Sabtu, 19 September 2020

Bukan Hal Normal Kenali Gejala dan Obati Pikun

Bukan Hal Normal Kenali Gejala dan Obati Pikun. Sekarang saya baru yakin, kalau apa yang dikatakan majikan dulu saat saya bekerja sebagai caregiver di rumah sakit Tri-Service General Hospital Nei-Hu (三軍 總 醫院) Taipei di Taiwan memang benar adanya.

“Kalau saja Akong masih mudanya menjaga pola hidup sehat, pasti dia tidak akan cepat pikun,” kata majikan yang sudah saya anggap seperti kakak saya sendiri.

Akong adalah ayahnya majikan. Akong memiliki penyakit lumpuh, sekaligus pikun. Karena punya diabetes juga, kaki kiri Akong harus diamputasi. Karenanya ia butuh perawat khusus. Sayalah yang jadi caregiver, perawatnya selama bertahun-tahun.

Saat itu sudah beberapa minggu, Akong sering tidak mengenali anaknya. Setiap anaknya menjenguk, selalu bertanya siapa, disebutkan anaknya, Akong manggut-manggut. Eh pas pulang ternyata Akong menanyakan lagi, itu tadi yang datang siapa? Gustiii... Dasar pikun.

Karena itu saya ceritakan semuanya kepada majikan. Dan majikan saya menjawabnya demikian. Akong mulai pikun. Kalau saja saat mudanya Akong menjaga pola hidup sehat, pasti tidak akan cepat pikun.

Saya ingin menyanggah. Tapi tidak berani karena kendala bahasa dan pemahaman. Setahu saya pikun itu lumrah. Orang sudah lanjut usia, pikun kan sudah biasa. Ternyata, anggapan saya keliru...

Saya tercerahkan ketika mengikuti webinar #obatipikun tadi siang, Minggu 20 September 2020. Dalam pembahasan webinar dengan tema Seminar Kesehatan: Festival Digital Bulan Alzheimer Sedunia tersebut dikupas tuntas terkait penyakit pikun atau alzheimer. Apa penyebab pikun, apa gejala pikun, serta bagaimana mencegah datangnya pikun. Bahkan diulas lengkap tentang bagaimana cara merawat orang pikun saat pandemi seperti sekarang. Didahului sambutan dari dr. Iskandar Linardi perwakilan dari PT Eisai Indonesia, yaitu anak perusahaan farmasi Eisai Co., Ltd. yang berkantor pusat di Tokyo, dengan berbasis human health care (hhc). Eisai adalah perusahaan yang memiliki bisnis dalam memenuhi beragam kebutuhan perawatan kesehatan di seluruh dunia. Bertujuan memberikan kontribusi yang berarti dalam sistem perawatan kesehatan. Yang lebih mengagumkan melalui webinar yang terselenggara berkat kerja sama PT Eisai Indonesia dengan Perdossi (Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia) diinformasikan mereka telah meluncurkan aplikasi EMS (E- Memory Screening) yaitu aplikasi yang bisa mendeteksi secara dini terkait kepikunan dan gejalanya. Aplikasi EMS ini milik Perdossi yang disponsori oleh PT. Eisai Indonesia. Jadi bikin penasaran ya seperti apa itu cara mencegah pikun, dan bagaimana aplikasi EMS ini bisa bekerja?

Bulan Alzheimer Sedunia

Seminar Kesehatan: Festival Digital Bulan Alzheimer Sedunia diadakan bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat supaya bisa mendeteksi sejak dini terkait masalah kepikunan, sehingga pikun ini bisa diatasi.

Masalahnya, penyakit yang menyebabkan penurunan fungsi otak ini tidak hanya dipunyai oleh orang lanjut usia, tapi juga dimiliki oleh usia produktif. Pikun atau alzheimer dimiliki oleh usia produktif itu jelas tidak normal. Karena itu kepikunan bisa dicegah supaya dampaknya tidak meluas.

Keterangan dari dr. Dodi Tugasworo selaku ketua Perdossi di Indonesia ada satu juta orang lebih penderita demensia alzheimer (kepikunan) pada tahun 2013. Angka itu jelas akan meningkat secara signifikan pada tahun 2020 jika kesadaran dalam masyarakat belum juga muncul. Prihatin atas kondisi itu, Perdossi sudah mengembangkan aplikasi gratis yang bisa mendeteksi gejala kepikunan sejak dini, adalah EMS Sahabat Kesehatan Otak Keluarga.

EMS (E- Memory Screening)

EMS (E- Memory Screening) dengan jargonnya Sahabat Kesehatan Otak Keluarga adalah aplikasi satu akun yang bisa mendeteksi beberapa orang user sekaligus. EMS bukan alat diagnosa, jadi jika ada hasil yang tidak akurat, pengguna sebaiknya segera konsultasi ke dokter ahli syaraf.

Tujuan diluncurkannya aplikasi EMS ialah sebagai alat edukasi masyarakat terkait kepikunan, dan sebagai skrining demensia masyarakat Indonesia.

Feature yang dimiliki EMS memiliki tiga point penting, yaitu edukasi informasi terkait demensia alzheimer, task screening, dan direktori dokter ahli terdekat dari lokasi kita berada.

Aplikasi EMS sudah bisa didownload di PlayStore. Pengalaman dalam menggunakan aplikasi ini cukup mudah. Seperti dipraktikkan dr. Pukovisa Prawiroharjo Sp.S(K) saat membuka aplikasi EMS, kita tinggal mengikuti suruhan yang tertera dan menjawab beberapa pertanyaan.

Pada akhirnya, akan keluar skor atau nilai yang besarannya otomatis menyarankan kita tetap jaga kesehatan, atau menyarankan segera konsultasikan ke dokter ahli terdekat.

Aplikasi EMS ini mudah dimengerti alias user friendly meski oleh orang awam seperti saya sekalipun.

Gejala Pikun

Pikun bukan hal normal. Pikun dapat berisiko menjadi penyakit (demensia) dan sudah ada lebih dari 50 juta orang demensia di dunia pada saat ini. Celakanya, pikun tidak hanya dimiliki oleh orang lanjut usia, karena usia produktif pun ternyata banyak yang menderita demensia alzheimer ini.

Karena itu sebaiknya kita mengenal sejak dini seperti apa gejala pikun supaya kita bisa memeriksakan diri lebih dini.

Gejala pikun terdiri dari mulai sering lupa, sering bingung, menarik diri dari pergaulan (banyak menyendiri), adanya perubahan perilaku atau kepribadian (tiba-tiba suka marah, histeris, dll), sulit melakukan pekerjaan, sulit memahami kondisi, sulit fokus, adanya gangguan komunikasi (sulit bicara), susah mengambil keputusan, dan menaruh barang tidak pada tempatnya.

Nah, jika kita mengalami hal seperti tersebut di atas, waspada gejala demensia alzheimer mendekati kita.

Obat Pikun

Mengobati pikun maksudnya bukan kita menentang kodrat alam. Tua itu pasti, pikun itu alami. Tetapi maksud mengobati pikun disini adalah berusaha mencegah sejak awal sehingga bisa meringankan gejala yang timbul. Dengan demikian dipercaya bisa memperlambat datangnya penyakit sehingga penderita bisa hidup semandiri mungkin. Pengalaman saya saat menjadi caregiver di Taiwan, memang lansia di sana dibandingkan dengan lansia di Indonesia masih banyak yang mandiri. Mereka tetap aktif berkegiatan, bahkan kalau tidak memiliki penyakit tambahan seperti Akong yang lumpuh dan diabetes, meski sudah usia lewat 70 lansia tetap aktif dan enerjik.

Konon saat masa mudanya mereka memang menjaga pola hidup sehat. Seperti dikatakan majikan saya, mereka bukan menentang pikun melainkan mengatasi penyebab kepikunan.

Seperti kalau punya kendala di otak, jika terdeteksi sejak dini, bisa dilakukan operasi atau kemoterapi. Jika masalahnya karena kurang nutrisi maka imbangi dengan asupan yang bernutrisi, bergizi, bahkan suplemen. Termasuk obat-obatan yang memperbaiki gejala sehingga bisa memperbaiki fungsi otak. Ada juga dengan melakukan terapi sehingga bisa menstimulasi kegiatan kognitif dan melakukan kegiatan fisik. Semua itu senada seperti yang disampaikan oleh pembicara dr. Sri Budhi Rianawati Sp. S(K) dalam materi #ObatiPikun dengan Mengenal Gejalanya.

Cara Cegah Pikun

Di akhir materi yang disampaikan oleh dr. Sri yang biasa dipanggil dr. Rien ini disampaikan cara mencegah pikun yang bisa kita lakukan dalam keseharian. Seperti menjaga kesehatan jantung, tetap produktif beraktivitas, melakukan hal yang disukai seperti menjalankan hobi, konsumsi makanan bergizi, selalu berpikiran positif, dan tetap bersosialisasi dengan keluarga atau lingkungan. Diharapkan, kita bisa tetap menjaga kenangan indah keluarga hingga hari tua dengan cara menjaga kesehatan sehingga kita terhindar dari kepikunan.

Pikun Saat Pandemi

Disampaikan Dr.dr. Junita Maja Pertiwi Sp.S(K) lansia di Indonesia tahun 2019 ada sekitar 25,9juta jiwa. Hal itu tentu saja berdampak pada banyak hal. Termasuk ekonomi dan kesejahteraan bangsa. Apalagi saat pandemi, dimana semua serba dibatasi, menghadapi penderita demensia alzheimer (pikun) saat masa normal saja sulitnya minta ampun. Ditambah beban kenyataan lansia termasuk yang rentan terpapar covid-19.

Bukan hanya itu, lansia juga mudah depresi. Dampak adanya PSBB menimbulkan masalah internal seperti komunikasi berkurang, interaksi denga keluarga semakin terbatas, waktu perawatan jadi terganggu, sampai kemungkinan kurang nutrisi, risiko cedera, dan masalah lainnya.

Tak apa, lansia memang demikian pembawaannya. Yang harus kita perhatikan adalah kita sebagai perawat atau keluarganya tetap memberikan perhatian lebih kepada mereka. Dengan cara bagaimana? Coba pakai komunikasi gaya baru.

Komunikasi gaya baru disini lebih ke menempatkan posisi kita untuk berada di dunia mereka, para lansia. Misalkan coba putar musik jaman dulu, musik yang mereka sukai di jaman mereka muda. Perlakukan mereka seperti anak bungsu, dimana kita lebih banyak mengalah dan mengikut kemauannya selama tidak membahayakan. Munculkan kenangan indah yang pernah mereka alami. Dekati para lansia dengan kegiatan yang mereka senangi. Perlihatkan gambar atau hal lain yang berkaitan dengan idolanya. Intinya, buat para lansia senang sehingga mereka tetap bahagia meski saat pandemi dengan segala pembatasan.

Begitu juga untuk perawat, atau caregiver, atau siapapun orangnya yang bertugas membantu mendampingi penderita demensia alzheimer ini. Saat Pandemi pasti muncul masalah lain seperti harus adaptasi dengan kebiasaan baru, menjaga diri supaya sehat baru bisa merawat orang lain, menjaga jarak, menjaga kebersihan, menghindari stress, dan masalah lainnya. Hal yang bisa para perawat atau caregiver lakukan dalam mendampingi para penderita demensia alzheimer supaya diri sendiri juga tidak merasa tertekan adalah buat situasi menyenangkan, menerima semua keadaan dalam kondisi pandemi ini dengan nyaman dan happy sehingga menjalankannya tidak terasa tertekan, dan satu lagi tajamkan bahasa hati. Peruncing perasaan karena mendampingi lansia harus sabar, penyayang dan memahami dunia mereka. Intinya menjaga penderita demensia alzheimer pada saat pandemi corona harus lebih maksimal dalam memberikan lansia kasih, penghormatan, dan perhatian. Lakukan semua itu saat mereka masih ada. Karena kalau mereka sudah tiada, apapun akan hanya berupa angan dan penyesalan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar