses dengan helikopter? Hal itu selain menghambat kinerja para pekerja lapangan juga kurang-kurangnya waspada bisa berbahaya bagi nyawa mereka dikarenakan suhu udara dan kadar oksigen yang rendah.
Kendala lain dari sisi keamanan, terbukti dari adanya penyerangan dan pengrusakan yang bisa terjadi kapan saja dari kelompok kriminal bersenjata (KKB) Papua.
Bagaimana mengatasinya? Pihak Moratelindo harus terus berkoordinasi dengan pihak TNI untuk menjamin keselamatan karyawan.
“Membangun Palapa Ring tidak hanya mengorbankan keringat dan memakan biaya yang besar, tapi juga harus berkorban nyawa. Sudah banyak korban, baik dari karyawan, kontraktor, maupun aparat TNI yang gugur demi mewujudkan internet di pelosok negeri, khususnya di wilayah Indonesia Timur,” ungkap Pak Galumbang.
Hal itu tentunya sangat menyedihkan ya. Mereka terus berjuang mengupayakan demi internet masuk daerah 3T. Sementara kita saat ini tinggal asyik menikmati hasilnya.
Selain faktor kondisi, teknologi alat dan keamanan, faktor administrasi tidak kalah susahnya. Karena tantangan selanjutnya bagi pihak Moratelindo ada dari pihak pemerintah daerah saat mengurus perizinan.
Memang tidak mudah mengubah wajah dan pola hidup masyarakat di daerah 3T dengan kehadiran internet. Untuk menuju internet masuk daerah 3T dibutuhkan peran berbagai pihak. Bukan hanya pemerintah pusat yang bergerak maju bersama dengan mitra, aparat keamanan, TNI dan Polri namun juga peran pemerintah daerah yang juga harus proaktif memberi akses kemudahan lewat berbagai perizinan yang dibutuhkan.
Pak Galumbang berharap, untuk selanjutnya tidak terjadi lagi perizinan yang berbelit hingga membutuhkan 29 izin hanya untuk membangun jaringan fiber optic sepanjang 60 hingga 70 kilometer.
Kita ikut berdoa semoga kedepannya birokrasi di daerah semakin transparan dan mudah. Kalau bisa cukup satu perizinan sudah bisa memberi akses untuk melaksanakan pekerjaan sehingga program-program pemerintah dapat berjalan dengan lebih cepat.
Harapan tersebut tentu saja jadi doa yang harus dipanjatkan seluruh masyarakat Indonesia juga, toh nanti hasilnya dapat dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat Indonesia juga, kan?
Yuk, kita dukung program Tol Langit sebagai sambungan bebas hambatan jaringan internet di pedalaman --yang sebelumnya hanya terwujud oleh satelit kini digantikan oleh fiber -- sehingga koneksi internet bisa lebih cepat seperti di kota besar, dengan cara mempergunakan internet sebaik-baiknya.
Jadikan internet sebagai alat untuk menunjang pekerjaan, pembelajaran, pekerjaan dan kebaikan lainnya, bukan untuk menyebarkan ujaran kebencian, berita bohong dan hal tidak baik lainnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar