Rabu, 25 Maret 2020

Rahasia Di Balik Meja Penulis Dunia

Rahasia di Balik Meja Penulis Dunia

 

Kalau ditanya seberapa penting punya planer tools untuk menunjang kerja? Jawabannya mungkin relatif ya. Tapi saya mau bongkar rahasia di balik meja kerja saya. Apa aja yang bisa saya lakukan dengan tools itu?

Biasanya penulis identik dengan alat tulis. Jaman dulu, kalau suka menulis kejadian sehari-hari alias curhat pasti punya buku diary. Orang bekerja yang pekerjaannya berkutat dengan tulisan pasti harus bisa menggunakan mesin tik.

Kini jaman sudah berubah, semua sudah dipermudah dengan kemajuan teknologi. Apapun pekerjanya, kaitannya dengan tulisan ataupun gambar bahkan perhitungan sampai strategi, semua ditampung dalam satu alat yang dinamai komputernya jinjing alias laptop. Semua data kita simpan di sana. Mengolahnya, sampai menjadi alat bantu dalam menyelesaikan urusan pekerjaan kita.

Laptop kini menjadi alat yang digunakan sejuta umat. Eh bahkan milyaran umat kali ya. Apapun pekerjanya laptop selalu siap sedia.

Saya ada laptop, tapi justru tidak saya pakai. Meski pekerjaan saya selalu berkaitan dengan tulis menulis, tetapi saya lebih merasa nyaman mengerjakan semua itu dengan handphone. Mungkin karena sudah terbiasa kali ya. Secara saya menulis menggunakan alat bantu hp sejak sekitar tahun 2010.

Oya, ini salah satu tulisan yang saya buat dari hp, dikirim dan berhasil jadi juara (tapi lupa juara berapa) serta tulisannya dibukukan. Entah antologi yang ke berapa, lupa juga hehee.

Modal Jempol Jadi Penulis Dunia

Pengarang dengan hanya menggunakan satu jempol dalam membuat naskah, pernah dengar siapa orangnya? Dialah aku. Katakanlah siapa, jika ada yang lainnya di dunia ini. Bukan magic, mimpi atau sulap, atau gaya bahasa yang memperindah kalimat. Ini nyata. Realita dari keterbatasan dan kekuranganku. Sejak kecil Tuhan menganugrahiku gemar menulis dan membaca, tapi keinginanku jadi penulis kandas karena kendala biaya. Kemelaratan menyeretku menjadi buruh migran di Taiwan. Harusnya, dengan fasilitas canggih dan kemodernan teknologi Taiwan memudahkan jalanku menggapai cita. Harusnya, tapi buktinya tidak. Membeli laptop kuanggap bisa menunjang kemudahan dalam mengarungi dunia kepenulisan. Tapi masalah justru bertambah. Internet yang biasanya always on, tiba-tiba dimatikan atasan. Membuatku kelabakan teringat begitu banyaknya proyek kepenulisan yang terancam terbengkalai. Langganan internet sendiri jelas gak bisa mengingat dokumenku yang menjadi syarat membuka koneksi internet di Taiwan ditahan atasan. Atasan juga meroling job dengan tempat yang berjauhan, otomatis waktu senggangku makin tipis dan tak ada kesempatan membawa laptop. Sepertinya keinginan belajar dan mengasah ilmu untuk bermimpi jadi penulis gagal sudah. Putus asa? Tentu tidak! Sejak kecil terbiasa susah, kuanggap kesulitan itu sebuah game. Untuk menjadi pemenang aku harus terus berjuang. Mengandalkan wifi gratisan yang sering hilang jika cuaca buruk aku terus menulis. Ponsel jadul yang joysticknya eror menjadi pilihanku untuk bisa terus menulis saat di kamar mandi, kendaraan umum, dan waktu istirahat kerja. Tak terhitung berapa kali jempolku lebam dan bengkak karena nonstop menekan keypad mengetikkan ribuan lembar naskah. Ketiadaan internet dan waktu khusus tidak membuatku berhenti menulis. Meski dengan berdarah-darah aku terus menulis dan menulis demi menggapai cita-cita jadi penulis dunia. Jika aku yang serba kekurangan masih memaksakan menulis, lalu alasan apalagi untukmu masih ogah-ogahan melakukannya? Bukankah kebebasan dan fasilitasmu lebih lengkap dibandingku. Tidakkah apa yang aku alami ini menginspirasimu untuk segera menulis selagi bisa sekarang juga?

 

Jangan kira tulisan itu dibuat dengan bantuan smartphone seperti saat ini. Hei, tahun 2010 belum ada android. Saat itu saya pakai hape sejuta umat Nokia tipe N73. Kalau saja hp itu tidak hilang, mungkin saya masih bisa menulis dari sana.

Sekarang sih menyesuaikan dengan kebutuhan, alhamdulillah melalui lomba menulis, saya mendapatkan smartphone yang bisa menunjang semua pekerjaan saya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar