Senin, 13 April 2020

Ketika Aku Jalani Hidup Apa Adanya dan Tanpa Syarat Ketentuan, Mantan Mau Apa?

Ketika Aku Jalani Hidup Apa Adanya dan Tanpa Syarat Ketentuan, Mantan Mau Apa?

Berasa sembuh dari covid-19 (kali ya, bagi suspect yang udah test ulang dan hasilnya jadi negatif) saking bahagianya bisa memperlihatkan kehidupan yang saya alami kepada mantan. Hahaha, iya mantan. Yang tiba-tiba hadir dalam kehidupan saya beberapa hari terakhir ini. Puas rasanya berhasil memperlihatkan saya yang jalani hidup apa adanya dan tanpa syarat ketentuan tapi tetap bahagia dan bisa jadi diri sendiri.

Jadi ceritanya dulu kami pisah baik-baik. Meski tanpa alasan jelas kenapa dia meninggalkan saya. Sakit hati? Jelas ada. Saya juga punya perasaan. Tapi saya yang tipe orangnya cuek, ya tetap menjalani hidup apa adanya. Tidak ada itu istilah patah hati apalagi frustrasi. Saat itu belum ada istilah move on. Yang ada di pikiran saya gimana bisa tetap hidup saat krisis ekonomi melanda bangsa tahun 98-99 kala itu. Ya, bisa tetap hidup dengan wajar itu lebih penting, daripada ngurusin challenge dari mantan yang nyodorin pilihan seberapa mampu sih kamu itu bisa jalan bener tanpaku?

Saya bekerja ke luar negeri. Bukan jadi diplomat, tapi jadi TKW. Bukan mau melupakan mantan kalau saya bisa bertahan sampai belasan tahun kerja di negeri orang. Tapi memang selama itu saya menikmati bisa hidup jadi diri sendiri. Bisa mandiri, bisa berbagi, bisa merasakan kemanfaatan kita bagi orang lain. Mantan pikir selama itu saya mengharapkan balikan? Halo, sejujurnya, ingat saja saya ini tidak, lho ya. Saya terlalu asyik dengan dunia baru dimana bisa melihat dunia dari kacamata berbeda-beda secara nyata. Kalaupun mantan tahu selama itu saya tetap menjomblo, karena saya tidak ingin menyia-nyiakan waktu dan kesempatan, kalau cuma buat menumpuk sesal dan dosa. Paham?

Sampai akhirnya jodoh datang dan kami melangsungkan pernikahan. Bukan berarti gak ada pilihan lagi kalau kami menikah dulu baru pacaran. Semata-mata karena kami sama-sama menyadari pacaran itu bukan gue banget. Bahagia? Pastinya dong! Meski kebahagiaan yang jadi tolak ukur kami bukan dilihat dari seberapa banyak kekayaan, atau setinggi apa jabatan yang sekarang diduduki. Melainkan seberapa banyak yang sudah kita lakukan untuk orang lain. Dan itu pastinya sebisa mungkin kami lakukan secara sembunyi-sembunyi. Bukankah kalau bisa tangan kiri jangan sampai tahu kalau tangan kanan memberi?

Dan puluhan tahun kemudian, tiba-tiba ini mantan datang dalam kehidupan saya. Oh sebagai manusia jelas saya anggap tidak masalah dong dan saya menjadikan keberadaan mantan sebagai teman lama. Mantan yang nyinyir melihat kondisi saya di desa dengan segala kelebihan dan kekurangannya justru bikin saya bersyukur. Beruntung Tuhan memisahkan kami dulu, jauh sebelum semuanya memiliki kenangan.

[video width="800" height="800" mp4="http://tehokti.com/wp-content/uploads/20200413_2144021.mp4"][/video]

“Di desa kamu ada internet ya?” menye banget mantan ngerecokin ketenangan saya bersama keluarga. Penasaran puluhan tahun dia tidak terlihat penampakannya tinggal di istana mana sih?

“Kamu senang Ti, hidup seperti itu?” kalimat yang kalau saya balikan, itu justru adalah tanda ketidakmampuan mantan. Jika selama ini mantan hanya sibuk mengisi waktunya dengan pikiran sampah. Sungguh saya kasihan jadinya.

Mungkin saya yang tetap apa adanya sebagai saya seperti dahulu, meski sekarang sudah menjadi seorang ibu, bikin mantan baru menyadari kalau saya adalah berlian yang saking bikin mantan silau sampai dia tidak melihat apalagi merasakan manfaatnya. Emang sih ya menyesal itu datangnya selalu belakangan.

Mantan yang baru ngeh meski jaman sekarang lifestyle nya pencitraan palsu, tapi saya tetap punya jati diri. Mantan yang baru sadar meski banyak smartphone berkamera jahat tapi saya tidak pernah menyembunyikan kantung mata apalagi bola mata saya yang sebelah lebih sipit dari yang satunya karena penyakit urat syaraf saat sekolah dulu.

Terimakasih mantanku kalau sudah merasa bahwa saya sangat berharga dan memang begini adanya. Sejak dulu. Saya yang tetap fokus pada tujuan, fokus pada karya dengan tetap jadi diri sendiri tanpa tipu-tipu. Saya bukan lagi remaja tanggung dua puluh lima tahun lalu yang kamu campakkan, tapi saya tetap bisa berekspresi tanpa kepura-puraan.

Ngomongin mantan saya jadi sangat mengapresiasi terhadap value yang disampaikan @IM3Ooredoo. Seratus persen kuota utama dapat kita gunakan 24 jam di semua jaringan, tanpa pembagian waktu. Di sisi lain, fitur pulsa save-nya membuat internetan tetap aman. Tetap jujur apa adanya meski marak pencitraan palsu. Meski banyak trik dan hoax di era social media, saya justru merasa beruntung tetap diingatkan untuk berani menjalani hidup apa adanya.

Saya yang tanpa tedeng aling-aling bisa melabrak agency atau majikan apabila mendapati buruh migran yang hak-haknya dieksploitasi. Saya yang bisa tanpa kepura-puraan minta donasi kepada teman-teman saat anak mengaji dan anak asuh yang saya dan suami kelola di kampung sedang memerlukan bantuan. Saya yang suka tanpa basa-basi kalau bergaul dan berteman, entah itu anak pecinta alam atau bukan, kalau sedang melakukan pendakian, kita semua tetap saudara...

Saya yang relawan TIK tanpa followers palsu alias tidak mampu (eh emang tidak niat kok) beli follower demi terlihat wow di mata netizen yang maha benar, sehingga dapat job atau enggak, akun sosial media keukeuh gitu-gitu saja. Tapi saya teramat bahagia bisa hidup apa adanya, tanpa modus, tanpa tipu-tipu. Sementara kamu, mantan?

Kehidupanmu mungkin akan sempurna setelah lihat video ini sebagai pelengkap tulisan saya

https://www.youtube.com/watch?v=Nev2ITCOIrQ

Kamu sudah puas melihat saya dan keluarga yang teramat bahagia, kan? Sekarang pulanglah. Tidak perlu sok bijak menengok saya yang hanya bagian dari masa lalumu. Sempurnakan jalan hidupmu dengan pikiran yang simple. Seperti IM3 Ooredoo yang menghadirkan lini produk telekomunikasi simple, bebas syarat ketentuan seperti Freedom Internet.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar