Selasa, 11 Agustus 2020

Peran Ibu Mempersiapkan Generasi Emas 2045. Apa Peran Bapak?

Mencetak Ibu Milenial Pembangun Generasi Emas 2045 di Era Pandemi Covid-19

Peran Ibu Mempersiapkan Generasi Emas 2045. Apa Peran Bapak?

Saat pandemi, banyak diceritakan kaum ibu-lah yang memegang peran terbanyak dalam menyetok rasa sabar dan berkomitmen untuk terus belajar bersama mendampingi anak. Peran ibu dalam mendidik anak pada sebuah keluarga mungkin yang lebih dominan. Meski pada saat mengikuti pembelajaran jarak jauh di rumah tidak sedikit para ibu yang akhirnya memilih angkat tangan.

Belum lagi, mau tidak mau saat pandemi para ibu juga harus melek teknologi, supaya ibu paham sehingga bisa membimbing, menuntun dan memonitor anak-anak dalam menggunakan gadgetnya. Ini banyak dialami dan diceritakan teman di lingkungan terdekat saya.

Ibu memang madrasah bagi setiap anak. Tapi jangan lupa, tugas bapak, selain mengajarkan syariat, juga mengajarkan akhlak.

Dalam mendidik anak bukan hanya tanggung jawab seorang ibu, tapi tanggung jawab bersama orang tua, yang terdiri dari bapak dan ibu. Tidak mudah lho, mencetak generasi kuat iman, kuat sosial, kuat ekonomi, dan karakter pendidikan, kecuali ada kerja sama dari orang tua.

Kesuksesan anak adalah tanggung jawab bersama bapak dan ibu, bukan hanya tanggung jawab seorang ibu. Seorang bapak memang memiliki tanggung jawab mencari nafkah. Akan tetapi sosok bapak sebagai imam dalam keluarga tetap memiliki tugas utama mendidik anak-anaknya.

Hal itu disampaikan oleh Ibu Hj. Khofifah Indar Parawansa selaku Ketua Umum PP Muslimat NU sekaligus Gubernur Jawa Timur dalam acara webinar nasional "Mencetak Ibu Milenial Pembangun Generasi Emas 2045 di Era Pandemi Covid-19", Selasa 11 Agustus 2020 yang diselenggarakan atas kerja sama Muslimat NU dengan YAICI.

Selain Ibu Hj. Khofifah Indar Parawansa, nara sumber lain dalam acara wabinar ini adalah:

✔️dr Hj. Erna Yulia Soefihara ketua VII PP Muslimat NU ✔️Arif Hidayat. SE.M ketua Harian YAICI ✔️DR. dr.TB. Rachmat Santika, Sp.A(K), MARS. Dokter Spesialis Tumbuh Kembang Anak ✔️Meida Octariana. MCN, Asisten Deputi Ketahanan Gizi. ✔️dr. Ranti Hanna Sp. A. (Ibu Millennial sekaligus Dokter Anak) ✔️Maman Suherman, penulis yang bertugas sebagai moderator.

Ada yang unik, webinar “Mencetak Ibu Millenial Pembangun Generasi Emas 2045” di sana menyebut para ibu, seolah acara itu khusus untk ibu-ibu. Namun, pada intinya, dalam mencetak generasi emas pada 2045 nanti tentu tidak bisa hanya sebelah pihak ibu saja, karena dibutuhkan peran bapak pula, alias kerja sama orang tua, yang terdiri dari bapak dan ibu, untuk mencetak anak sebagai sumber daya yang unggul.

Generasi emas, apa pun profesi-nya kelak, tidak akan maksimal jika sejak dini anak tidak diimbangi dengan pendidikan karakter dan akhlak baik. Benteng manusia dalam melawan robot adalah keterampilan sosial. Mengimbangi kemajuan dan kecanggihan teknologi, kita tidak mungkin menciptakan alat tandingan. Hanya keterampilan dan akhlak serta budi pekerti yang bisa menyertainya. Semua itu, dari orang tua (bapak dan ibu) lah sumbernya.

Dalam dunia Islam, sudah diajarkan sejak awal, jika dalam membesarkan anak kelak, diperlukan pola asuh anak yang sesuai dengan zaman di mana si anak itu berada.

Perlu diperhatikan orang tua, ketika sudah masuk pada generasi Z yang kemudian dikenal sebagai generasi milenial, kita sebagai orang tua harus bisa menghadapi generasi Alfa yang secara prototype berbeda sekali dengan generasi Z.

Karena itu orang tua memiliki misi tersendiri bagaimana menciptakan pola asuh yang benar antara perbedaan generasi tersebut, dimana generasi alfa solidaritas sosialnya bisa lebih tinggi dari generasi para orang tua itu sendiri.

Saat ini kita berada di jamannya generasi milenial, oleh sebab itu sebagai ibu milenial kita dituntut harus melek teknologi yang perkembangannya sangat pesat. Karena selain sisi baik selalu ada sisi buruk, ibu milenial harus jeli. Jangan sampai sisi negatif memiliki peranan yang sangat kuat dalam kehidupan sehari-hari.

Apalagi jaman sekarang, istilah milenial banyak digunakan. Jangan sampai para orang tua ngaku milenial, tapi kok masih menganggap kental manis itu sebagai susu, hanya karena sejak jaman orang tua kita dulu sudah jadi korban iklan.

Mungkin, orang tua kita dulu memiliki persepsi bahwa kental manis adalah susu yang bisa dikonsumsi layaknya minuman susu untuk anak berdasarkan iklan dan pemahaman jamannya. Sekarang, setelah diteliti ditemukan, jika kandungan gula yang ada dalam kental manis sangatlah tinggi. Sangat tidak cocok diberikan pada bayi dan anak-anak secara terus menerus. Dampak buruk pada anak akan terjadi mulai dari masa tumbuh kembang anak yang terhambat (stunting) hingga penyakit yang sangat membahayakan seperti diabetes.

Sudah banyak temuan bayi dan anak-anak yang mengonsumsi kental manis secara terus menerus perkembangan tubuhnya menjadi tidak normal. Bagaimana anak akan jadi generasi emas, jika pertumbuhannya saja sudah banyak gangguan?

Karena itu diperlukan kerja sama seluruh pihak untuk memutus mata rantai persepsi masyarakat terhadap kental manis ini. Tidak cukup sosialisasi, namun juga pendidikan mengenai gizi dan pemahaman mengenai pentingnya ASI bagi 1000 hari pertama kehidupan.

Seharusnya pendidikan mengenai gizi dan pemahaman mengenai pentingnya ASI bagi 1000 hari pertama kehidupan ini didapat calon ibu, jauh sebelum mengandung dan melahirkan anak.

Seorang ibu wajib memperhatikan asupan nutrisi yang sesuai dengan yang dibutuhkan bayi dan anak-anaknya pada periode kehidupan anak 1000 hari pertama kehidupan. Sebab masa itu akan menentukan tumbuh kembang anak terutama dalam perkembangan otaknya.

DR. dr. TB Rachmat Santika Sp.A.,MARS menjelaskan untuk mendapatkan anak generasi Emas 2045 orang tua memiliki peranan penting dalam hal pemberian gizi dan asupan makanan anak. ASI, tumbuh kembang anak, itu harus diperhatikan. Tidak lupa berikan juga imunisasi secara rutin.

Saat pandemi, menyusui tetap bisa dilakukan. Walaupun (misalnya) ibu memiliki riwayat positif covid-19. Ingat, Covid-19 ditularkan lewat droplet. Sepanjang ibu menggunakan masker dan alat pelindung lain, menyusui bisa tetap aman dilakukan. Asalkan anak pun dilindungi. Payudara selalu dibersihkan supaya terhindar dari droplet. Jangan sampai ASI sebagai hak anak diabaikan namun dampaknya justru bisa fatal. Tentu saja, dalam hal ini ibu perlu mendapatkan dukungan penuh baik dari keluarga maupun lingkungan.

Meski masa pandemi, orang tua harus tetap memperhatikan, mendidik, mengusahakan memberikan asupan nutrisi yang seimbang untuk anak dan jadi percontohan. Program Pemerintah juga harus mendukung langkah konkret dalam menciptakan generasi emas dengan tidak membagi kental manis dalam paket sembako masyarakat. Berikan bantuan lain yang bisa meningkatkan nutrisi dan gizi anak-anak.

Untuk mewujudkan impian ibu milenial pembangunan generasi emas 2045 diperlukan adanya dukungan dari berbagai partisipan. Karena ini bukan hanya tugas sebelah pihak. Siapapun itu, pemerintah, masyarakat, orang tua, semua memiliki peran penting. Orang tua sebagai bapak dan ibu dari si anak yang memegang peranan terdepan dalam maju mundurnya generasi anak-anaknya.

Ingat, pola asuh ibu menjadi bagian penguat keluarga. Sedangkan peran bapak tetap jadi yang utama dalam mendidik anak. Dengan adanya kerja sama antara bapak dan ibu diharapkan dapat mencetak generasi Emas 2045.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar