“Ayi Li, wo xiangnian ni de chaofan. Women shenme shihou zai luying?”
Kata Chan Yi An melalui pesannya di sosial media. Ada rasa bahagia, haru, sedih sekaligus kangen menyeruak terhadap gadis usia lima belas tahun itu setelah membacanya.Sudah hampir sepuluh tahun saya dan Ian berpisah. Kami komunikasi lewat sosial media. Dulu saling tanya kabar melalui perantara ibunya. Sekarang ia punya akun sosial media sendiri.
Saya biasa memanggilnya Ian. Kakaknya beda tiga tahun dengan Ian, namanya Idong. Ian dan Idong adalah anak yang saya rawat ketika bekerja di Taiwan. Saya lebih dekat dengan Ian karena sejak lahir hingga masuk TK ia saya urus. Orang tuanya, alias majikan saya, bekerja sebagai pramugara dan pramugari. Anak-anak dan rumah jadi tanggung jawab saya. Alhamdulillah majikan sangat baik sehingga saya bisa bebas mengatur dan mengerjakan semuanya saat majikan tidak ada di rumah.
Dan saya sangat senang ketika Ian kirim pesan mengatakan kalau ia kangen nasi goreng buatan saya seperti yang pernah saya buat ketika kemping.
[caption id="" align="aligncenter" width="300"]
Majikan saya memang sangat menyukai kegiatan tradisional dan hal yang berbau alam. Setiap bulan keluarganya selalu menyempatkan kemping di pegunungan. Saat kemping itu saya iseng buat nasi goreng. Secara kalau di gunung bahan logistik serba minim, dong. Ternyata anak-anak malah suka dan jadi ketagihan. Istilah koki gunung shandi chushi pun mereka sematkan untuk saya, dengan alasan masakan saya di gunung enak. Padahal sih enak tuh karena kondisi mereka sedang lapar dan kelelahan, hehehe...Dulu, kalau mendapatkan jadwal terbang ke Jakarta, Surabaya, atau Denpasar majikan mendapatkan waktu istirahat sehari semalam. Sambil menunggu jadwal penerbangan selanjutnya, biasanya majikan menghabiskan waktunya dengan mengunjungi lokasi wisata alam terdekat atau eksplorasi lokasi wisata sekitar hotel tempat menginap. Majikan terang-terangan menyukai keanekaragaman wisata alam Indonesia. Ia kadang suka menyesali kenapa hanya punya waktu istirahat sehari semalam. Karena menurutnya, kalau waktunya lebih lama ia akan lebih leluasa untuk keluyuran menikmati berbagai wisata alam di Indonesia.
“Yindunixiya feichang fuyou. Wei ziji shi yin du ni xi ya ren er zihao...” majikan mengatakan kalau Negara Indonesia itu sangat kaya. Saya harus bangga jadi orang Indonesia. [caption id="" align="aligncenter" width="300"]
“Indonesia itu sangat indah. Senang pastinya kamu jadi Yinni ren,” majikan nyaris selalu berkata demikian manakala melihat berita keanekaragaman wisata alam Indonesia ada di tanah air.Sepulangnya dari rantau, saya yang sejak sekolah aktif di Pramuka dan suka kegiatan alam memiliki banyak kesempatan untuk mendaki gunung. Kebetulan suami pun suka melakukan pendakian. Momen indah seperti itu tidak lupa saya share kepada majikan. Mereka sangat antusias. Berharap bisa menjajakan kaki di setiap gunung yang sudah saya sambangi.
“Women xianmu ni. Yuanlai Yindunixiya de ziran luyou duoyang xing feichang duo.” Keluarga majikan bilang mereka iri dengan kami dengan keanekaragaman wisata alam Indonesia yang sangat banyak.Memang sih, di mata majikan dan keluarganya, negara Indonesia itu memiliki banyak kelebihan, khususnya dalam keanekaragaman wisata alamnya.
Saya pun berpikir demikian. Tidak salah Tuhan memberikan kekayaan alam yang melimpah, kecuali untuk kita kelola semaksimal mungkin untuk diambil manfaatnya secukupnya dan tidak merusaknya.
Kita harus bangga masih memiliki hutan dan gunung yang masih terus diupayakan kelestarian dan ekosistemnya. Lebih baik terlambat menjaga dan melindung hutan daripada tidak sama sekali sehingga menimbulkan kerusakan, bukan?
Indonesia memang sangat kaya. Saya termasuk beruntung dan bangga memiliki hobi mendaki gunung dan mendapatkan dukungan sepenuhnya dari keluarga. Meski saya suka pantai dan jalan di mall tetapi saya keukeuh lebih memilih gunung. Kenapa? Karena di gunung kita sudah bisa sekaligus menemukan semua keanekaragaman wisata alam Indonesia. Keanekaragaman kuliner, flora, fauna, dan keanekaragaman budaya. Lengkap, buy one get four!Kuliner gunung
Di gunung kita bisa menemukan keanekaragaman pangan lokal Indonesia. Banyak hasil hutan yang bisa diolah jadi makanan lezat bahkan jadi kuliner favorit para food hunter.Sagu, tengkawang, rebung, madu, dan rempah-rempah adalah bahan makanan enak dan berkhasiat yang dihasilkan dari hutan.
Diversifikasi pangan adalah kunci ketahanan pangan. Dengan mengolah sagu menjadi camilan kekinian dengan packaging yang menarik tidak hanya ikut melestarikan sagu itu sendiri sebagai bahan pangan tapi juga meminimalisir rasa bosan dengan olahan sagu yang masih tradisional atau itu-itu saja. [caption id="" align="aligncenter" width="300"]
[caption id="attachment_11186" align="aligncenter" width="300"]Gunung dan flora
Di hutan-hutan Indonesia kita bisa menemukan keanekaragaman flora Indonesia. Dari sekitar 8.000 spesies tumbuhan milik Indonesia, beberapa sudah sangat langka dan dilindungi seperti bunga bangkai, Rafflesia Arnoldi, Edelweiss Jawa, berbagai jenis anggrek khas tanah air, kantong semar, damar, acung jangkung, cendana, sampai purwaceng.Menjaga dan melindungi flora Indonesia sudah pasti itu kewajiban kita sebagai warga negara yang baik.
[caption id="attachment_11176" align="aligncenter" width="300"]
[caption id="attachment_11183" align="aligncenter" width="300"]Gunung sebagai habitat fauna
Fauna alias binatang di tanah air sekitar 2.215 spesies yang sudah teridentifikasi. Terdiri dari mamalia, reptil, burung, dan aneka jenis kupu-kupu.Saat naik gunung, pendaki yang istimewa (karena tidak semua pendaki bisa mengalami) bisa bertemu dengan fauna Indonesia seperti harimau, rusa, babi hutan, berbagai jenis monyet, berbagai jenis burung, golongan reptil seperti ular, tokek, kadal, biawak, bunglon, trenggiling dan lain-lain termasuk jenis ikan air tawar.
Menjaga dan melindungi fauna Indonesia sudah pasti jadi kewajiban kita, tidak hanya kepada hewan yang dilindungi tapi semua binatang sebagai mahluk hidup dan pelaku proses rantai makanan.
[caption id="attachment_11177" align="aligncenter" width="300"]Gunung tempat melestarikan tradisi dan budaya
Banyak keanekaragaman budaya Indonesia yang bisa kita temukan di gunung seperti upacara adat Kasada yang dilakukan setiap tahun oleh Suku Tengger di Bromo Jawa Timur.Atau masyarakat lereng Gunung Merapi yang mempunyai tradisi secara turun temurun Sedekah Gunung. Dimana dalam tradisi ini, masyarakat memberi sesaji kepada penguasa Gunung Merapi.
[caption id="attachment_11178" align="aligncenter" width="300"]
See, dari gunung saja kita bisa menemukan banyak sekali keanekaragaman wisata alam Indonesia. Tidak salah kalau majikan saya selalu kagum dengannya. Dan kita, sebagai warga negara Indonesia, tidak hanya cukup dengan kata bangga. Tapi harus ada tindak lanjut sehingga keanekaragaman wisata nusantara ini tetap lestari, terjaga dan membanggakan. [caption id="" align="aligncenter" width="227"]
Sekarang banyak orang yang mendaki gunung tapi hanya meninggalkan sampah dan kerusakan alam. Tidak lagi memikirkan bagaimana menjaga lingkungan hidup sebagai kontribusi dalam memelihara keanekaragaman wisata yang ada di Indonesia.
Padahal, tidak harus punya julukan pecinta alam, dengan langkah kecil yang siapapun bisa melakukannya itu sudah bisa ikut menjaga kelestarian hutan, yang otomatis sekaligus ikut melestarikan keanekaragaman kuliner, flora, fauna, dan keanekaragaman budaya yang ada di dalamnya.
Langkah kecil melestarikan hutan yang bisa kita lakukan:
- Tidak buang sampah sembarangan di hutan. Kalau membawa bekal, pakai wadah pembungkus yang ramah lingkungan. Sediakan kantong sampah sendiri.
- Tidak menebang pohon, kalaupun harus, pilih batang sekunder bukan pohon utama.
- Mendukung gerakan penghijauan atau reboisasi. Meski tidak menanam pohon sendiri secara langsung, bisa ikut berdonasi dan pihak lain yang melakukannya.
- Melindungi dan menjaga habitat hutan.
- Ikut mencegah kebakaran hutan.
- Tidak mencoret-coret pohon di hutan.
Berwisata tanpa merusak alam di kalangan para pendaki memang susah-susah gampang. Moto yang berbunyi jangan mengambil apapun kecuali gambar, jangan meninggalkan apapun kecuali tapak kaki dan jangan membunuh apapun kecuali waktu, itu hanyalah slogan semata karena pada kenyataannya masih banyak kita temukan kerusakan di sana sini.
Padahal jika dipahami, berwisata tanpa merusak alam itu hakikatnya sudah ikut melestarikan. Tanamkan budaya mipit kudu amit, ngala kudu mentah atau (artinya ambil apapun mau kecil ataupun besar tetap harus minta izin lebih dulu) dengan disiplin menanamkan budaya tersebut kita sudah ikut menjaga lingkungan.
Terlepas dari kekurangan negara +62 dalam menjaga keanekaragaman wisata alam Indonesia ini, Ama (ibu majikan) juga Akong (ayah majikan) pernah mengatakannya secara langsung, kalau sejak Taiwan diperkenankan memperkerjakan tenaga kerja asing mereka lebih memilih tenaga kerja dari Indonesia.
Ramah, rajin dan ulet jadi salah satu alasan mereka meski di segi bahasa dan pendidikan, jauh kalah dibanding tenaga kerja dari Philipina, Vietnam atau Thailand.
Orang Indonesia sendiri terkenal dengan keramahan dan sopan santunnya. Saya yang pernah kuli di sana sebagai koki gunung kurang bangga apalagi jadi orang Indonesia, coba? Jadi pekerja migran Indonesia saja bisa bikin bangga, apalagi kamu...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar