Obrolan pagi setelah mengerjakan rutinitas di rumah kali ini bermula dari baca status teman yang sudah setahun lebih pindah ke lain provinsi di Pulau Jawa bagian timur, yang mengatakan setelah satu tahun lebih masih tetap tidak bisa belajar Bahasa Jawa. Pas ada tugas sekolah anak dari guru bahasa daerah pun tetap baik anak maupun orang tuanya keukeuh masih tidak mengerti. Akhirnya masalah sedikit terselesaikan ketika menemukan guru les private yang bisa mengajarkan semua mata pelajaran yang dipelajari anak, termasuk Bahasa Jawa.
Obrolan pun semakin seru. Ada yang bercerita dulu pertama kali pindah dari Kalimantan ke Tasikmalaya, blass ga ngerti bahasa Sunda, akhirnya ikut les biar tidak tertinggal. Kemudian pas harus pindah lagi ke Depok, jangan salah, akhirnya jadi yang paling pinter bahasa Sunda.Sering memang saya membaca status teman-teman yang merantau dari satu daerah ke daerah lain, baik dari Jawa bagian timur ke barat, atau dari luar pulau Jawa ke Jawa, maupun sebaliknya dari Jawa Barat alias Sunda ke luar daerah baik masih di Pulau Jawa maupupun ke luar Pulau Jawa beserta keluarganya. Mereka awalnya mengeluhkan soal bahasa khususnya pada mata pelajaran yang otomatis harus dipelajari oleh anaknya di sekolah barunya itu.
Bahkan saudara saya sendiri pun mengalaminya. Suaminya berasal dari Yogya tapi lahir dan besar di Bekasi. Istrinya asal Cianjur dan setelah menikah mereka tinggal di Bekasi sampai belasan tahun. Karena suatu hal, mereka memutuskan kembali ke kampung halaman suami di Yogyakarta.
Saat itulah saudara bercerita ia kebingungan ketika anaknya ada pelajaran bahasa daerah. Ia maupun suaminya sama sekali tidak mengerti. Dibantu tetangga dan guru mengajinya akhirnya setiap ada pelajaran bahasa daerah bisa dicarikan solusinya.
Teman blogger suami istri asal Surabaya pun pernah ada yang mengatakan, ia cukup mumet menghadapi pelajaran bahasa Sunda anaknya ketika mereka menetap di Bogor sampai sekarang.
Begitulah, yang pinda ke daerah Jakarta dan sekitarnya mengeluh karena nggak bisa bahasa Sunda, yang di daerah Jawa tengah dan timur lainnya, mengeluhkan nggak ngerti bahasa Jawa. Yuk senyumin saja.
Tapi seiring berkembangnya jaman dan teknologi, lumayan terbantu kalau sekarang ada guru les bahasa. Dulu-dulu kan mana ada, kalaupun ada susah juga menemukan yang harganya sesuai dengan financial para perantau. Lagian banyak yang bilang untuk anak pindahan saat awal-awal tidak bisa memahami bahasa daerah yang bukan bahasa ibunya itu, guru dari pihak sekolah katanya bisa memaklumi.
Apalagi sekarang banyak translator baik dari google maupun aplikasi lain yang juga bisa banyak membantu kita kalau cuma menerjemahkan sedikit-sedikit. Jadi tidak bikin kita bingung-bingung amat lagi...
Pengalaman saya terkait belajar bahasa lain lagi. Niatnya mau belajar bahasa Inggris, bahasa Cantonis dan bahasa Mandarin yang bisa justru malah bahasa Jawa. Haha... Kok bisa?
Serius. Dulu kan sebelum kerja jadi TKW di penampungan itu semua calon tenaga kerja wajib belajar bahasa sesuai dengan bahasa yang dipakai di negara tujuan saat bekerja nanti. Bahasa Inggris, bahasa Cantonis dan Mandarin tuh jadi bahasa yang wajib saya pelajari mengingat tujuan kerja saya ke Singapura Hong Kong dan Taiwan.
Saat belajar karena teman sekelasnya kebanyakan ibu-ibu jadi saat guru belum masuk kita banyaknya malah ngobrol. Soal rumah tangga, soal suami yang kawin lagi, soal anak yang kirim surat dan nelepon minta dikirim uang, dan masih banyak lagi.
Mereka ngerumpi sana-sini menggunakan bahasa daerah. Saya yang saat itu bisa dibilang paling muda (usia saya masuk penampungan dituakan) hanya banyak diam saja. Menyimak, melihat mereka bicara, mencoba mengartikan apa yang mereka ucapkan dan sesekali bertanya kepada teman satu kamar yang kebetulan asli dari Ponorogo kalau ada kata yang tidak saya mengerti artinya.
Di kelas para calon tenaga kerja kebanyakan dari daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Jadi setiap hari tuh bahasa itu yang lebih banyak saya denger selama berbulan-bulan. Eh karena semua itu, saat visa saya turun dan jadwal penerbangan telah ditentukan, saat dites bahasa saya akui malah lebih ngerti bahasa Jawa daripada bahasa Inggris, bahasa Cantonis maupun bahasa Mandarin nya. Wkwkwkwkkk...
Dan tahukah setelah sampai di luar negeri, ternyata karena saya kurang fasih dalam tiga bahasa yang dipelajari itu, akhirnya tambah satu keahlian bahasa lainnya yang harus saya kuasai, yaitu bahasa isyarat. Heuheuheu...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar